Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Amarah Auriga

Auriga Brastala Nervando melangkah keluar dari rumah tanpa sepatah kata pun. Matahari pagi baru saja muncul di langit, tapi dunia di sekitarnya terasa abu-abu. Jalanan sepi, hanya suara angin yang menggesek dedaunan dan sesekali deru kendaraan jarak jauh dari jalan utama.

Ia tidak memakai helm, membiarkan angin menampar wajahnya. Rasanya seperti ingin menghapus semua kepahitan malam sebelumnya, tapi semakin lama berjalan, semakin terasa bahwa amarahnya tidak akan pergi begitu saja.

Langkahnya cepat, hampir tergesa. Ia menendang batu kecil di trotoar. Batu itu terlempar jauh, menabrak tembok, dan memecahkan keheningan kota. Auriga menatap tembok itu, seolah menantang dunia untuk memberinya alasan untuk diam.

“Kenapa semuanya harus ribut gila begitu?” gumamnya sendiri. Suaranya rendah, serak, dan hampir tenggelam oleh desir angin.

Ia berbelok ke gang sempit, gang yang sering ia lewati saat kecil. Di sinilah ia merasa bebas dari pengawasan orang tua, tapi bukan berarti rasa sakit hilang. Malah semakin nyata.

“Auriga…” suara kecil terdengar dari balik gang.

Ia menoleh sekejap. Tidak ada siapa pun. Hanya bayangan pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Auriga menarik napas panjang. Suaranya sendiri terdengar aneh di telinganya, keras tapi rapuh. “Sendirian memang enak, tapi nggak nyaman juga…”

Ia melanjutkan langkahnya ke alun-alun kota. Kota yang sama yang selama ini ia lewati bersama teman-temannya dari geng Dragon. Tempat yang seharusnya akrab kini terasa asing. Bahkan kafe kecil di pojokan, yang biasa ramai dengan tawa, pagi itu sunyi.

Auriga berhenti sebentar di depan cermin etalase toko, menatap bayangannya sendiri. Mata gelapnya menatap balik dengan intens. “Lo nggak bisa terus-terusan diem. Lo harus jalanin ini sendiri.” Ia menepuk dadanya pelan, tapi keras di telinganya sendiri. “Dan gue capek, capek banget sama semua ini.”

Langkahnya membawa dia ke tepi sungai kecil yang membelah kota. Airnya jernih, tapi dingin, memantulkan cahaya pagi yang lembut. Auriga duduk di tepi, kaki menggantung di atas beton, menatap aliran air yang tenang.

“Apa yang gue lakukan salah?” gumamnya, lebih keras kali ini. “Apa gue terlalu egois kalau nggak ikut mereka ribut? Atau malah egois kalau gue nggak bisa nolongin?”

Ia menampar lututnya beberapa kali, frustrasi. Batu kecil yang ia lempar tadi masih menempel di sepatunya. Auriga melepaskannya, membiarkannya hanyut bersama arus sungai.

Hening. Tapi bukan hening yang menenangkan. Ini hening yang menekan dada.

Auriga menatap kota dari sisi sungai, melihat orang-orang mulai beraktivitas. Anak-anak sekolah berjalan beriringan, pedagang membuka kios, orang-orang dewasa dengan wajah tegang dan kantung mata yang berat. Semua tampak normal, tapi Auriga merasa dunia ini terlalu jauh dari dirinya.

“Kenapa gue harus ngerasa jauh sendiri, padahal gue punya rumah?” bisiknya. “Kenapa gue harus ngerasa kayak… nggak ada yang ngerti gue?”

Suaranya pecah, hampir terdengar seperti jeritan, tapi tidak ada yang mendengar. Ia menunduk, menatap air yang bergerak perlahan. Gemericik kecil itu seperti suara yang menenangkan dan menyakitkan sekaligus.

Tiba-tiba ponselnya bergetar di saku. Grup Dragon. Pesan dari Angkasa.

Angkasa

Bro, lo di mana?

Auriga menatap layar sekejap, jari-jarinya menegang. Ia tidak membalas. Tidak sekarang. Tidak mau ada yang ikut campur. Ia menekan ponsel, memasukkannya kembali ke saku.

“Gue nggak mau dia ganggu,” gumamnya sendiri. “Ini urusan gue sama dunia gue sendiri. Gue nggak perlu diselamatin sekarang.”

Langkahnya berlanjut, kaki menapak aspal yang mulai hangat. Suara motor dari jalan utama terdengar samar. Auriga menatap ke jalan, melihat bayangan mobil yang melintas. Ia menunduk lagi. Mata gelapnya menatap ke trotoar kosong, merasakan kekosongan yang sama seperti hatinya.

Tiba-tiba, ia menendang kotak sampah yang kosong. Kotak itu terbalik, berserakan. Auriga menatap reruntuhan itu. “Ini gue atau dunia yang salah?” gerutunya. “Atau semuanya salah?”

Suara langkah kaki terdengar dari belakang. Auriga menoleh. Seorang pria tua sedang membersihkan halaman rumah kecil di tepi jalan. Auriga mengangguk pelan. Pria itu hanya tersenyum samar. Tidak ada kata. Hanya diam. Auriga merasa sedikit aneh—sedikit lega tapi juga makin kesal, karena kesedihan dan amarahnya tetap tidak hilang.

Ia berjalan lagi, lebih cepat kali ini. Napasnya mulai berat. Jantungnya berdebar kencang. Kaki menapak aspal dengan ritme hampir seperti dentuman mesin motor. Setiap langkah adalah tekanan, setiap hentakan adalah kemarahan yang terpendam.

Auriga berhenti di jembatan kecil. Ia menatap ke bawah, ke arus sungai yang bergerak cepat. Angin dingin menampar wajahnya. Ia menutup mata sejenak.

“Apa gue harus marah terus? Atau gue cuma harus… lari dari semua ini?”

Ia membuka mata. Suasana kota yang tenang, sungai yang mengalir, dan langit yang mulai cerah seakan menjawab: “Gue nggak peduli. Lo harus hadapin sendiri.”

Auriga menarik napas panjang, merasa dada sesak. Ia menurunkan pandangan ke sungai. Air itu tetap mengalir, tenang. Tapi ia tahu, hatinya tidak akan tenang begitu saja.

“Tapi gue nggak bakal diem terus,” gumamnya akhirnya, suaranya serak. “Gue bakal balikin dunia ini… dengan cara gue sendiri.”

Ia berdiri, menatap kota dari jembatan. Langkahnya tegas sekarang. Tidak ragu. Mata gelapnya menyala dengan api yang sama dengan motor yang biasa ia pacu.

Auriga Brastala Nervando menelan napas dalam. Malam yang menyakitkan sudah berlalu, tapi amarahnya… amarahnya masih hidup. Dan kali ini, ia tahu… amarah itu akan menjadi bahan bakar untuk semuanya.

Dengan langkah pasti, ia menuruni jembatan, menatap jalanan kota yang kini terasa seperti arena. Dan setiap langkah membawa satu hal: kemarahan yang siap dilepaskan, tapi juga kendali yang baru akan ia pelajari.

Auriga duduk di tepi motor, helm masih tergantung di gagang. Mata gelapnya menatap lurus ke depan, tapi sebenarnya tidak melihat apa pun. Angkasa, Reano, dan Fattah berdiri di sekitarnya, ragu-ragu, saling bertukar pandang.

“Lo… baik-baik aja?” tanya Angkasa perlahan, mencoba memecah keheningan.

Auriga tidak menoleh. Tidak menjawab. Hanya menarik napas panjang dan menatap aspal di bawah ban motornya.

Reano mengernyit. “Auriga…” ucapnya lebih keras. “Kita cuma mau tahu…”

Auriga tetap diam. Tidak ada gerakan, tidak ada tanda ia mendengar. Hanya tatapan dingin yang menusuk.

Fattah akhirnya melangkah maju, mencoba nada lebih tegas. “Kalo ada yang salah, lo bisa cerita ke kita. Kita geng, bro. Gue pikir lo ngerti itu.”

Auriga menoleh pelan. Mata gelapnya menatap Fattah tanpa berkedip. Kata-katanya tidak keluar, tapi tatapannya lebih tajam daripada pedang. Fattah menelan ludah, merasakan bagaimana satu tatapan bisa membuat bulu kuduk berdiri.

“Gue ngerti,” gumam Auriga akhirnya, suaranya rendah dan datar. “Tapi gue nggak butuh kalian ikut campur.”

Angkasa menatapnya lama. “Maksud lo…?”

Auriga mencondongkan tubuh sedikit ke depan, tangan menggenggam setang motor. “Lo pikir dengan tanya-tanya atau nyoba nolongin, gue bakal lega? Gue nggak. Gue cuma bakal tambah muak sama semua orang yang sok peduli.”

Sunyi. Bahkan angin terasa berhenti sesaat.

“Bro…” Reano mencoba sekali lagi, tapi kali ini suaranya bergetar. “Kita cuma pengen tau gue bisa bantu…”

Auriga menghela napas, menatap ke langit. “Gue nggak butuh bantuan. Gue nggak butuh lo bilang ‘gue di sini buat lo.’ Gue bisa berdiri sendiri.”

Fattah mengerutkan kening. “Lo serius?”

Auriga menatapnya dalam, penuh amarah tapi terkendali. “Serius. Dan lo semua… jangan ikut campur.”

Angkasa menggeleng pelan, jelas kecewa. “Lo keras kepala, bro.”

Auriga hanya diam. Tidak ada reaksi. Diamnya bukan diam biasa. Itu diam yang berat, diam yang bikin siapa pun merasa bersalah hanya karena hidup.

“Lo… lagi marah, ya?” tanya Fattah akhirnya, mencoba nada netral.

Auriga menatapnya dengan tajam. “Nggak cuma marah. Gue kesel sama dunia. Sama semua orang yang sok ngerti, tapi nggak pernah ngerti gue sebenernya.”

Reano memandang teman-temannya. “Bro… lo nggak bisa gini terus. Nanti malah makin ngerusak diri sendiri.”

Auriga tersenyum tipis, tapi getir. “Itu urusan gue. Gue yang ngerasain. Gue yang ngerasain semua ini dari malam sampe pagi.”

Fattah menghela napas. “Lo tau nggak, gue cuma pengen lo nggak sendirian.”

Auriga menatap lurus, tajam. “Kadang sendirian itu satu-satunya cara biar gue nggak makin benci sama dunia.”

Angkasa menatapnya, tidak tahu harus bilang apa lagi. Ia bisa merasakan kemarahan yang terkunci di tubuh Auriga. Tapi Auriga tidak ingin melampiaskannya sekarang. Tidak di depan mereka. Ia lebih suka menyimpannya, menyalurkan nanti, sendiri.

Hening kembali. Kali ini lebih menekan.

Auriga menoleh, menatap semua teman gengnya. “Lo semua tenang aja. Gue nggak bakal ngamuk sekarang. Tapi jangan kira gue bakal baik-baik aja. Gue cuma bisa diem… buat sekarang.”

Reano menelan ludah, mencoba menahan rasa cemas. “Bro… kita ngerti. Gue cuma… hati-hati aja ya.”

Auriga mengangguk tipis. “Hati-hati. Jangan sampe salah ngomong. Gue nggak janji gue nggak bakal ngerespon kalo lo bikin salah lagi.”

Fattah menghela napas, mundur satu langkah. “Oke. Gue ngerti.”

Angkasa menepuk bahunya perlahan. “Lo emang keras kepala, bro. Tapi gue yakin, lo bakal baik-baik aja… suatu saat.”

Auriga menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi. Mata gelapnya tetap penuh amarah, tapi ada sedikit kilatan rasa lega—bukan lega karena mereka mengerti, tapi lega karena ia bisa menahan semua ledakan itu tanpa harus bertengkar atau melukai siapa pun sekarang.

“Gue nggak butuh lo ngerti semuanya,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada teman-temannya. “Gue cuma pengen semua diem. Gue pengen jalanin semua sendiri… sampe gue siap.”

Teman-temannya mengerti, atau setidaknya mencoba. Mereka tidak memaksa lagi. Mereka hanya berdiri di sana, menunggu Auriga menyelesaikan urusannya sendiri.

Auriga menatap kota yang mulai hidup. Lampu pagi mulai menyala, orang-orang mulai bergerak. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Dunia terus berjalan, tidak peduli rumahnya retak, orang tuanya berselisih, atau amarahnya membara.

Ia menarik napas dalam, menatap teman-temannya sekali lagi. “Oke. Gue siap jalan sekarang.”

Dan tanpa kata lagi, Auriga mengayunkan kaki, menyalakan motornya, membiarkan suara mesin yang meraung menjadi teman amarahnya. Angkasa, Fattah, dan Reano menatapnya pergi. Mereka tahu, Auriga sedang menyalurkan kemarahan itu dengan cara yang hanya bisa ia mengerti sendiri.

Di jalan yang sepi, Auriga semakin cepat. Angin menampar wajahnya, tubuhnya menegang setiap tikungan, tapi ia merasa… setidaknya sekarang, amarah itu hidup. Ia masih marah. Masih kecewa. Masih menahan rasa sakit dari rumahnya sendiri.

Tapi untuk pertama kalinya pagi itu, Auriga merasa… ia mengendalikan amarahnya sendiri.

Dan ia tahu, akan ada banyak cara lain untuk meledakkan kemarahan itu nanti. Tapi hari ini, di jalanan sepi ini, ia hanya perlu menyalurkan semuanya, sendiri, dan membiarkan dunia tahu siapa yang masih berdiri di tengah kekacauan.

Auriga sudah berdiri di garis start sebelum matahari benar-benar naik. Aspal pagi masih lembap dari embun, dan udara dingin menampar wajahnya. Motor Dragon di bawahnya bergetar pelan, tapi bagi Auriga itu tidak cukup. Ia ingin lebih. Lebih cepat. Lebih keras. Lebih… menyalurkan amarah yang membara dari rumah.

Geron dan Alkael sudah menunggu, motor mereka menyala dengan deru ringan. Fattah tersenyum tipis. “Lo siap?” tanyanya.

Auriga hanya menatap lurus ke depan. “Siap,” jawabnya singkat. Nada suaranya datar, tapi matanya menyalak. Tidak ada rasa senang. Tidak ada rasa takut. Hanya amarah yang siap dilepaskan.

Angkasa memegang bendera imajiner. “Siap… mulai!”

Motor-motor mereka melesat. Auriga langsung menekan gas, ban belakang sedikit berasap. Ia menikung di tikungan pertama dengan kecepatan yang membuat semua orang tercengang.

Di belakang, Geron berteriak. “Gila! Lo makin gila aja!”

Auriga tidak peduli. Ia hanya fokus pada jalanan di depannya. Setiap tikungan, setiap jalan lurus, ia rasakan kemarahan yang sebelumnya terpendam semakin memuncak.

Di satu titik, Alkael mencoba menyalipnya di sisi kanan. Auriga mencondongkan tubuh, motor nyaris bersenggolan. “Hati-hati!” teriak Alkael.

Auriga tidak menoleh. Ia hanya menambah gas, memaksa dirinya lebih cepat. Tidak ada yang bisa menghentikan kemarahannya sekarang.

Fattah tertinggal beberapa meter di belakang. “Lo serius banget, bro! Lo nggak takut jatuh?”

Auriga tertawa pendek, getir. “Takut? Gue malah mau jatuh kalau bisa bikin semua rasa sakit keluar!”

Di tikungan terakhir, Auriga menyalip semua teman-temannya dengan mudah. Ban belakang hampir tergelincir di aspal lembap, tapi ia tetap mengendalikan motornya dengan sempurna. Ia mencapai garis finish pertama, motor menjerit pelan saat rem ditekan keras.

Sunyi. Angin pagi masih menampar wajahnya, tapi ia tidak tersenyum. Tidak ada rasa lega. Justru semakin panas.

Geron menoleh ke Auriga, napas tersengal. “Lo… menang.”

Auriga menatap lurus ke depan, matanya dingin. “Iya. Tapi gue nggak senang.”

Alkael mengernyit. “Apa maksud lo nggak senang? Lo menang, bro. Ini keren!”

Auriga menurunkan pandangan sebentar, menatap ban motornya. “Menang? Gue menang di lintasan. Tapi rumah gue? Itu kalah terus tiap malam. Lo ngerti maksud gue?”

Fattah terdiam. Tidak ada yang bisa membantah. Kata-kata Auriga menusuk lebih dalam daripada tikungan berbahaya tadi.

Angkasa mencoba mengubah suasana. “Yah… setidaknya lo bisa lepasin amarah lo di sini, kan?”

Auriga menatapnya, tajam. “Nggak cukup. Gue cuma bisa keluarin sebagian. Sisanya masih ada di rumah. Sisanya masih ada di hati gue. Dan gue nggak bakal puas sampe semuanya keluar.”

Geron menggigit bibir. “Bro… lo serius marah banget ya?”

Auriga menghela napas, menatap kota dari atas bukit kecil di sisi lintasan. “Serius. Gue nggak bakal pura-pura senang lagi. Gue nggak bakal pura-pura diem. Gue cuma… bakal ngelepas semuanya, pelan-pelan, tapi pasti.”

Alkael menepuk pundaknya. “Lo kuat, bro. Gue nggak bakal bohong. Lo kuat banget.”

Auriga tersenyum tipis, tapi getir. “Kuat? Mungkin. Tapi nggak berarti gue senang. Gue cuma… hidup, tapi dengan cara gue sendiri. Tanpa harus diatur sama siapa pun.”

Fattah mengangguk, mengerti. “Gue ngerti. Lo harus jalan sendiri sekarang. Tapi… jangan sampe gue dan yang lain nggak bisa bantu kalau lo bener-bener butuh.”

Auriga menoleh sebentar. “Gue nggak bilang nggak. Tapi jangan kira gue bakal gampang cerita. Gue harus ngerasain semua sendiri dulu.”

Angkasa menepuk pundaknya lagi. “Lo emang keras kepala, bro. Tapi gue yakin, suatu saat lo bakal lega.”

Auriga menarik napas panjang. Ia tahu amarahnya masih menyala, tapi untuk saat ini, ia bisa mengendalikannya dengan motor dan jalanan sepi ini. Ia menatap ke horizon, menatap kota yang mulai hidup, dan rasanya… sedikit lega, walau tetap pedih.

“Gue nggak bakal berhenti,” gumamnya sendiri, suara serak tapi pasti. “Gue bakal ngelepas semua ini… pelan-pelan… tapi gue bakal hadapin semuanya.”

Dan di sana, di lintasan pagi yang masih sepi, Auriga berdiri sebagai pemenang—bukan hanya di balapan, tapi juga di medan emosinya sendiri. Amarahnya masih ada, tapi ia belajar untuk menyalurkannya, bukan menghancurkan diri sendiri atau orang lain.

Ia menatap teman-temannya, lalu menyalakan motornya lagi. “Ayo… kita lanjutkan,” ucapnya datar, tapi penuh tekad. “Masih ada banyak yang harus gue hadapin.”

Dan dengan itu, deru motor kembali memecah pagi, seolah mengiringi kemarahan yang kini menjadi bahan bakar Auriga untuk menghadapi dunia—dengan cara yang hanya ia mengerti.

Auriga menurunkan motor di markas Dragon. Pagi itu, udara terasa tegang, bukan karena cuaca, tapi karena aura yang dibawa Auriga sendiri. Matanya menyapu seluruh anggota geng yang sedang berkumpul, dari Angkasa sampai Geril, menilai siapa yang masih bisa mengimbangi kemarahannya.

“Lo kenapa keliatan serius banget pagi ini?” tanya Alkael, mencoba bercanda untuk mencairkan suasana.

Auriga menatapnya tanpa ekspresi. “Gue serius, karena gue nggak mau ada yang ngawur sekarang.”

Geril menyeringai tipis. “Ngawur gimana maksud lo?”

Auriga menatap lurus ke mereka semua. “Kalo ada yang menentang ide gue, gue nggak bakal tinggal diam. Gue nggak peduli kalo lo temen gue. Gue nggak peduli kalo lo senior di geng ini. Kalo gue pikir salah, gue bilang salah. Gue nggak bakal diem cuma karena geng ini harus rukun.”

Fattah mengangkat alis. “Auriga… chill dulu. Gue ngerti lo marah. Tapi…”

“Jangan tapi!” potong Auriga. Suaranya naik sedikit, tapi masih terkendali. “Gue capek liat orang sok ngerti tapi nggak ngerti. Gue capek liat orang ngeraguin gue. Gue capek liat orang nanya terus-terusan, kayak gue nggak bisa ambil keputusan sendiri.”

Angkasa menatapnya lama. “Bro… maksud lo… lo nggak mau ada yang menentang lo?”

Auriga mencondongkan tubuh ke depan, mata gelapnya menatap tajam. “Ya. Kalau keputusan gue salah, gue bakal nerima konsekuensinya sendiri. Tapi gue nggak mau lo semua ikut campur, bikin gue makin bingung atau malah ngeraguin diri gue sendiri.”

Geron mengerutkan kening. “Auriga… lo tau kan kita cuma pengen bantu.”

Auriga menepuk setang motornya pelan tapi keras. “Bantu? Lo pikir nge-judge setiap langkah gue itu bantu? Gue nggak butuh itu.”

Sunyi. Semua anggota geng menelan ludah, sadar bahwa nada Auriga bukan hanya kemarahan biasa. Ini kemarahan yang sudah lama tertahan, dan sekarang meledak ke permukaan.

Alkael akhirnya mencoba menahan diri. “Oke, bro… kita ngerti maksud lo. Gue cuma pengen lo tau kalo kita tetep dukung lo, meskipun kita nggak selalu sepaham.”

Auriga menatapnya sebentar. “Sepaham? Gue nggak butuh sepaham. Gue cuma butuh lo ngerti satu hal: gue nggak mau diatur. Gue nggak mau dibilang salah karena gue beda pendapat. Gue berbeda. Gue… gue Auriga.”

Fattah tersenyum tipis, getir. “Gue ngerti, bro. Gue tau lo marah karena rumah lo… tapi… jangan sampe marah lo bikin geng ini malah kacau.”

Auriga mengangkat bahu, menatap ke arah langit markas yang terang. “Kacau? Gue nggak peduli. Gue cuma mau lo semua ngerti batasan gue. Gue nggak akan diem lagi. Gue nggak akan pura-pura tenang. Gue nggak akan pura-pura… nurut.”

Geril menatap tajam, sedikit takut. “Auriga… lo emang berubah banget. Lo serius bener-bener…”

Auriga tersenyum tipis, pahit. “Iya. Gue berubah. Dan lo semua harus ngerti itu. Gue nggak sama seperti dulu. Gue nggak sama seperti kalian pikir gue masih anak-anak. Gue udah capek main aman. Gue udah capek diem. Gue udah capek nahan amarah yang selama ini gue simpen.”

Angkasa menepuk pundaknya pelan. “Lo… emang keras kepala. Tapi gue yakin, ini semua bakal bikin lo lebih kuat.”

Auriga menatapnya, tajam tapi tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan tatapan itu sendiri yang berbicara—satu pesan jelas: ia serius, dan siap mengambil alih jalannya sendiri, tanpa kompromi.

“Dengar baik-baik,” lanjut Auriga akhirnya, suaranya rendah tapi menembus udara. “Kalau gue bilang jalan ini, lo semua ikut. Kalau gue bilang gue nggak mau, lo semua mundur. Gue nggak bakal kompromi soal ini lagi. Gue nggak akan biarin siapapun… ngeganggu cara gue jalanin hidup gue sendiri.”

Sunyi lagi. Semua anggota geng menatap Auriga, sadar bahwa pagi itu, mereka bukan cuma menghadapi pemimpin yang marah, tapi seseorang yang siap menegakkan prinsipnya sendiri.

Alkael akhirnya tersenyum tipis. “Oke, bro… kita ngerti. Gue tau lo serius. Gue nggak bakal ganggu lagi.”

Auriga mengangguk pelan. “Bagus. Sekarang… kita lanjut latihan. Gue nggak mau kemarahan gue sia-sia. Gue bakal pakai energi ini buat bikin geng Dragon lebih kuat. Gue nggak peduli seberapa marah gue, gue nggak akan buang waktu.”

Fattah menghela napas, sedikit lega. “Gue tau lo marah… tapi gue tau lo bisa kontrol. Gue percaya sama lo.”

Auriga menyalakan motornya pelan. Deru mesin terdengar, mengisi markas yang sunyi itu. Ia menatap teman-temannya sebentar, lalu melesat ke lintasan latihan.

Angkasa menatapnya pergi. “Lo emang gila… tapi gue percaya lo bakal jadi lebih hebat karena semua ini.”

Auriga menoleh sekilas, mata gelapnya masih menyala. “Hebat? Mungkin. Atau gila. Bedanya tipis.”

Dan pagi itu, geng Dragon belajar satu hal penting: kemarahan Auriga bukan hanya amarah biasa. Itu energi. Itu tekad. Itu api yang bisa membakar rintangan dan menjadikan Auriga lebih kuat, lebih tegas, dan lebih tak tergoyahkan.

Auriga duduk di atap gedung tua di pinggir kota. Kaki tergantung, tangan menopang tubuh, dan matanya menatap kota yang mulai hidup dengan suara kendaraan dan aktivitas pagi. Angin dingin menampar wajahnya, tapi tidak cukup untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

Ia menatap jauh ke horizon, bayangan gedung tinggi tampak samar di balik sinar pagi. Suasana kota yang damai itu terasa kontras dengan kekacauan di dalam dirinya. Auriga menarik napas panjang.

“Kenapa rumah terasa kayak neraka sendiri?” gumamnya. “Kenapa semua harus berantem terus? Kenapa mama papa nggak bisa… ngertiin aku?”

Ponsel di saku bergetar. Notifikasi chat dari Mama. Auriga menghela napas, membuka pesan itu perlahan.

Mama: Auriga, mama… mama nggak tau harus bilang apa. Mama cuma… maaf ya, sayang.

Auriga menatap layar, menekan tombol balas, mengetik dengan jari gemetar tapi pasti:

Aku: Mama… aku capek. Aku capek liat kalian berantem. Aku nggak ngerti kenapa semua harus kayak gini.

Beberapa detik berlalu sebelum Mama membalas lagi:

Mama: Mama ngerti, sayang. Mama janji… mama bakal coba lebih baik. Mama nggak mau kamu sedih.

Auriga menatap layar, tapi ia tidak tersenyum. Ia mengetik lagi:

Aku: Mama… aku nggak minta janji. Aku cuma pengen kalian berhenti ribut. Aku nggak mau ada lagi suara teriak, gak mau lagi ada pintu yang dibanting. Aku cuma pengen… tenang.

Ponsel bergetar lagi. Pesan dari Papa:

Papa: Auriga… papa juga salah. Papa nggak ngerti kamu seberapa terluka. Papa janji aku bakal coba berubah.

Auriga menatap layar beberapa detik, lalu menutupnya. Napasnya berat. “Janji… lagi. Aku nggak percaya janji lagi. Aku cuma percaya tindakan. Tapi… aku masih anak kecil yang pengen merasa aman.”

Ia menunduk, menatap kota yang masih bergerak. Gedung-gedung tinggi, jalanan yang padat, orang-orang yang tergesa-gesa. Semua tampak normal, tapi Auriga merasa dunia ini berjarak. Terlalu jauh dari dirinya.

Suara motor di jalan utama terdengar samar. Ia tersenyum tipis, getir. “Mereka nggak tau rasanya punya rumah tapi nggak punya damai. Punya orang tua tapi nggak punya perhatian. Punya semua tapi kosong di hati.”

Auriga menoleh ke langit, menarik napas panjang. “Aku nggak boleh terus-terusan marah. Tapi… kadang, aku pengen teriak ke mama papa. Aku pengen mereka tau… aku terluka.”

Ia mengeluarkan ponsel lagi. Kali ini, ia mengetik pesan lain, tapi belum dikirim.

Aku: Mama… aku masih sayang sama kamu. Papa… aku masih pengen kalian ada di hidupku. Tapi… jangan salah paham. Aku nggak gampang percaya. Aku harus lihat dulu. Aku nggak mau hati aku rusak lagi.

Auriga menekan layar, tapi tidak mengirim. Ia hanya menatapnya, merasa lega karena sudah menulis kata-kata itu, meski belum bisa diucapkan.

Hening kembali menyelimuti atap gedung. Angin dingin menusuk, tapi ia tetap duduk. Kaki tergantung, tangan menopang tubuh, matanya menatap kota. Pikiran tentang masa depan, tentang geng, tentang rumah, semua bercampur jadi satu.

“Kalau aku nggak bisa ngendaliin amarah, aku bakal hancur sendiri,” gumamnya. “Kalau aku nggak bisa hadapin mama papa… aku bakal makin benci dunia. Tapi kalau aku bisa… aku bakal kuat. Aku harus kuat.”

Auriga menatap ponselnya sekali lagi. Ia mengetik pesan terakhir:

Aku: Mama, Papa… aku pengen kita bisa mulai lagi. Tapi… aku butuh waktu. Aku butuh kalian ngerti aku, tanpa ribut, tanpa teriak. Aku cuma pengen… damai.

Ia menutup ponsel, menaruhnya di saku, dan menatap kota. Napasnya mulai tenang sedikit. Hatinya masih berat, tapi setidaknya hari ini, ia mencoba mengerti satu hal: bahwa kemarahan dan luka bisa dikelola, bukan dihindari.

Auriga menarik napas dalam, menegakkan tubuhnya, menatap langit. Mata gelapnya menyala sedikit lebih terang. Ia tahu perjalanan masih panjang, tapi untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa… siap menghadapi diri sendiri.

Dan dari atap itu, Auriga Brastala menatap dunia, marah tapi perlahan belajar berdamai—setidaknya dengan dirinya sendiri, sebelum berdamai dengan mama dan papa.

Auriga melaju di jalan pinggir kota dengan motornya, suara mesin meraung keras di pagi yang sepi. Ia tahu geng rival, geng Elchasil, sering lewat di jalan ini, mencari peluang untuk pamer kemampuan mereka. Pagi itu, Auriga tidak hanya ingin balapan—ia ingin menunjukkan siapa yang mengendalikan amarahnya.

Di tikungan berikutnya, bayangan beberapa motor muncul di kejauhan. Mereka adalah geng Elchasil, tiga motor bergerombol, menatap Auriga dengan nada menantang.

Salah satu dari mereka menyalip, menghentikan laju di depan Auriga. “Hei… ini wilayah kami. Lo kenal aturan, kan?”

Auriga menatap mereka, mata gelap menyala. Suaranya tenang tapi menusuk. “Aturan? Aturan gue cuma satu: jangan ganggu jalan gue.”

Motor di depan itu berputar pelan, menatap Auriga dengan sinis. “Hah… lo berani ngomong gitu sendirian? Lo tau siapa kita?”

Auriga mencondongkan tubuh ke depan, tangan menahan setang dengan mantap. “Gue nggak peduli siapa kalian. Gue cuma peduli satu hal: bisa nggak kalian hadapin gue, satu lawan satu, tanpa bikin masalah di jalan.”

Salah satu dari geng rival tertawa kasar. “Woi… anak kecil sok jago. Lo tau apa tentang balapan jalanan?”

Auriga tersenyum tipis, getir. “Anak kecil? Mungkin. Tapi gue nggak takut sama kata-kata. Gue cuma takut sama satu hal: kalau gue kalah tanpa berusaha.”

Geng rival saling menatap, ragu. Aura Auriga berbeda. Tidak ada tawa, tidak ada ketakutan, hanya kemarahan yang terkontrol.

“Gue tantang lo semua,” lanjut Auriga, suaranya rendah tapi tegas. “Balapan. Satu lawan satu, siapa yang paling cepat, dia menang. Tanpa kasar, tanpa aturan tambahan. Kalo kalian menang… fine. Kalo gue menang… kalian nggak bakal ganggu wilayah gue lagi.”

Motor di depan itu diam. Suara angin dan deru mesin mengisi kesunyian pagi.

“Lo serius?” salah satu dari mereka bertanya, nada sinis tapi ada sedikit respek.

Auriga menatap tajam. “Serius. Gue nggak main-main.”

Salah satu motor mundur sedikit. “Gue kira lo cuma anak geng kecil… tapi lo punya nyali juga.”

Auriga mencondongkan tubuh ke depan, suara pelan tapi penuh ancaman: “Nyali gue nggak cukup? Tunggu sampai gue lepas gas.”

Salah satu anggota geng rival akhirnya mengangkat tangan, seolah memberi isyarat. “Baiklah… kita mulai. Lo siap kalah, ya?”

Auriga menatapnya tanpa berkedip. “Siap menang.”

Mereka berbaris di garis start yang terbentang di jalan lurus pinggir kota. Aura pagi yang sepi berubah tegang. Semua orang yang kebetulan lewat menatap, merasa ada pertarungan yang lebih dari sekadar motor. Ini tentang ego, tentang kemarahan, dan siapa yang paling mengendalikan diri sendiri.

“Siap… start!” teriak salah satu dari mereka.

Motor mereka melesat. Auriga langsung menekan gas, ban belakang sedikit berasap. Deru mesin menggema di jalan sempit. Ia menyalip di tikungan pertama, merasakan adrenaline memuncak.

Geng rival mencoba menyalipnya, tapi Auriga terlalu fokus, terlalu cepat. Setiap gerakan motor seperti perpanjangan dari kemarahannya sendiri. Ia tidak hanya balapan; ia menyalurkan semua emosi dari rumah, dari geng, dari perasaannya sendiri.

Salah satu motor rival mencoba memblokirnya di jalan lurus. Auriga mencondongkan tubuh, hampir bersenggolan, tapi tetap menyalip dengan presisi sempurna. “Kalian pikir bisa hentikan gue? Coba lagi!” teriaknya, suara menusuk di antara deru mesin.

Akhirnya, di garis finish, Auriga melesat lebih dulu, motor berhenti tepat di depan rivalnya. Nafas berat, jantung berdebar kencang, tapi mata tetap dingin.

Motor geng rival berhenti di belakang. Suasana hening. Tidak ada kata, hanya tatapan tajam.

Salah satu dari mereka akhirnya menghela napas. “Gila… lo menang… dan lo nggak pake tipu muslihat apa pun.”

Auriga menatapnya pelan. “Lo bisa bilang apa aja. Tapi ingat satu hal: gue nggak bakal diem kalau ada yang gangguin gue. Gue bukan anak kecil yang bisa diatur. Gue bukan orang yang takut.”

Geng rival saling menatap, sadar bahwa lawan di depan mereka bukan hanya ahli motor, tapi seseorang yang dikendalikan amarahnya, bukan oleh rasa takut.

Auriga menyalakan motor lagi, menatap mereka sekali terakhir. “Kalo kalian berani ganggu lagi… gue bakal nunggu. Gue nggak akan kabur.”

Deru mesin kembali memecah pagi. Auriga melesat pergi, meninggalkan geng rival terdiam. Di jalanan sepi itu, ia tersenyum tipis, getir. Ia menang, tapi amarahnya tidak reda. Malah bertambah karena ia sadar dunia tidak selalu adil, orang tidak selalu ngerti, dan masalah tidak pernah hilang begitu saja.

Tapi hari itu, Auriga belajar satu hal: dengan kemarahan yang dikendalikan, ia bisa menaklukkan tantangan, menunjukkan kekuatan, dan menetapkan batasnya sendiri.

Ia menatap horizon. Pagi masih panjang, jalanan masih menunggu, dan amarahnya… masih hidup. Tapi sekarang, ia tahu cara menggunakannya.

Auriga melaju di jalan sepi pinggiran kota, motor meraung kencang. Mata gelapnya menatap lurus ke depan, tapi pikirannya kacau. Semua amarah, semua frustasi, semua rasa sakit yang menumpuk dari rumah, dari geng, dari dunia, sekarang menumpuk jadi satu.

Lo pernah ngerasa dunia kayak lagi nginjek lo tanpa henti? Gue lagi ngerasain itu sekarang.

Auriga menekan gas lebih keras, deru mesin menggema di antara gedung-gedung kosong. Ia menunduk, menyalakan lampu depan motor, menatap aspal basah dari embun pagi. Napasnya berat, hati berdebar.

“Gue muak, gue capek!” teriaknya keras, suaranya pecah di jalan sepi. “Lo semua… dunia ini… gue benci semua yang sok ngerti gue tapi nggak ngerti!”

Angin menampar wajahnya, tapi itu tidak cukup untuk mendinginkan api yang menyala di dadanya. Auriga memutar setang motor, berputar di tikungan sempit, hampir kehilangan kendali, tapi tetap kuat.

“Gue nggak mau diem lagi!” teriaknya lagi, suara serak tapi penuh tekad. “Lo nggak bakal bisa hentikan gue, nggak bakal bisa bikin gue nurut sama aturan kalian yang bego! Gue Auriga! Gue pegang kendali gue sendiri!”

Auriga menendang trotoar kosong, batu kecil terlempar ke jalan. Ia menatap batu itu sebentar, lalu tersenyum tipis, getir. “Ini gue, semua rasa sakit gue, semua amarah gue… gue lepasin semuanya, sendirian!”

Geng Dragon atau geng lain? Sekarang nggak ada yang peduli. Lo nggak bakal ada yang ikut campur. Gue cuma butuh tempat ini… jalan sepi, motor, dan amarah yang bisa gue lepas tanpa aturan.

Auriga memutar motor di jembatan kecil. Angin dingin menusuk tulang, tapi ia hampir tertawa, suara pecah di udara. “Gue nggak takut sama siapa pun! Gue nggak takut sama rasa sakit, sama luka, sama rumah yang rusak, sama mama papa yang ribut terus! Gue nggak takut! Gue… gue Auriga!”

Suara teriakan itu memantul di antara gedung kosong. Beberapa warga yang lewat menoleh, tapi Auriga tidak peduli. Ia menurunkan gas sesaat, napas berat, mata menyala. Ia menatap sungai di bawah jembatan, melihat pantulan langit pagi yang lembut, kontras dengan kemarahannya yang membara.

“Gue nggak bakal diem lagi. Gue nggak bakal pura-pura tenang. Gue nggak bakal pura-pura nurut sama siapapun!” gumamnya, tangan menggenggam setang motor lebih kuat. “Lo semua pikir gue lemah? Salah! Gue kuat, gue bisa lepasin semua… gue bisa hadapin semua!”

Auriga memutar motor sekali lagi, menyalakan gas. Suara mesin meraung, menyalurkan kemarahannya. Ia menjerit lagi, kali ini lebih keras, lebih panjang. “Gue benci semua yang ngeganggu hidup gue! Gue benci aturan yang nggak masuk akal! Gue benci rumah yang nggak damai! Gue benci semuanya… tapi gue nggak bakal kalah! Gue Auriga, gue yang pegang kendali!”

Ia berhenti di tepi jalan, motor masih menyala, tubuhnya gemetar karena adrenalin dan emosi yang memuncak. Auriga menunduk, menatap jalan sepi, menahan napas panjang. Ia tahu ini belum selesai. Api di hatinya masih membara.

“Tapi gue bisa… gue bisa hadapin semuanya,” gumamnya. “Gue bisa, karena gue nggak bakal diem lagi. Gue nggak bakal diamin yang salah. Gue nggak bakal diem kalau hidup gue rusak sama orang lain.”

Auriga menarik napas dalam, menutup mata sebentar. Angin pagi menampar wajahnya, memberi sedikit rasa lega. Tapi ia tahu, amarah ini bukan sesuatu yang hilang begitu saja. Ia harus belajar menyalurkannya, bukan menghancurkan diri sendiri.

Ia membuka mata, menatap jalan panjang di depannya. “Ini baru permulaan. Gue Auriga, dan gue nggak akan pernah lepas kendali… kecuali gue yang pegangnya. Gue yang pegang semuanya, gue sendiri!”

Auriga menyalakan gas lagi, motor melesat ke jalan lurus, suara mesin mengisi pagi. Ia menjerit lagi, tapi kali ini bukan hanya amarah—ada tekad di balik setiap teriakannya. Ia belajar satu hal: kemarahan bisa jadi kekuatan, asalkan gue yang kendalikan, bukan orang lain, bukan rumah yang rusak, bukan dunia yang nggak peduli.

Dan pagi itu, Auriga Brastala merasa… meski marah, ia mulai menemukan kekuatannya sendiri. Ia marah, tapi ia juga belajar berdiri, memandang dunia, dan berkata pada diri sendiri: gue yang pegang kendali, gue yang jalani hidup ini.

Auriga berdiri di tengah markas Dragon, motor-motor terparkir rapi di sekeliling. Mata gelapnya menatap seluruh anggota geng. Aura pagi yang tegang dari beberapa hari terakhir masih terasa, tapi hari ini berbeda. Auriga tidak hanya marah; ia menggunakan kemarahannya untuk membuat semua orang fokus.

“Dengar baik-baik,” ucap Auriga, suaranya datar tapi menusuk. “Gue nggak bakal buang waktu kalian. Hari ini kita harus siap, dan gue nggak mau ada yang setengah-setengah. Gue capek liat kalian ragu, gue capek liat kalian sok ngerti gue tapi nggak ngerti apa yang gue mau.”

Angkasa menatapnya, sedikit gugup. “Bro… maksud lo?”

Auriga mencondongkan tubuh, menatap tajam. “Maksud gue gampang. Lo semua dengerin gue, jalanin apa yang gue bilang, dan jangan tanya-tanya gue lagi. Gue yang atur, gue yang tau arah. Gue nggak butuh debat atau komentar.”

Fattah menggeleng, tapi tersenyum tipis. “Gue ngerti, bro. Gue ngerti lo marah… tapi gue yakin ini bakal bantu geng kita lebih solid.”

Auriga menatapnya sebentar. “Tepat. Solid. Gue nggak mau geng Dragon kayak anak kecil yang ribut cuma karena ego atau rasa takut. Gue mau kalian fokus, ngerti prioritas, dan ikut gue.”

Alkael mengangkat alis. “Oke, bro. Gue ngerti. Gue cuma mau pastiin lo nggak cuma marah doang… lo juga punya rencana, kan?”

Auriga tersenyum tipis, getir. “Gue punya rencana. Gue cuma pake kemarahan gue sebagai bahan bakar. Gue marah karena gue capek liat yang salah terus. Gue marah karena gue nggak mau kalah. Gue marah karena gue mau geng ini kuat. Dan kalian semua bakal ikut gue.”

Geril menatap tajam. “Bro… maksud lo, kemarahan lo bakal jadi strategi?”

Auriga mengangguk pelan. “Iya. Gue nggak mau energi gue hilang percuma. Gue pake semua amarah itu buat fokus, buat menentukan posisi, buat balapan, buat semua yang kita hadapi.”

Reano tersenyum kecil. “Gue ngerti. Gue tau lo serius. Gue bakal ikutin arah lo, bro. Gue percaya sama lo.”

Auriga menatap teman-temannya, satu per satu. “Oke. Pertama, kita harus latih teknik kita. Gue nggak mau ada yang kalah karena nggak siap. Kedua, kita harus tau wilayah lawan. Gue nggak mau kejadian kemarin terulang. Ketiga, kita harus kompak. Gue nggak peduli ego kalian, gue cuma peduli hasil.”

Fattah mengangguk. “Oke, bro. Gue paham. Gue bakal latihan ekstra, bantu yang lain juga.”

Auriga menepuk setang motor, suara keras. “Bagus. Gue mau kalian pake kemarahan kalian juga. Gue nggak minta kalian marah tanpa alasan, tapi kalo lo marah karena mereka meremehkan geng kita, gunakan itu. Gue lakukan itu sekarang, dan gue nggak bakal kalah.”

Angkasa tersenyum, pelan tapi yakin. “Lo emang gila, bro. Tapi gue bisa liat… lo marah tapi fokus. Itu yang bikin lo hebat.”

Auriga menatapnya, mata masih menyala. “Hebat? Gue nggak peduli disebut hebat. Gue cuma peduli geng ini kuat, aman, dan nggak ada yang bisa gangguin kita. Gue nggak mau ada lagi orang yang nganggep geng Dragon lemah. Gue nggak mau ada yang nganggep gue lemah.”

Alkael menghela napas. “Gue ngerti, bro. Gue ikut strategi lo. Gue bakal pastiin semua siap.”

Auriga mencondongkan tubuh ke depan, suara rendah tapi tegas. “Gue nggak mau dengar alasan. Gue nggak mau dengar keraguan. Gue cuma mau tindakan. Gue nggak cuma ngomong karena marah. Gue ngomong karena gue tau apa yang harus dilakukan.”

Geril mengangguk, sedikit tersenyum. “Bro… gue rasa energi marah lo bakal bikin kita lebih cepat, lebih kuat, dan lebih kompak. Lo ngajarin kita cara pake amarah jadi kekuatan.”

Auriga tersenyum tipis, pahit tapi pasti. “Iya. Gue ngajarin lo semua satu hal: kemarahan itu alat. Gue nggak pernah buang-buang energi. Gue pake semuanya buat geng ini, buat diri gue sendiri, buat masa depan gue. Dan gue nggak bakal berhenti sampai kita semua bisa hadapin siapa pun.”

Reano menepuk pundak Auriga. “Gue ngerti, bro. Gue bakal ikutin arah lo. Gue percaya sama lo.”

Auriga menatap mereka semua, mata gelap menyala tapi tenang. “Oke. Latihan mulai sekarang. Gue nggak mau ada alasan. Gue nggak mau ada yang mundur. Gue nggak peduli seberapa berat. Gue cuma mau kalian fokus, karena gue bakal fokus juga. Gue Auriga, dan gue nggak bakal kalah sama rasa sakit atau amarah gue sendiri.”

Angkasa tersenyum. “Lo emang gila… tapi gue percaya. Kita bisa.”

Auriga menyalakan motornya, suara mesin meraung, siap membawa seluruh geng Dragon ke latihan pagi. Hari itu, setiap deru mesin, setiap tikungan, dan setiap napas adalah bukti satu hal: kemarahan Auriga bukan sekadar amarah biasa—itu energi yang menggerakkan geng, memotivasi teman-temannya, dan menegaskan siapa yang pegang kendali.

Dan pagi itu, geng Dragon belajar satu hal penting: Auriga bisa marah, tapi kemarahannya bukan menghancurkan. Itu membangun, memimpin, dan mempersiapkan mereka menghadapi dunia yang keras.

Auriga duduk di tepi jembatan pinggir kota, motor Dragon terparkir di sampingnya. Mata gelapnya menatap sungai yang mengalir, tapi pikirannya kacau. Amarah yang membara dari beberapa hari terakhir bertabrakan dengan sesuatu yang lebih rumit—perasaan terhadap Elara.

Lo benci kalo ada yang gangguin lo, gue ngerti. Tapi kenapa perasaan lo ke Elara bikin lo bingung?

Auriga menegakkan tubuh, menatap langit. “Gue nggak boleh bingung. Gue nggak boleh ngerasa campur aduk. Gue harus kontrol emosi gue. Gue harus marah, tapi gue juga nggak boleh salah langkah soal Elara.”

Di layar ponsel, pesan Elara muncul. Tidak panjang, tapi cukup bikin hati Auriga bergetar:

Elara: Lo baik-baik aja kan? Gue takut lo terlalu marah…

Auriga mengetik balasan, cepat dan tegas:

Gue: Gue baik. Lo nggak usah khawatir. Gue lagi ngerjain urusan sendiri.

Tapi setelah menekan kirim, hatinya tetap gelisah. “Kenapa lo peduli sama Elara? Lo nggak boleh peduli. Lo harus marah, lo harus fokus, lo nggak boleh campur perasaan sama urusan lain.”

Motor di sampingnya meraung pelan saat ia menyalakannya. Auriga menginjak gas sebentar, membuat motornya melompat sedikit. Ia menatap jalan panjang di depan, seolah menantang dunia.

“Lo benci ribut sama orang tua lo, lo benci ribut sama geng rival, tapi perasaan sama Elara… itu bikin lo nggak fokus. Lo nggak boleh gitu, Auriga. Lo nggak boleh.”

Auriga menunduk, memutar setang motor. “Tapi gue nggak bisa ngehindarin perasaan ini. Gue nggak bisa… berhenti peduli. Gue benci ngerasa campur aduk, tapi gue ngerasain itu juga.”

Angkasa muncul di sisi lain jembatan, motor terparkir rapi. Ia menatap Auriga dengan serius. “Bro… lo kayaknya bingung sendiri. Gue liat lo marah, tapi lo juga… mikirin Elara. Lo ngerti maksud gue?”

Auriga menatapnya tajam. “Lo nggak ngerti. Lo nggak pernah ngerti. Gue harus fokus sama geng, sama latihan, sama amarah gue. Lo nggak boleh gangguin gue sama urusan perasaan.”

Angkasa menghela napas. “Bro… gue cuma bilang lo nggak boleh kebanyakan nahan diri. Kadang perasaan itu penting juga. Lo nggak bisa cuma marah terus.”

Auriga menggeleng, menatap sungai. “Lo nggak ngerti. Gue nggak boleh salah langkah. Gue nggak boleh kelewatan. Gue nggak boleh sampe perasaan sama Elara bikin gue lemah atau lengah. Gue nggak mau ada yang gangguin gue, ngerti?”

Angkasa tersenyum tipis. “Gue ngerti. Lo emang keras kepala. Tapi gue cuma pengen lo tau, kadang gue bisa liat sisi lo yang lain… sisi yang peduli sama orang lain.”

Auriga menatapnya sekejap. “Peduli? Gue nggak peduli sama siapapun selain geng Dragon dan wilayah gue. Lo ngerti itu. Tapi… gue nggak bisa nolak perasaan gue sama Elara. Itu salah satu hal yang bikin gue gila.”

Angkasa menepuk pundaknya. “Gue ngerti, bro. Lo bisa marah, lo bisa fokus, tapi lo juga bisa ngerasain. Lo cuma harus bisa kontrol semuanya.”

Auriga menyalakan motor lagi, deru mesin terdengar keras. “Gue bakal coba. Tapi jangan kira gue bakal mudah. Gue nggak mau salah langkah. Gue nggak mau kemarahan gue atau perasaan gue bikin geng Dragon atau gue sendiri rusak.”

Ia menatap langit, menarik napas panjang. “Gue harus kuat. Gue harus fokus. Gue harus marah, tapi gue juga harus bisa… ngerti perasaan gue tanpa kelewatan. Gue nggak boleh salah langkah.”

Angkasa tersenyum tipis. “Lo emang Auriga. Gue tau lo bisa ngatasin semuanya.”

Auriga menatap sungai lagi. “Lo bilang gitu… tapi gue nggak boleh santai. Gue nggak boleh lengah. Gue harus siap sama apa pun yang bakal terjadi. Gue harus… Auriga. Gue harus jadi gue sendiri, dengan amarah gue, dengan perasaan gue, dengan semua yang ada.”

Deru motor kembali terdengar, mengisi kesunyian pagi. Auriga menyalakan gas pelan, melesat di jalan sepi, membiarkan pikirannya tetap fokus tapi tetap menyalurkan amarahnya.

Ia tahu satu hal: dunia keras, orang sulit dimengerti, dan perasaan itu bisa bikin bingung. Tapi Auriga Brastala sudah belajar—marah, fokus, dan perasaan bisa berjalan bersamaan, asalkan dia yang pegang kendali.

Dan pagi itu, di jalan sepi, Auriga menatap ke horizon, matanya gelap tapi tajam, siap menghadapi siapa pun… dan tetap menjaga perasaan yang mulai tumbuh untuk Elara.

Auriga berdiri di atap markas Dragon, malam menyelimuti kota. Lampu-lampu jalan dan gedung membentuk pola kuning-oranye yang temaram. Angin malam menampar wajahnya, tapi ia tidak peduli. Ia menatap jauh ke kota, memikirkan semua yang terjadi hari ini—amarah yang membara, balapan dengan geng rival, perasaan yang sulit dipahami, dan strategi baru yang ia tulis untuk geng.

“Gue nggak bisa terus-terusan marah tanpa arah,” gumamnya pelan. “Gue nggak boleh buang energi cuma buat kesel atau dendam. Gue harus pake semua ini… buat geng, buat diri gue sendiri.”

Auriga menyalakan ponsel. Pesan Elara muncul lagi:

Elara: Lo baik-baik aja kan? Jangan terlalu capek.

Auriga menatap layar, lalu mengetik cepat, tegas:

Gue: Gue baik. Gue lagi mikirin strategi buat geng. Lo nggak usah khawatir.

Ia menaruh ponsel di saku, menarik napas dalam. “Gue nggak bisa kalah sama emosi gue sendiri. Gue nggak bisa lemah. Gue nggak bisa salah langkah.”

Di bawahnya, anggota geng Dragon masih berada di markas, beberapa sedang beristirahat, beberapa mengecek motor. Auriga menatap mereka sebentar. “Gue harus jadi pemimpin yang mereka butuhin. Gue nggak boleh egois. Gue nggak boleh marah tanpa alasan. Gue harus fokus… dan gue harus bikin geng ini kuat.”

Alkael muncul di sisi tangga atap, menatap Auriga dengan serius. “Bro… lo lagi mikirin banyak hal, ya?”

Auriga menatapnya, mata gelap menyala di kegelapan malam. “Iya. Gue lagi mikirin geng, rival, amarah gue… dan juga perasaan gue ke Elara. Gue nggak boleh lengah. Gue nggak boleh kalah sama diri gue sendiri.”

Alkael tersenyum tipis. “Gue tau lo marah dan keras kepala… tapi gue bisa liat lo juga bisa mikirin hal lain. Gue percaya lo bisa handle semuanya.”

Auriga mencondongkan tubuh ke depan, menatap kota. “Gue harus. Gue nggak boleh salah. Gue nggak mau geng Dragon hancur karena kesalahan gue. Gue nggak mau salah langkah sama Elara juga. Gue nggak boleh buat siapa pun ngerasa kecewa sama gue.”

Fattah tiba-tiba muncul di sisi lain atap, menepuk pundak Auriga. “Bro… gue cuma pengen bilang… lo nggak sendiri. Lo nggak harus nahan semuanya sendiri. Kita semua ada buat lo.”

Auriga menatapnya sebentar, mengangguk. “Gue tau. Gue cuma… kadang gue capek liat semuanya berantem, kadang gue capek sama semua yang nggak masuk akal. Tapi gue nggak akan berhenti. Gue bakal pakai semua emosi gue… jadi motivasi. Gue bakal pimpin geng ini, dan gue bakal pastiin semua aman.”

Geril muncul kemudian, menatap Auriga dari sisi atap. “Bro… lo emang Auriga. Gue tau lo bisa ngendaliin semuanya. Gue liat hari ini… lo marah, tapi lo tetap kontrol. Lo pake semua energi lo buat positif.”

Auriga menyalakan motor sebentar, suara mesinnya meraung, menembus malam. Ia menatap kota lagi, menghela napas panjang. “Gue bakal terus kayak gini. Gue nggak bakal diem. Gue nggak bakal kalah sama emosi gue sendiri. Gue nggak bakal kalah sama siapapun. Gue Auriga Brastala… dan gue pegang kendali hidup gue sendiri.”

Alkael, Fattah, dan Geril menatapnya, memahami tekad itu. Tidak perlu kata-kata panjang. Aura Auriga cukup kuat untuk membuat semua anggota geng sadar: hari ini bukan cuma tentang kemarahan, tapi tentang pembelajaran. Tentang bagaimana marah bisa dijadikan alat, bagaimana emosi bisa diarahkan menjadi kekuatan, dan bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin muncul dari semua itu.

Auriga tersenyum tipis, getir tapi pasti. “Besok… kita latihan lagi. Gue bakal buat strategi baru, koordinasi baru. Gue nggak bakal biarin geng Dragon kalah. Gue nggak bakal biarin rival ngeremehin kita. Gue nggak bakal biarin siapa pun gangguin yang gue jaga.”

Fattah menepuk punggung Auriga pelan. “Gue ngerti, bro. Gue bakal ikut lo. Kita semua bakal ikut lo. Gue percaya sama lo.”

Auriga menyalakan motor pelan, suara mesinnya menyatu dengan desiran angin malam. Ia menatap horizon, matanya tajam tapi tenang. “Gue nggak cuma marah… gue belajar. Gue nggak cuma marah… gue jadi lebih kuat. Gue nggak cuma marah… gue bakal bawa geng ini ke arah yang benar.”

Angkasa, yang kini berdiri di sisi lain atap, tersenyum tipis. “Lo emang Auriga. Lo bisa pake kemarahan lo buat hal besar. Gue liat itu hari ini.”

Auriga menatapnya, mengangguk. “Iya… gue Auriga Brastala Nervando. Gue marah, gue fokus, gue nggak takut. Gue pegang kendali, bukan amarah, bukan siapapun, bukan apa pun. Gue pegang semuanya.”

Malam semakin pekat. Kota tampak tenang, tapi Auriga tahu perjalanan masih panjang. Ia menyalakan gas lagi, motor meraung, meninggalkan atap markas untuk beberapa putaran latihan malam. Setiap deru mesin adalah simbol tekadnya. Setiap tikungan adalah bukti kekuatannya. Setiap napas yang ia tarik adalah janji pada dirinya sendiri: ia akan memimpin, melindungi gengnya, dan mengendalikan emosinya.

Dan malam itu, di bawah cahaya lampu kota, Auriga Brastala menutup hari dengan satu kesadaran: kemarahan bisa jadi kekuatan, perasaan bisa jadi motivasi, dan tekad bisa membawa siapa pun melewati rintangan, asal lo yang pegang kendali.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel