Bab 6
Jam sudah menunjukan pukul enam pagi, tidak biasanya Corina sudah terbangun. Bi Rossa sampai dibuat heran saat akan membangunkan Corina. Corina melamun diatas ranjangnya dengan posisi duduk sambil memilih salah satu baju yang akan dipakainya hari ini. Corina begitu serius memikirkan bagaimana caranya berterima kasih pada Raffa. Selain merasa tidak enak karena kemarin belum mengucapkan terima kasih satu kalipun pada Raffa, Corina juga bisa menebak kalau Raffa pasti sudah menganggapnya tidak tau terima kasih. Corina merasa kesal kalau dijepit keadaan seperti sekarang ini.
"Kenapa sih non melamun?, bukannya mandi langsung?. Dari tadi bibi liatin non cuman megang-megang bajunya aja." Tanya Bi Rossa yang membuat Corina terkejut.
Corina mengelus-ngelus dadanya. "Aduh ngagetin aja sih Bi Rossa."
"Non yang keasyikan melamun sampai gak sadar daritadi bibi ngeliatin di pintu." Pembelaan Bi Rossa. "Tuh sampai banyak yang jatuh bajunya kan." Lanjut Bi Rosa memunguti baju Corina. Corina ini memang manja, dia selalu diurusi oleh Bi Rossa dari jaman pipis di popok sampe sebesar sekarang. Jadi wajar kalau Bi Rossa sayang sekali dengan Corina.
"Bi kalau kita udah ditolong sama orang kita makasihnya lewat apa ya?." Pertanyaan Corina yang random membuat Bi Rosa heran.
Corina bisa saja hanya mengucapkan terima kasih pada Raffa, tapi dia dididik begitu keras mengenai tata krama oleh orang tuanya. Saat malam Raffa sudah pulang buktinya, Rastari langsung memberi wejangan alias omelan panjang lebar pada anak perempuan semata wayangnya itu untuk berterima kasih dengan cara yang pantas karena apa yang dilakukan Raffa itu sangat besar dan berbahaya.
"Mmh.. Pasti Non Corina mau terima kasih buat tuan muda ganteng yang malem ya?." Corina mendelik dan Bi Rossa hanya memberikan cengiran kuda. Sudah Corina duga, Bi Rossa pasti mengintipnya tadi malam.
"Biasa aja, ayo dong bi aku harus terima kasih kaya gimana?. Aku bingung."
Bi Rossa tampak berpikir. "Gimana kalau ditraktir makan aja non." Corina mengangguk-ngangguk mendengar saran itu. Tadi juga dia sebenarnya sempat berpikir untuk berterima kasih dengan cara seperti itu, tapi dia takut nanti Raffa kegeeran.
"Kalau cara lain ada gak bi?."
Bi Rossa tampak berpikir lagi. Kali ini agak lama. "Nah gimana kalau dibawain makanan aja. Kayak buah gitu misalnya." Usul Bi Rossa dan kali ini Corina memeluk Bi Rossa langsung dengan erat.
"Ah bener banget, makasih ya Syahrini KW." Ucap Corina kegirangan
**
Hari ini Corina datang ke kantor dengan memakai sandal. Banyak orang melihatnya dengan aneh. Selain karena jalannya yang pincang. Corinapun membawa satu bungkusan buah dengan susah payah. Tadi pagi Rastari sudah melarang Corina untuk bekerja, tapi Corina takut kalau atasannya itu akan menghukumnya kalau dia tidak masuk kantor. Lagipula Corina merasa dia hanya sakit ketika berjalan saja. Bukan sakit yang mengharuskannya berbaring istirahat seharian di kamar.
Saat Corina berdiri menunggu lift, Corina melihat Raffa datang. Corina langsung mencoba bersembunyi. Corina membalikkan badannya menghadap ke kanan membelakangi Raffa. Raffa yang aneh melihtanya mengernyitkan kening. "Kamu masuk kerja hari ini?."
Corina mengeluh dalam hati. Aduh ketauan juga.
"Ngapain kamu harus ngumpet dari saya, malu?," tanya Raffa sombong. Telak pertanyaan Raffa itu membuat Corina ingin punya pintu kemana saja atau kemampuan menghilang begitu saja.
Untuk menutupi malunya Corina menarik nafas sesaat kemudian berbalik dan tersenyum. Menyapa dengan seramah mungkin sepertinaya jalan yang terbaik, menurutnya. "Selamat pagi pak, saya gak ngumpet kok cuman lagi benerin buah ini." Pelaksanaan memang tidak akan selalu sesuai 100% dengan perencanaan. Corina memang sudah berhasil menjawab dan menyapa Raffa dengan ramah, namun Corina tidak sadar kalau dia sudah salah tingkah didepan Raffa. Raffa sampai tersenyum geli.
"Buah buat siapa?," tanya Raffa setelah berhasil meredakan tawanya. Corina langsung gelagapan.
"Buat... Buat... Buat Pak Raffa. Makasih karena udah nolongin saya kemaren, bawa saya ke rumah sakit sampai anterin saya pulang." Corina berbicara dengan gugup awalnya, tapi akhirnya dia merasa lega karena bisa mengatakan itu.
"Saya pikir kamu lupa buat bilang terima kasih."Balas Raffa, Corina menganga.
Ting
Corina pun melangkah dengan susah payah untuk masuk ke lift. Buru-buru Raffa mengambil bingkisan buah yang dibawa oleh Corina tersebut."Sini saya aja yang bawa, lagipula ini buat saya kan?." Raffa tersenyum dengan senyuman yang baru Corina lihat dan entah kenapa Corina jadi salah tingkah lagi.
Aduh Na inget hati-hati!. Dia ini playboy kelas salmon, kakap aja kalah.
Keduanya masuk ke dalam lift, Corina berjalan dengan meraba dinding lift. Saat berada didalam lift pertanyaan horor terlempar kepada Corina. Membuat bulu kuduk Corina berdiri. "Jadi menurut kamu saya ini galak dan nyeremin ya?." Raffa bertanya sangat santai sedangkan Corina sudah ketakutan.
Masih inget aja, kirain lupa ini orang sama apa yang diucapin mamah malem.
"Ehm.... " belum selesai Corina menjawab Raffa memberikan pernyataan horor.
"Kamu benar-benar akan masuk ke mulut buaya Corina." Corina merasa tubuhnya langsung membeku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Tapi setelah nanti kaki kamu sembuh." Sambung Raffa. Corina langsung bermafas lega, setidaknya Raffa masih mempunyai rasa pri kemanusiaan untuk menghukumnya saat dia nanti sudah sembuh, tidak sekarang saat kakinya masih sakit. "Tapi kamu masih bisa kupas buah kan buat sekarang?. Saya pengen makan buah jeruk. Kamu harus kupas kulit dan jaring-jaringnya dengan benar dan bersih. Saya gak suka ada sedikitpun jaring yang kemakan." Raffa ingin tertawa melihat reaksi Corina yang mulutnya terbuka menganga. Corina langsung menarik kembali kata-katanya. Pembimbingnya ini hanya punya 0.000005% rasa pri kemanusiaan karena nyatanya Raffa selalu punya cara untuk memberinya hukuman yang sepel, namun membuat kesal.
**
Bukan Raffa namanya jika tidak bisa membuat pegawai wanita terkejut karena urusan pekerjaan, tapi sekaligus dibuat meleleh juga karena kemampuannya sebagai playboy. Terbukti pada Corina. Setelah membuat Corina terkejut karena perintahnya yang absurd. Raffa tiba-tiba memberikan lengannya kehadapan Corina saat pintu lift terbuka. Raffa kembali menawarkan tangannya untuk dijadikan pegangan oleh Corina saat berjalan. "Cepat pegang tangan saya. Liftnya sudah mau nutup nih." Corina lagi-lagi untuk ketiga kalinya tidak punya pilihan lain selain memegang lengan Raffa sebagai pegangannya untuk berjalan. "Pegangnya yang benar, jangan kaya gitu. Kamu bisa jatuh lagi." Titah Raffa karena Corina memegang lengan Raffa dengan longgar. Corina pun menguatkan pegangannya dengan wajah menunduk malu. Corina benar-benar jadi salah tingkah.
Ketika keduanya berjalan dengan posisi yang cukup dekat banyak karyawan yang melihat mereka berdua. Terutama yang ada di lantai tiga tersebut. Tasya, Angga bahkan Aldi melihatnya dengan serius sekaligus takjub.
"Pak kita jadi diliatin," bisik Corina dengan malu.
"Terus?. Lagipula ada yang salah sama kita?. Memang kamu berpikir kita bagaimana saat ini?." Corina bungkam saat ditanya oleh Raffa seperti itu. "Udah diem aja, terus ikutin langkah saya. Jatuh lagi nanti kamu." Raffa mengantar Corina tepat sampai kedepan kubikelnya. Dengan hati-hati Corina duduk di kursi kerja miliknya. "Terima... kasih pak." Corina mengucapkanya dengan sangat pelan.
"Terima kasih juga buahnya. Kalau begitu kamu lanjutkan pekerjaanmu yang kemarin. Saya liat pekerjaan kamu masih banyak yang salah." Balas Raffa.
"Maafkan saya pak. Kalau begitu kita harus inputnya telat dong?." Corina bertanya dengan takut-takut.
"Enggak, masih lusa kok hari terakhir inputnya. Jadi kerjakan yang benar dan saya tidak mau ada kesalahan lagi."Jawaban Raffa membuat Corina yang tadi merasa bersalah sekarang kaget dan merasa jengkel bukan main.
Bukannya ini orang bilang hari terakhir inputnya kemarin?. Sampei harus lembur segala, kecopetan dsb. Terus dia bilang dengan entengnya kalau lusa terakhir inputnya?. Ya ampuuuun dasar kedondong, iguana, segala umpatan Corina keluar
"Jangan mengumpati saya dalam hati, saya lakukan itu biar kamu gak lelet." Bisik Raffa sambil berlalu meninggalkan Corina yang masih terheran-heran ada manusia seperti pembimbingnya ini. Dan tepat setelah Raffa masuk ke ruangannya, Aldi tertawa terbahak-bahak. Sementara Tasya dan Angga langsung menghampirinya. Corina menatap tajam Aldi.
"Sorry Na. Lucu sih abisnya." Aldi menahan tawanya. Bagaimana dia tidak tertawa, Aldi bisa mendengar jelas percakapan Corina dan Raffa walaupun keduanya berbicara pelan. Ya wajar saja, Aldi kubikelnya tepat disamping kubikel Corina.
"Na, kamu kenapa?." Tasya langsung bertanya.
"Oke jadi gini ya, Corina ini kecopetan terus terkilir saudara-saudara. Sekian beritanya. Terima kasih." Kata Corina dengan gaya yang dibuat-buat seperti pewarta berita.
"Hah?. Bentar, terus tadi hubungannya sama buah, sama Pak Raffa?." tanya Aldi dengan pertanyaan yang berbondong-bondong.
"Aduh mas nanyanya banyak banget sih. Pokoknya ceritanya panjang, tapi intinya Pak Raffa yang nolong aku pas kecopetan." Aldi terdiam agak lama kemudian menggeleng-geleng. Corina, Tasya dan Angga bingung kenapa Aldi seperti itu.
Aduh kayanya Corina sebentar lagi bakal jatuh ke pesonanya Bang Raffa nih. Memang sih gak disengaja kejadiannya, tapi aura Casanova Raffa gak akan terhindarkan lagi oleh Corina. Bicara Aldi dalam hatinya.
"Kenapa mas?," tanya Corina bingung. Aldi gelagapan saat Corina mengagetkannya.
"Gak apa-apa. Eh emang dimana sih Na kecopetannya?." Aldi mengalihkan perhatian Corina agar Corina tidak curiga dan bertanya lebih jauh.
"Di depan kantor mas, jadi ya... " Corinapun bercerita panjang mengenai kejadian tadi malam. Aldi dan Tasya juga Angga memperhatikan begitu serius. Tasya menanggapinya dengan takut dan Aldipun tidak melewatkan kesempatan untuk mengajak Tasya pulang bareng supaya tidak mengalami hal serupa seperti Corina. Corina tidak habis pikir, teman kerjanya ini bisa-bisanya mencari kesempatan. Beda halnya dengan Angga sang buaya yang resenya malah menawarkan Corina untuk selalu pulang bareng, tapi seperti biasa Corina akan menolaknya. Kalau kata anak kampus nasib Angga memang untuk ditolak Corina beratus-ratus kali.
Ditengah perbincangan keempatnya yang ramai, tanpa mereka sadari seseorang mendekat. "Kalau mau cerita-cerita itu dikafe bukan dikantor." Keempatnya langsung terdiam setelah menoleh dengan takut.
"Maaf pak." Tasya dan Angga buru-buru kembali ke kubikelnya. Beda cerita dengan Aldi dan Corina yang meneguk ludahnya kasar lalu menunduk pasrah akan nasibnya setelah ini. "Aldi kamu kembali bekerja kalau kamu tidak mau saya berikan pekerjaan tambahan. Sementara kamu Corina, apa kamu amnesia?." Aldi langsung ngacir pergi ke kubikelnya. Corina justru bingung.
"Maksudnya pak?."
"Tadi saya bilang buat perbaiki kerjaan kamu, bukan mengobrol." Raffa mengatakannya dengan ekspresi wajah yang sangat datar.
"Baik pak, maaf."
"Satu lagi, istirahat kamu ke ruangan saya. Kamu tidak amnesia dengan hukuman kamu kan?." Corina sejenak berpikir kemudian dia ingat dengan tugasnya untuk mengupas jeruk. "Baik pak" lalu Raffa berlalu dan menyisakan Corina yang mengumpat lagi.
Iiih dasar itu buaya, dia itu sama aja ya kaya ngunyah mangsanya sedikit-sedikit terus dikeluarin terus dikunyah lagi sampai gak berbentuk. Iyuwwwwh...
"Jangan mengumpat Corina." Raffa dengan agak keras saat akan masuk ke ruangannya. Corina terdiam sementara Aldi mati-matian menahan tawanya lagi.
