Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Sudah jam makan siang, tapi Corina masih diam di meja kerjanya. Lengkap dengan arsip yang menumpuk. Corina yang merasa pusing menelungkupkan kepalanya diatas lautan arsip itu. "Kenapa ya derita anak magang gini-gini banget." Keluh Corina berbicara pada dirinya sendiri.

Melihat Corina yang nelangsa Aldi menghampirinya. Aldi memang orang yang gampang bergaul dan ramah. Berbeda sekali dengan Raffa yang kaku. Selain itu, Aldi juga tidak seperti pegawai kantor lainnya yang kebanyakannya genit pada Corina. Dia lebih kepada kasihan. Aldi sangat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Corina. Bagaimana pun dia sudah bekerja lama dengan Raffa. "Udah tinggalin aja dulu Corina kerjaannya. Makan gih sana. Istirahat." Mendengar perhatian Aldi, Corina tersenyum lebar. Dia merasa hanya Aldi yang sedikit mengerti akan penderitaannya.

"Thanks ya mas." Wajah Corina berubah menjadi lesu lagi. "Ah tapi mas kayaknya buat makan siang gak mungkin deh, tau sendiri kan kalau kerjaan aku ini gak selesai tepat waktu Pak Raffa bakal ngamuk." bisiknya yang langsung disambut tawa oleh Aldi. "Ssst... jangan ketawa mas nanti Pak Raffa denger. Ngomong dalam hati aja dia denger apa lagi kayak mas sampe ketawa kaya gitu." Tawa Aldi semakin pecah mendengar apa yang dikatakan Corina dengan wajah ketakutannya itu.

"Ih kamu ini ya Na. Walaupun Pak Raffa bisa baca pikiran kita, tapi bukan berarti telinga Pak Raffa kayak kelelawar yang pendengarannya tajam banget." Aldi tertawa geli. "Udah sana makan aja. Pak Raffa itu kalau urusan kerjaan emang mesti sempurna dan tepat waktu, tapi gak usah segitunya juga kali. Dia itu sebenarnya baik kok. Aku aja nganggep dia kaya abang sendiri kalau diluar." Jelas Aldi meyakinkan Corina untuk istirahat makan siang.

Corina bergidik ngeri. Benarkah?. Ah sepertinya itu hanya perasaanmu saja mas, ucap Corina hanya berani dalam hati.

"Gak tau deh mas, tapi aku kok aku justru ngerasanya gak kaya gitu ya. Auranya serem dan nakutin dari jauh juga." Ucap Corina pelan.

"Aku ingetin ya. Walaupun Pak Raffa kayak gitu, tapi kamu mesti ati-ati dia jago bikin baper cewe loh. Beneran. Dan kamu bisa dibuat terbang ke langit ke tujuh tau." Aldi dengan heboh memeragakan tangannya naik sampai melewati tinggi tubuhnya secara dramatis lalu menurunkannya lagi tak kalah dramatis. "Dan di jatuhin sampai ke dasar jurang." Aldi berbisik. Bulu tengkuk Corina berdiri.

Ngeri. Makasih. Gak akan deh, batin Corina.

"Tenang mas, gak akan kok. Jadi bos aja udah banyak istighfar gimana ceritanya dia bisa bikin aku baper." Kali ini Corina yang tertawa keras.

"Aku pegang ya kata-kata kamu, awas kalau kamu sampai jatuh ke pesonanya Pak Raffa." Ancam Aldi serius. Corina mendengus sambil menggulung rambutnya dengan jedai.

"Aduh mas Aldi yang suka senyam senyum gak jelas, udah ah jangan ngomongin Pak Raffa. Gak asyik banget tau. Mending sekarang kita istirahat bareng yuk. Mas Aldi belum makan kan?." Kata Corina dengan mendorong punggung Aldi.

"Eh, tapi kita samperin Tasya ya?." Tanya Aldi dengan mesem-mesem.

Ini semua laki-laki dikantor ada dua perempuan masuk aja langsung pada cap cip cup kembang kuncup. Nandain siapa suka sama siapa. Masih mending kalau serius, nah ini kalau cuman buat temen makan istirahat siang aja Kan kesian. Eh, tapi kalau ditraktir gak apa apa kali ya.

"Iya mas Aldi bawel, tapi Mas Aldi serius atau cuman buat temen makan pas istirahat siang aja nih suka sama Tasya?." Selidik Corina ketika mereka berjalan beriringan.

"Ya.. jalanin aja kayak air mengalir barangkali bisa serius. Nah buat perkenalannya temen makan siang dulu ." Corina memutar bola matanya jengah.

"Na nih mas Aldi kasih tau ya. Seisi kantor ini pas kalian masuk langsung pada nandain tau. Nah sayangnya kamu banyak banget yang nandain, apalagi kalau sampai Pak Raffa juga nandain kamu. Aduh makasih. Berat saingannya. Aku nandain Tasya aja." ucap Aldi tanpa rasa bersalah. Corina tidak habis pikir bagaimana laki-laki ini bisa bicara blak-blakan padanya. Sungguh ajaib. Tapi disamping itu Corina senang karena artinya dia benar-benar bisa menjadikan Aldi sebagai temannya.

"Nandain?, emang kita jawaban soal ujian harus ditandain segala?. Kenapa sih banyak yang nandain aku. Aku cantik ya mas?." Tanya Corina dengan alis naik turun. Aldi mengangkat bahunya seraya berlalu berjalan lebih cepat dari Corina "Sedikit." Jawab Aldi pelan namun masih bisa terdengar.

“Makasih ya mas," balas Corina dengan bercanda.

**

Sesampainya di kantin, betapa tidak beruntungnya Corina. Tasya satu meja dengan Raffa. Tapi bisa dipastikan itu bukan karena sengaja, tapi karena meja penuh. Memang kantin di kantor makanannya enak-enak dan semua pegawai kantor jarang sekali yang makan siang diluar. Jadi kantin sangat penuh di jam makan siang. Tasya, Angga, Raffa dan Farel duduk di satu meja yang sama. Corina menyayangkan kenapa harus ada dua kursi kosong dimeja yang ada Raffanya, lebih baik tidak ada bangku kosong sekalian. Makan di luar atau makan roti saja lebih baik daripada harus satu meja dengan pembimbingnya itu.

Dan benar saja Tasya melambaikan tangannya pada Corina dan Aldi. Jangan ditanya ekspresi Corina, Corina cemberut. Sementara Aldi tersenyum lebar sambil menarik Corina tidak sabar. Semua orang melirik pada Aldi dan Corina yang datang berbarengan. "Eh Aldi udah akrab aja sama cewek cantik," ucap Farel.

"Iya lah, kita kan temen sekarang. Jangan pada salah paham ya." Seru Aldi dengan melirik Corina. Corina mengerti Aldi tidak ingin Tasya salah paham. Corina hanya bisa tersenyum, karena dia sungguh jadi kaku dengan adanya kehadiran Raffa. Dan penderitaan Corina tidak berhenti hanya sampai disitu ketika akan duduk ternyata kursi kosong itu hanya ada disamping Tasya dan Raffa. Dan Corina tau pasti Aldi akan langsung duduk disamping Tasya. Corina hanya bisa menghembuskan nafasnya. Pasrah dan duduk disebelah Raffa.

"Pesen apa Cor?," tanya Aldi.

"Ehmm... Apa ya?." Corina membolak-balikkan buku menu yang diberikan oleh Aldi.

"Ya udah aku pesenin aja yang enak disini ya." Putus Aldi.

"Iya deh," jawab Corina sambil menutup buku menu dan menyerahkannya pada Aldi.

"Ayam gepreknya dua ya mas sama es campurnya satu," pesan Aldi seraya menyerahkan buku menu pada pelayan kantinnya.

"Gimana kerja disini Corina?. Oh ya kenalin saya Farel dari bagian umum." Ucap Farel dengan mulut yang sudah mengunyah potongan ayam teriyakinya.

"Iya salam kenal juga Pak Farel. Emm.... " Balas Corina bimbang. Dia tau dia tidak boleh berbohong, tapi dengan Raffa ada disampingnya Corina tau dia akan terkena masalah jika berbicara jujur. Corina sedikit melirik dari sudut matanya pada Aldi dan Angga yang sedang menahan tawanya. Mereka sangat tau jawaban Corina. Ibaratnya Corina itu maju kena mundur kena. "Ya... Lumayanlah Pak." Akhirnya ucap Corina. Dengan takut Corina melirik Raffa. Ekspresinya datar dan tetap mengunyah makanan seperti tidak tertarik mendengar obrolan.

"Yaaaah, saya pikir kamu gak betah karena bareng temen saya yang super galak ini. Kalau gak betah, saya mau nawarin pindah ke umum loh." Raffa langsung menoleh, menatap tajam pada kedua mata Farel.

"Emang Abang Farel bisa buat Corina ke bagian umum?." tanya Aldi dengan nada bercanda.

"Iya juga ya, gak kuat abang kalau saingannya kayak Abang Raffa. Mending pindah ke hati saya aja Corina. Ga, saya bisa dong konsul ke kamu buat dapetin hati temen kamu ini." Kata Farel dengan nada bercanda.

"Ah Pak Farel, Corina ini susah ditaklukinnya. Percaya atau gak percaya belum ada laki-laki satupun nyangkut sama dia. Yang deketin sampei ngabisin waktu tiga tahun aja, gak di lirik sedikitpun sama dia." Cerocos Angga. Mata Corina langsung mendelik dan menatap garang pada Angga.

Emang Angga ini resenya gak ada duanya.

Dan Corina rasanya ingin menggaruk tembok saat Tasya ikut bersuara. "Iya Pak Farel. Corina ini paling susah banget ditaklukin. Ada yang pernah bawain bunga setoko, boneka teddy bear yang segede pintu, sampai rajin ngintilin Corina, tapi tetep aja dia gak tertarik Pak. Ya gak Ga?." Tasya melirik ke arah Angga. Membuat Angga tersedak.

"Wah jadi kamu ini saingan saya?." Semua langsung tertawa, kecuali Corina dan Raffa. Saat pesanan Corina dan Aldi datang topik pembicaraan menjadi berubah. Semua sekarang membicarakan mengenai pekerjaan kecuali Corina yang memang sudah sangat kelaparan, dia hanya fokus makan saja. Lalu Corina tersedak karena makan terburu-buru. Tangan Corina menggapai-gapai minun, tapi dia lupa kalau Aldi tadi hanya memesankan es campur. Muka Corina yang putih sudah sangat memerah seperti kepiting rebus karena ayam gepreknya yang sangat pedas. Tidak disangka-sangka Raffa membuka air mineral miliknya dan menyodorkan pada Corina. "Cepat diminum." Tanpa pikir panjang Corina langsung menerima dan meminumnya hingga tandas.

"Lo gak apa-apa Cor?. Maaf tadi minum gue habis terus minuman barunya belum datang." Kata Tasya khawatir.

"Aduh maafin aku juga ya Na, tadi aku peseninnya cuman es campur gak sama air putih." Ujar Aldi merasa bersalah.

"Gak apa apa kok. Tenang aja. Aku udah baikkan." Corina tersenyum pada Tasya dan Aldi. Belum hilang rasa terkejutnya karena tersedak, Corina dibuat terbelalak saat Raffa berdiri dan mengeluarkan sapu tangan dari celana kerjanya. Sapu tangan itu disimpan di meja, tepat dihadapan Corina.

"Pakai buat lap keringat kamu." Lalu Raffa meninggalkan semuanya tanpa berkata apa-apa. Tidak Corina sadari Aldi dan Farel bergumam hal yang sama. "Casanova sudah mulai beraksi sepertinya."

**

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel