BAB 5
“Tidak Riri, aku tidak bisa diam seperti ini. Aku harus membuat perhitungan dengan bedebah itu.” Mata Lee terlihat sangat merah, sepertinya amarah Lee saat ini sedang berada di puncaknya. Lee sangat menyayangiku dan selalu menjagaku, jadi wajar jika saat ini dia bersikap seperti itu.
“Aku tahu Lee, Jing Hae memang tidak pantas untuk dimaafkan.” Ucapku sambil menatap dalam-dalam ke arah yang aku sendiri tidak tahu kemana.
“Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Imbuhku kini sambil menangis.
“Tenanglah Riri, aku bersamamu saat ini.” Lee mencoba menenangkanku tangannya meraih pundakku untuk memberikan pelukan hangat di tubuhnya.
“Lee, apa kau baik-baik saja?” Sebuah suara datang dari arah dalam. Ibu Nang berjalan ke arah kami. Lee segera melepas pelukannya.
“Bibi”, ucap Lee menemui Ibu Nang dan memeluknya.
“Aku tahu ini sangat berat untuk kita Lee, apalagi untukmu. Tapi aku mohon kendalikan dirimu. Riri sudah beristirahat dengan tenang disana.” Ibu Nang memandang Lee lekat-lekat. Mungkin Ibu Nang melihat saat Lee tengah berbicara denganku dan juga memelukku. Ibu Nang tidak bisa melihatku, pasti beliau tengah berfikir yang tidak-tidak tentang Lee.
“Apa maksud Bibi?” tanya Lee berusaha memahami ucapan Ibu Nang.
“Barusan kau berbicara dengan siapa? Dan siapa yang kau peluk Nak?” Ibu Nang menatap Lee dengan wajah khawatir.
“Bibi aku bisa melihat Riri Bi, Riri kita ada di sini. Dia bicara denganku. Dia menangis dan aku memeluknya, Riiri Bi Yuh Ri.” Lee memberitahu Ibu Nang dengan sangat antusias. Namun Ibu Nang malah melihat Lee dengan wajah yang sendu. Ibu Nang pasti berfikiran jika saat ini Lee sedang berada dalam duka yang sanagt dalam hingga dia berhalusinasi.
“Nak, biar bibi mengantarmu ke tempat kakekmu ya. Kau pasti sangat lelah Lee.” Ibu Nang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Bibi dengarkan aku. Saat ini Riri sedang berada bersama kita, dia berdiri di sana.” Lee menunjuk ke arahku. Aku tersenyum berharap Ibu Nang juga bisa melihat hal yang sama dengan Lee. Namun sepertinya Ibu Nang tidak bisa melihatku.
“Ayo Nak, kita berangkat sekarang!” Ajak Ibu Nang sambil memeluk dan membawa tubuh Lee menuju tempat Kakek Fang. Aku mengikutinya dari belakang.
“Bibi percayalah, Riri sedang bersedih. Dia menangis. Jing Hae menghianatinya, dia berselingkuh dengan perempuan lain.” Ucap Lee sambuil berusaha meyakinkan Ibu Nang.
Ibu Nang terperanjat mendengar pengakuan Lee, namun sepertinya dia tidak ingin mempercayai hal yang dikatakan oleh Lee. Ibu Nang terus berjalan menuju ruangan Kakek Fang sambil sesekali menyeka air matanya.
“Kakek Fang, sepertinya Lee lelah. Biarkan dia tidur.” Seru Ibu Nang saat bertemu dengan Kakek Fang.
“Bibi, kau tidak mempercayaiku?” Lee memandang Ibu Nang dengan pandangan sayu. Sementara Ibu Nang tanpa mengatakan apapun segera pergi dari tempat itu. Aku sangat yakin Ibu Nnag tidak ingin terlihat sedih di depan Lee.
Lee duduk di tepi tempat tidur miliknya. Kedua tangannya menggengam erat kepala miliknya yang kiri terasa sakit. Aku berdiri di depannya. Sebenarnya aku juga ingin tahu apakah Lee benar-benar bisa melihatku atau hanya halusinasi.
“Riri”, panggil Lee sambil menatap ke arahku. Ternyata memang benar Lee bisa melihatku.
“Apa yang terjadi Riri? Kenapa Bibi Nang tidak bisa melihatmu? Malah beliau menyebutku berhalusinasi.”
“Aku sudah bilang padamu Lee, aku adalah arwah. Jasadku ada di dalam peti itu.”
“Jadi kau benar-benar telah meninggalkanku?” Tangis Lee pecah. “Kau tahu Riri, beberapa menit yang lalu aku sanagt bahagia saat mengetahui kalau kau tidak meninggal, kau masih bersamaku. Tapi kini?” Saat ini Lee benar-benar tidak menguasai bisa diri, air matanya mengalir tanpa henti.
“Lee maafkan aku.” Ucapku sambil duduk di bawah tak mampu diri ini untuk tetap berdiri menahan segala pahit di hati. Sementara Lee masih terus menangis hingga dia tertidur.
Kulihat wajah Le, tampak rasa lelah yang amat sangat terpancar dari wajahnya. Mungkin hari ini dia tidak sempat beristirahat.
Aku berjalan mengitari kamar sahabat kecilku ini. Dulu saat kecil aku sering masuk ke kamar ini, untuk bermain bersama Lee atau hanya mengajaknya keluar jalan-jalan.Semua masih terlihat sama seperti dulu. Mataku melihat sebuah foto yang terselip di kaca meja rias. Aku seperti tak asing dengan foto itu, foto seorang anak perempuan. Kupandangi lekat-lekat foto itu yang ternyata adalah fotoku sendiri saat masih kecil.
“Buat apa Lee menyimpan fotoku?” Ucapku lirih sambil tersenyum. Aku berjalan menuju ke sebuah almari yang pintunya tidak tertutup sempurna. Dari situ aku bisa melihat foto-fotoku tertempel dengan rapi di bagian dalam lemari itu. “Banyak sekali”, gumamku. Disisi lain aku bisa melihat beberapa mainan yang dikumpulkan dalam sebuah tempat. Aku memang tidak bisa melihatnya dengan begitu jelas apalagi menyentuhnya. Tapi aku sangat yakin kalau itu adalah boneka kecil yang pernah ku berikan padanya sebagai hadiah ulang tahun. Ternyata Lee masih menyimpannya. Aku tersenyum, ada sedikit rasa bahagia di hatiku disaat terpuruk seperti ini.
Aku berjalan lagi ke sudut kamar di situ terdapat sebuah meja kayu tua. Meja ini dulu sering kubuat bermain bersama Lee. Meja ini masih sama seperti dulu, masih kokoh dan juga terawat. Aku terbelalak tatkala melihat nama Riri terukir dengan indah di bagian sudut meja. Sebegitu sayangnya kah kau kepadaku Lee?
Kulihat Lee tertidur dengan sangat nyenyak, hingga aku iri ingin memiliki tidur seperti itu. Tapi entah mengapa aku tidak merasa lelah ataupun kantuk. Tubuhku terasa sangat ringan. Mungkin para hantu memang seperti ini.
Tanpa sengaja aku mengingat perkataan Tuan Rodriges, “semua orang juga tidak bisa melihatmu, kecuali orang yang mencintaimu dengan tulus yang dapat melihat dan menyentuhmu.”
Jadi selama ini, Lee. Aku tidak percaya. Lee memang sangat menyayangiku, tapi aku tidak pernah berfikir Lee akan mencintaiku setulus itu. Hingga dia bisa melihat dan menyentuhku saat ini. Air mataku menetes mengagumi ketulusan Lee yang tidak pernah aku ketahui. Kenapa dia tidak pernah mengungkapkannya kepadaku?
