cerai?
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam ketika suara mobil berhenti di depan rumah besar itu. Lampu ruang tengah masih menyala. Chelsi belum tidur.
Auriga duduk di tangga lantai dua, punggungnya bersandar pada dinding, ponsel di tangan tapi tidak benar-benar ia lihat. Ia sudah hafal suara itu. Mesin mobil ayahnya. Berat. Tegas. Selalu datang bersama aura yang sulit dijelaskan.
Pintu depan terbuka dengan hentakan keras.
Langkah sepatu terdengar cepat. Tegas. Tidak sabar.
Chelsi keluar dari dapur, masih mengenakan cardigan tipis. Wajahnya lelah, tapi ia tetap berdiri tegap.
“Kamu baru pulang?” suaranya tenang, terlalu tenang untuk jam segitu.
Nervando melepas jasnya dengan kasar. “Memangnya kenapa? Aku kerja.”
“Setiap hari sampai tengah malam?”
Nada itu bukan tuduhan. Tapi cukup untuk memantik sesuatu.
Nervando berhenti. Menoleh. Sorot matanya tajam.
“Kalau kamu mau mulai lagi, jangan sekarang.”
Chelsi tertawa kecil, getir. “Aku nggak mulai. Aku cuma tanya.”
Auriga yang masih di tangga menegang. Ia tahu nada itu. Nada sebelum badai.
Nervando berjalan ke arah meja, meletakkan kunci mobil dengan suara keras.
“Kamu pikir aku nyaman pulang ke rumah yang isinya cuma wajah curiga?”
Chelsi terdiam sepersekian detik. Lalu ia membalas, kali ini suaranya naik sedikit.
“Curiga? Aku cuma mau tahu kenapa kamu semakin jarang di rumah.”
“Karena aku capek!” bentak Nervando tiba-tiba. “Capek sama suasana ini!”
Suara itu menggema.
Auriga mengepalkan tangan.
Chelsi tidak mundur. “Suasana ini ada karena kamu menjauh, Van.”
Nervando tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana.
“Jangan lempar semuanya ke aku.”
“Lalu ke siapa?” balas Chelsi. “Ke aku? Ke Auriga?”
Nama itu membuat suasana semakin tegang.
Auriga menahan napas.
Nervando menoleh tajam ke arah Chelsi. “Jangan bawa-bawa dia.”
“Kenapa? Karena kamu nggak pernah benar-benar ada buat dia?”
Hening. Sesaat. Tapi hanya sesaat.
Nervando melangkah mendekat. “Aku kerja buat keluarga ini.”
“Kerja atau lari?” tanya Chelsi pelan.
Kalimat itu seperti tamparan.
Auriga berdiri dari tangga. Ia tidak turun. Tidak juga pergi. Ia hanya berdiri di ambang lantai dua, menyaksikan dua orang yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya saling melukai dengan kata-kata.
Nervando mengusap wajahnya kasar. “Aku nggak punya waktu buat drama.”
“Ini bukan drama!” suara Chelsi akhirnya pecah. “Ini rumah tangga kita!”
“Apa yang kamu mau sebenarnya?” tanya Nervando dingin.
Chelsi menatapnya. Lama. Lelah.
“Aku mau kamu hadir.”
Jawaban sederhana. Tapi terasa mustahil.
Nervando tertawa hambar. “Aku hadir.”
“Fisikmu iya,” bisik Chelsi. “Hatimu enggak.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Auriga merasakan sesuatu retak. Bukan suara keras. Bukan benda pecah. Tapi seperti ada garis tipis yang akhirnya melebar.
Nervando mengambil napas panjang. “Kamu terlalu banyak menuntut.”
“Dan kamu terlalu banyak menghindar.”
Tatapan mereka bertabrakan. Tidak ada yang mengalah.
Di atas tangga, Auriga merasa rumah itu tiba-tiba mengecil. Dindingnya seperti menekan. Udara terasa berat.
Ia tidak tahu harus turun atau tetap diam.
Dan di ruang tengah itu, dua orang dewasa yang pernah saling mencintai berdiri berhadapan seperti dua musuh yang sama-sama lelah.
Malam itu belum berakhir.
Dan pertengkaran itu baru saja dimulai.
Udara di ruang tengah terasa semakin sesak.
Nervando berdiri dengan rahang mengeras. Chelsi tetap di tempatnya, tapi matanya mulai berkilat oleh sesuatu yang lebih dari sekadar lelah.
“Aku terlalu banyak menghindar?” ulang Nervando pelan, tapi nadanya tajam. “Kamu pernah mikir kenapa?”
Chelsi menatapnya. “Karena kamu nggak mau menghadapi masalah.”
“Masalahnya bukan cuma aku!” suara Nervando meninggi. “Kamu juga berubah, Chelsi!”
Auriga yang masih berdiri di lantai dua merasakan detak jantungnya meningkat. Kata berubah terdengar seperti vonis.
“Berubah?” Chelsi tersenyum pahit. “Aku berubah karena sendirian, Van.”
“Kamu yang bikin semuanya terasa berat!” potong Nervando. “Rumah ini nggak pernah lagi terasa nyaman.”
Kalimat itu menggantung seperti pisau.
Chelsi membeku sepersekian detik. “Jadi sekarang ini salahku?”
“Aku nggak bilang gitu.”
“Tapi kamu menyiratkan itu.”
Nervando menghela napas kasar. “Kamu selalu cari celah buat debat.”
“Karena kamu selalu lari dari diskusi!”
Mereka berdiri saling berhadapan, jarak hanya beberapa langkah, tapi terasa seperti jurang.
Nervando menggeleng pelan. “Kamu terlalu menekan. Semua harus sesuai caramu. Rumah harus seperti maumu. Cara mendidik Auriga harus seperti maumu.”
Nama itu lagi.
Auriga menahan napas. Tangannya mencengkeram pegangan tangga.
Chelsi terperanjat. “Mendidik Auriga? Kamu bahkan jarang ada buat lihat bagaimana dia tumbuh!”
“Aku kerja buat masa depannya!” tegas Nervando.
“Masa depan tanpa ayah yang hadir?”
“Jangan mulai lagi.”
“Kamu yang mulai!” balas Chelsi, suaranya bergetar. “Setiap kali aku ajak bicara baik-baik, kamu bilang aku menuntut. Padahal aku cuma ingin kita jadi keluarga lagi.”
Nervando tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Keluarga? Sejak kapan kamu berhenti memperlakukan aku seperti orang asing di rumah sendiri?”
Chelsi terdiam. “Apa maksudmu?”
“Kamu selalu menyalahkan aku atas semuanya. Kalau Auriga jadi pendiam, salahku. Kalau dia jarang di rumah, salahku. Kalau suasana tegang, salahku. Pernah nggak kamu bercermin?”
Auriga merasakan kalimat itu seperti tamparan tak terlihat.
Chelsi menatap Nervando dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku nggak pernah bilang semuanya salah kamu.”
“Tapi sikapmu bilang begitu.”
Sunyi sejenak. Hanya suara napas yang terdengar.
“Kamu berubah sejak bisnismu makin besar,” ucap Chelsi lebih pelan. “Kamu mulai lebih sering di luar daripada di sini.”
“Karena di luar aku dihargai,” jawab Nervando tanpa berpikir.
Kalimat itu keluar begitu saja.
Dan setelahnya, hening.
Chelsi seperti kehilangan kata-kata. “Jadi di rumah… kamu nggak merasa dihargai?”
Nervando tidak langsung menjawab. Tapi diamnya sudah cukup.
Auriga merasakan sesuatu jatuh dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini ia coba abaikan.
Chelsi menelan ludah. “Kalau begitu… mungkin memang aku yang salah. Karena aku masih berharap kamu pulang bukan cuma bawa lelah, tapi juga hati.”
Nervando mengusap wajahnya lagi. “Kamu selalu dramatis.”
“Aku cuma jujur.”
Pertengkaran itu bukan lagi soal jam pulang. Bukan lagi soal kesibukan. Itu sudah berubah menjadi saling menuding luka lama.
Dan Auriga menyadari sesuatu.
Orang tuanya bukan lagi dua orang yang bertahan. Mereka sudah berubah jadi dua orang yang mencari siapa yang paling pantas disalahkan.
Dan tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar menang.
Auriga tidak pernah berniat menguping.
Ia hanya berdiri terlalu lama.
Langkahnya seharusnya sudah menuju kamar sejak tadi. Tapi kakinya terasa berat. Setiap kata yang keluar dari mulut kedua orang tuanya seperti menariknya tetap di tempat.
Lampu lantai dua redup. Bayangan tubuhnya memanjang di dinding. Dari celah pagar tangga, ruang tengah terlihat jelas.
Chelsi berdiri dengan bahu tegang. Nervando menghadap ke arah jendela, punggungnya kaku.
Dan suara mereka masih terdengar.
“Kamu pikir aku nggak capek?” suara Chelsi kini lebih rendah, tapi justru terdengar lebih sakit. “Aku juga kerja. Aku juga ngurus rumah. Aku juga mikirin Auriga.”
Nervando tertawa pendek. “Tapi kamu selalu merasa paling berkorban.”
Auriga menelan ludah.
Namanya disebut lagi.
Ia tidak pernah tahu bahwa dirinya bisa menjadi topik pertengkaran.
“Karena kamu nggak pernah tahu rasanya sendirian di rumah ini!” balas Chelsi.
“Sendirian?” Nervando berbalik. “Aku juga sendirian, Chelsi. Di rumah sendiri.”
Kalimat itu membuat Auriga membeku.
Sendirian.
Kata itu terasa akrab.
Ia juga sering merasa begitu.
Chelsi terdiam beberapa detik. Lalu suaranya terdengar lebih lirih. “Kalau kamu merasa sendirian… kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Karena setiap kali aku bicara, kamu memutar semuanya jadi salahku.”
Auriga memejamkan mata sejenak.
Ia tahu rasanya tidak didengar.
Ia tahu rasanya berbicara tapi tidak dianggap.
Dan sekarang, ia mendengar orang tuanya mengaku merasakan hal yang sama.
Ironis.
Suara kaca bergeser terdengar. Mungkin Nervando meraih gelas. Mungkin hanya menghindari tatapan Chelsi.
“Auriga makin jauh dari kita,” ucap Chelsi tiba-tiba.
Jantung Auriga berhenti sesaat.
“Kamu perhatiin nggak?” lanjut Chelsi. “Dia lebih sering di luar. Lebih sering diam. Kamu pikir itu cuma fase?”
“Aku percaya dia tahu apa yang dia lakukan,” jawab Nervando datar.
“Kamu percaya? Atau kamu nggak mau tahu?”
Pertanyaan itu membuat suasana kembali menegang.
Auriga membuka mata. Tatapannya kosong. Ia tidak tahu harus merasa marah atau sedih.
Ia ingin turun. Ingin bilang bahwa ia baik-baik saja. Ingin bilang bahwa ia tidak butuh diperdebatkan seperti barang rusak.
Tapi tubuhnya tidak bergerak.
Kakinya terasa tertanam di lantai.
“Aku nggak mau anak kita tumbuh tanpa arah,” suara Chelsi bergetar. “Aku nggak mau dia merasa rumah ini bukan tempat pulang.”
Rumah ini bukan tempat pulang.
Auriga merasakan sesuatu menekan dadanya.
Ia sering memilih nongkrong dengan Dragon. Sering memilih jalanan. Sering memilih suara mesin daripada suara di ruang tengah.
Dan mungkin… Chelsi benar.
Rumah ini memang tidak lagi terasa seperti tempat pulang.
“Aku sudah berusaha,” kata Nervando pelan.
“Tapi kamu nggak pernah hadir,” balas Chelsi.
Auriga menggigit bibirnya.
Ia tidak sadar sejak kapan matanya terasa panas.
Ia tidak menangis. Tidak akan. Tapi ada sesuatu yang ingin pecah di dalam dirinya.
Ia tidak pernah benar-benar membenci ayahnya. Tidak juga membenci ibunya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa seperti penonton dalam hidupnya sendiri.
Pertengkaran itu bukan lagi sekadar suara.
Itu seperti retakan di dinding yang semakin melebar.
Dan Auriga berdiri di balik pintu yang tidak sepenuhnya tertutup, menyadari bahwa mungkin… keluarganya memang sudah lama tidak utuh.
Ia akhirnya melangkah mundur.
Pelan.
Tanpa suara.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena ia tidak tahu harus berada di sisi siapa.
Dan di dalam kamar yang gelap, Auriga Brastala Nervando duduk di tepi ranjangnya, menatap kosong ke arah dinding.
Suara pertengkaran masih terdengar samar.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar kecil.
Ruang tengah itu terasa lebih dingin dari biasanya.
Chelsi berdiri memeluk dirinya sendiri. Nervando menatap lantai sejenak, lalu mengangkat wajahnya dengan ekspresi yang lebih lelah daripada marah.
“Kamu mau tahu kenapa aku sering pulang larut?” tanya Nervando tiba-tiba.
Chelsi terdiam. “Bukannya itu yang selama ini aku tanya?”
Nervando menarik napas panjang. “Bukan cuma soal kerja.”
Sunyi.
Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti ledakan kecil.
Chelsi menatapnya lurus. “Maksud kamu apa?”
Nervando tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah, menjauh sedikit, lalu berhenti. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya mengeras.
“Aku… sempat hampir kehilangan semuanya tahun lalu.”
Chelsi mengernyit. “Bisnis kamu?”
Nervando mengangguk pelan. “Ada proyek gagal. Investor mundur. Aku nutupin semuanya.”
Chelsi membeku. “Kamu nggak pernah cerita.”
“Aku nggak mau kamu panik.”
“Atau kamu nggak percaya aku cukup kuat buat tahu?”
Pertanyaan itu tidak dijawab.
Nervando melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Aku pinjam uang. Banyak. Aku putar lagi supaya nggak kelihatan.”
Chelsi terhuyung satu langkah kecil ke belakang, bukan karena marah, tapi karena terkejut. “Pinjam? Seberapa banyak?”
Nervando menyebut angka itu pelan.
Dan udara terasa seperti tersedot habis.
“Kamu gila?” bisik Chelsi.
“Aku pikir aku bisa nutup semuanya sebelum kamu sadar.”
“Ini bukan soal sadar atau nggak, Van!” suara Chelsi bergetar. “Ini soal kepercayaan!”
“Aku cuma nggak mau kamu ikut stres.”
“Tapi kamu malah bikin aku merasa dijauhkan!”
Nervando akhirnya menatapnya langsung. “Aku merasa sendirian waktu itu. Aku pikir… kalau aku gagal, setidaknya cuma aku yang jatuh.”
Chelsi menggeleng pelan. “Kita ini suami istri.”
“Kita?” Nervando tertawa pahit. “Sejak kapan kamu benar-benar ada di sisiku tanpa menghakimi?”
Kalimat itu membuat Chelsi terpaku.
“Aku selalu ada,” katanya pelan. “Tapi kamu nggak pernah kasih aku ruang buat tahu apa yang kamu hadapi.”
Nervando terdiam.
Suara jam dinding terdengar jelas sekarang.
Dari kamar di lantai dua, Auriga membuka pintu sedikit lagi. Ia tidak bermaksud mendengar lebih jauh. Tapi suara itu seperti menariknya kembali.
Pinjam uang. Hampir bangkrut.
Itu bukan hal kecil.
Dan ayahnya menyimpannya sendiri.
Chelsi menyeka sudut matanya yang mulai basah. “Kamu pikir aku cuma peduli penampilan rumah tangga kita? Aku peduli kamu.”
Nervando menunduk. “Aku nggak tahu lagi gimana caranya cerita tanpa bikin semuanya tambah berat.”
“Kamu nggak pernah coba,” balas Chelsi.
Hening.
Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada bentakan. Tidak ada nada tinggi.
Hanya dua orang yang sama-sama lelah.
“Aku takut,” ujar Nervando akhirnya, hampir seperti pengakuan yang dipaksa keluar. “Takut kamu lihat aku gagal.”
Chelsi menatapnya lama. “Aku lebih takut kehilangan kamu pelan-pelan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan Auriga, yang mendengar semuanya dari atas, merasa dunia yang selama ini ia anggap stabil ternyata berdiri di atas retakan yang dalam.
Ayahnya bukan hanya dingin.
Ia rapuh.
Ibunya bukan hanya cerewet.
Ia takut.
Dan di antara dua ketakutan itu, Auriga berdiri sebagai anak yang tidak pernah benar-benar tahu harus berpihak ke mana.
Malam itu belum mencapai puncaknya.
Tapi rahasia yang terungkap sudah cukup untuk membuat fondasi rumah itu semakin goyah.
Setelah pengakuan itu, ruang tengah tidak lagi dipenuhi bentakan.
Justru sebaliknya.
Terlalu tenang.
Chelsi berdiri memandang Nervando dengan tatapan yang berbeda. Bukan marah. Bukan kecewa. Tapi seperti seseorang yang akhirnya berhenti berharap.
“Aku nggak tahu lagi harus gimana,” ucap Chelsi pelan.
Nervando tidak menjawab. Ia terlihat lelah, benar-benar lelah. Bahunya turun. Tatapannya tidak lagi setajam tadi.
“Kita terus begini,” lanjut Chelsi. “Saling salahkan. Saling tutup diri. Saling menjauh.”
Nervando mengusap wajahnya pelan. “Ini cuma fase.”
Chelsi tersenyum tipis. “Sudah terlalu lama untuk disebut fase.”
Sunyi lagi.
Auriga berdiri di balik pintu kamarnya, jantungnya berdetak tidak teratur. Ia ingin berhenti mendengar. Tapi setiap kata terasa seperti sesuatu yang harus ia tahu.
“Apa yang kamu mau, Chelsi?” tanya Nervando akhirnya, suaranya datar.
Pertanyaan itu terdengar berbeda dari sebelumnya. Tidak ada amarah. Tidak ada nada tinggi.
Hanya kosong.
Chelsi menarik napas dalam. Lama. Seolah mengumpulkan keberanian yang sudah lama ia simpan.
“Aku mau berhenti saling menyakiti.”
Nervando menatapnya tanpa ekspresi. “Maksud kamu?”
Chelsi menunduk sebentar. Lalu mengangkat wajahnya kembali.
“Kita berpisah saja.”
Tidak ada bentakan.
Tidak ada air mata histeris.
Kalimat itu keluar pelan. Lurus. Tanpa tekanan.
Dan justru karena itu, terdengar jauh lebih menyeramkan.
Nervando tidak langsung bereaksi. Seolah ia belum mencerna sepenuhnya.
“Kamu serius?” tanyanya pelan.
Chelsi mengangguk kecil. “Aku capek berjuang sendirian.”
“Itu keputusan yang besar,” ucap Nervando, masih dengan nada tenang yang aneh.
“Aku tahu.”
“Kamu pikir itu solusi?”
“Aku pikir… itu satu-satunya cara supaya kita berhenti saling melukai.”
Kata melukai menggantung lama.
Auriga merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.
Berpisah.
Ia sudah sering mendengar kata itu di luar. Dari teman. Dari cerita orang. Dari berita.
Tapi tidak pernah membayangkan kata itu akan masuk ke rumahnya sendiri.
Nervando berjalan menjauh beberapa langkah, lalu berhenti. “Dan Auriga?”
Nama itu kembali hadir seperti palu terakhir.
Chelsi memejamkan mata sebentar sebelum menjawab. “Kita tetap orang tuanya.”
“Rumah ini?” tanya Nervando.
“Bukan temboknya yang penting,” jawab Chelsi lirih. “Tapi kesehatan kita.”
Nervando tertawa kecil, hambar. “Jadi kamu menyerah.”
Chelsi menggeleng. “Aku justru berhenti memaksa sesuatu yang sudah lama retak.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pecahan kaca.
Hanya dua orang dewasa yang akhirnya mengakui bahwa mereka tidak lagi bisa berdiri di sisi yang sama.
Auriga merasakan kakinya melemah. Ia duduk perlahan di lantai kamar, punggungnya bersandar pada pintu.
Suara di ruang tengah masih terdengar samar.
“Kapan kamu mulai berpikir tentang ini?” tanya Nervando.
“Sudah lama,” jawab Chelsi jujur.
Sudah lama.
Artinya, keputusan ini bukan emosi sesaat.
Itu yang membuatnya lebih menyakitkan.
Auriga menatap kosong ke arah jendela kamarnya. Malam di luar terlihat biasa saja. Tidak ada tanda dunia runtuh.
Padahal di dalam rumah itu, sesuatu telah resmi berakhir.
Tanpa nada tinggi.
Tanpa drama.
Tapi dengan kepastian yang dingin.
Dan untuk pertama kalinya, Auriga Brastala Nervando benar-benar menyadari bahwa keluarganya tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Keheningan setelah kata itu belum benar-benar reda ketika Chelsi kembali bersuara.
“Aku akan cari tempat tinggal baru,” ucapnya pelan. “Aku nggak mungkin tetap di sini.”
Nervando menoleh. “Kamu mau pergi?”
“Iya.”
Jawaban itu sederhana. Tegas.
Nervando menarik napas panjang. “Dan Auriga?”
Chelsi tidak ragu kali ini. “Dia ikut aku.”
Dunia seperti berhenti satu detik.
Di lantai dua, Auriga menegang. Tangannya mencengkeram lantai. Kalimat itu terasa seperti keputusan yang dibuat tanpa dirinya.
Nervando langsung menggeleng. “Nggak.”
Suaranya datar, tapi keras.
“Apa maksud kamu nggak?” tanya Chelsi.
“Dia tetap di sini.”
“Dia anakku juga.”
“Dan anakku.”
Tatapan mereka kembali bertabrakan, tapi kali ini bukan tentang masa lalu. Bukan tentang bisnis. Bukan tentang luka lama.
Ini tentang Auriga.
“Aku lebih sering ada buat dia,” ucap Chelsi. “Aku tahu kebiasaannya. Aku tahu apa yang dia suka dan nggak suka.”
“Jangan seolah-olah aku nggak peduli,” potong Nervando.
“Peduli itu bukan cuma soal biaya sekolah.”
Kalimat itu menusuk.
Nervando melangkah mendekat. “Kamu pikir aku nggak bisa jadi ayah yang baik tanpa kamu?”
Chelsi menahan napas. “Aku cuma nggak mau dia tumbuh dalam rumah yang setengah kosong.”
“Dan kamu pikir pindah rumah bikin semuanya selesai?”
“Aku pikir jarak bisa bikin semuanya lebih sehat.”
Nervando menggeleng keras. “Kamu nggak bisa seenaknya bawa dia.”
“Aku ibunya.”
“Aku ayahnya.”
Tidak ada yang mengalah.
Auriga berdiri perlahan dari lantai. Jantungnya berdetak keras. Untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa bukan hanya penonton—ia adalah pusat dari tarik-menarik yang menyakitkan.
“Aku yang membiayai semuanya,” lanjut Nervando. “Sekolahnya. Kegiatannya. Hidupnya.”
Chelsi menatapnya tajam. “Dan aku yang membesarkannya setiap hari.”
Sunyi sesaat.
Lalu Chelsi berkata lebih pelan, tapi lebih dalam. “Kamu bahkan nggak tahu akhir-akhir ini dia sering pulang jam berapa.”
Nervando terdiam.
“Aku tahu,” lanjut Chelsi. “Karena aku yang menunggu.”
Kata menunggu membuat suasana meredup.
Nervando mengusap wajahnya lagi. “Kita bisa atur hak asuh.”
“Kita belum resmi apa-apa,” balas Chelsi.
“Tapi kamu sudah bicara seolah semuanya selesai.”
Chelsi memalingkan wajah. “Karena di dalam hati… mungkin memang sudah.”
Di atas, Auriga tidak tahan lagi.
Ia melangkah keluar kamar.
Langkahnya terdengar di tangga.
Chelsi dan Nervando sama-sama menoleh.
Auriga berdiri di tengah anak tangga, wajahnya tidak menunjukkan emosi. Tapi matanya terlalu tenang untuk disebut baik-baik saja.
“Cukup,” ucapnya pelan.
Suara itu tidak keras. Tapi cukup membuat keduanya diam.
“Kalian nggak perlu debat soal gue,” lanjutnya.
Chelsi menatapnya dengan mata yang langsung melembut. “Auriga…”
“Gue bukan barang,” katanya datar. “Bukan koper yang bisa dipindah.”
Nervando terdiam.
Auriga menuruni tangga satu per satu. Setiap langkah terasa berat.
“Kalau kalian mau pisah… itu keputusan kalian,” ucapnya. “Tapi jangan jadikan gue alasan.”
Chelsi menggigit bibirnya. “Mama cuma mau yang terbaik buat kamu.”
“Apa kalian pernah tanya gue mau apa?”
Pertanyaan itu menggantung.
Tidak ada jawaban.
Auriga tersenyum tipis, tapi tidak sampai ke matanya. “Gue capek.”
Bukan capek fisik.
Capek jadi topik.
Capek jadi alasan.
Capek jadi pusat pertengkaran.
Dan di ruang tengah itu, untuk pertama kalinya, kedua orang tuanya melihat bahwa anak mereka bukan lagi bocah yang bisa dilindungi dari kenyataan.
Ia sudah cukup dewasa untuk merasakan retaknya rumah itu.
Dan mungkin… terlalu lama menanggungnya sendirian.
Ruangan itu masih dipenuhi ketegangan ketika Auriga berdiri di antara Chelsi dan Nervando.
Untuk sesaat, ia terlihat tenang.
Terlalu tenang.
Lalu sesuatu dalam dirinya pecah.
“Kalian berdua egois.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Chelsi tersentak. “Auriga—”
“Jangan,” potongnya tajam. “Jangan panggil gue dengan nada kayak tadi.”
Nervando mengerutkan kening. “Jaga bicaramu.”
Auriga tertawa pendek. Hambar. “Jaga bicara? Serius?”
Ia menatap mereka bergantian. “Kalian ribut soal siapa yang lebih capek. Siapa yang lebih berkorban. Siapa yang paling benar.”
“Tapi nggak satu pun dari kalian mikirin gimana rasanya jadi gue.”
Sunyi.
Chelsi mendekat satu langkah. “Mama mikirin kamu.”
“Mikirin?” suara Auriga meninggi. “Dengan cara saling lempar salah tiap malam?”
Nervando menghela napas keras. “Ini urusan orang dewasa.”
“Dan gue hidup di dalamnya!” balas Auriga.
Dadanya naik turun cepat. Semua emosi yang selama ini ia tahan, yang ia simpan di balik helm dan suara mesin motor, keluar tanpa rem.
“Kalian tahu kenapa gue jarang di rumah?” tanyanya.
Tidak ada yang menjawab.
“Karena rumah ini nggak pernah tenang.”
Chelsi terdiam. Wajahnya pucat.
“Gue lebih nyaman di jalanan daripada di sini,” lanjut Auriga. “Setidaknya di sana nggak ada yang pura-pura.”
“Auriga…” suara Chelsi bergetar.
“Jangan bilang kamu nggak tahu,” potongnya. “Kalian berdua terlalu sibuk saling salahkan sampai nggak sadar gue udah lama berdiri sendirian.”
Nervando menatapnya tajam. “Kami melakukan ini juga demi kamu.”
Auriga menggeleng keras. “Jangan bawa-bawa gue.”
Ia melangkah mundur sedikit, jaraknya dari mereka semakin jauh.
“Kalau kalian mau pisah, ya pisah. Tapi jangan sok bilang itu demi gue.”
Kata demi terdengar seperti ejekan.
Chelsi mulai menangis, tapi Auriga tidak berhenti.
“Gue nggak butuh rumah besar. Gue nggak butuh sekolah mahal,” katanya, suaranya mulai serak. “Gue cuma butuh orang tua yang nggak saling benci tiap malam.”
Kalimat itu seperti tamparan.
Nervando membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Auriga menatap ayahnya lebih lama. “Dan lo… jangan cuma bangga bisa bayar semuanya.”
Nervando membeku.
“Gue nggak pernah butuh uang lo buat ngerasa punya ayah.”
Suasana menjadi sunyi, tapi bukan sunyi yang tenang. Ini sunyi yang berat. Sunyi yang dipenuhi kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali.
Auriga mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menangis. Ia tidak akan menangis.
“Terserah kalian mau apa,” ucapnya akhirnya, lebih pelan tapi tetap tajam. “Tapi jangan harap gue bakal baik-baik aja.”
Ia berbalik.
Langkahnya cepat. Tangga diinjak tanpa ragu. Pintu kamarnya ditutup keras.
Suara itu menggema.
Di ruang tengah, Chelsi dan Nervando berdiri tanpa kata.
Untuk pertama kalinya malam itu, mereka tidak lagi saling menyalahkan.
Karena ledakan Auriga barusan lebih menyakitkan dari semua tudingan sebelumnya.
Dan di dalam kamar, Auriga Brastala Nervando bersandar di balik pintu, napasnya masih memburu.
Amarahnya sudah keluar.
Tapi rasa sakitnya tetap tinggal.
Pintu kamar Auriga sudah lama tertutup.
Di ruang tengah, Chelsi berdiri dengan wajah pucat. Tangisnya tidak lagi keras, hanya tersisa sisa-sisa napas yang berat.
Nervando berdiri mematung beberapa langkah darinya.
Kata-kata Auriga masih menggema.
Gue nggak pernah butuh uang lo buat ngerasa punya ayah.
Kalimat itu menancap lebih dalam daripada tuduhan Chelsi.
Nervando mengusap wajahnya perlahan. Tidak ada lagi nada tinggi. Tidak ada lagi keinginan untuk membalas.
Hanya lelah.
“Aku nggak pernah niat nyakitin dia,” ucapnya pelan.
Chelsi menatapnya dengan mata sembab. “Tapi tetap kejadian.”
Sunyi.
Rumah itu terasa terlalu besar untuk tiga orang yang sama-sama terluka.
Nervando berjalan ke arah meja, mengambil kunci mobilnya. Gerakannya tidak terburu-buru. Tidak emosional. Justru terlalu tenang.
“Kamu mau ke mana?” tanya Chelsi lirih.
“Keluar.”
“Jam segini?”
Nervando menoleh. “Aku nggak bisa di sini sekarang.”
Chelsi terdiam. Ia tidak mencoba menahan.
Mungkin karena ia tahu—menahan seseorang yang sudah ingin pergi hanya akan memperpanjang luka.
Nervando berdiri di depan pintu. Tangannya menggenggam gagang, tapi ia belum membukanya.
“Aku nggak pernah merasa cukup di rumah ini,” katanya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Dan sekarang… mungkin memang sudah waktunya berhenti memaksakan.”
Chelsi menutup mata sebentar.
“Jangan jadikan kepergian ini cara untuk lari lagi,” ucapnya pelan.
Nervando tidak menjawab.
Pintu terbuka.
Udara malam masuk, membawa hawa dingin yang menusuk.
Di lantai dua, Auriga mendengar suara itu. Ia tidak keluar kamar. Tapi ia tahu suara langkah itu.
Ia hafal.
Langkah ayahnya.
Terdengar sampai ke teras.
Lalu suara pintu tertutup.
Beberapa detik kemudian, mesin mobil menyala.
Auriga bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan ke jendela. Dari balik tirai tipis, ia melihat mobil itu perlahan menjauh.
Tidak ada klakson.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada drama.
Hanya lampu belakang yang semakin kecil di ujung jalan.
Auriga tidak tahu apakah itu pergi sementara… atau selamanya.
Di bawah, Chelsi masih berdiri di ruang tengah. Tangannya kosong. Tatapannya kosong.
Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa benar-benar setengah.
Dan di kamar lantai dua, Auriga Brastala Nervando berdiri dalam diam, menyadari bahwa malam ini bukan hanya tentang kata cerai.
Ini tentang seseorang yang benar-benar pergi.
Tanpa janji akan kembali.
Subuh belum benar-benar datang ketika suara motor meraung memecah sunyi.
Auriga tidak tidur.
Ia hanya berganti jaket, mengambil helm, lalu keluar tanpa banyak kata. Chelsi melihatnya dari ruang makan, tapi tidak menghentikan. Mungkin ia tahu—malam itu, tidak ada yang bisa menahan anaknya.
Mesin motor Dragon menyala dengan suara yang lebih kasar dari biasanya.
Auriga duduk di atasnya beberapa detik, menatap jalanan yang masih kosong. Dingin pagi menyentuh wajahnya, tapi dadanya jauh lebih panas.
Ia memutar gas.
Motor melesat.
Angin menghantam tubuhnya, tapi tidak cukup kuat untuk mengusir kalimat-kalimat semalam.
Gue nggak pernah butuh uang lo buat ngerasa punya ayah.
Kata-katanya sendiri kini berputar di kepalanya.
Lampu jalanan menjadi garis-garis cahaya saat ia menambah kecepatan. Jalanan lurus di depan seperti satu-satunya hal yang jelas dalam hidupnya saat ini.
Ponselnya bergetar di saku jaket.
Grup Dragon aktif.
Alkael
Bro lo di mana
Geron
Tadi liat story lo masih online jam tiga
Fattah
Balap pagi yuk
Auriga tidak membalas. Ia langsung mengarahkan motornya ke titik biasa mereka berkumpul.
Gudang kosong di ujung kota.
Ketika ia tiba, beberapa motor sudah terparkir. Angkasa berdiri sambil merokok. Reano duduk di atas motornya. Geovano dan Geril sedang berbincang pelan.
Mereka semua menoleh ketika suara motor Auriga mendekat.
Geron mengangkat alis. “Lo keliatan nggak tidur.”
Auriga melepas helm. Wajahnya dingin. Matanya lebih gelap dari biasanya.
“Balap,” katanya singkat.
Alkael menatapnya lebih lama. “Lo baik-baik aja?”
Auriga menatap lurus ke depan. “Balap.”
Tidak ada yang bertanya lagi.
Mereka tahu nada itu.
Lintasan pagi itu masih kosong. Aspal sedikit lembap oleh embun. Udara tipis menusuk paru-paru.
Auriga berdiri di garis start.
Di kepalanya bukan soal menang atau kalah.
Bukan soal geng Elchasil.
Bukan soal reputasi.
Ia hanya ingin suara mesin lebih keras dari pikirannya sendiri.
“Siap?” teriak Angkasa.
Auriga tidak menjawab. Ia hanya menunduk sedikit.
Tangan menggenggam gas.
Bendera imajiner turun.
Motor melesat.
Cepat.
Terlalu cepat.
Angin menampar wajahnya, tapi ia tidak peduli. Ia menambah kecepatan di tikungan pertama tanpa perhitungan matang.
Geron berteriak dari belakang. “Gila lo!”
Auriga tidak mendengar.
Atau mungkin tidak mau mendengar.
Ia memacu motor seolah ingin meninggalkan sesuatu yang mengejarnya.
Rumah.
Suara pintu.
Lampu mobil yang menjauh.
Ia menikung tajam, ban belakang sedikit tergelincir. Jantungnya berdebar keras, tapi kali ini bukan karena takut.
Ini pelampiasan.
Ini pelarian.
Ini cara paling mudah untuk tidak merasa.
Di garis akhir, ia tiba pertama.
Remnya ditekan keras. Motor berhenti mendadak.
Sunyi.
Napasnya memburu. Tangannya sedikit gemetar.
Geron mendekat cepat. “Lo hampir jatuh tadi.”
Auriga hanya menatap lurus ke depan.
Fattah menyeringai tipis. “Tapi lo menang.”
Auriga tertawa kecil.
“Menang?” gumamnya.
Kata itu terasa aneh.
Menang di lintasan.
Tapi kalah di rumah.
Ia menurunkan standar motornya perlahan.
Alkael berdiri di sampingnya. “Ada apa?”
Auriga menggeleng. “Nggak ada.”
Tapi semua orang tahu, ada.
Dragon mungkin memberinya tempat berdiri.
Tapi pagi itu, bahkan suara mesin dan kemenangan kecil tidak cukup untuk menutupi lubang yang mulai terbuka dalam dirinya.
Auriga Brastala Nervando bisa memacu motor tanpa rem.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak tahu bagaimana cara menghentikan rasa yang terus berlari di dalam dadanya.
Auriga menuruni motor di depan rumah ketika matahari mulai naik.
Motor masih berderu sebentar, lalu ia matikan. Suara pagi yang tenang terasa asing. Bahkan burung-burung tampak bersiul lebih pelan dari biasanya.
Chelsi berdiri di teras, matanya merah. Nervando sudah pergi sejak subuh. Mobilnya hilang di ujung jalan.
Auriga menatap rumah itu sejenak. Dindingnya sama. Pintu depannya sama. Tapi rasanya… tidak sama.
Ia meletakkan helm di rak dan membuka pintu perlahan. Bau kopi pagi dan sisa semalam terasa kontras dengan keheningan yang berat.
Chelsi menarik napas panjang, mencoba tersenyum tipis. “Auriga… selamat pagi.”
Auriga menatapnya, wajahnya datar. “Pagi, Ma.”
Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Hanya keduanya yang berdiri di ruang tengah, saling menatap, seperti menilai apakah dunia ini masih sama atau sudah berubah selamanya.
Chelsi memejamkan mata sebentar, lalu berkata perlahan. “Aku… aku akan coba tetap ada. Biar nggak cuma kata-kata semalam yang tersisa.”
Auriga menatap ibunya. Ada sedikit rasa lega, tapi ia tetap berhati-hati. “Oke. Tapi jangan salah paham. Gue nggak gampang dilindungi sekarang.”
Chelsi tersenyum tipis, getir. “Aku tahu.”
Auriga berjalan ke tangga, berhenti di anak tangga pertama, menoleh ke ruang tengah. “Dan Ma… jangan pikir gue marah sama kalian. Gue cuma… capek lihat kalian ribut terus.”
Chelsi mengangguk. “Aku ngerti. Makanya kita harus coba mulai lagi… perlahan.”
Auriga menunduk sebentar, lalu naik ke kamarnya. Di kamar itu, ia duduk di tepi tempat tidur, memandang jendela.
Di luar, dunia terus berjalan. Anak-anak tetangga mulai keluar rumah, suara motor dan burung berpadu.
Auriga Brastala Nervando menarik napas panjang. Ia tahu, rumah ini sama. Tapi hatinya tahu, setelah malam itu, tidak ada yang akan pernah sama lagi.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa… harus belajar menghadapi dunia sendiri, meski masih ada orang tua yang ia cintai di dalam rumah yang sama.
Malam perpisahan itu telah pergi. Kini yang tersisa hanyalah pagi yang berat, dan pilihan untuk tetap berdiri di tengah retaknya dunia kecilnya.
