BAB 6
Mentari pagi sudah menampakkan sinarnya. Memberikan tanda bagi para makhluk bumi untuk menyudahi peraduannya dan kembali pada rutinitas.
Aku masih terdiam di kamar Lee. Semalaman aku hanya duduk, berdiri, dan berjalan mondar-mandir di kamar ini untuk menghabiskan waktu. Berharap menemukan jalan untuk menyelamatkan Ruhanna, tapi sepertinya otakku tidak mampu untuk berfikir. Terkadang air mata turun dari pipi, mengingat nasib Ruhanna yang kini tengah berduka karena kehilangan diriku. “Ruhanna anak yang kuat”, batinku berusaha menguatkan diriku sendiri.
“Uhhh”, terdengar lenguhan dari Lee. Lee yang tadi masih setia dengan tidurnya kini mulai menggerakkan tubuh dan kemudian membuka mata perlahan. Persis seperti yang dia lakukan saat masih kecil dulu.
Aku tersenyum melihat Lee yang duduk sambil mengucek mata di atas tempat tidur. LAki-laki ini, kebiasaannya memang tidak pernah berubah.
“Riri”, Lee melonjak girang dan segera memeluk tubuhku.
“Tidak Riri, siapapun kamu, apapun bentuk dan wujudmu saat ini kau adalah Ririku, Riri kecilku.” Ungkap Lee lirih. Aku tersenyum bahagia mendengar hal itu. Aku merasa memiliki pelindung, aku merasa disayangi, aku merasa diharapkan.
“Lee”, aku memanggil namanya sambil melepas pelukan Lee. “Aku tidak menyangka bahwa Tuhan masih menyayangiku Lee. Dulu saat orang tuaku meninggal aku rasa Tuhan telah bersikap tidak adil padaku, kemudian kepergian Kakek. Dan kini, aku harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit ini. Kejahatan, penghianatan. Dulu aku sama sekali tidak memiliki fikiran bahwa akan terlibat dalam masalah-masalah seperti ini. Tapi ternyata..” Air mataku mulai berjatuhan tanpa bisa dikontrol.
Lee pelan-pelan menghapus air mata yang telah aku buat. Tampak kesedihan dari sorot matanya. Kesedihan yang dia tujukan untukku. Ksedihan yang dia berikan sebagai tanda bahwa dia sanagt peduli terhadapku.
“Aku di sini Riri, aku akan selalu bersamamu.” Ucapnya lirih.
“Aku sangat membutuhkan bantuanmu Lee. Aku sanagt membutuhkan bantuanmu untuk menyeret Jing Hae ke kantor polisi serta menjaga Ruhanna.”
“Aku berjanji Riri, aku akan melakukan apapun untuk membantumu dan membuatmu tenang.” Lee berkata dengan penuh ketegasan yang membuatku menjadi lebih tenang.
****
Lee keluar dari kamarnya, sedangkan aku mengikuti dari belakang. Pagi ini aku ingin menemui putriku, dengan bantuan Lee aku ingin dia mengatakan apa yang ingin aku ungkapkan untuk Ruhanna.
“Lee”, sebuah suara yang sangat familiar mengejutkan kami.
“Nak, kakek telah membawakan makanan untukmu. Makanlah dahulu.” Suara Kakek Fang terdengar parau sambil membawa sebaki makanan.
Lee melirikku, dia pasti meminta persetujuanku dulu untuk menerima atau menolak perintah Kakek Fang. Aku hanya tersenyum, dan aku yakin Lee pasti mengerti maksut bahasa tubuhku.
“Baiklah Kakek, aku makan makan. Tapi aku hanya akan makan jika kakek makan bersamaku. Pasti dari kemarin Kakek belum makan apapun karena sedih kehilangan Yuh Ri.” Tutur Lee lembut sambil menggandeng Kakek Fang menuju meja makan. Kakek Fang pun menuruti perintah Lee. Memang benar apa yang Lee katakan, sejak mendengar kamar kematian Yuh Ri Kakek belum makan sesuap pun.
“Ini makanan kesukaan Yuh Ri, sejak kecil sampai dia dewasa selalu minta dibuatkan sup ini untuk sarapan. Sampai Kakek sering bertanya, Nak apa kamu tidak bosan dengan sup buatan Kakek? Dan dia menjawab, aku tidak akan bosan Kek.” Kenang Kakek Fang sambil mengusap air yang menetes dari mata keriputnya. Lee hanya tersenyum mendengar cerita Kakek, sambil sedikit melirikku. Jika Lee bicara pasti dia akan berkata, “semua orang menyayangimu Riri.”
Ahh, kenapa aku menjadi emosional seperti ini? Meskipun dari dulu aku menyadari kalau mereka sangat menyayangiku tapi jika melihat ini aku sangat terharu. Antara perasaan sedih, bangga, bercampur dengan penyesalan kenapa semua ini terjadi begitu cepat.
“Kakek, aku ingin bertemu dengan Ruhanna. Apa aku bisa menemuinya?” Lee mengalihkan pembicaraan. Aku pun ikut antusias dibuatnya.
“Anak malang itu, dia harus kehilangan Ibunya diusia yang masih sangat kecil. Temuilah dia Nak, ajak dia bercanda. Bibi Nang berkata jika Ruhanna menangis di dalam tidurnya. Dia pasti sanagt merindukan Yuh Ri.” Jawab Kakek. Yang tanpa dijelaskan air mataku sudah mengalir seperti air terjun.
Aku membawa Lee menuju kamar Ruhanna setelah sarapan usai.
“Kau harus kuat Riri!” Lee menggenggam tanganku erat. Sepertinya dia sangat faham apa yang saat ini tengah aku raskan.
“Lee, kau di sini?” Tanya Ibu Nang yang terkejut melihat kedatangan Lee di kamar Ruhanna. Ibu Nang berusaha membujuk Ruhanna untuk makan. Namun sepertinya tidak berhasil, terlihat dari piring makan yang dia bawa masih penuh.
“Aku ingin menemui Ruhanna, apa boleh Bi?” Lee meminta izin. Awalnya Ibu Nang tidak setuju dengan permintaan Lee, namun setelah Lee meyakinkan bahwa Ruhanna akan baik-baik saja Ibu Nang pun akhirnya setuju.
“Hai Ruhanna”, sapa Lee sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah gadis kecil itu.
Tidak sedikit pun Ruhanna bergerak dari tempat duduknya, bahkan melihat Lee pun tidak. Anak ini seperti anak yang tengah mengalami depresi berat. Aku duduk di sebelah Ruhanna, berusaha mengelus rambut hitam anak itu meskipun aku tahu kalau itu tidak berguna.
“Hai putrinya Yuh Ri.” Sapa Lee lagi yang jelas membuatku sanagt tercengang. Untuk apa Lee menyebut namaku di depan Ruhanna? Bukankah itu hanya akan mengingatkan Ruhanna kepadaku.
Tetapi di luar dugaanku, tiba-tiba Ruhanna menggerakkan kepala dan memandang ke arah Lee.
“Hai putrinya Yuh Ri, kenalkan aku adalah Lee sahabat kecil Ibumu.” Sekali lagi Lee mengulurkan tangan. Ruhanna membalas uluran tangan tersebut dan menjabat tangan Lee.
“Kenapa kau tidak mau makan Ruhanna? Apa makanan ini terlalu asin?” Tanya Lee berusaha bersikap akrab.
Ruhanna menggeleng, “aku ingin bertemu Ibu”, katanya.
Aku terenyuh mendengar ucapan putriku. Betapa tidak, aku berada di sampingnya tapi dia merindukanku. Oh anakku, kenapa ini terjadi pada kita Sayang? Sesalku.
“Kau merindukan Yuh Ri?” Lee menggenggam tangan Ruhanna. Seperti yang selalu dia lakukan kepadaku saat berusaha memberiku kekuatan. Ruhanna mengangguk.
“Ibumu juga sangat merindukanmu.”
“Tapi kenapa Ibu pergi? Kata Nenek Nang Ibu pergi ke surga. Bukankah setiap orang yang sudah berada di surga tidak akan kembali pulang? Pertanyaan polos itu keluar dari mulut gadis malang itu. “Apa Ibu tidak suka padaku? Apa Ibu sangat marah kepadaku?” imbuhnya.
“Haii, kenapa Ibumu harus marah kepada gads manis sepertimu?”
“Aku bukan gadis manis Paman, aku anak nakal. Aku sering kali membuat Ibu marah dan sedih. Mungkin ini yang membuat Ibu pergi ke surga.”
“Kau salah Sayang. Bukan karena itu Ibumu pergi. Ini adalah takdir Tuhan. Ibumu mengalami kecelakaan. Ruhanna, apa kau pernah berlari sampai terjatuh?”
“Pernah”
“Bagaimana rasanya?”
“Sakit sekali Paman, kakiku terluka. Aku sampai menangis menahan sakit.”
“Ibumu juga seperti itu Sayang, Ibu mengalami kecelakaan. Luka Ibu parah dan sangat banyak. Kau pasti bisa membayangkan bagaimana sakitnya luka-luka itu.”
“Ibu pasti kesakitan Paman, Ibu pasti menangis.”
“Anak pintar. Tuhan sangat menyayangi Ibumu, Dia mengutus Malaikat-Malaikatnya untuk membawa Ibu ke surga agar Ibu tidak lagi merasakan sakit. Jadi Ruhanna harus menerima kepergian Ibu, agar Ibu tidak sakit lagi. Apa kau mengerti Sayang?”
“Iya Paman, Ibu memang sebaiknya di surga agar tidak menangis karena kesakitan. Jika Ibu tetap di sini, Ibu akan sakit.”
“Ruhanna tidak suka kan jika Ibu kesakitan?”
“Tidak Paman, Ruhanna tidak mau Ibu kesakitan.”
“Anak pintar.” Pungkas Lee sambil memeluk putriku dengan penuh cinta.
Di lain sisi aku melihat Ibu Nang yang tidak berhenti menghapus air mata di pipinya. Mnyaksikan Ruhanna dan Lee yang sama-sama tengah kehilangan diriku.
Kupandang wajah putriku yang saat ini terlihat sedikit berubah dari saat aku masuk ke kamar ini. Sepertinya sedikit beban di hatinya telah hilang. Aku tidak percaya, sejak kapan putriku bersikap dewasa seperti itu. Apakah kasih sayangnya terhadapku yang membuat dia mampu bersikap sedewasa ini?
“Sayang, apa kau tahu. Aku sangat suka menyuapi gadis manis sepertimu. Apa kau mau aku menyuapimu?” Rayu Lee kepada Ruhanna.
Ruhanna menggeleng.
“Kenapa? Apa kau tidak percaya jika tangan ini mampu menyuapimu?” Rayu Lee lagi. “Saat kecil Yuh Ri sangat suka kusuapi. Dia bilang makanan yang dari tanganku rasanya lebih enak dari biasanya.”
“Oo iya?” Ruhanna tampak percaya dengan rayuan Lee.
“Benar sekali.” Seloroh Lee sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulut Ruhanna yang disambut dengan mulut terbuka.
Aku sangat senang melihat hal ini. Namun sedikit rasa menyesal di hatiku. Kenapa harus Lee yang melakukan ini kepada Ruhanna? Kenapa bukan Ayah kandungnya?
