Pustaka
Bahasa Indonesia

Auriga Brastala Nervando

99.0K · Ongoing
Wellsyput
18
Bab
1
View
9.0
Rating

Ringkasan

Auriga Brastala Nervando lahir di keluarga yang utuh di atas kertas, namun runtuh di dalamnya. Rumahnya tidak pernah benar-benar sunyi—selalu ada suara pertengkaran, pintu dibanting, dan kata-kata yang seharusnya tidak didengar seorang anak. Auriga tumbuh tanpa meminta. Ia belajar menjadi tenang, dingin, dan tidak merepotkan. Bukan karena ia kuat, tetapi karena tidak ada yang cukup peduli untuk menahannya saat ia runtuh. Elara hadir tanpa rencana. Ia bukan penyelamat, bukan juga obat bagi luka Auriga. Elara hanya seseorang yang memilih duduk di samping Auriga tanpa memaksa bicara, tanpa bertanya berlebihan. Namun justru dari diam itu, Auriga mulai menyadari: ada kehangatan yang tidak menyakitkan. Ini bukan kisah cinta yang meledak-ledak. Ini kisah tentang dua jiwa yang sama-sama lelah, saling menenangkan dengan cara paling sederhana—hadir.

badboyKeluargaCinta PertamaDrama

murid baru

Auriga terbangun bukan karena alarm, bukan pula karena cahaya pagi yang menyusup dari sela tirai kamarnya. Ia terbangun karena suara.

Suara itu selalu sama. Tinggi, tajam, dan penuh emosi yang tidak pernah selesai dibicarakan. Auriga tidak perlu membuka mata untuk tahu siapa yang berbicara. Ia sudah hafal nada itu sejak bertahun-tahun lalu.

“Mas kamu tuh selalu gitu! Dari dulu nggak pernah berubah!”

Itu suara Chelsi. Ibunya. Suara yang seharusnya menenangkan, tapi pagi ini—dan hampir setiap pagi—hanya terdengar seperti keluhan yang menumpuk terlalu lama.

Auriga memejamkan mata lebih erat. Ia tidak bergerak. Tidak juga menutup telinga. Percuma. Dinding rumah ini terlalu tipis untuk menyimpan rahasia, terlalu rapuh untuk menahan amarah.

“Aku capek, Chels. Kamu pikir aku juga nggak capek?” suara Nervando menyusul, lebih rendah, tapi berat. Ada tekanan di sana. Ada lelah yang berubah jadi defensif.

“Kamu capek? Aku yang ngurus rumah, ngurus anak, ngurus semuanya! Kamu tinggal berangkat, pulang, marah!”

Auriga menarik napas pelan. Dadanya naik turun perlahan, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri sebelum hari benar-benar dimulai. Jam di meja kecil di samping tempat tidurnya menunjukkan pukul lima lewat dua puluh. Terlalu pagi untuk pertengkaran, tapi di rumah ini, tidak ada istilah terlalu pagi atau terlalu malam.

Semua waktu sama saja untuk saling menyakiti.

“Aku kerja buat siapa? Buat kamu juga!” bentak Nervando.

“Jangan pakai nada tinggi sama aku, Mas!” balas Chelsi cepat. “Aku bukan anak buah kamu!”

Kata anak melayang di udara. Auriga membukakan mata.

Langit-langit kamarnya retak halus di satu sudut. Retakan itu sudah ada sejak lama, tapi tidak pernah diperbaiki. Sama seperti banyak hal lain di rumah ini. Auriga menatapnya sambil mendengarkan suara piring yang diletakkan agak terlalu keras di dapur.

“Terus kamu maunya apa?” suara Nervando terdengar lagi. “Aku juga manusia!”

“Iya, manusia! Tapi kamu lupa, kamu juga suami! Kamu juga ayah!”

Kalimat itu jatuh seperti palu. Auriga menelan ludah. Ia tahu, cepat atau lambat, namanya akan disebut. Selalu begitu. Ia tidak pernah benar-benar terlibat, tapi selalu ikut terbawa.

“Ayah?” Nervando tertawa pendek. “Kamu yang bikin aku kelihatan kayak ayah gagal di depan anak sendiri!”

“Apa?” suara Chelsi meninggi. “Aku? Kamu yang jarang di rumah! Kamu yang kalau pulang isinya marah-marah!”

Auriga duduk di tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Ia mengusap wajahnya sekilas, lalu meraih hoodie abu-abu yang tergantung di kursi. Gerakannya tenang, terlatih. Seperti ini bukan pertama kali.

“Jangan bawa-bawa Auriga terus!” bentak Nervando.

Nah. Itu dia.

Auriga berhenti sejenak. Tangannya masih memegang resleting hoodie. Ia tidak bereaksi. Tidak kaget. Tidak juga marah. Hanya… kosong.

“Aku nggak bawa-bawa dia!” Chelsi membalas cepat. “Tapi kamu sadar nggak, dia lihat semua ini tiap hari?”

“Dia anak, Chelsi! Dia nggak ngerti!”

“Justru karena dia anak!”

Suara kursi bergeser kasar. Auriga membayangkan ayahnya berdiri, mungkin dengan tangan bertumpu di meja makan. Ia bisa membayangkan ekspresinya—rahang mengeras, mata lelah, alis berkerut. Ia juga bisa membayangkan ibunya, dengan mata yang mungkin sudah berkaca-kaca tapi tetap keras kepala.

“Kamu selalu lebay,” kata Nervando dingin.

Chelsi terdiam beberapa detik. Keheningan itu lebih menakutkan daripada teriakan.

“Lebay?” suaranya akhirnya keluar, lebih pelan, lebih berbahaya. “Kamu tahu nggak rasanya jadi aku?”

Auriga menutup resleting hoodienya. Ia berdiri, melangkah pelan menuju pintu kamar. Ia tidak berniat keluar sekarang. Ia hanya ingin lebih dekat dengan suara, entah kenapa. Seolah memastikan semuanya masih nyata.

“Kamu pikir aku nggak ngerasa sendirian?” lanjut Chelsi. “Di rumah sendiri. Sama kamu.”

“Aku pulang tiap hari,” jawab Nervando cepat.

“Tapi kamu nggak pernah hadir.”

Kalimat itu jatuh perlahan, tapi tepat sasaran.

Auriga bersandar di pintu kamarnya. Tangannya mengepal kecil. Ia tahu kalimat itu. Ia sering memikirkannya sendiri, tapi tidak pernah berani mengatakannya.

“Jadi sekarang aku yang salah?” suara Nervando meninggi lagi. “Semua salah aku?”

“Aku cuma minta kamu dengerin!” Chelsi hampir berteriak. “Sekali aja!”

“Hah,” Nervando menghembuskan napas kasar. “Percuma. Dari dulu kita nggak pernah sepakat.”

Auriga menunduk. Kata dari dulu itu seperti pisau kecil yang diputar perlahan. Ia tahu, pertengkaran ini bukan tentang pagi ini. Bukan tentang piring, atau pekerjaan, atau uang. Ini tentang akumulasi. Tentang luka lama yang tidak pernah sembuh.

“Mas…” suara Chelsi melemah. “Aku capek.”

Keheningan lagi.

Auriga menahan napas. Ia selalu berharap, di titik seperti ini, semuanya akan berhenti. Akan ada pelukan. Akan ada kata maaf. Tapi harapan itu sudah lama ia simpan terlalu dalam.

“Aku juga,” jawab Nervando akhirnya. Datar.

Tidak ada pelukan. Tidak ada maaf.

Auriga mengangkat kepala. Wajahnya kosong. Tidak ada air mata. Tidak ada ekspresi. Ia sudah belajar: menunjukkan apa pun hanya akan membuat segalanya lebih rumit.

Ia melangkah kembali ke tempat tidur, duduk, dan meraih tas sekolahnya. Pagi ini belum benar-benar dimulai, tapi Auriga sudah lelah.

Dapur pagi itu terlalu terang untuk suasana yang seharusnya. Lampu menyala, jendela terbuka setengah, dan aroma nasi hangat bercampur dengan bau kopi yang mulai dingin. Semuanya terlihat seperti pagi normal di rumah keluarga kecil—kecuali ekspresi orang-orang di dalamnya.

Auriga duduk di salah satu kursi meja makan. Punggungnya tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Di depannya, sepiring nasi dan telur dadar yang masih utuh. Sendoknya tergeletak di sisi piring, belum disentuh.

Ia tidak lapar.

Bukan karena makanannya tidak enak. Bukan juga karena ia sedang sakit. Auriga hanya tahu, setiap kali suasana rumah seperti ini, perutnya selalu terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa dikeluarkan.

Chelsi berdiri di dekat kompor, membelakangi meja makan. Gerakannya cepat, sedikit kasar. Ia menuang kopi ke dalam cangkir tanpa benar-benar memperhatikan takarannya. Cairan hitam itu hampir meluap.

“Jangan diminum panas-panas,” kata Nervando dari seberang meja, suaranya datar tapi tajam. “Kamu nanti ngeluh lagi.”

Chelsi berhenti sejenak. Tangannya masih memegang teko.

“Sekarang kamu peduli?” tanyanya tanpa menoleh.

Auriga menunduk sedikit. Pandangannya jatuh ke permukaan meja kayu yang sudah penuh goresan halus. Ia menghitungnya satu per satu, seperti kebiasaan lama yang ia lakukan saat ingin menghilang dari situasi.

“Aku cuma ngingetin,” jawab Nervando. “Jangan dibesar-besarin.”

Chelsi meletakkan teko agak terlalu keras di atas meja. Bunyi duk itu membuat Auriga berkedip.

“Dari dulu kamu selalu gitu,” kata Chelsi akhirnya, berbalik menghadap mereka. “Semua hal kecil menurut kamu lebay. Semua yang aku rasain dianggap drama.”

Nervando mendengus. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada.

“Ya karena memang kamu sering drama, Chels.”

Kata itu—drama—melayang di udara beberapa detik. Auriga tahu, kata-kata seperti itu tidak pernah berhenti di orang yang dituju. Mereka selalu memantul, mencari sasaran lain, dan sering kali… mengenai dirinya.

Chelsi tertawa pendek, tapi tidak ada humor di sana.

“Kamu dengar nggak sih apa yang kamu omongin?” suaranya naik setingkat. “Kita punya anak di sini.”

Auriga mengangkat wajahnya sedikit, refleks. Mata Chelsi sempat bertemu dengannya—hanya sedetik—sebelum ia memalingkan pandangan lagi. Tatapan itu membuat dada Auriga terasa aneh. Seperti diseret masuk ke sesuatu yang tidak ia minta.

“Dia cuma makan,” kata Nervando cepat. “Auriga nggak dengerin kok.”

Auriga menelan ludah. Ia tetap diam. Tetap menunduk. Tetap memainkan peran yang sudah lama ia kuasai: anak yang tidak mendengar apa-apa.

“Mas,” Chelsi mendekat ke meja makan. “Kamu tahu nggak, anak kamu itu tiap pagi lihat kita kayak gini.”

“Terus?” Nervando mengangkat alis. “Kamu mau aku pura-pura baik-baik aja?”

“Setidaknya jaga omongan!” bentak Chelsi.

Sendok di piring Auriga bergetar pelan saat meja sedikit terguncang. Ia refleks menahan piringnya agar tidak bergeser. Tangannya dingin.

“Kamu pikir gampang?” suara Nervando meninggi. “Aku kerja seharian, pulang capek, yang aku dapet malah ceramah!”

“Aku bukan ceramah! Aku ngomong!” Chelsi membalas. “Aku ngomong karena aku udah capek dipendem!”

Auriga menatap telur dadarnya. Permukaannya mulai dingin. Seperti perasaan di dadanya yang perlahan mati rasa.

“Capek, capek, capek,” Nervando menggeleng. “Kamu tuh nggak pernah bersyukur.”

Kalimat itu membuat Chelsi terdiam. Matanya memerah, tapi rahangnya mengeras.

“Bersyukur?” ulangnya pelan. “Kamu serius?”

“Iya. Lihat rumah ini. Lihat hidup kita,” kata Nervando sambil menunjuk sekeliling. “Kita nggak kekurangan apa-apa.”

Auriga mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin tertawa, tapi rasanya pahit. Tidak kekurangan apa-apa—kecuali ketenangan. Kecuali rasa aman.

“Kalau kamu ngerasa hidup kamu berat,” lanjut Nervando, “itu karena kamu terlalu banyak nuntut.”

Chelsi menarik napas dalam-dalam. Ia menoleh ke arah Auriga lagi, lebih lama kali ini.

“Kamu dengar itu, Rig?” tanyanya tiba-tiba.

Auriga tersentak. Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia tidak siap. Ia tidak pernah siap ketika namanya ditarik ke permukaan seperti ini.

“Ma, aku—” suaranya keluar pelan, ragu.

“Lihat,” Chelsi menatap Nervando. “Anak kamu aja sampai bingung.”

Nervando ikut menoleh ke Auriga. Tatapannya tajam, seolah mencari konfirmasi.

“Kamu dengerin semua omongan Mama kamu?” tanyanya.

Auriga tercekat. Semua mata tertuju padanya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, apa pun jawabannya, akan ada yang terluka. Dan biasanya, orang yang paling sering terluka adalah dirinya sendiri.

“Aku… aku mau berangkat sekolah,” katanya akhirnya.

Itu bukan jawaban. Tapi itu satu-satunya cara aman.

Chelsi menghela napas panjang. Nervando mengalihkan pandangan.

“Belum makan,” kata ayahnya singkat.

“Nggak lapar,” jawab Auriga cepat.

Ia berdiri, meraih tasnya, dan melangkah menjauh dari meja makan. Tidak ada yang menahannya. Tidak ada yang memanggil namanya lagi.

Di belakangnya, pertengkaran itu belum benar-benar selesai. Tapi Auriga sudah cukup mendengar.

Langkah Auriga terhenti di depan pintu rumah.

Tangannya sudah menggenggam gagang pintu, tas sekolah menggantung di bahu, tapi ia tidak langsung keluar. Suara di belakangnya meredup, berganti dengungan samar yang terasa familiar. Kepalanya sedikit pening. Bukan karena pagi, tapi karena ingatan yang datang tanpa diundang.

Tangis kecil itu kembali terdengar di telinganya.

Bukan tangis pagi ini. Bukan juga suara Chelsi atau Nervando yang saling melukai. Ini suara lain—lebih kecil, lebih rapuh.

Suara dirinya sendiri.

Auriga kecil duduk di lantai ruang tamu, punggungnya bersandar pada sofa cokelat yang dulu masih tampak baru. Usianya mungkin enam atau tujuh tahun. Lututnya tertekuk ke dada, kedua tangannya memeluk kaki, wajahnya basah oleh air mata yang tidak bisa ia hentikan.

“Aku nggak sengaja, Ma…” suaranya bergetar. “Aku cuma mau ambil minum.”

Gelas bening pecah di lantai. Air tumpah, menyebar di antara serpihan kaca. Auriga kecil tidak berani bergerak. Ia takut kakinya tergores, tapi lebih takut pada ekspresi ibunya.

Chelsi berdiri di depannya. Wajahnya tegang, matanya merah—entah karena lelah atau marah. Rambutnya terikat asal. Tangannya berkacak pinggang.

“Kenapa sih kamu nggak bisa hati-hati?” suara Chelsi meninggi. “Mama capek tau beresin semua!”

Auriga kecil terisak. Ia menggeleng cepat.

“Maaf, Ma… aku beneran nggak sengaja…”

“Maaf, maaf,” Chelsi menirukan dengan nada tinggi. “Kamu pikir bilang maaf terus beres?”

Auriga kecil menunduk. Air matanya jatuh ke kaus lusuh yang ia pakai. Ia tidak mengerti kenapa dadanya terasa sesak. Ia hanya tahu, ia ingin berhenti menangis—tapi tubuhnya tidak mau mendengarkan.

“Kenapa sih kamu cengeng banget?” Chelsi menghela napas kasar. “Anak cowok kok nangis melulu.”

Kalimat itu menusuk, meski Auriga kecil belum benar-benar paham artinya. Ia hanya tahu, ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Dengan air mata yang terus jatuh tanpa izin.

“Ma… aku sakit,” katanya pelan, hampir tidak terdengar.

Chelsi terdiam sejenak. Lalu ia memijat pelipisnya.

“Udah, berhenti nangis,” katanya. “Mama lagi capek.”

Auriga kecil mengangguk cepat. Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan, mencoba menelan tangisnya sendiri. Napasnya masih tersengal. Bahunya naik turun.

Dari arah pintu, Nervando masuk. Seragam kerjanya masih rapi, tas kerja tergantung di bahu. Ia berhenti begitu melihat pecahan kaca di lantai.

“Kenapa ini?” tanyanya.

“Anak kamu,” jawab Chelsi cepat. “Numpahin gelas.”

Nervando menatap Auriga kecil. Tatapannya tidak keras, tapi juga tidak lembut. Netral. Dingin.

“Kamu kenapa nangis?” tanyanya.

Auriga kecil membuka mulut, tapi sebelum ia sempat bicara, Chelsi menyela.

“Biasa. Lebay.”

Kata itu diucapkan ringan, seolah tidak berarti apa-apa. Tapi Auriga kecil merasakannya seperti beban besar yang jatuh di dadanya.

“Auriga,” Nervando memanggil namanya. “Cowok nggak boleh nangis karena hal sepele gini.”

“Aku—” Auriga kecil terisak lagi. “Aku takut, Yah…”

Nervando menghela napas. Ia meletakkan tasnya.

“Takut apa?” tanyanya. “Ini cuma gelas pecah.”

Auriga kecil tidak bisa menjelaskan. Ia takut pada suara keras. Takut pada nada tinggi. Takut pada wajah-wajah dewasa yang berubah hanya karena kesalahan kecil. Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.

Yang keluar hanya tangis.

“Udah!” suara Nervando meninggi sedikit. “Berhenti nangis!”

Auriga kecil tersentak. Tangisnya tertahan di tenggorokan, berubah jadi isakan kecil yang menyakitkan. Ia menggigit bibirnya, menahan suara, menahan semuanya.

Chelsi mengambil sapu dan mulai membersihkan pecahan kaca.

“Mas, biarin aja. Nanti juga berhenti sendiri,” katanya tanpa menoleh.

Auriga kecil memeluk lututnya lebih erat. Ia menunduk, menatap lantai. Di kepalanya, satu kesimpulan sederhana terbentuk, pelan tapi pasti:

Menangis bikin orang dewasa marah.

Menangis bikin semuanya jadi lebih buruk.

Sejak hari itu, Auriga kecil belajar sesuatu yang tidak pernah diajarkan secara langsung.

Ia belajar menelan air mata.

Belajar diam saat takut.

Belajar bahwa perasaan sendiri tidak sepenting menjaga suasana tetap tenang.

Ingatan itu memudar perlahan, digantikan suara pagi yang kembali masuk ke telinga Auriga dewasa.

Ia berkedip. Tangannya masih di gagang pintu. Dadanya terasa sesak, tapi wajahnya tetap kosong. Tidak ada air mata. Tidak pernah ada lagi.

Auriga membuka pintu dan melangkah keluar.

Udara pagi menyambutnya, dingin dan netral. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri seperti yang selalu ia lakukan.

Langkah Auriga menyusuri halaman rumah terasa ringan, tapi dadanya berat. Gerbang besi itu berdecit pelan saat ia membukanya, suara kecil yang tenggelam oleh hiruk-pikuk pagi di luar sana—motor lewat, ibu-ibu menyapu, dan anak-anak lain yang tertawa sambil berangkat sekolah bersama orang tuanya.

Auriga tidak menoleh ke belakang.

Ia tahu, di dalam rumah, Chelsi dan Nervando masih ada. Masih bernapas. Masih menjalani pagi mereka masing-masing. Tapi tidak ada satu pun alasan baginya untuk kembali.

Tidak ada pamit.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada, “Hati-hati di jalan.”

Ia mengunci gerbang dengan gerakan otomatis, seperti sesuatu yang sudah ia lakukan ratusan kali. Tangannya cekatan, tanpa ragu. Seolah ini bukan rumah yang ia tinggalkan, melainkan sekadar bangunan yang kebetulan ia singgahi.

Langkah kakinya membawa Auriga ke ujung gang. Matahari baru naik setengah, cahayanya pucat. Udara masih dingin, tapi tidak cukup untuk membekukan perasaan yang sejak tadi mengganjal.

Di seberang jalan, seorang ibu merapikan kerah seragam anaknya.

“Nanti pulangnya jangan lupa beli roti ya,” kata ibu itu lembut.

“Iya, Ma,” jawab anak itu sambil tersenyum.

Auriga menunduk sedikit, mempercepat langkah. Ia tidak iri. Ia hanya tidak tahu bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.

Ponselnya bergetar di saku celana. Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkannya. Satu notifikasi masuk—bukan dari Chelsi, bukan dari Nervando. Hanya pesan pengingat dari aplikasi kalender: Ulangan Matematika.

Auriga menghembuskan napas pelan.

“Bagus,” gumamnya. “Setidaknya ada yang inget.”

Ia menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan jalan. Sepatu hitamnya menggesek aspal, ritmenya stabil. Ia suka ritme. Ritme membuat semuanya terasa terkendali.

Beberapa langkah kemudian, sebuah suara memanggil dari arah belakang.

“Rig.”

Auriga berhenti.

Suara itu milik Nervando.

Ia memejamkan mata sesaat sebelum berbalik. Wajahnya sudah kembali netral saat menoleh. Ayahnya berdiri di depan gerbang rumah, satu tangan di saku celana, satu lagi memegang kunci mobil.

“Kamu nggak pamit,” kata Nervando.

Auriga mengangguk kecil. “Iya.”

Tidak ada nada menyesal. Tidak juga defensif. Hanya pernyataan.

Nervando menatap anaknya beberapa detik. Ada sesuatu di matanya—ragu, mungkin. Atau sekadar lelah.

“Kamu belum makan,” katanya lagi.

Auriga mengangkat bahu. “Nanti aja.”

“Nanti kapan?” Nervando menghela napas. “Kamu tuh—”

Kalimat itu terhenti. Nervando tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. Ia mengusap tengkuknya, lalu melirik jam tangannya.

“Uang saku,” katanya akhirnya, mengeluarkan beberapa lembar dari dompet. “Ini.”

Auriga menerima uang itu tanpa komentar. Tidak ada ucapan terima kasih yang berlebihan. Tidak juga penolakan.

“Makasih,” katanya singkat.

Nervando mengangguk. “Belajar yang bener.”

“Iya.”

Hening lagi.

Auriga menunggu. Entah apa. Mungkin satu kalimat tambahan. Satu pertanyaan sederhana. Kamu kenapa? atau Kamu baik-baik aja?

Tapi tidak ada.

“Ya udah,” kata Nervando akhirnya. “Berangkat.”

Auriga mengangguk sekali lagi. Ia berbalik dan melangkah pergi.

Di ambang pintu rumah, Chelsi muncul. Rambutnya masih terikat asal, wajahnya pucat. Matanya tertuju pada punggung Auriga yang menjauh.

“Rig,” panggilnya.

Langkah Auriga melambat, tapi tidak berhenti.

“Iya, Ma?” jawabnya tanpa menoleh.

“Kamu… jangan lupa jaket. Pagi dingin.”

Auriga menyentuh hoodie abu-abu yang ia kenakan.

“Udah pakai.”

“Oh,” Chelsi mengangguk kecil. “Ya udah.”

Hening lagi.

Chelsi membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Ada kata-kata yang ingin keluar, jelas terlihat. Tapi ia menelannya.

Auriga akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. Hanya sesaat.

“Berangkat dulu,” kata Auriga.

Chelsi tersenyum tipis. Senyum yang terlihat dipaksakan.

“Hati-hati,” katanya pelan.

Auriga mengangguk. Itu saja.

Ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan dua orang dewasa yang berdiri terpisah di depan rumah yang sama. Di antara mereka, ada jarak yang tidak bisa dijembatani oleh satu anak bernama Auriga.

Saat langkahnya semakin jauh, Auriga menyadari sesuatu.

Ia tidak merasa sedih.

Tidak juga marah.

Ia hanya… kosong.

Dan kekosongan itu terasa lebih aman dibandingkan berharap.

Di ujung gang, ia menunggu angkot sekolah. Beberapa siswa lain sudah ada di sana, tertawa, bercanda, saling ejek. Auriga berdiri sedikit menjauh, earphone terpasang meski tidak memutar apa pun.

Ia suka berpura-pura mendengarkan musik. Itu membuat orang-orang tidak mengajaknya bicara.

“Pagi,” sapa seorang anak laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya.

Auriga menoleh sekilas. “Pagi.”

“Hari ini ada ulangan, ya?”

“Iya.”

“Belajar?”

“Sedikit.”

Percakapan itu berakhir cepat. Auriga kembali diam.

Angkot datang. Mereka naik satu per satu. Auriga duduk di dekat jendela, menatap jalanan yang bergerak mundur.

Rumahnya tidak terlihat lagi.

Ia menghembuskan napas panjang.

Tidak ada yang menyadari bahwa ia pergi tanpa pamit. Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang memeluknya dari belakang dan berkata, pulang cepat.

Dan anehnya, Auriga sudah terbiasa dengan itu.

Karena di hidupnya, pergi tanpa pamit adalah bentuk bertahan paling sederhana.

Angkot melaju perlahan, berhenti di tiap sudut yang sudah dihafal pengemudinya. Pintu geser terbuka—tertutup—terbuka lagi. Suara receh beradu di telapak tangan, aroma bensin bercampur parfum murah, dan percakapan kecil yang tidak penting mengisi ruang sempit itu.

Auriga duduk di dekat jendela. Kacanya sedikit buram, tapi cukup untuk memantulkan wajahnya sendiri—tenang, datar, nyaris tanpa ekspresi. Ia memalingkan pandangan ke luar.

Di trotoar, seorang ayah mengantar anaknya ke sekolah dengan sepeda. Anak itu duduk di depan, tangannya memegang setang kecil. Mereka tertawa saat hampir menabrak genangan air.

“Hati-hati, Yah!” suara anak itu riang.

“Iya, iya,” balas ayahnya sambil tertawa. “Pegang yang kuat.”

Auriga mengikuti mereka dengan tatapan kosong sampai bayangan itu tertinggal di belakang angkot. Dadanya tidak terasa nyeri. Tidak juga iri. Hanya ada rasa berat yang familiar—seperti membawa tas terlalu penuh, tapi sudah terlanjur dibiasakan.

Di halte berikutnya, seorang ibu naik bersama dua anaknya. Yang kecil merengek ingin dibelikan roti.

“Nanti pulang sekolah,” kata ibunya sabar.

“Tapi sekarang laper,” rengek anak itu lagi.

Ibu itu menghela napas, lalu tersenyum kecil. “Ya udah, satu aja.”

Auriga menunduk. Ia memutar earphone di telinganya, memastikan kabelnya tidak kusut. Musik tetap tidak diputar. Ia hanya ingin alasan untuk tidak terlibat.

“Kamu sekolah mana?” tanya pengemudi angkot dari depan, suaranya lantang.

“SMAN 4, Pak,” jawab salah satu penumpang.

“Kalau kamu?” pengemudi itu menoleh ke Auriga melalui kaca spion.

Auriga mengangkat pandangan. “Sama, Pak.”

Pengemudi mengangguk. “Pinter-pinter ya.”

“Iya,” jawab Auriga singkat.

Percakapan berhenti di sana. Auriga kembali menatap jalan. Toko-toko mulai buka. Penjual sarapan menata dagangannya. Kota bergerak seperti biasa, seolah pagi ini tidak ada yang patah di mana pun.

Ia memperhatikan hal-hal kecil yang sering luput: seorang ibu merapikan dasi anaknya di pinggir jalan, dua sahabat yang bercanda soal PR, pasangan suami istri yang berjalan berdampingan tanpa bicara tapi tampak tenang. Semua terlihat… utuh.

Auriga menyadari sesuatu yang aneh: ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya berada di dalam keutuhan itu. Ia hanya tahu cara mengamatinya dari luar.

Di bangku depan, dua siswa bercakap pelan.

“Nyokap gue pagi ini bikin ribut lagi,” kata yang satu sambil tertawa kecil. “Bikin telat.”

“Biasa,” jawab temannya. “Nyokap bokap lo ribut doang, kan. Abis itu juga baikan.”

Kata baikan melintas cepat, lalu menghilang.

Auriga menelan ludah. Ia tidak ikut tertawa. Tidak juga bereaksi. Bukan karena ia menganggap dirinya paling menderita—bukan. Ia hanya tahu, tidak semua ribut berujung baikan. Beberapa ribut hanya berhenti karena kelelahan.

Angkot berhenti mendadak. Seorang ibu turun, menggandeng anaknya.

“Dadah,” kata si anak pada temannya yang masih di dalam angkot.

“Dadah,” balas temannya.

Auriga melihat mereka berpisah tanpa cemas. Ada keyakinan di sana—bahwa nanti sore, mereka akan pulang ke tempat yang sama. Tempat yang disebut rumah tanpa perlu berpikir dua kali.

Ia memejamkan mata sebentar.

Rumah.

Kata itu tidak pernah sederhana baginya. Rumah adalah tempat ia tidur, iya. Tapi juga tempat suara meninggi, pintu dibanting, dan kata-kata yang dibiarkan menggantung tanpa selesai. Rumah adalah lokasi, bukan rasa.

“Turun mana?” tanya pengemudi angkot lagi.

“Depan gerbang, Pak,” jawab Auriga.

Angkot melambat. Gerbang sekolah mulai terlihat. Beberapa siswa sudah turun, sebagian masih bercanda, sebagian sibuk dengan ponsel. Auriga berdiri, merapikan tasnya.

Saat angkot berhenti, ia turun dan melangkah menjauh. Suara mesin kembali meraung, meninggalkannya di pinggir jalan yang ramai.

Di depan gerbang sekolah, seorang ibu memeluk anak perempuannya.

“Jangan lupa makan siang,” kata ibu itu.

“Iya, Ma,” jawab anak itu sambil memeluk balik.

Auriga berjalan melewati mereka. Langkahnya tidak melambat. Ia tidak menoleh. Ia tidak ingin membandingkan. Tidak ingin menghitung apa yang tidak ia punya.

Seorang satpam menyapanya. “Pagi, Rig.”

“Pagi, Pak.”

Sapaan itu netral, singkat, dan aman. Auriga menyukainya. Tidak ada tuntutan emosi di sana.

Ia masuk ke area sekolah. Suara bel berbunyi pelan—peringatan pertama. Siswa-siswa mempercepat langkah. Auriga berjalan dengan ritme yang sama, tidak tergesa, tidak santai.

Di tangga menuju kelas, ia berhenti sejenak. Dari posisi itu, ia bisa melihat halaman sekolah: anak-anak berlarian, beberapa guru berdiri mengawasi, beberapa siswa melambaikan tangan pada orang tua yang masih menunggu di luar.

Auriga berdiri di sana lebih lama dari yang ia sadari.

Ia tidak merasa iri.

Ia hanya merasa capek—capek mengerti lebih awal bahwa tidak semua orang memulai hari dari tempat yang sama. Capek berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja hanya karena ia tidak berteriak.

Bel kedua berbunyi.

Auriga melanjutkan langkah. Ia naik tangga, menyusuri koridor, dan berhenti di depan kelasnya. Pintu masih terbuka. Beberapa siswa sudah duduk, sebagian masih berdiri.

Ia melangkah masuk dan langsung menuju bangku dekat jendela—tempat yang selalu sama.

Saat ia duduk, Auriga menatap keluar sekali lagi. Pagi masih berlangsung. Dunia bergerak tanpa menunggunya.

Kelas XI IPA 2 perlahan terisi. Kursi bergeser, tas diletakkan sembarang, suara tawa kecil bersahut-sahutan. Pagi di sekolah selalu punya ritme sendiri—lebih teratur dibanding rumah, tapi tidak selalu lebih ringan.

Auriga duduk di bangku dekat jendela, posisi yang sama seperti kemarin dan hari-hari sebelumnya. Dari sana, ia bisa melihat halaman sekolah dan potongan langit yang pucat. Ia menyukai jarak. Jarak memberinya ilusi kendali.

Pintu kelas terbuka. Seorang guru masuk sambil membawa map cokelat tebal.

“Pagi,” sapa beliau sambil melangkah ke depan kelas.

“Pagi, Bu,” jawab siswa serempak, sebagian bersemangat, sebagian asal.

Bu Ratna—guru Matematika—meletakkan map di meja, lalu menyapu kelas dengan pandangan cepat. Matanya berhenti di beberapa wajah, mencatat kehadiran, kebiasaan, dan hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.

“Siapkan buku kalian,” katanya. “Hari ini kita lanjut materi kemarin.”

Auriga membuka tasnya, mengeluarkan buku dan pulpen. Gerakannya rapi, tanpa tergesa. Ia tidak perlu diberi tahu dua kali. Ia selalu siap—bukan karena ambisi, tapi karena kesiapan adalah cara paling aman untuk tidak ditegur.

Bu Ratna mulai menulis di papan. Kapur berdecit pelan. Angka dan simbol memenuhi ruang kosong. Beberapa siswa menghela napas.

“Ada yang belum paham soal kemarin?” tanya Bu Ratna sambil berbalik.

Kelas hening beberapa detik. Lalu satu tangan terangkat di barisan tengah. Pertanyaan dijawab. Diskusi singkat terjadi. Auriga mendengarkan tanpa mencatat banyak. Ia sudah paham. Ia hanya menunggu.

Bu Ratna kembali menulis, lalu tanpa menoleh berkata, “Auriga.”

Nama itu disebut dengan nada netral. Tidak menekan. Tidak juga memuji.

Auriga mengangkat kepala. “Iya, Bu?”

“Coba kamu jelaskan langkah kedua dari soal ini,” kata Bu Ratna sambil menunjuk papan.

Auriga berdiri. Kursinya bergeser pelan. Ia melangkah ke depan, menerima kapur, dan mulai menulis. Tangannya stabil. Suaranya datar.

“Langkah kedua itu nyari nilai x dengan eliminasi, Bu. Soalnya persamaannya saling berkaitan,” jelasnya singkat. “Kalau disubstitusi dari awal, lebih panjang.”

Bu Ratna mengangguk. “Kenapa eliminasi dulu?”

“Biar lebih cepat,” jawab Auriga. “Dan lebih minim salah hitung.”

Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada usaha untuk terdengar pintar. Hanya jawaban yang perlu.

“Benar,” kata Bu Ratna. “Duduk.”

Auriga kembali ke tempat duduknya. Beberapa siswa menoleh sekilas—ada yang kagum, ada yang biasa saja. Ia tidak menanggapi apa pun. Pandangannya kembali ke jendela.

Bu Ratna melanjutkan pelajaran. Sesekali ia berhenti, mengajukan pertanyaan, menunjuk siswa lain. Kelas berjalan normal. Terlalu normal, sampai-sampai Auriga hampir lupa pagi yang ia lalui tadi.

Hampir.

“Ngapain sih kamu selalu duduk situ?” bisik seorang siswa dari bangku belakang, setengah bercanda. “Pemandangannya emang bagus?”

Auriga menoleh sedikit. “Biasa aja.”

“Oh,” jawab siswa itu, lalu tertawa kecil. “Kukira biar keliatan cool.”

Auriga tidak membalas. Ia kembali menunduk. Tidak semua komentar perlu jawaban. Ia belajar itu sejak lama.

Bu Ratna menutup buku. “Oke, cukup. Kita bahas sisanya besok. Ingat, ulangan tetap jadi.”

Beberapa siswa mengeluh pelan. Auriga mencatat tanggalnya di pojok buku—gerakan kecil, otomatis.

“Ah,” Bu Ratna menepuk mapnya. “Satu lagi.”

Kelas kembali tenang.

“Kita dapat siswa pindahan minggu ini,” katanya. “Belum masuk hari ini, tapi mungkin besok.”

Beberapa suara berbisik muncul. Nama-nama ditebak. Asal sekolah dibayangkan.

Auriga tidak bereaksi. Ia jarang tertarik pada hal-hal baru. Hal baru biasanya datang dengan tuntutan—perkenalan, basa-basi, pertanyaan yang tidak ingin ia jawab.

“Bangkunya nanti diatur ulang,” lanjut Bu Ratna. “Ada bangku kosong di dekat jendela.”

Auriga melirik sekilas ke kursi di sebelahnya.

Kosong.

Entah sejak kapan bangku itu terasa lebih mencolok. Ia tidak tahu kenapa ia memperhatikannya. Mungkin karena kata diatur ulang selalu berarti perubahan, dan perubahan jarang ramah.

Bel istirahat berbunyi. Kursi-kursi bergerak lagi. Suara kembali ramai.

“Auriga,” panggil Bu Ratna saat ia berkemas.

Auriga berhenti. “Iya, Bu?”

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya singkat. Nada suaranya ringan, tapi matanya meneliti.

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Auriga terdiam sepersekian detik—cukup lama untuk memilih jawaban yang aman.

“Baik, Bu,” katanya.

Bu Ratna mengangguk, seolah menerima. “Kalau ada apa-apa, bilang.”

“Iya.”

Percakapan selesai. Sederhana. Aman.

Auriga melangkah keluar kelas, tapi sebelum benar-benar pergi, ia menoleh sekali lagi ke bangku kosong di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada apa-apa.

Namun untuk alasan yang tidak ia pahami, ada perasaan kecil yang bergerak—bukan penasaran, bukan juga harapan. Lebih seperti kesadaran bahwa tempat itu tidak akan kosong selamanya.

Ia mengalihkan pandangan dan berjalan pergi.

Di koridor, siswa-siswa bercanda, berlari kecil, membicarakan hal remeh. Auriga menyelip di antara mereka tanpa benar-benar bergabung.

Di kelas, ia adalah siswa yang menjawab seperlunya.

Di rumah, ia adalah anak yang diam seperlunya.

Pelajaran berikutnya dimulai tanpa jeda panjang. Guru berganti, suara berganti, papan tulis kembali penuh oleh tulisan yang rapi. Kelas XI IPA 2 kembali tenggelam dalam rutinitas—mendengar, mencatat, menunggu bel.

Auriga duduk di tempatnya, tubuh menghadap depan, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Pandangannya terarah ke luar jendela. Langit masih pucat, awan bergerak pelan, seolah tidak terburu oleh apa pun.

Ia menyukai momen seperti ini. Saat dunia di luar bergerak lambat, sementara di dalam kepalanya segalanya terlalu ramai.

“Perhatikan, ya,” suara guru terdengar dari depan kelas. “Ini penting.”

Auriga mengangguk kecil, meski tidak yakin siapa yang ia setujui—guru di depannya, atau pikirannya sendiri yang menyuruhnya tetap bertahan sampai jam pelajaran selesai.

Spidol bergerak di papan. Suara ceklek tutup spidol dibuka dan ditutup berulang kali. Auriga menulis beberapa poin di bukunya, sekadar memastikan tangannya sibuk. Jika tidak, pikirannya akan kembali ke pagi tadi.

Ke meja makan yang sunyi.

Ke piring yang tak disentuh.

Ke suara Chelsi dan Nervando yang saling berbenturan tanpa pernah benar-benar saling mendengar.

Auriga menghembuskan napas pelan.

Ia bertanya-tanya—bukan untuk pertama kalinya—apakah semua rumah terasa seperti medan perang kecil yang tak pernah diumumkan. Apakah semua anak bangun pagi dengan waspada, siap menghindari kata-kata yang bisa melukai tanpa menyentuh.

“Rig.”

Auriga berkedip. Suara itu datang dari samping. Seorang teman sekelas mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Lo kenapa bengong?” bisiknya.

Auriga menoleh sekilas. “Nggak.”

“Dari tadi liatin luar mulu.”

Auriga kembali menatap jendela. “Panas.”

Temannya mendengus pelan. “Padahal mendung.”

Percakapan berhenti di sana. Auriga tidak berniat melanjutkan. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa yang ia lihat bukan cuaca, melainkan jarak—jarak antara dirinya dan hal-hal yang seharusnya terasa dekat.

Di depan kelas, guru berhenti menulis.

“Ada yang mau jawab?” tanyanya sambil menatap barisan bangku.

Beberapa siswa menunduk. Beberapa pura-pura sibuk membuka buku.

Auriga tahu jawabannya. Ia bisa mengangkat tangan. Ia bisa menyelesaikan soal itu dalam beberapa langkah. Tapi ia tidak bergerak.

Ia sudah terlalu sering terlihat. Hari ini, ia hanya ingin menjadi latar.

“Auriga?” suara guru memanggil lagi, ragu.

Auriga mengangkat kepala. “Iya, Pak?”

“Kamu tahu jawabannya?”

Auriga mengangguk kecil. “Tahu.”

“Coba.”

Auriga berdiri, berjalan ke papan, dan menuliskan jawabannya tanpa banyak bicara. Spidol bergerak cepat, efisien. Tidak ada coretan berlebihan.

“Begitu, Pak,” katanya singkat.

Guru mengangguk puas. “Benar. Duduk.”

Auriga kembali ke bangkunya. Detak jantungnya stabil. Tidak ada rasa bangga. Tidak juga tegang. Semua terasa datar—seperti permukaan air yang tidak pernah disentuh.

Ia kembali menatap keluar jendela.

Di bawah sana, di halaman sekolah, beberapa siswa kelas lain sedang olahraga. Teriakan kecil terdengar samar. Tawa. Peluit. Kehidupan yang tampak ringan.

Auriga bertanya dalam hati, kapan terakhir kali aku tertawa tanpa mikir apa pun?

Pertanyaan itu tidak menemukan jawaban.

Tangannya berhenti menulis. Pulpen berputar di antara jari-jarinya. Ia membiarkan pikirannya berjalan ke tempat yang paling sering ia hindari—ke kemungkinan bahwa rumahnya tidak akan pernah berubah.

Bahwa Chelsi akan terus lelah.

Bahwa Nervando akan terus defensif.

Dan bahwa ia akan terus berada di tengah, diam, berharap tidak dipilih untuk disalahkan.

“Pelajaran kita cukup sampai di sini,” kata guru akhirnya. “Kerjakan latihan di buku halaman 57.”

Suara kursi kembali bergeser. Beberapa siswa mengeluh pelan. Auriga membuka halaman yang dimaksud, mengerjakan soal satu per satu. Fokusnya kembali, tapi hanya di permukaan.

Di sela-sela itu, ia kembali melirik bangku kosong di sebelahnya. Masih kosong. Tidak ada tas. Tidak ada buku. Tidak ada siapa-siapa.

Entah kenapa, keberadaan kursi kosong itu terasa… berbeda. Bukan mengganggu. Lebih seperti ruang yang menunggu diisi, tanpa mendesak.

Auriga menggeleng pelan, mengalihkan pandangan. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh. Berharap terlalu dini hanya akan berujung kecewa.

Bel pelajaran berbunyi. Guru keluar kelas. Suasana kembali cair.

“Rig,” panggil temannya lagi. “Istirahat ke kantin?”

Auriga menutup bukunya. “Nanti.”

“Nanti kapan?”

“Abis ini.”

Jawaban aman. Tidak menolak, tapi juga tidak berjanji.

Temannya mengangkat bahu. “Ya udah.”

Auriga tetap duduk. Ia menatap jendela sekali lagi sebelum berdiri. Di kaca itu, pantulan wajahnya terlihat samar—mata yang terlalu tenang untuk usianya.

Ia menyadari sesuatu yang tidak pernah ia ucapkan:

menatap keluar jendela adalah caranya untuk merasa pergi, tanpa benar-benar meninggalkan apa pun.

Karena bagi Auriga, pergi sungguhan selalu lebih rumit daripada sekadar melamun.

Lorong sekolah mulai ramai saat jam istirahat benar-benar dimulai. Suara langkah kaki bercampur tawa, teriakan kecil, dan bunyi pintu kelas yang dibuka-tutup tanpa sabar. Auriga berjalan keluar kelas dengan tempo pelan, ransel hanya disampirkan di satu bahu.

Ia tidak langsung menuju kantin.

Seperti biasa, ia memilih berjalan tanpa tujuan jelas. Menyusuri lorong belakang gedung kelas, tempat yang jarang dilewati siswa lain karena letaknya agak terpencil dan dekat dengan taman sekolah yang tidak terlalu terawat.

Auriga menyukai tempat itu. Sepi. Tidak banyak mata. Tidak banyak suara.

Ia berhenti di dekat pagar besi yang memisahkan lorong dengan taman. Beberapa daun kering menumpuk di sudut. Bangku kayu lama terlihat kusam, catnya terkelupas di beberapa bagian.

Auriga duduk di sana.

Ia mengeluarkan botol minum dari tasnya, meneguk air beberapa kali. Tidak lapar. Perutnya jarang benar-benar meminta makan saat pikirannya terlalu penuh.

Baru beberapa menit ia duduk, langkah kaki terdengar mendekat.

Auriga refleks menoleh.

Seorang gadis berdiri tidak jauh darinya. Rambutnya hitam, diikat rendah, beberapa helai jatuh membingkai wajahnya. Seragamnya rapi, tapi tidak kaku. Di tangannya ada buku tipis dan kotak makan berwarna netral.

Gadis itu terlihat ragu sejenak, seperti tidak yakin apakah tempat itu boleh ditempati bersama orang lain.

“Oh,” katanya pelan saat mata mereka bertemu. “Ada orang.”

Auriga bangkit setengah berdiri. “Nggak apa-apa.”

Gadis itu menatap bangku kosong di ujung lain. “Aku… duduk sini nggak masalah?”

Auriga menggeleng. “Silakan.”

Ia kembali duduk. Gadis itu ikut duduk, menjaga jarak wajar. Tidak terlalu dekat, tidak juga menjauh seolah takut.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Auriga kembali menatap taman. Gadis itu membuka kotak makannya, tapi tidak langsung makan. Ia menatap isinya sejenak, lalu menutup kembali kotak itu, seolah kehilangan selera.

“Aku Elara,” katanya tiba-tiba.

Auriga menoleh. “Auriga.”

“Elara,” ulangnya pelan, seperti memastikan namanya terdengar jelas. “Kamu sering ke sini?”

Auriga mengangkat bahu. “Kadang.”

“Tempatnya sepi,” kata Elara. “Aku suka.”

Auriga mengangguk. “Aku juga.”

Percakapan berhenti lagi. Tapi kali ini, keheningannya terasa berbeda. Tidak canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama nyaman dengan jeda.

Elara membuka botol minumnya. “Kantin rame banget.”

“Selalu,” jawab Auriga singkat.

“Elu… eh, kamu nggak ke kantin?”

“Nggak terlalu lapar.”

Elara tersenyum kecil. “Sama.”

Auriga meliriknya sekilas. Senyum itu tidak besar, tapi jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak berisik.

“Bangku kelas sebelahku kosong,” kata Elara tiba-tiba, nadanya seperti sedang berpikir keras. “Ternyata kamu yang duduk di situ.”

Auriga terdiam sesaat. “Iya.”

“Aku pindahan,” lanjut Elara. “Baru masuk minggu ini. Tapi baru hari ini beneran masuk kelas.”

Auriga mengangguk lagi. Ia bukan tipe yang banyak bertanya. Tapi Elara tidak terlihat keberatan dengan jawaban pendek itu.

“Pelajarannya lumayan,” kata Elara. “Tapi kelasnya… rame.”

Auriga tersenyum tipis. Hampir tidak terlihat. “Iya.”

Elara menoleh ke arahnya. “Kamu orangnya irit ngomong, ya?”

Auriga tidak tersinggung. “Mungkin.”

Elara tertawa kecil. Suaranya pelan, tapi cukup memecah sunyi. “Nggak apa-apa. Aku juga nggak suka ngobrol yang maksa.”

Auriga memandang taman lagi. Daun-daun bergeser pelan tertiup angin. Ia merasakan sesuatu yang asing—ketenangan yang tidak terasa kosong.

“Auriga,” panggil Elara pelan.

“Hm?”

“Kamu kelihatan capek.”

Auriga terdiam.

Tidak banyak orang yang mengatakan itu padanya. Biasanya mereka bilang ia dingin. Pendiam. Sulit didekati. Tapi capek—itu kata yang jarang dipakai orang untuknya.

“Biasa aja,” jawabnya akhirnya.

Elara tidak memaksa. “Kalau suatu hari kamu pengin cerita, tempat ini aman.”

Auriga menoleh lagi. “Kamu sering ke sini?”

“Mungkin,” jawab Elara. “Kalau rame bikin pusing.”

Auriga mengangguk pelan. “Iya.”

Bel istirahat berbunyi, memecah momen itu. Suaranya terdengar lebih jauh dari biasanya.

Elara berdiri lebih dulu. “Aku balik kelas dulu.”

Auriga ikut berdiri. “Iya.”

Elara melangkah beberapa langkah, lalu berhenti. Ia menoleh lagi. “Auriga.”

“Kenapa?”

“Senang ketemu kamu.”

Auriga terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Aku juga.”

Elara tersenyum—kali ini sedikit lebih lebar—lalu pergi meninggalkan lorong itu.

Auriga kembali duduk sebentar sebelum akhirnya berjalan ke kelas. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang berubah tempat. Tidak besar. Tidak dramatis.

Hanya perasaan bahwa hari ini… tidak sepenuhnya berat.

Dan untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, Auriga tidak keberatan dengan kursi di sebelahnya yang akhirnya terisi.

Kelas kembali dipenuhi suara saat bel masuk berbunyi. Kursi ditarik, tas dibuka, buku-buku kembali keluar dari persembunyian. Auriga duduk di bangkunya, posisi yang sama seperti sebelum istirahat—dekat jendela, barisan tengah.

Kali ini, bangku di sebelahnya tidak lagi kosong.

Elara datang hampir bersamaan dengan guru. Ia duduk rapi, meletakkan tasnya di bawah meja, lalu membuka buku tanpa banyak gerakan. Tidak ada sapaan berlebihan. Tidak ada senyum canggung.

Hanya kehadiran.

Auriga menyadarinya tanpa menoleh. Ia bisa merasakan perubahan kecil itu—ruang di sebelahnya yang kini terisi oleh seseorang yang tidak terasa asing.

“Boleh pinjam pulpen?” suara Elara pelan, nyaris tenggelam oleh keributan kelas.

Auriga menoleh sekilas, lalu menyerahkan pulpen dari kotaknya. “Ini.”

“Makasih.”

Elara menggunakannya, lalu meletakkannya kembali di tepi meja Auriga. Jari mereka nyaris bersentuhan. Tidak sampai satu detik, tapi cukup untuk membuat Auriga menarik tangannya sedikit lebih cepat dari biasanya.

Pelajaran dimulai. Guru berbicara panjang, menjelaskan materi dengan nada datar. Auriga menulis seperti biasa—ringkas, rapi, efisien.

Di sampingnya, Elara menulis lebih pelan. Sesekali ia berhenti, membaca ulang, lalu menulis lagi. Auriga menangkap kebiasaan kecil itu tanpa sadar.

Saat guru menulis rumus di papan, Elara memiringkan kepalanya, menatap buku dengan kening sedikit berkerut.

Auriga ragu sejenak. Ia tidak biasa memulai interaksi.

“Bagian itu…” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Yang ini.”

Ia menunjuk baris kedua di buku Elara.

Elara menoleh, mendekatkan bukunya sedikit. “Oh?”

“Harusnya dibalik,” lanjut Auriga singkat.

Elara memperhatikan, lalu tersenyum kecil. “Pantesan nggak masuk.”

Ia menghapus tulisannya dan memperbaiki. “Makasih.”

Auriga mengangguk. Percakapan selesai. Tapi ada sesuatu yang tertinggal—rasa bahwa membantu seseorang ternyata tidak selalu melelahkan.

Beberapa menit berlalu.

Elara mencondongkan badan sedikit ke arah Auriga. “Kamu cepet nangkepnya.”

Auriga tidak langsung menjawab. “Biasa aja.”

Elara menahan senyum. “Kamu sering bilang gitu.”

Auriga meliriknya sekilas. “Baru dua kali ketemu.”

“Iya,” kata Elara ringan. “Tapi keliatan.”

Auriga kembali fokus ke bukunya. Di kepalanya, suara Chelsi tiba-tiba terlintas—jangan terlalu dekat sama siapa pun, nanti kecewa.

Tapi Elara tidak terlihat menuntut apa pun. Ia hanya duduk, belajar, dan sesekali bertanya dengan nada yang tidak memaksa.

Saat guru memberi latihan, kelas mendadak lebih sunyi. Auriga mengerjakan soal dengan cepat. Elara menyusul, meski lebih pelan.

“Yang nomor tiga,” bisik Elara. “Aku agak bingung.”

Auriga menggeser bukunya sedikit. “Pakai rumus tadi.”

“Oh.” Elara mengangguk, lalu mencoba sendiri. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum puas. “Dapet.”

Auriga menutup bukunya. Ada rasa kecil yang aneh—bukan senang berlebihan, lebih seperti… tidak sendirian.

Guru berjalan menyusuri barisan bangku. Saat melewati mereka, ia berhenti sebentar.

“Kalian berdua kerja sama dengan baik,” katanya.

Elara tersenyum sopan. Auriga hanya mengangguk.

Setelah guru berlalu, Elara berbisik, “Kita kayak tim dadakan.”

Auriga menoleh. “Sementara.”

Elara tertawa kecil. “Nggak apa-apa. Yang sementara juga tetap kejadian.”

Auriga terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi terasa menempel.

Pelajaran hampir selesai. Cahaya matahari masuk melalui jendela, jatuh tepat di meja mereka. Elara memiringkan buku agar tidak silau.

“Kamu nggak keberatan aku duduk di sini, kan?” tanya Elara pelan.

Auriga menggeleng. “Nggak.”

“Kalau besok juga?”

Auriga tidak langsung menjawab. Ia menatap ke depan, lalu ke jendela. Untuk pertama kalinya, pemandangan di luar tidak terasa lebih menarik dari yang ada di dalam kelas.

“Iya,” katanya akhirnya. “Nggak masalah.”

Elara tersenyum—tidak lebar, tapi hangat.

Bel berbunyi. Kelas kembali bergerak.

Auriga membereskan bukunya. Saat berdiri, ia menyadari sesuatu yang sederhana namun mengganggu: hari ini terasa lebih cepat dari biasanya.

Dan itu membuatnya bertanya-tanya—

sejak kapan waktu bisa terasa ringan hanya karena ada seseorang yang duduk di sebelahnya?

Jam pulang sekolah datang tanpa seremoni. Gerbang terbuka, siswa berhamburan keluar, sebagian dengan tawa, sebagian dengan keluhan, sebagian lagi dengan kepala penuh rencana sore hari.

Auriga berjalan sendirian.

Tasnya terasa lebih ringan dari biasanya, meski isinya sama. Langkahnya stabil, tidak terburu-buru. Di kepalanya, potongan-potongan hari ini masih berputar—bangku taman yang sepi, suara Elara yang pelan, senyum kecil yang tidak memaksa.

“Besok,” kata Elara tadi sebelum berpisah, “kita duduk bareng lagi, ya.”

Auriga hanya mengangguk. Tapi entah kenapa, anggukan itu terasa seperti keputusan.

Angkot berhenti di depannya. Auriga naik, duduk dekat jendela. Jalanan bergerak mundur dalam pantulan kaca—toko-toko, pohon, orang-orang yang pulang dengan versi lelah mereka masing-masing.

Ia menatap pantulannya sendiri. Wajah yang sama, ekspresi yang sama. Tapi ada sesuatu yang bergeser sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti retakan halus di dinding yang selama ini kokoh.

Rumah itu terlihat seperti biasa dari luar.

Pagar besi hitam, cat rumah yang mulai kusam, halaman yang rapi tapi terasa kosong. Auriga membuka pagar, menutupnya pelan agar tidak berisik. Ia membuka pintu, melepas sepatu, lalu masuk.

Sunyi.

Televisi menyala di ruang tengah, tapi volumenya rendah. Chelsi duduk di sofa, menatap layar tanpa benar-benar menonton. Di meja, ada secangkir kopi yang sudah dingin.

Auriga berdiri sejenak, lalu menyapa, “Ma.”

Chelsi menoleh. Senyumnya muncul terlambat. “Pulang.”

“Iya.”

“Kamu makan di luar?”

“Nggak.”

Chelsi mengangguk, lalu kembali menatap televisi. Tidak ada tawaran makan. Tidak ada pertanyaan tentang sekolah. Bukan karena tidak peduli—Auriga tahu ibunya lelah dengan caranya sendiri.

Ia berjalan ke dapur. Membuka kulkas. Ada makanan, tapi tidak menggugah selera. Ia menuang air, minum beberapa teguk, lalu menutup kulkas lagi.

Langkah kaki terdengar dari lantai atas. Nervando turun dengan ponsel di tangan, dasinya sudah dilepas, kemeja masih rapi. Ia melirik Auriga sekilas.

“Kamu telat.”

Auriga menoleh. “Jam segini masih normal.”

Nervando mendengus kecil. “Jangan bantah.”

Chelsi melirik ke arah mereka. “Udah, Van.”

Nervando tidak menanggapi. Ia berjalan ke dapur, membuka kulkas, lalu menutupnya dengan sedikit lebih keras dari perlu.

Auriga berdiri di tengah ruangan, merasakan posisi itu lagi—di antara dua orang yang tidak pernah benar-benar bertemu di tengah.

“Ada PR?” tanya Chelsi akhirnya, suaranya pelan.

“Ada.”

“Kerjain.”

Auriga mengangguk. Ia naik ke kamarnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Kamar itu rapi, hampir steril. Meja belajar di dekat jendela, rak buku yang tersusun lurus, tempat tidur yang jarang kusut. Auriga duduk di kursinya, membuka tas, mengeluarkan buku.

Ia membuka halaman latihan, menatap angka-angka yang biasanya mudah ia cerna. Kali ini, pikirannya melayang.

Ke cara Elara mencondongkan buku.

Ke nada suaranya saat berkata, tempat ini aman.

Ke senyum kecil yang tidak meminta apa pun sebagai balasan.

Auriga menghela napas, menutup bukunya sejenak.

Ia berdiri, berjalan ke jendela kamar, menatap jalan di depan rumah. Senja turun perlahan, langit berubah warna. Lampu jalan mulai menyala satu per satu.

Dari bawah, suara Chelsi dan Nervando terdengar samar. Bukan teriakan. Bukan juga percakapan hangat. Lebih seperti dua orang yang berbicara dengan tujuan berbeda, tapi berada di ruangan yang sama.

Auriga memejamkan mata sebentar.

Ia menyadari sesuatu yang tidak nyaman: hari ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan perbedaan yang tajam antara sekolah dan rumah. Bukan karena sekolah lebih menyenangkan—melainkan karena di sana, ada satu orang yang membuatnya merasa… tidak sendirian.

Ia kembali ke meja, membuka buku lagi, memaksa fokus. Pulpen bergerak. Angka demi angka terselesaikan.

Ponselnya bergetar pelan.

Satu pesan masuk. Nomor tidak dikenal.

Elara:

Kamu udah sampai rumah?

Auriga menatap layar cukup lama sebelum membalas.

Auriga:

Udah.

Beberapa detik kemudian, balasan masuk.

Elara:

Oke. Jangan lupa istirahat.

Auriga menatap kalimat itu. Sederhana. Tidak berlebihan. Tapi terasa… diperhatikan.

Ia mengetik, lalu menghapus, lalu mengetik lagi.

Auriga:

Kamu juga.

Ia meletakkan ponselnya, kembali ke buku. Kali ini, fokusnya lebih mudah ditemukan.

Di luar kamar, suara rumah tetap sama. Tidak berubah. Tidak lebih hangat. Tidak lebih dingin.

Tapi di dalam diri Auriga, ada sesuatu yang bertahan—sebuah perasaan kecil bahwa dunia di luar rumahnya tidak sepenuhnya gelap.

Dan mungkin, hanya mungkin,

Babak hidupnya tidak akan selalu ditulis dengan kesepian sebagai kalimat utama.