Bab 3
Corina menghembuskan nafas lega. Akhirnya ketika jam diponselnya menunjukan pukul tujuh Corina selesai mengerjakan apa yang ditugaskan oleh Raffa. Corina memandang ruangan atasannya. Di dalam batinnya, itu orang masih didalam ruangannya atau enggak ya?. Tapi ko suasana ruangannya horor ya?. Ah tapi tenang aja hantu juga gak mungkin mau ketemu sama dia. Dia kan lebih horor dari hantu. Ooops jangan mengumpat Corina!, dia bisa tau terus lo tamat ditangannya. Corina bergidik ngeri. Dia merasa harus secepatnya laporan ke Raffa, agar dia bisa pulang secepatnya dan mengistirahatkan dirinya.
"Masuk." Suara Raffa membuat bulu kuduk Corina meremang.
Tuh kan apa kata gue tadi, horor banget.
"Pak saya sudah selesai. Saya mau ijin pulang sekarang." Lapor Corina sekaligus pamit pulang.
"Hem.." Jawab Raffa singkat tanpa melihat wajah Corina, hanya melihat layar komputer saja.
Apa?. Gak salah jawabannya cuman hem?. Makasih kek, apa kek, tawarin tumpangan kek, kan udah malem. Batinnya mengumpat tanpa sadar lagi.
Dengan wajah lesu dan kesal, "ya sudah kalau gitu saya permisi pak."
Tumben dia gak bisa baca pikiran gue?. Yeaaaah. Batin Corina berteriak senang bukan main.
Namun perkiraan Corina meleset, tepat saat dia akan meraih gagang pintu suara Raffa masuk ke pendengarannya dan membuatnya menegang. "Hati-hati, diluar sana biasanya kalau jam segini banyak yang berkeliaran. Ya walaupun gak sehoror saya, tapi itu cukup menakutkan loh. Oh iya satu lagi, jika kamu menginginkan saya menawarkan tumpangan maka jawaban saya adalah in your dream." Lutut Corina lemas bukan main setelah Raffa selesai berbicara. Pembimbingnya ini benar-benar harus diwaspadai, pikir Corina.
**
Sampai dirumah Corina melihat papah dan mamahnya sedang duduk di ruang TV. Ternyata kedua orang tuanya menunggu kedatangan Corina."Mamah, papah... anakmu ini dianiaya," teriak Corina sambil berjalan lemas menuju kedua orang tuanya.
"Siapa yang berani aniaya anak papah yang cantik ini?," tanya papahnya gemas pada Corina yang selalu dianggap putrinya yang masih kecil.
"Pembimbing aku pah. Masa iya aku udah lembur di hari pertama. Belum yah pah...." Belum selesai Corina mengatakan isi hatinya, mamahnya memotong.
"Hey..., curhatnya nanti aja. Sana ganti baju, mandi terus kita makan malam bareng. Mamah sama Papah udah laper nungguin kamu dari tadi tau. Sana..." Corina mengerucutkan bibirnya dan papahnya spontan langsung menyentil bibir maju Corina itu. "Udah sana dengerin apa kata belahan jiwa papah." Ucap papahnya dengan senyum yang lebar.
"Ih papah geli banget sih.!." Corina merasa jengah bukan main, tapi dia tau itulah kelebihan keluarganya. Papah dan mamahnya selalu harmonis.
Corina akhirnya menuruti apa kata mamahnya. Dia berdiri dan pergi menuju kamarnya. Dia merasa hari ini badannya benar-benar lengket dan bau. Parfum yang harganya mahalpun sudah luntur karena keringat kerja kerasnya demi pembimbingnya yang super duper kejam dan horor. Tapi bukannya langsung ganti baju, sesampainya di kamar Corina malah menghempaskan tubuhnya di kasur sambil mengomel sendiri. Tidak peduli jika dilihat seperti orang gila karena berbicara sendiri, yang penting dia bisa melampiaskan semuanya. Dia seharian tadi tidak bisa bebas mengeluarkan yang jadi uneg-unegnya di kantor. "Ih dasar om-om nyebelin, om-om horor, om-om gak tau diri!. Mirip Hitler kejamnya,ganasannya mirip Piranha. Haish..., sok playboy. Emang ada yang mau deg degan sama laki-laki yang omongannya kaya bon cabe level 30 gitu?. Aku sumpahin dia jatuh cinta sama aku, terus pas magang beres aku putusin deh biar tau rasa". Corina tertawa-tawa sendiri membayangkannya.
"Eh tapi jangan deh nanti ngeribetin. Masa sih punya pacar pertama kaya gitu?. Iyuwh selama ini aja milih-milih pengen punya pacar sekaligus jadi suami. Terus harus dia jadi yang pertama?. BIG NO!." Corina tidak sadar kalau dia sudah bermonolog sendiri di kamarnya, tapi itu sukses membuat dirinya sendiri terhibur sampai dia bisa tertawa sambil memukul-mukul bantalnya. Hingga ketika suara perutnya terdengar, Corina ingat kalau dia belum makan apa-apa lagi selain roti tadi siang. Mamah dan papahnya pun sedang menunggunya di ruang tamu. Corina segera bangun dan masuk kamar mandi.
**
"Ish... itu anak bilangnya udah ngerjain semuanya, tapi ini ko masih banyak yang salah." Keluh Raffa kesal ketika memeriksa pekerjaan Corina.
"Ya abangnya juga sih gak kira-kira, baru hari pertama magang udah langsung ngasih kerjaan banyak kayak gitu. Gak diajarin dulu lagi. Masih untung ada yang bener juga." Raffa menoleh ke samping kemudian mengeluarkan tatapan lasernya yang dijamin kalau beneran ada lasernya itu bisa membunuh yang kena. "Kamu berani sama saya Aldi?." Tanya Raffa tajam pada stafnya yang sedang menemani Raffa di kantor untuk lembur karena tadi siang dia ada tugas diluar kantor jadi baru bisa kembali dan menemaninya lembur.
"Enggaklah pak, apalah saya mah cuman butiran nasi yang udah kering. Mana saya berani." Jawab Aldi dengan wajah polos sambil menyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Kamu perbaikin kerjaannya. Saya masih punya kepentingan lain." Titah Raffa dengan meletakkan laptop yang dipegangnya ke Aldi. Aldi yang sedang mendonwload film, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia harus menyelesaikan pekerjaan anak magang itu. Dia jadi menyesal membelanya tadi. Sekarang dia seratus persen menyalahkan sama seperti Raffa.
Dasar anak magang nyebelin, yang salah siapa yang kena getah siapa. Punya atasan juga ini kejam gak ketulungan.
"Aldi kamu tau kan dengan apa yang selalu saya katakan?." Aldi terkejut, dia lupa dengan apa yang menjadi peraturan selama ini bekerja dengan Raffa.
"Jangan macam-macam dengan abang baik dibelakang maupun di hati karena bahaya ketika saya mengumpat tentang abang dan abang tau," jawab Aldi lemas.
"Good. Saya mau itu sudah beres besok." Raffa berlalu dari hadapan Aldi yang sudah menyender lemas di kursi. Tidak bisa berbuat apa-apa atau mengomel. Bagaimana lagi atasannya memang kejam dan mempunyai kelebihan unik, tapi disisi lain Aldi tau atasannya baik. Maka dari itu Aldi tetap bertahan dengan Raffa walaupun banyak yang tidak tahan menjadi stafnya. Aldi juga sudah menganggap Raffa seperti abangnya sendiri, Raffa pun sebaliknya. Tapi ya itu tidak membuat perlakuan Raffa berbeda pada Aldi.
"Ya hallo, aku kesana sekarang sayang." Kata Raffa dengan nada bicara yang berubah genit di telepon, membuat Aldi melirik dan mengumpat tanpa sadar. "Playboy dasar."
**
Keesokkan harinya Corina tergopoh-gopoh berlari masuk ke kantor. Corina hari ini bangun kesiangan lagi karena malam terlalu asyik bercerita pada mamah dan papahnya. Dia memang selalu menikmati waktu bersama mamah dan papahnya jika sedang penat. Beruntungnya dia mempunyai mamah dan papah seperti mereka.
"Mbak Corina ya?," tanya seseorang yang membuat langkahnya berhenti.
Aduh ini mas-mas udah tau aku telat dia malah mau ngajak ngobrol, batin Corina.
"Ya mas, ada apa?." Tanya balik Corina dengan sopan.
"Enggak, boleh minta nomor handphonenya gak?. Takut saya ada perlu sama Mbak Corina." Mulut Corina terbuka otomatis ingin mengumpat, tapi dia urungkan. Dia masih tau diri statusnya di kantor ini sebagai apa.
Apa katanya?. Ini mas-mas gak salah langsung minta nomor handphone gini?. Wah playboy jaman now nih. Gak penting banget deh, gak tau apa aku udah telat.
"Aduh maaf banget mas, tapi saya harus segera ke ruangan. Mas tau kan saya kerja sama Pak Raffa?. Saya bisa di hukum kalau telat." Corina membungkukkan badannya lalu berlari menuju depan lift. SekilasCorina mendengar teriakan pria tadi. "Nanti saya minta nomornya ya mbak."
Kenapa ya playboy itu gak punya malu?. Persis Angga.
"Kalau menurut kamu playboy gak punya malu. Menurut saya pegawai magang sekarang gak punya disipilin." Suara Raffa membuat Corina yang sedang menunggu lift terbuka jelas terkejut.
Ish... nih hantu kebiasaan banget. Corina menghela nafas. Dia tidak menyadari kalau orang yang berdiri disamping lift adalah Raffa.
"Maaf pak saya bangun kesiangan," jawab jujur Corina sembari mengikuti Raffa yang memasuki lift yang sudah terbuka.
"Saya maafkan keterlambatan kamu hanya untuk kali ini, tapi tidak ada maaf itu untuk yang kedua kalinya." Corina tersenyum lega. Setidaknya untuk kali ini dia selamat, nasibnya lain kali jika terlambat lagi biar dia pikirkan nanti saja. "Tapi jangan lupakan kalau setiap kesalahan itu pasti akan ada konsekuensinya dan untuk kesalahan kamu hari ini konsekuensinya adalah kamu harus membuatkan saya kopi dengan takaran yang jangan terlalu manis, jangan terlalu pait, jangan terlalu pekat, jangan terlalu cair dan jangan pakai kopi instans." Jelas Raffa dengan wajah datarnya dan berlalu keluar dari lift meninggalkan Corina yang lebih kaget dari sebelum-sebelumnya.
Ya ampun itu gak salah aturan bikin kopi aja harus seribet itu? Kayanya aturannya lebih ribet dari bikin rendang buatan mamah deh.
Ketika Corina sampai ke dapur, Corina menghampiri CS yang sedang membuatkan kopi. "Maaf pak, saya mau ikutan bikin kopi."
"Oh silahka mbak. Kopi buat siapa kalau boleh tau mba?." Tanya CS itu ketika memberi ruang pada Corina
"Kopi buat Pak Raffa."
CS itu langsung tersenyum, "saya kasih saran ya mba hati-hati bikinnya dan yang terpenting kita harus sabar." Apa yang diucapkan CS membuat Corina bingung.
Masa sih CS aja sampai bilang kayak gitu?. ApA kabar sama aku yang masak mie aja gak bisa?.
"Gini mbak, selama ini gak ada yang mau bikinin kopi Pak Raffa karena ribetnya bukan main. Nanti bakal disuruh buatin sampei ada yang menurut dia pas. Semangat yang penting pokoknya mbak." Kata CS itu sambil terkikik geli.
"Makasih ya pak buat saran dan semangatnya." Balas Corina sambil menyengir lemas. Bapak CS itu tambah tersenyum geli melihat raut muka Corina.
Corina menahan nafas kemudian membuangnya dengan perlahan saat sudah berada di depan pintu ruangan Raffa. Dia melakukannya beberapa kali untuk mengurangi rasa gugupnya. Sampai akhirnya Corina merasa pasrah saja dan mengetuk pintu Raffa.
"Ini pak kopinya." Dengan tangan yang bergetar Corina meletakkan kopi itu hati-hati di meja Raffa.
Bukannya mencoba kopi, Raffa malah menanyakan hal yang memabuat Corina bingung. "Kamu bergosip dulu di belakang ya sama CS?."
"Hah?."
"Lama banget bikin kopinya? Buang waktu saja. Kan kamu masih punya kerjaan lain yang belum dikerjakan."
Walauapun Corina kesal, dia mencoba menahan diri dan menunduk saja di hadapan Raffa. "Maaf pak saya harus meraba takaran kopinya."
"Membuat kopi itu di rasa bukan di raba."
Sabar Corina sabar, batin Corin terus berkata seperti itu.
Dengan gerakan perlahan Raffa menyuruput sedikit kopinya. "Tidak enak. Buatkan saya kopi lagi!. Ini pait banget."
"Huh... baik pak." Corina menjawabnya dengan lesu, lalu membawa cangkir kopi tadi. Setelah beberapa menit, Corina kembali lagi dengan cangkir dan kopi yang berbeda.
Gila ya ini om-om aku gak dikasih tau takaran pas buat dia, tapi disuruh ngeraba-raba bikin kopi yang pas menurut dia.
"Kapan saya nikah sama tante kamu?." Tanya Raffa ketika sedang menghirup wangi kopi baru yang sudah dibuatkan Corina.
Ya ampun, keceplosan lagi kan, batinnya terkejut. Dia lupa kalau sudah mengumpat lagi tanpa sadar dalam hatinya.
"Ehmm.... maaf pak gimana kopinya?." Corina mengalihkan pembahasan sebelumnya. Raffa yang tau mendelik dan langsung meminum kopi yang baru dibuat Corina.
"Ini manis banget, kamu kasih gula berapa sendok sih?. Buatkan lagi!." Corina membelalakkan matanya. Buat lagi katanya?. Tadi terlalu pahit, sekarang terlalu manis. Tidak punya pilihan, Corina dengan lesu kembali membuatkan kopi.
Setelah membuatkan kopi untuk yang ketiga kalinya, akhirnya Raffa berkata. "Masih tidak enak, tapi ya sudahlah saya nanti beli saja kopinya. Kamu periksa laporan ini dan cari angka yang janggalnya." Raffa membanting setumpuk kertas kehadapan Corina. Corina terkejut lagi untuk ke sekian kalinya pagi ini. Ujian apa lagi ini di pagi hari seperti ini?. Apa dia benar-benar harus mengerjakan semua itu?.
"Oh ya satu lagi, hari ini harus selesai." Sambung Raffa dan Corina semakin terbuka mulutnya mendengar itu. Corina berpendapat, kalau Raffa ini memang nyata sebagai reinkarnasi Hitler.
"Oh ya kerjakan yang benar!. Jangan asal beres!." Titah Raffa tidak ingin di bantah.
"Iya pak baik." Corina hanya bisa mengangguk patuh, dia tidak punya kekuatan untuk melawan pembimbingnya itu. Akhirnya dengan lemas Corina membawa setumpukan kertas itu dengan wajah tertekuk karena kesal. Tidak ada lagi tenaga untuk mengumpat mengatai pembimbingnya. Dia tidak ingin macam-macam juga saat ini pada Raffa karena dia sudah merasa berat dengan pekerjaan ini. Apa jadinya kalau dia dihukum lagi oleh Raffa?. Tepat ketika Corina mengangkat tumpukan kertas itu, handphone yang dipegang oleh Corinapun jatuh ke lantai. Merasa repot dan tidak ada yang membantu, Corina meninggalkan handphonenya di ruangan Raffa. Nanti akan dia ambil setelah menyimpan tumpukan kertas ini, pikirnya.
"Oh ya, kamu hari ini tidak salah kostum. Good." Puji Raffa ketika Corina sedang berjalan keluar ruangan Raffa.
Seriously? Dia barusan muji aku?. Ah tapi cuman gitu aja. Sadarlah Corina dia playboy cap kadal cap bon cabe level 30.
"Huh dasar gila emang itu orang." Corina bergumam mengeluh sendiri lalu dia terkejut ketika ada seseorang yang menepuk bahunya. Dengan takut Corina berbalik dan meminta maaf. "Aduh maaf pak, saya gak akan bilang gitu lagi."
Ternyata bukan Raffa, Corina melihat perawakan laki-laki manis dengan kulit hitam gelap. "Kenalin saya Aldi, bukan Pak Raffa yang barusan kamu umpatin."
"Syukurlah. Oh iya mas ini pasti yang bakal bantuin saya ya?." Aldi mengangguk dengan senyuman manisnya.
"Ya ampuuuun handphone saya yang jatuh masih ada didalam ruangan Pak Raffa. Saya kedalam dulu ya." Corina berjalan agak cepat masuk ke ruangan Raffa dia menyangka atasannya akan dengan berbaik hati mengambilkan handphonenya dan menyimpankannya di atas meja, tapi setelah apa yang dia lihat. Dia sadar kalau atasannya satu ini kejam. Tidak ada rasa prikemanusiaan. Handphonenya masih tergeletak dilantai. Jangankan diambilkan, dilirik saja tidak. Dia sibuk dengan layar computernya. Corina miris saat sedang mengambil handphonenya di lantai.
Mungkin beginilah jaman penjajahan dulu, tidak ada rasa prikemanusiaan sama sekali, batin Corina lagi-lagi lupa akan peraturan Raffa tentang jangan mengumpat di depannya.
"Ingat ya jangan melakukan kesalahan apa-apa lagi karena tidak akan ada toleran dari saya!. Hukumannya juga akan lebih berat dari buat kopi tadi."
Corina menelan salivanya, leih berat dari bikin kopi?. "Baik pak."
"Oh ya satu lagi, kamu itu masih saja ya mengumpati saya. Saya aja sampai bingung kamu kok bisa mengumpati saya segitu panjang dan kreatifnya. Kayaknya gak ada habisnya gitu."
Satu lagi tapi terus aja nyerocos. Ya ampun Corina gak kapok-kapok. Batinnya terus saja berbicara.
"Maaf pak." Corina tidak membantah atau mengiyakan, dia hanya akan meminta maaf saja agar hidupnya aman dan tenteram.
"Sana pergi, saya pusing liat kamu."
What?!. Saya yang pusing sama bapak!.
"Baik, saya permisi." Corina keluar dangan sangat lemas. Ini baru hari kedua dan masih pagi, tapi Corina rasanya ingin melambaikan tangan pada kamera. Dia merasa sudah tidak sanggup.
Mamah Papah tolong Corina, putrimu yang cantik jelita ini.
**
