BAB 7
"Ibumu sangat cantik bukan?" Ucap Lee kala menemani Ruhanna menyaksikan peti matiku.
Setelah Lee selesai menyuapinya, Ruhanna meminta imbalan untuk mengantarnya melihat peti matiku. Awalnya Ibu Nang melarang, Ibu Nang pasti mengkhawatirkan bagaimana kondisi psikis Ruhanna saat melihat Ibunya telah terbujur kaku di dalam peti. Namun Lee berusaha menenangkan Ibu Nang dan memintanya agar membiarkan Ruhanna melihatku. "Ruhanna pasti akan baik-baik saja Bibi", ucap Lee.
"Ibu memang sangat cantik Paman, bahkan saat tidur pun Ibu juga terlihat cantik." Jawab Ruhanna yang membuatku terenyuh. Ingin sekali aku berteriak, "Ibu di sini Nak, Ibu di sini." Tapi buat apa?
"Ibumu pasti sekarang sedang melihatmu dari surga. Dia pasti bangga memiliki putri yang kuat dan tabah sepertimu." Ujar Lee sambil melirik ke arahku sembari menyunggingkan senyum. Spontan aku memalingkan wajah, aku tidak ingin Lee melihat air mataku yang terus menetes.
"Ruhanna Sayang, kau sudah bangun Nak?" Suara laki-laki yang sangat tidak asing mendekati kami. Semua orang melihat ke arahnya.
"Ayah", sapa Ruhanna sambil berlari menuju laki-laki itu.
"Ayah kemana? Dari kemarin aku belum melihat Ayah." Suara kecil Ruhanna mengisi ruangan.
"Ehmm, Ayah, Ayah sangat terpukul dengan kepergian Ibumu Sayang. Ayah tidak bisa keluar dari kamar." Jawab Jing Hae yang membuatku tertawa geli. "Tidak bisa keluar kamar karena sedih atas kepergianku atau karena menikmati pesta mu bersama wanita jalang itu? Dasar laki-laki bajingan". Umpatku.
"Siapa kau?" Tanya Jing Hae kepada Lee. Jing Hae memang belum pernah bertemu Lee sebelumnya.
"Nak Jing Hae, dia cucuku yang datang dari Amerika. Lee namanya. Lee adalah teman masa kecil Yuh Ri. Setelah mendengar kepergian Yuh Ri, dia langsung datang kemari." Jawab Kakek Fang.
"Senang bertemu denganmu Lee." Sapa Jing Hae sambil menyodorkan telapak tangan.
"Senang bertemu denganmu juga Jing Hae", jawab Lee tersenyum.
"Sebaiknya ajak Ruhanna pergi dari sini Lee. Aku tidak ingin melihat putriku berada di dekat bajingan itu." Ucapku dengan lantang. Untung saja aku hantu, jadi tidak ada yang bisa mendengar teriakanku.
Lee melihat ke arahku dengan tatapan serius namun penuh iba, membuat orang-orang yang ada di situ menatap ke arahnya. Ah Lee, mungkin dia belum terbiasa berbicara dengan hantu. Pasti orang-orang itu akan berfikir yang tidak-tidak tentangmu.
"Paman kau kenapa? Apa yang kau lihat di sana?" Tanya Ruhanna penuh ketulusan.
"Ah tidak Sayang, tidak ada apa-apa. Ah Tuan Jing Hae bolehkah aku mengajak Ruhanna keluar? Aku ingin mengajaknya ke tempat favorit Ibunya. Ruhanna apa kau mau?"
"Mau, boleh kan Ayah?"
Jing Hae menatap Lee nanar. Mungkin dia merasa cemburu dengan kedekatan Lee dengan putrinya.
"Ayah, boleh kan?" Pinta Ruhanna sekali lagi karena dia tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
Jing Hae tersenyum dan Ruhanna mengartikannya sebagai persetujuan.
"Ayo Paman", kali ini Ruhanna yang menarik tangan Lee.
"Hai, apa kau akan pergi dalam keadaan seperti ini? Kau harus mandi Ruhanna." Ujar Lee. Ruhanna tertawa kecil sambil berlari ke arah Ibu Nang. Aku mau mandi, katanya. Terlihat wajah senang dari wanita setengah baya itu. Pasti Ibu Nang merasa senang juga melihat Ruhanna yang bersemangat kembali. Mereka pun segera meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Kakek Fang yang akan melanjutkan pekerjaannya.
"Tuan Lee, aku tidak mengenalmu. Aku juga tidak mengerti apa maksud kedatangan mu yang sebenarnya kemari. Tapi lebih baik kau jauhi putriku." Bisik Jing Hae kepada Lee. Namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Tuan Jing Hae, kau tidak perlu khawatir dengan masalah itu. Yang perlu kau khawatirkan adalah bagaimana cara mengeluarkan pacarmu dari kamar. Kau tahu bukan, sebentar lagi akan ada banyak tamu." Ungkap Lee sebelum meninggalkan tenpat itu. Dan Jing Hae? Wajah laki-laki itu memerah seketika. Aku tersenyum puas memandang suamiku yang kini aku bisa melihat wajah jahat dari balik wajah tampannya.
****
“Apa Ibu suka datang ke tempat ini Paman?” Tanya Ruhanna kepada Lee dimana dirinya masih berada di gendongan belakang laki-laki itu.
“Iya, Riri sangat menyukai tempat ini. Kau tahu, Ibumu sering mengubur kertas ulangannya dibalik pohon itu saat nilainya jelek.” Lee mulai berseloroh yang membuatku tidak taohan untuk mencubit lengannya.
“Kau bisa mengatakan apapun kepada putriku, tapi jangan mengajarkan hal buruk itu kepadanya Lee.” Ucapku yang membuat Lee tertawa.
“Paman lihat, di sana ada ayunan. Aku mau ke sana Paman.” Rengek Ruhanna.
“Siap Tuan Putri”, Lee segera berlari menuju tempat yang ditunjuk Ruhanna.
Mereka bermain dengan bahagia. Sangat mudah bagi Lee untuk mengambil hati Ruhanna. Aku pun turut senang melihat kebahagiaan mereka. Mengingat kondisi Ruhanna semalam yang sangat membuatku frustasi, aku tidak yakin jika Ruhanna akan bangkit. Tapi Lee, dengan mudah dia bisa membuat Ruhanna kembali hidup.
“Ruhanna apa kau menyanyangi Ayahmu?” Pertanyaan dari Lee yang pasti membuat Ruhanna terkejut. Sebenarnya akulah yang meminta Lee untuk menanyakan itu kepada putriku.
“Iya Paman, aku sanagt menyayangi Ayah begitu juga dengan Ibu.” Jawaban polos dari mulut kecil Ruhanna.
“Apa kau juga menyayangiku?”
“Iya, aku menyayangi Paman juga, Paman orang yang sangat baik.” Ucap Ruhanna sambil memamerkan gigi putih miliknya yang berderet sangat rapi.
“Apakah kau mau berjanji kepada Paman?”
“Janji apa Paman?”
“Tetaplah tersenyum seperti itu Nak, senyummu adalah hadiah dari Ibumu. Aku bisa melihat sosok Yuh Ri dari senyum itu.” Ucap Lee sambil meneteskan air mata.
“Paman kenapa menangis? Bukankah Paman yang berkata kalau Ibu akan sedih jika aku sedih. Jadi aku harus selalu bahagia. Begitu kan Paman?” Ruhanna mulai membersihkan air mata Lee yang kini jatuh tanpa bisa dikontrol olehnya.
Lee memeluk Ruhanna, berusaha menahan tangis dengan membuat senyum di bibir manisnya. Sungguh pemandangan yang sangat indah bagiku. Dua orang yang aku yakini sangat menyayangiku sedang menangis untuk diriku.
“Paman berjanji akan selalu melindungimu Ruhanna.” Ucap Lee penuh kepastian. Aku tersenyum senang mendengar hal itu. Sementara Ruhanna hanya bisa melihat wajah Lee yang masih tidak bisa menahan air mata meskipun sudah sanagt berusaha.
Drrt.. Drrt.. Drrt..
Ponsel di kantong Ruhanna berbunyi, nama Ayah tertulis di layar.
“Ayah menelfon, Paman apa aku bisa menerima panggilan Ayah?” Dengan sangat sopan gadis kecil itu meminta izin kepada Lee. Aku tersenyum kecil melihatnya.
“Jing Hae pasti memintanya untuk segera pulang. Dia tidak ingin Ruhanna berada di dekatmu.” Ucapku kepada Lee saat Ruhanna mengangkat telefon Ayahnya.
“Kau tidak perlu khawatir Riri, aku akan selalu menjaga Ruhanna. Aku bisa melihatmu dari anak kecil itu. Dia sama sepertimu.” Ujar Lee yang membuatku terharu.
“Terimakasih Lee.”
“Paman, Ayah meminta kita untuk pulang.” Teriak Ruhanna yang membuatku harus berhenti berbicara.
“Baiklah Tuan Putri, kita pulang sekarang.” Seru Lee sambil berlari ke arah Ruhanna dan menggendongnya.
