berangkat bareng
Pagi datang tanpa permisi. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai kamar Auriga, jatuh tepat di wajahnya yang masih pucat. Matanya terbuka perlahan, kepala terasa berat, bahu pegal, dan ada nyeri samar di pergelangan tangannya.
Auriga duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.
Malam tadi terlalu panjang.
Balapan pertama Dragon masih berputar di kepalanya. Suara mesin meraung, teriakan anggota geng, sorot mata lawan dari geng Elchasil, dan detik-detik ketika ia menekan gas tanpa ragu. Semua terasa nyata, bahkan terlalu nyata untuk disebut kenangan.
Auriga meraih jaket yang tergeletak di kursi. Ada noda debu dan sedikit goresan di lengannya. Ia menatapnya sebentar, lalu tertawa pelan tanpa suara.
“Kacau,” gumamnya.
Di luar kamar, rumah masih sunyi. Tidak ada suara langkah Chelsi, tidak ada sapaan pagi. Ayahnya, Nervando, bahkan mungkin belum pulang. Seperti biasa.
Auriga melangkah keluar kamar, melewati ruang tengah yang dingin dan rapi tapi tak pernah terasa hidup. Ia berhenti sejenak di depan pintu, lalu membukanya.
Motor itu ada di sana.
Terparkir gagah di halaman, hitam dengan garis merah yang masih bersih. Motor hasil balapan semalam. Hadiah kemenangan pertama Dragon. Mesin baru, bodi mulus, dan aura yang terlalu mencolok untuk lingkungan yang tenang.
Auriga menatapnya lama.
Bukan bangga yang pertama kali ia rasakan, tapi lelah.
Ia mendekat, mengusap stang motor itu pelan, lalu menurunkan pandangan. Ada sisa getaran di tangannya, seperti tubuhnya belum benar-benar keluar dari lintasan balap.
“Kita menang,” ucapnya pelan, seolah bicara pada motor itu sendiri. “Tapi rasanya nggak sesederhana itu.”
Auriga kembali masuk ke rumah, mengambil tas sekolah, mengganti jaket dengan seragam. Di cermin, wajahnya tampak datar, tapi matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam—campuran tanggung jawab, kebingungan, dan sisa adrenalin yang belum habis.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Hari ini sekolah. Dunia yang berbeda. Dunia yang tidak tahu apa-apa tentang lintasan gelap, taruhan, dan geng motor.
Auriga melangkah keluar lagi, kali ini dengan tujuan jelas. Ia mengenakan helm, menyalakan motor, dan suara mesin langsung memecah pagi yang tenang.
Beberapa tetangga menoleh.
Auriga tidak peduli.
Saat motor mulai melaju pelan meninggalkan rumah, satu hal terlintas di benaknya. Wajah Elara. Tenang. Bersih. Jauh dari dunia yang baru saja ia masuki lebih dalam.
Auriga menelan ludah.
“Gue nggak boleh bawa dia ke dunia ini,” gumamnya. “Nggak boleh.”
Motor melaju menyusuri jalan pagi, meninggalkan rumah dingin itu di belakang. Auriga tidak tahu, pagi ini justru akan menjadi awal persimpangan baru dalam hidupnya.
Dan Elara ada di salah satu jalurnya.
Auriga memperlambat laju motornya saat mendekati persimpangan kecil. Jalanan pagi belum terlalu ramai, hanya beberapa kendaraan lewat dengan ritme santai. Angin pagi menyentuh helmnya, membawa aroma debu tipis dan udara dingin.
Lalu ia melihatnya.
Elara berdiri di halte kecil dekat warung tutup. Seragamnya rapi, tas disampirkan di bahu kanan. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya tenang seperti biasa. Ia menatap jalan, jelas sedang menunggu angkot yang belum juga datang.
Tangan Auriga refleks mengendur di gas.
Hatinya ikut mengendur.
Motor melaju pelan, hampir berhenti. Auriga menoleh sekilas ke arah spion, memastikan jalan di belakang aman. Lalu kembali menatap ke depan. Elara masih di sana, kini menunduk, entah melihat jam di pergelangan tangan atau sekadar menghela napas kecil.
Auriga ragu.
Motor ini terlalu mencolok. Suara mesinnya terlalu keras. Dunia semalam masih melekat di tubuhnya. Dragon, Elchasil, balapan, taruhan—semuanya terasa kontras dengan sosok Elara yang berdiri diam, bersih, dan tenang di halte itu.
“Gue nggak seharusnya berhenti,” gumamnya pelan di balik helm.
Tapi jaraknya sudah terlalu dekat untuk pura-pura tidak melihat.
Elara mendongak.
Pandangan mereka bertemu. Tidak lama, tapi cukup untuk membuat dada Auriga terasa lebih sesak dari sisa balapan semalam.
Elara mengerjap, lalu alisnya sedikit terangkat. Ia tidak melambaikan tangan, tidak tersenyum berlebihan. Hanya menatap, seolah bertanya tanpa kata.
Auriga menekan rem perlahan.
Motor berhenti beberapa meter dari halte. Mesin masih menyala. Ia belum turun, belum membuka helm. Hanya diam di sana, ragu antara pergi atau benar-benar berhenti.
“Elara…” ucapnya pelan, lebih ke dirinya sendiri.
Elara melangkah mendekat beberapa langkah. Suaranya lembut, tapi jelas.
“Kamu… berangkat sekolah?”
Auriga mengangguk singkat.
“Iya.”
Tatapan Elara turun sebentar ke motor, lalu kembali ke wajah Auriga. Tidak ada takut, tidak ada kagum berlebihan. Hanya penasaran yang wajar.
“Motor baru?” tanyanya.
Auriga terdiam sepersekian detik.
“Iya.”
Hening sebentar. Suara mesin masih menggeram pelan di antara mereka.
Elara memeluk tasnya, lalu berkata ringan,
“Angkotnya lama.”
Kalimat itu sederhana. Tapi di telinga Auriga, terdengar seperti pilihan.
Ia menelan ludah. Tangannya mencengkeram stang motor sedikit lebih erat. Dalam kepalanya, dua dunia saling bertabrakan—dunia Dragon yang baru ia bangun, dan dunia Elara yang ingin tetap ia jaga.
Auriga akhirnya mematikan mesin.
Suara itu lenyap, digantikan pagi yang lebih sunyi.
“Kalau…” ucapnya pelan, masih ragu. “Kalau kamu mau… gue bisa anter.”
Elara menatapnya beberapa detik. Lalu mengangguk kecil.
“Kalau nggak merepotkan.”
Auriga menggeleng pelan.
“Nggak.”
Padahal, hatinya tahu—ini bukan soal repot atau tidak. Ini soal keberanian membiarkan seseorang lebih dekat ke hidupnya.
Dan pagi itu, Auriga memilih berhenti.
Elara berdiri di samping motor, memperhatikan detailnya sekilas. Garis merah di bodinya masih terlihat baru, nyaris belum tersentuh debu. Motor itu jelas bukan motor lama Auriga yang biasa ia lihat.
Auriga mengambil helm cadangan dari jok, menyerahkannya tanpa banyak bicara.
“Pakai ini.”
“Terima kasih,” ucap Elara pelan, menerima helm itu dengan kedua tangan.
Ia mengenakannya dengan hati-hati, lalu menatap motor itu lagi.
“Motornya… beda dari biasanya.”
Auriga mengangguk singkat.
“Iya.”
Elara naik, duduk dengan jarak sopan di belakangnya. Tangannya ragu-ragu, belum tahu harus berpegangan di mana. Auriga merasakan itu, meski tidak menoleh.
“Kamu ganti motor?” tanya Elara lagi.
Auriga menyalakan mesin, lalu menjawab seadanya.
“Pinjam.”
Jawaban itu terlalu singkat untuk disebut penjelasan. Elara terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, seolah mengerti bahwa ia tidak akan mendapat cerita lebih.
“Oh,” ucapnya pelan.
Motor mulai melaju. Auriga mengendalikan kecepatan dengan hati-hati, jauh lebih pelan dari ritme balapan semalam. Jalanan pagi mulai ramai, tapi ia memilih jalur yang lebih sepi.
Beberapa meter berlalu dalam keheningan yang tidak canggung, tapi penuh makna.
“Elara,” kata Auriga tiba-tiba.
“Iya?”
“Kalau nanti di sekolah ada yang nanya… soal motor ini…” Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Bilang aja gue pinjam. Jangan mikir aneh-aneh.”
Elara menunduk sedikit, helmnya hampir menyentuh punggung Auriga.
“Aku nggak mikir aneh-aneh.”
Auriga menarik napas pelan.
“Bagus.”
Angin pagi menyentuh jaket mereka. Elara akhirnya memegang ujung jaket Auriga, pelan, nyaris tak terasa. Auriga menegang sepersekian detik, lalu membiarkannya.
Elara kembali bicara, suaranya hampir tenggelam oleh angin.
“Aku cuma pengin tahu… kamu baik-baik aja?”
Auriga tidak langsung menjawab. Jalan di depannya lurus, tapi pikirannya tidak.
“Iya,” katanya akhirnya. “Cuma capek.”
Elara mengangguk kecil.
“Hati-hati. Capek itu kadang nggak kelihatan.”
Kalimat sederhana itu terasa lebih berat daripada suara mesin. Auriga menggenggam stang sedikit lebih erat.
“Iya,” ulangnya pelan.
Motor terus melaju, meninggalkan halte dan pagi yang perlahan semakin ramai. Elara tidak bertanya lagi, dan Auriga tidak menjelaskan lebih jauh.
Di antara suara angin dan mesin, ada kesepakatan diam yang terbentuk. Tidak semua hal harus diceritakan sekarang. Tidak semua luka perlu ditunjukkan.
Dan Auriga bersyukur, Elara mengerti cara diam yang seperti itu.
Motor berhenti sejenak di pinggir jalan saat lampu lalu lintas menyala merah. Auriga menurunkan kaki, menjaga keseimbangan. Elara masih memegang ujung jaketnya, pelan dan rapi.
Auriga menarik napas, lalu berkata tanpa menoleh.
“Kalo nanti pulang… kalo angkot penuh… lo bisa ikut gue lagi.”
Elara terdiam sebentar.
“Pulang sekolah?”
“Iya.”
Nada suara Auriga datar, seolah itu hal biasa. Tapi jarinya sedikit menegang di stang motor, menunggu jawaban.
Elara mengangguk kecil, meski Auriga tak bisa melihatnya.
“Kalau kamu nggak keberatan.”
Auriga menggeleng pelan.
“Nggak.”
Lampu hijau menyala. Motor kembali melaju. Suasana terasa berbeda, lebih ringan, seolah tawaran sederhana itu membuat jarak di antara mereka sedikit menyempit.
Beberapa saat kemudian, Elara berbicara lagi.
“Kamu sering pulang langsung?”
“Iya.”
“Jarang mampir ke mana-mana?”
Auriga terdiam sejenak.
“Kadang.”
Jawaban-jawabannya singkat, tapi Elara tidak merasa diusir. Ia justru merasa Auriga sedang belajar membuka ruang, meski sedikit dan perlahan.
Angin pagi kembali menyentuh mereka. Elara menyesuaikan pegangan, sedikit lebih yakin. Auriga memperlambat laju motor saat melewati jalan berlubang, refleks tanpa diminta.
“Terima kasih,” ucap Elara tiba-tiba.
Auriga menoleh sekilas lewat spion.
“Kenapa?”
“Karena kamu nyetir pelan.”
Auriga terdiam, lalu berkata pelan.
“Biasa.”
Padahal tidak.
Di kepalanya, lintasan balapan semalam masih jelas. Kecepatan, teriakan, dan insting liar. Tapi pagi itu, bersama Elara, ia memilih pelan. Memilih sadar. Memilih aman.
Lampu sekolah mulai terlihat dari kejauhan. Gerbang besar berdiri tenang, seolah menyambut dua dunia yang datang bersamaan.
Auriga memperlambat motor lagi sebelum masuk area parkir.
“Nanti pulang… kita ketemu di sini aja.”
Elara mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada janji berlebihan. Tidak ada kata manis. Tapi bagi Auriga, tawaran sederhana itu sudah cukup besar.
Karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian di jalan yang ia pilih.
Motor melaju stabil, tidak terlalu cepat, tidak terlalu pelan. Auriga menjaga ritme, seolah jalan pagi itu bukan sekadar jarak dari halte ke sekolah, tapi ruang kecil untuk bernapas.
Tidak ada percakapan.
Dan anehnya, itu tidak terasa canggung.
Angin pagi menyentuh sisi helm mereka, membawa suara dedaunan dan klakson jauh di belakang. Elara duduk tegak, tidak menempel berlebihan, tapi juga tidak menjaga jarak berlebihan. Pegangannya tetap di ujung jaket Auriga, pelan, konsisten.
Auriga menyadari itu.
Ia tidak menoleh, tapi ia tahu.
Tangannya di stang motor mantap. Setiap kali melewati jalanan yang sedikit bergelombang, ia otomatis mengurangi kecepatan. Setiap kali ada kendaraan lain menyalip, ia memberi ruang lebih.
Elara memperhatikan semua itu tanpa berkata apa-apa.
Dalam diam, ia merasa aman.
Auriga juga merasakan sesuatu yang berbeda. Tidak ada teriakan, tidak ada tekanan, tidak ada adrenalin berlebih seperti semalam. Yang ada hanya suara mesin yang jinak dan napasnya sendiri yang mulai teratur.
Ini jauh dari dunia Dragon.
Dan untuk sesaat, ia tidak membencinya.
Beberapa meter berlalu. Elara sedikit mencondongkan tubuh ke depan, suaranya lembut tapi jelas.
“Kalau capek… kamu bisa bilang.”
Auriga mengangguk kecil.
“Iya.”
Sunyi kembali menyelimuti mereka. Tapi sunyi itu hangat, bukan kosong. Seperti kesepakatan tak tertulis bahwa tidak semua hal harus diisi kata-kata.
Di spion, Auriga menangkap pantulan helm Elara. Ia terlihat tenang. Tidak gelisah, tidak ragu. Seolah percaya penuh pada arah yang Auriga pilih.
Kepercayaan itu membuat dada Auriga terasa berat sekaligus hangat.
Ia menelan ludah, lalu berkata pelan.
“Kalau gue nyetir terlalu pelan… bilang aja.”
Elara tersenyum di balik helm.
“Enggak. Aku suka begini.”
Auriga tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit.
Motor terus melaju, melewati jalanan pagi yang semakin ramai. Di antara suara kota yang mulai bangun, ada satu ruang kecil yang terasa utuh—dua orang, satu arah, dan keheningan yang saling menjaga.
Dan Auriga sadar, kenyamanan seperti ini jauh lebih sulit ditemukan daripada kemenangan di lintasan balap.
Motor tetap melaju dengan ritme tenang. Namun di balik helm, pikiran Auriga mulai melayang. Jalanan di depannya lurus, tapi ingatannya berbelok ke malam sebelumnya.
Wajah Alkael muncul jelas.
Sorot matanya tajam, penuh keyakinan, berdiri di sisi lintasan dengan jaket Dragon terbuka. Auriga masih bisa mendengar suaranya, berat dan tegas di antara raungan mesin.
“Gas, Rig! Sekarang!”
Teriakan itu kembali terngiang, bercampur dengan suara anggota Dragon lainnya. Angkasa, Geron, Fattah, semuanya bersorak, memanggil namanya, mendorongnya untuk menekan gas lebih dalam.
Auriga mengingat momen itu. Detik ketika ia ragu, lalu memilih percaya. Detik ketika ia menarik gas habis dan membiarkan motor melesat tanpa menoleh ke belakang.
Tangannya di stang motor saat ini refleks menegang.
Kecepatan motor sedikit meningkat tanpa ia sadari.
“El…” suara Elara terdengar pelan dari belakang.
Auriga tersentak, segera menurunkan kecepatan.
“Maaf.”
“Nggak apa-apa,” jawab Elara lembut. “Kamu kelihatan melamun.”
Auriga mengangguk kecil.
“Cuma… kepikiran sesuatu.”
Elara tidak memaksa bertanya. Ia hanya kembali memegang ujung jaket Auriga, sedikit lebih erat dari sebelumnya. Sentuhan kecil itu menarik Auriga kembali ke pagi.
Ke lintasan yang berbeda.
Sorakan Dragon memudar, digantikan suara angin dan lalu lintas. Wajah Alkael dan anggota lainnya perlahan menjauh, meski tidak sepenuhnya hilang.
Auriga menarik napas panjang.
“Gue baik-baik aja,” katanya, lebih ke dirinya sendiri.
Elara mengangguk, seolah mengerti.
“Kalau nanti mau cerita… aku dengerin.”
Kalimat itu sederhana. Tapi Auriga merasakannya seperti pegangan baru, jauh lebih stabil dari gas penuh di lintasan balap.
Motor kembali melaju pelan. Auriga menjaga kecepatannya dengan sadar kali ini. Setiap meter yang ia lalui terasa lebih nyata, lebih terkendali.
Di antara dua dunia yang mulai ia jalani, Auriga tahu satu hal.
Ia tidak bisa menghapus Dragon.
Tapi ia juga tidak ingin kehilangan pagi seperti ini.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—bagaimana caranya menjaga keduanya tetap hidup.
Motor melaju stabil, tapi Elara bisa merasakan perubahan kecil dari cara Auriga memegang stang. Tidak kasar, tidak goyah, hanya sedikit lebih kaku dari sebelumnya.
Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Kamu… beneran baik-baik aja?”
Pertanyaan itu diucapkan pelan, hampir tenggelam oleh suara angin. Tapi Auriga mendengarnya dengan jelas.
“Iya,” jawabnya cepat.
Terlalu cepat.
Elara diam sejenak. Tangannya masih memegang ujung jaket Auriga, tapi kali ini ia tidak berkata apa-apa. Auriga menyadari keheningan itu, dan menarik napas dalam-dalam.
“Capek,” katanya akhirnya. “Cuma itu.”
Elara mengangguk kecil.
“Kamu nggak keliatan capek.”
Auriga tersenyum tipis, meski Elara tak bisa melihatnya.
“Gue emang jarang keliatan.”
Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan. Setelahnya, ia terdiam, seolah menunggu Elara menarik diri atau mengubah topik.
Tapi Elara tetap tenang.
“Kalau kamu mau istirahat sebentar nanti… nggak apa-apa,” katanya. “Aku bisa nunggu.”
Auriga terkejut kecil.
“Nggak perlu.”
“Bukan karena aku,” lanjut Elara lembut. “Karena kamu.”
Auriga menelan ludah. Jalanan di depannya terasa sedikit kabur. Bukan karena lelah, tapi karena kata-kata sederhana itu tepat mengenai sesuatu yang lama ia abaikan.
“Iya,” ucapnya pelan. “Nanti.”
Tidak ada penjelasan lanjutan. Tapi ada pemahaman yang tumbuh pelan di antara mereka. Elara tidak mencoba menyelamatkan, tidak mencoba masuk terlalu dalam. Ia hanya memastikan Auriga tahu bahwa ada seseorang yang peduli.
Motor mulai melambat saat mereka mendekati area sekolah. Papan nama sekolah terlihat di kejauhan, dan lalu lintas mulai padat oleh siswa lain.
Auriga menurunkan kecepatan dengan hati-hati.
“Kalau nanti di sekolah… anggap aja biasa.”
Elara tersenyum kecil di balik helm.
“Aku emang biasa aja.”
Jawaban itu membuat dada Auriga terasa lebih ringan.
Mereka tidak saling melihat, tapi keduanya tahu—pertanyaan sederhana tadi telah membuka ruang kecil yang hangat. Ruang yang tidak memaksa, tapi cukup untuk membuat Auriga merasa… tidak sendirian.
Dari arah berlawanan, suara mesin lain mendekat. Lebih berat. Lebih kasar. Auriga mengenali ritmenya bahkan sebelum motor itu terlihat jelas.
Elchasil.
Dua motor melintas beriringan, knalpotnya meraung singkat, seolah sengaja pamer. Salah satu pengendaranya menoleh, helm hitam dengan garis perak—logo yang Auriga kenal dengan baik.
Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Insting Auriga langsung bangkit. Otot di lengannya menegang, refleksnya hampir menarik gas lebih dalam. Balapan semalam belum sepenuhnya meninggalkan tubuhnya.
Elara ikut merasakan perubahan itu.
Tangannya mengencang di jaket Auriga.
“Auriga…”
Suaranya tidak keras. Tapi cukup.
Auriga menarik napas panjang. Dalam-dalam. Ia menurunkan kecepatan sedikit, sengaja, sadar. Mesin motor Dragon merespons dengan dengungan rendah yang jinak.
“Elara,” katanya pelan. “Pegang yang nyaman.”
Ia tidak menoleh. Tapi ia tahu Elara mengangguk.
Motor Elchasil melintas sepenuhnya, meninggalkan bau asap dan suara tawa samar di udara. Salah satu dari mereka sempat mengangkat tangan, gestur provokatif yang terlalu biasa di dunia itu.
Auriga tidak membalas.
Ia menjaga pandangan lurus ke depan, rahangnya mengeras sebentar, lalu mengendur. Keputusan itu tidak mudah. Ada ego yang ingin bangkit, ada nama Dragon yang terlintas, ada ingatan tentang kemenangan semalam.
Tapi ada Elara.
Di belakangnya. Percaya. Tenang. Tidak tahu apa-apa tentang kode-kode tak tertulis di jalanan gelap itu.
Auriga memilih.
Motor tetap melaju stabil, tidak terpengaruh. Beberapa detik berlalu, lalu suara Elchasil benar-benar menghilang.
Elara mengendurkan pegangannya sedikit.
“Terima kasih.”
Auriga mengangguk kecil.
“Gue nggak mau bikin lo takut.”
Elara menggeleng pelan.
“Aku nggak takut. Aku cuma pengin kamu aman.”
Kalimat itu menancap lebih dalam dari ejekan Elchasil mana pun.
Auriga menghela napas pelan. Dadanya terasa lega, meski ada sisa panas yang belum sepenuhnya padam. Ia tahu, menahan gas jauh lebih sulit daripada menariknya habis.
Tapi pagi itu, ia berhasil.
Dan untuk pertama kalinya, kemenangan tidak datang dari lintasan atau sorakan. Tapi dari keputusan kecil—tetap tenang, demi seseorang yang duduk tepat di belakangnya.
Motor berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Auriga mematikan mesin, dan seketika suara lingkungan mengambil alih—tawa siswa, derap langkah, dan bisik-bisik yang muncul hampir bersamaan.
Beberapa kepala langsung menoleh.
Motor itu terlalu mencolok untuk pagi yang biasa.
Auriga turun lebih dulu, lalu membantu Elara turun dengan gestur singkat tapi sigap. Elara melepas helm, rambutnya sedikit berantakan oleh angin. Ia merapikannya pelan, lalu mengembalikan helm itu.
“Terima kasih,” ucapnya lembut.
Auriga mengangguk.
“Iya.”
Mereka belum melangkah jauh, tapi perhatian sudah datang. Tatapan-tatapan itu tidak semuanya terang-terangan, tapi cukup terasa. Beberapa siswa berbisik, menunjuk motor, lalu menoleh ke arah Auriga.
“Bukannya itu Auriga?”
“Motornya baru banget.”
“Itu yang bareng Elara, kan?”
Elara mendengarnya. Bahunya menegang sepersekian detik, lalu kembali rileks. Wajahnya tetap tenang, meski hatinya sedikit tidak nyaman.
Auriga menyadari perubahan kecil itu.
“Kalau lo nggak nyaman…” katanya pelan.
“Nggak apa-apa,” potong Elara lembut. “Aku bisa jalan sendiri.”
Auriga menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
“Oke.”
Mereka berjalan berdampingan beberapa langkah. Elara menjaga jarak wajar, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Auriga memperhatikan itu, dan menghargainya.
Di belakang mereka, bisik-bisik masih terdengar. Tentang motor, tentang Dragon, tentang Elara yang tiba-tiba berada di pusat perhatian tanpa ia minta.
Elara menahan napas sejenak.
“Kadang… perhatian itu capek,” katanya pelan.
Auriga mengangguk.
“Iya. Gue tau.”
Ia benar-benar tahu.
Mereka berhenti di persimpangan koridor. Elara menoleh ke arah kelasnya.
“Aku ke sana dulu.”
Auriga mengangguk.
“Iya. Hati-hati.”
Elara tersenyum kecil sebelum pergi. Senyum yang tidak dibuat-buat, meski situasi tidak sepenuhnya nyaman.
Auriga menatap punggungnya menjauh. Dadanya terasa sedikit sesak. Ia sadar, dunia yang ia bawa pagi ini—motor, nama, dan bisik-bisik—bukan dunia yang Elara pilih.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri…
apakah ia sedang menarik Elara masuk ke sesuatu yang tidak ia inginkan.
Auriga berdiri di dekat parkiran motor, menatap kerumunan siswa yang semakin ramai. Motor Dragon itu masih menjadi pusat perhatian, tapi pikirannya sudah jauh dari suara-suara di sekitarnya.
Langkah kecil terdengar mendekat.
“Elara?”
Ia menoleh. Elara berdiri beberapa langkah darinya, tas digenggam di depan tubuh. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sesuatu yang lebih hangat di sorot matanya.
“Aku lupa bilang,” ucap Elara pelan. “Terima kasih.”
Auriga mengernyit kecil.
“Buat?”
“Buat pagi ini,” jawab Elara jujur. “Buat nyetir pelan. Buat berhenti. Buat nggak bikin aku ngerasa sendirian.”
Auriga terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menancap dalam. Ia menggaruk tengkuknya pelan, kebiasaan saat tidak tahu harus menjawab apa.
“Iya,” katanya akhirnya. “Sama-sama.”
Elara tersenyum kecil. Senyum yang tidak lama, tapi cukup untuk menetap.
“Kalau nanti pulang… aku tunggu di tempat yang sama.”
Auriga mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada janji besar. Tidak ada kalimat romantis. Tapi kesepakatan kecil itu terasa lebih nyata dari apa pun yang pernah ia dapatkan dari lintasan balap.
Elara melangkah pergi. Auriga menatap punggungnya hingga hilang di balik pintu kelas. Setelah itu, ia menoleh ke arah motornya.
Motor hasil kemenangan.
Motor hasil Dragon.
Auriga menghela napas panjang.
Ia sadar, hidupnya mulai membelah dua arah yang sama-sama ia butuhkan. Dragon memberinya tempat untuk berdiri. Elara memberinya alasan untuk tetap waras.
Auriga menyentuh stang motor itu pelan.
“Gue bakal jaga dua-duanya,” gumamnya.
Tapi di dalam hatinya, ia tahu—menjaga dua dunia sekaligus tidak akan semudah menahan gas di pagi hari.
Dan itulah awal dari ujian yang sebenarnya.
