Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Tepat jam lima sore, satu persatu pegawai kantor mulai meninggalkan mejanya untuk pulang. Tapi tidak dengan Corina dan Aldi. Mereka masih sibuk mengerjakan pekerjaan yang harus selesai sore ini. Raffa, atasan mereka pun masih ada di dalam ruangannya. "Na, ini data yang udah validnya ya. Kamu tinggal rapihin aja." Titah Aldi menyerahkan arsip yang baru saja diprintnya.

"Iya, makasih mas." Jawab Corina dengan melirik Aldi sekilas.

"Ayo semangat Na, demi pulang sebelum maghrib."

"Bener banget mas." Walaupun Corina baru beberapa hari magang disini, tapi dia tau bagian keuangan pasti akan lembur kalau masuk tanggal tua.

"Corina ke ruangan saya!." Suara tegas Raffa membuat Corina yang tadinya sedang berbicara santai dengan Aldi langsung bergidik ngeri.

Menjelang maghrib seperti ini Raffa muncul tidak terduga, seperti hantu. Sangat menakutkan.

"Iya pak." Jawab Corina pasrah lalu mengekori Raffa.

Masuk ke ruangan Raffa dengan perasaan takut, Corina berdiri mematung memperhatikan Raffa yang sibuk membuka arsip yang tadi di kerjakan Corina lalu membanting arsip itu tepat ke arah Corina. "Kalau berhitung itu yang benar, kamu lulus kan pelajaran matematika?."..."Salah hitung satu angka saja bisa berakibat fatal!." Raffa menatap Corina dengan tajam.

Ya iya lah lulus kalau enggak mana mungkin bisa magang disini, batin Corina tanpa sadar lagi.

"Jangan jawab apa yang saya ucapkan!. Perbaiki dan selesaikan hari ini karena datanya harus diinput hari ini juga!. Jangan buat saya kesal." Kata Raffa menusuk dan masih menatap tajam Corina, sementara Corina hanya bisa menundukan kepalanya.

Aduh ketauan lagi, ih itu liatin terus gak cape apa?. Gak takut bola matanya keluar nggelinding?. BOOM Corina lupa lagi mengumpat dalam hati.

"Keluar sekarang!"

Ih saya juga gak mau lama-lama seruangan sama mahluk kaya Pa Raffa, batin Corina terus saja mengumpat karena saking kesal. Sudah tidak peduli dengan Raffa, Corina bahkan melangkahkan kaki dengan menghentak-hentakkannya saat berbalik untuk keluar dari ruangan Raffa.

"Mata saya gak akan ngegelinding keluar karena liatin kamu dan satu lagi jangan kegeeran saya mau satu ruangan lama-lama sama kamu." Perkataan Raffa membuat Corina menghembuskan nafasnya keras.

**

Setelah waktu menunjukan pukul delapan Corina mematikan komputernya. Pekerjaan yang tadi diminta Raffa untuk diperbaiki telah selesai. "Akhirnya kerja rodi buat hari ini berakhir," monolognya. Aldi sudah pulang semenjak satu jam yang lalu. Menyisakan Corina dan Raffa. Corina berdoa dalam hati semoga pekerjaannya tidak ada yang salah lagi dan bisa diijinkan pulang. Dia sudah sangat lapar. Namun, saat Corina akan lapor ke ruangan Raffa, sang pemilik ruangan sudah keluar lebih dulu dari ruangannya.

"Kamu sudah selesai?," tanya Raffa dingin.

"Iya pak, saya mau pamit pulang." Jawab Corina semangat.

"Hemm." Dan dengan cueknya Raffa pergi meninggalkan Corina yang berdiri melongo tidak percaya. Tadi pembimbingnya itu heboh kalau laporannya harus selesai hari ini dan segera harus di input, tapi nyatanya setelah Corina menyelesaikan Raffa tidak memeriksanya bahkan pulang lebih dulu. Corina jadi berpikir kalau dia dikerjai.

"Sabar. Yang penting bisa pulang sekarang." Hibur Corina pada dirinya sendiri.

Corina mengambil tasnya yang ada di atas meja kemudian berjalan selambat mungkin agar tidak berbarengan dengan Raffa. Corina menjamin keadaannya akan awkward bila mereka berjalan beriringan. Lagipula sudah seharian penuh Raffa membuatnya kesal. Sayang keinginan Corina tidak terkabul, Raffa masih ada di depan lift. Berdiri seperti patung.

Ting

Pintu lift terbuka lebar. Tidak ada pilihan Corina ikut masuk bersama Raffa ke dalam lift. Corina memilih berada dibelakang Raffa. Disamping bukan pilihan bagus. "Kamu pulang naik apa?" tanya Raffa datar mengagetkan Corina yang sedang memperhatikan Raffa dari belakang. Dalam hatinya, siapa sangka kalau pembimbingnya itu dari belakang saja keren.

"Hah?, Naik taksi pak." Raffa mengangguk-ngangguk saja. Corina memang terkadang membawa mobil atau diantar sopir, tapi beberapa hari ini Corina selalu capek jika harus menyetir ditengah kemacetan. Sopirnya juga sedang dipakai papahnya yang sedang keluar kota.

Ting

Lift sudah sampai lobby, Corina dan Raffa keluar berbarengan. "Saya duluan pak." Corina sudah siap-siap untuk berjalan lebih cepat daripada Raffa. "Hati-hati ini udah malem," kata Raffa pelan. Corina tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ternyata ada juga kalimat manis yang keluar dari mulut Raffa, pikirnya. Alarm dalam batinnya mendadak berbunyi. "Bisa-bisanya Corina kamu mikir kayak gitu. Hati-hati Na."

**

Corina memutuskan untuk berjalan saja pelan-pelan setelah menunggu taksi online yang dipesannya belum juga datang. Sambil melihat ke kanan dan ke kiri dengan was-was Corina menggigiti kukunya sendiri. Jalanan dekat kantornya sudah sepi dan dia mulai takut. Secara tidak terduga ada pria gondrong mendekati ke arahnya. Corina pura-pura tidak melihat dan berbalik untuk menjauhi pria tersebut, tapi pria itu terus berjalan mengikutinya.

"Ada apa ya mas?," tanya Corina ketakutan saat pria gondrong itu berjalan disampingnya. Mendadak dengan cepat pria gondrong itu menarik tas yang Corina sampirkan di bahu. Corina tentu saja refleks menarik kembali tasnya sehingga terjadi perebutan tas antara pria gondrong dengan Corina.

"Tolong," teriak Corina kencang.Dia berharap ada sesorang yang mendengarnya dan menolong. "Lepasin tas saya!!," teriak Corina lagi pada pria gondrong. Tapi pria itu tetap tidak mau melepaskannya.

"Perempuan keras kepala!!!. Jangan buat saya kasar sama kamu ya." Balas pria gondrong dengan kesal. Matanya sudah melotot, bahkan urat-urat di keningnya menonjol. Corina sebenarnya sangat takut. Dia bingung harus bagaimana. Hampir saja dia melepaskan tasnya, tapi seperti mendapatkan air di gurun Sahara Corina melihat mobil Raffa melaju pelan keluar dari kantor. Saat itu juga Corina berteriak sangat kencang agar bisa didengar oleh Raffa. Beruntung jalanan sepi sehingga dapat terdengar.

"Pak Raffa tolongin saya." Teriaknya senang dengan masih terus menarik-narik tasnya. Mobil Raffa buru-buru menepi dan turun dari mobil. "Pak tolongin saya." Teriak Corina kembali. Baru kali ini rasanya Corina senang melihat Raffa. Pria gondrong itu panik karena Raffa sudah turun dan mendekatinya. Akhirnya pria itu mendorong kasar Corina saat Corina sedang lengah melihat Raffa. Corina langsung tersungkur ke jalan.

"Pak tas saya!." Corina berteriak panik melihat tasnya sudah dibawa jauh oleh pencurinya. Dia bahkan mengabaikan kalau dirinya sudah terjatuh lumayan keras. Tanpa basa-basi Raffa langsung mengejar pria gondrong itu. Beruntung Raffa punya bakat lari yang kencang ditambah taekwondo dengan sabuk hitam, detik itu juga Raffa berhasil mengejar dan menghajar pencurinya.

"Jangan kasar sama perempuan!." Kata tajam Raffa. Pria gondrong tersebut langsung memohon ampun kemudian berlari kencang meninggalkan tas Corina yang sudah tergelak di jalan. Raffa segera mengambil tasnya dan kembali pada Corina yang sedang kesulitan berdiri. Corina mengusap-usap kakinya. Raffa bisa menduga kalau kaki Corina itu terkilir.

"Aduh Pak Raffa berhasil bawa tas saya lagi?. Makasih ya pak." Mata Corina langsung berbinar-binar saat melihat tasnya disodorkan oleh Raffa. Melihat itu, Raffa merasa tidak habis pikir pada Corina karena lebih mementingkan barang ketimbang dirinya sendiri. Sontak saja Raffa menatap tajam Corina.

"Kenapa pak?," tanya heran Corina dengan hati-hati setelah melihat reaksi wajah Raffa.

"Saya gak habis pikir. Kamu itu ya lebih milih rebut-rebutan tas sama penjahat daripada milih keselamatan kamu sendiri. Kalau saya gak lewat gimana nasib kamu ditangan penjahat itu coba?." Jawab Raffa. Corina langsung tersadar, bahkan dia mengiyakan juga kata-kata Raffa dalam hati.

"Maaf, abisnya didalam tas itu banyak yang penting. KTP, SIM, kartu ATM saya, kartu mahasiswa saya juga." Balas Corina menyerocos pelan pada Raffa.

Raffa mendengus mendengar jawaban Corina. "Semua itu bisa dibikin lagi kali, nah kamu?. Coba?."

Corina terdiam, mencerna apa maksud dari kata-kata Raffa itu?. Apa Raffa sedang merayu dalam versi lain?. Corina bergidik ngeri ketika menyadari hal itu. Corina merasa harus semakin waspada pada Raffa. Tanpa aba-aba, Raffa menarik perlahan kaki Corina. Corina yang sedang melamun sontak menjerit sakit. "Aw.."

Raffa melepaskan pelan-pelan sepatu hak tinggi Corina. "Sudah saya bilangkan kalau kamu itu harus pakai sepatu hak tinggi yang lima centi aja, kamu malah ngeyel tetep pake yang sepuluh centi." Corina memutar matanya. Disaat seperti ini Raffa masih saja mengomel urusan itu, tapi harus diakui oleh Corina kalau yang dikatakan Raffa itu benar. Kalau saja dia pakai hak tinggi yang diperintahkan Raffa mungkin dia tidak akan terkilir. "Sebaiknya kamu dibawa ke rumah sakit." Ujar Raffa seraya memperhatikan pergelangan kaki Corina.

"Tapi pak....." Corina ingin membantah, tapi itu tidak bisa dia lakukan karena Raffa memotong ucapannya dengan galak. "Kalau kamu sakit, saya yang repot." Corina akhirnya pasrah. Ngeri melihat Raffa melotot padanya. "Kamu nanti telepon orang rumah biar gak pada khawatir, sekarang kamu bisa berdiri tidak?," tanya Raffa lanjut. Corina tidak langsung menjawab dia mencoba berdiri sendiri, tapi ternyata Corina merasa kakinya sangat sakit. Corina pun menggeleng pasrah.

Tidak terduga Raffa memberikan punggungnya pada Corina. Awalnya Corina merasa bingung. "Naik" titahnya. Corina baru mengerti. Akhirnya dengan pertimbangan panjang perlahan Corina naik ke punggung Raffa agak susah payah.

Dasar tingkah Corina selalu membuat Raffa tidak habis pikir. Saat Raffa akan berdiri, "pak sepatu saya." Entah sudah berapa kali malam ini Raffa mendengus, bisa-bisanya gadis ini masih memikirkan sepatunya. Corina sudah bersiap untuk mengambil sepatunya, namun Raffa mengambil lebih dulu sepatu Corina dan menjinjingnya.

"Kayaknya baru pertama kali anak magang bisa buat saya repot kaya sekarang." Sindir Raffa pelan, tapi dapat didengar oleh Corina.

"Maaf." Cicit Corina.

**

Sesampainya di rumah sakit kaki Corina langsung diberikan tindakan. Raffa menunggu diluar, lalu ketika selesai Raffa langsung masuk dan mendekat ke ranjang yang diduduki Corina. "Gimana kaki kamu?," tanya Raffa langsung.

"Kata dokter kaki saya cuman terkilir sedikit dan akan sembuh dalam beberapa hari kedepan. Makanya kaki saya cuma dibelit seperti ini."

"Kamu sudah hubungi orang rumah?." Corina menepuk jidatnya. Raffa sudah bisa menduga kalau Corina kelupaan. "Ya ampun saya lupa, hp saya juga habis batrei." Raffa tersenyum dengan satu sudut bibirnya. Selain ceroboh, Corina ini juga pelupa. Beda sekali dengan Raffa yang sangat teratur dan memperhatikan hal-hal detail.

"Ya udah saya anterin kamu pulang, masalah administrasi sudah saya urus." Corina mengangguk dengan malu. Mau mengucapkan terima kasih, tapi rasanya kalimat magic itu tercekat di kerongkongannya. "Ayo." Ajak Raffa menyodorkan kembali punggungnya, tapi Corina menolak dia tidak ingin berutang budi banyak pada Raffa yang dianggap Corina sangat berbahaya.

"Tidak apa-apa pak. Saya bisa jalan sendiri kok." Corina mencoba berjalan dengan pincang, lalu Raffa kali ini menawarkan lengannya untuk jadi pegangan Corina.

"Pegangan, nanti jatuh makin sakit. Bahaya." Semula Corina ragu, Corina menatap lama lengan Raffa. Setelah dipikir-pikir akhirnya Corina menggapai lengan Raffa dan berpegangan pada tangan itu. Ketika tangan Corina menyentuh tangan Raffa yang besar, entah kenapa Corina menjadi salah tingkah. Apa karena dia tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki selian papah dan kedua kakaknya?, pikirnya.

Bahaya banget ini

***

Sampai didepan rumah Corina, Raffa kembali menawarkan lengannya pada Corina. Corina yang merasa tidak ada pilihan lain lagi dengan perlahan menggapai tangan Raffa untukkedua kalinya. Disaat seperti itu mendadak terdengar suara teriakan histeris yang ternyata berasal dari arah pintu.

"Ya ampun anak mamah ini kenapa?." Tanya mamah Corina atau Rastari dengan heboh.

"Gak apa-apa mah ini cuman terkilir. Udah dibawa ke rumah sakit kok. Tadi Corina mau di copet, untung aja ada Pak Raffa lewat jadi tasku gak jadi dicopet. Eh tapi pas tadi aku lagi rebutan tas sama copetnya dia dorong aku sampai jatuh." Cerita Corina panjang lebar dengan nada yang dibuat sedih. Raffa terkejut. Pikirnya, pantas saja di kantor seperti sekarang ternyata Corina termasuk anak yang manja.

"Aduh kamu ini ngomong bikin mamah pusing. Kayak truk gandeng." Balas Rastari karena Corina berbicara dengan nada yang lumayan cepat. Kaget melihat Corina yang terluka, Rastari baru menyadari kehadiran Raffa yang ada disamping Corina. "Ini Pak Raffa yang barusan diceritain Corina?."

Raffa mengangguk sopan sambil tersenyum. Raffa mengulurkan tangannya kepada Rastari. "Iya bu, kenalkan saya Raffa. Pembimbing magang Corina di kantor."

Aduh bahaya jangan sampai mamah keceplosan soal curhat ku malem itu. Batin Corina mendadak was-was.

"Ih segitu ganteng sama baik gini Na, kok kemarin kamu bilang galak sama nyeremin sih?." Rastari dengan polosnya bertanya seperti itu pada Corina didepan Raffa. Langsung Corina menutup wajahnya sambil menelan ludah dengan susah payah.

Tuh kan, ya ampun mah. Mamah udah ngasiin Corina ke mulut buaya. Tinggal tunggu besok aja aku pasti diterkam sama ini buaya.

"Corina mungkin sedang sebal saja dengan saya tante." Malah Raffa yang menjawab. Corina tentu terkejut mendengar Raffa yang menjawab dan jawaban Raffa barusan membuat Corina lebih merasa takut. Raffa menjawab pertanyaan mamahnya dengan nada yang lembut. Corina yakin kalau dalam hati Raffa sudah kesal setengah mati dan merencanakan hal jahat untuk mengerjainya seperti kemarin-kemarin.

Ih ini om-om beda banget kalau ngomong sama mamah manis banget.

"Ya udah kalau gitu karena Corina sudah sampai dirumah saya pamit pulang dulu." Pamit Raffa.

"Gak masuk dulu?." Tawar Rastari. Pupil mata Corina membesar mendengar mamahnya mengajak Raffa untuk masuk dulu kedalam rumahnya.

"Udah malem tante, lain kali saja." tolak Raffa dengan halus. Corina bernafas lega. Untung saja Raffa menolaknya, pikirnya.

"Iya Nak Raffa hati-hati ya. Terima kasih sekali loh sudah nolongin Corina. Sampai dibawa ke rumah sakit terus dianterin pulang. Nanti kapan-kapan makan malam dirumah ya."Ucap Rastari santai. Pupil mata Corina kali ini membesar beberapa kali lipat daripada sebelumnya. Ingin sekali Corina berbicara denagn mamahnya, tapi bagaimana bisa kalau didepan nay masih ada Raffa.

"Iya tante sama-sama. Dengan senang hati. Kalau begitu saya permisi." Raffa pun kemudian pergi dan masuk ke dalam mobilnya. Tepat saat mobil Raffa melaju menjauh dari rumah nya Corina bergelut dengan pikirannya. Seharusnya tadi dia mengucapkan terima kasih, tapi Corina merasa sulit mengucapkannya sehingga Raffa sudah pergipun Corina belum mengatakannya.

Raffa yang berada didalam mobil melihat sebelah sepatu Corina yang tadi dijinjingnya ada di bawah jok. "Cinderella yang tidak tau terima kasih." Keluhnya dengan bergumam sendiri.

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel