BAB 4
Aku berjalan meninggalkan kamar itu. Seharusnya aku mual setelah melihat adegan erotis yang diperankan oleh suamiku dan selingkuhannya tadi, tapi entah kenapa aku merasa sehat-sehat saja. Apa mungkin karena aku adalah hantu?
Aku berjalan menuju sebuah peti yang berada di ruang depan. Di atas peti itu dipasang fotoku yang tampak sangat bahagia.
“Nona Yuh Ri, kenapa kau pergi secepat ini? Tuhan, kenapa bukan raga rapuh ini saja yang kau ambil? Kenapa harus Nona Yuh Ri?” Sebuah suara yang terdengar sangat sendu membuatku mengalihkan pandangan ke arahnya.
Kakek Fang. Laki-laki tua yang sudah aku anggap seperti kakekku sendiri. Kakek Fang telah lama bekerja di rumah ini sebagai tukang kebun. Kakekku sangat memuji pekerjaan Kakek Fang, aku pun juga sangat menyanyanginya.
“Kakek Fang maafkan Yuhri.” Ucapku di hadapan laki-laki tua itu.
Tak lama terdengar suara ponsel kakek Fang berbunyi. Ponsel itu adalah hadiah dariku saat ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu. Agar Kakek Fang bisa dengan nyaman berkomunikasi dengan cucunya. Seringkali cucu Kakek Fang menelfon ke ponsel milik Ibu Nang. Dan menurutku kakek Fang harus memiliki ponsel pribadi agar keduanya lebih nyaman.
“Hallo Nak”, jawab Kakek Fang setelah meletakkan ponsel itu di telinganya.
“Baiklah, kakek akan menunggumu di sini. Kau hati-hati.” Ucap kakek Fang sambil meletakkan kembali ponselnya.
Aku sedikit penasaran dengan siapa kakek Fang berbicara. Apakah dengan cucunya? Cucunya akan ke sini?
Ya, aku mengenal cucu Kakek Fang. Lee namanya. Dia adalah teman kecilku. Dulu kami sering menghabiskan waktu untuk bermain bersama. Lee adalah laki-laki yang sangat baik, aku merasa tenang di sampingnya. Dia selalu menjagaku. Sampai akhirnya Lee melanjutkan pendidikannya di Amerika dengan beasiswa penuh.
Aku sempat bertemu dengannya beberapa kali. Dia tumbuh menjadi pria yang gagah dan juga tampan. Namun setelah aku menikah, aku tidak pernah bertemu dengannya. Lee seperti hilang ditelan bumi. Seringkali aku menanyakan tentang kabar Lee kepada Kakek Fang, kakek Fang selalu menjawab bahwa Lee baik-baik saja.
Kreekk.. Pintu di buka. Aku bisa melihat laki-laki dengan pakaian hitam dan mengenakan tas besar di punggungnya. Laki-laki tampak gagah dan sangat tampan. Aku berusaha mengingat wajah itu, aku seperti tidak asing dengan wajah yang kini berada di hadapanku.
“Lee”, aku berteriak girang. Aku segera berlari untuk memeluk sahabat yang telah sekian lama tidak kutemui. Namun Lee malah ambruk di depan peti jenazahku. Aku menghela nafas panjang, aku lupa lagi kalau aku sudah meninggal.
Kupandangi Lee yang kini sedang menangis di depan peti jenazahku dalam-dalam. Sangat ini Lee terlihat sangat rapuh, wajah tampannya tertutup oleh air mata yang bagaikan air terjun jatuh ke pipinya dengan sangat deras.
Aku seperti ikut merasakan kesedihan yang kini dirasakan oleh Lee. Lee sebegitu kehilangankah dirimu kepadaku? Lee hanyalah sahabatku, sahabat masa kecilku. Namun dia merasa sangat terpukul atas kepergianku. Sedangkan suamiku? Begitu tega dia menghianatiku, bahkan bersenang-senang dengan selingkuhannya tepat di hari kematianku.
“Sudahlah Lee, ini sudah kehendak Tuhan. Ini merupakan jalan yang terbaik bagi Yuh Ri.”Ucap Kakek Fang sambil memegang punggung Lee, berusaha menenangkan cucunya.
“Kakek, bisakah malam ini aku di sini? Aku ingin menghabiskan malam ini bersama Yuh Ri.” Pinta Lee yang sontak membuatku terkejut. Aku tidak pernah menyangka Lee begitu peduli padaku.
“Baiklah, semua orang di rumah ini sudah beristirahat. Jika kau butuh apapun segeralah ke paviliun untuk menemuiku Nak.” Jawab Kakek Fang yang diikuti oleh anggukan kepala Lee.
Selama berjam-jam aku masih ditempat ini bersama Lee sahabatku. Aku terus memperhatikannya dan mengambil tempat yang jauh darinya. Entah kenapa aku takut jika Lee mengetahui keberadaanku. Padahal itu tidak mungkin, Lee tidak bisa melihatku.
“Yuh Ri kenapa kau pergi secepat ini? Aku tidak pernah lupa bagaimana dulu kau selalu merajuk dan minta aku gendong. Aku juga tidak pernah lupa bahwa kau sering mengatakan, Lee kau sangat tampan bolehkah aku menjadi istrimu? Tapi kenapa Yuh Ri, kenapa secepat ini kau meninggalkanku? Apa salahku hingga kau tidak mengizinkaku untuk bertemu lagi denganmu?” Lee masih terus menunduk di depan peti jenazah.
“Tidak Yuh Ri, aku tidak percaya. Ini pasti salah. Kau pasti masih hidup. Aku sangat yakin bahwa kau masih hidup Yuh Ri.” Lee masih saja bicara meskipun keadaannya saat ini sangat memilukan.
Aku berjalan mendekat ke arahnya. Aku tidak sampai hati pada sahabatku ini. Dulu Lee tidak akan pernah membiarkanku menangis. Dia selalu memiliki cara agar aku bisa selalu tertawa bahagia dengannya. Lee selalu memberiku kebahagiaan.
“Lee,” panggilku saat sudah berada di dekatnya.
Tetapi Lee menoleh ke arahku dan memandangku. Aku terperanjat dan merasa sedikit takut. Kakiku melangkah mundur. Dan aku sangat yakin jika wajahku kini telah pucat.
“Yuh Ri, kau. Kau masih di sini?” Ucap Lee yang membuat langkahku mundur semakin jauh. Apa ini kenyataan? Apa Lee memang bisa melihatku? Berbagai fikiran muncul di otakku.
“Aku sangat yakin Yuh Ri bahwa kau masih hidup. Kau tidak akan meninggalkanku.” Ucap Lee lagi yang kali ini malah berjalan maju mendekatiku.
“Lee, kau bisa melihatku?” Tanyaku dengan polos.
Lee menghentikan langkah kakinya, “kau memang sangat pandai bercanda Yuh Ri, tapi bercandamu kali ini benar-benar membuatku sangat takut.” Tutur Lee.
“Lee”, aku terus menyebut namanya. Sejenak aku ingat perkataan Tuan Rodigres bahwa ada seorang yang bisa melihatmu yaitu seseorang yang memiliki cinta yang tulus untukmu. “Apakah Lee orangnya?” Batinku
Saat ini Lee sudah tepat berada di depanku. Aku bisa melihat ketulusan dari sorot matanya. ” Ternyata kau masih hidup Yuh Ri”, ucap Lee dengan senyum mengembang.
Aku berusaha menguasai diriku sendiri. “Lee, kau salah. Aku sudah mati, ragaku ada di dalam peti ini. Dan yang kamu lihat saat ini adalah arwah.
“Apa? Tidak mungkin.” Lee berjalan beberapa langkah ke belakang.
“Iya Lee, ada suatu hal yang membuatku harus turun kembali ke dunia ini, bergentayangan untuk menyelamatkan putriku, Ruhanna.” Aku mulai mengeluarkan apa yang ada di dadaku.
“Maksut kamu?” Lee masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ku katakan kepadanya.
“Lee, tadi pagi aku mengalami kecelakaan yang merenggut nyawaku. Dan atas kebaikan Raja langit aku diizinkan berada di dunia ini kembali selama lima puluh hari untuk melindungi putriku.” Aku berusaha meyakinkan Lee.
“Aku masih tidak mengerti Riri.” Kata Lee. Riri adalah panggilan yang Lee berikan untukku semasa kecil.
“Memang sangat sulit dipercaya Lee. Aku pun tidak percaya semua ini terjadi padaku.” Aku mulai menteskan air mata.
Lee mmenyentuh pundakku. Aku terkejut, selain bisa melihatku Lee juga bisa menyentuhku. “Are you ok Riri?” Ucapnya.
“Kau bisa menyentuhku Lee.” Ucapku sambil tersenyum bahagia. Sementara Lee hanya melihatku dengan tatapan bingung.
“Lee, sebelum kecelakan itu aku sempat melihat Jing Hae bersama perempuan lain. Mereka sangat mesra.” Aku mulai bercerita.
“Apa? Jing Hae menghianatimu?” Lee sangat terkejut sorot matanya menunjukkan amarah.
“Aku salah Lee, Jing hae bukan orang baik. Selama ini dia mempermainkan aku. Tujuan sebenarnya dia menikahiku hanya untuk mengambil semua harta warisan kakek. Dan kini putriku, Ruhanna berada dalam bahaya. Jing Hae memiliki rencana jahat terhadap putriku yang juga merupakan darah dagingnya. Putriku akan dijadikan sebagai robot penghasil uang untuknya dan selingkuhannya. Dan kini laki-laki itu dan selingkuhannya sedang bercinta di kamarku di hari kematianku. ” Kenangku sambil menangis sesenggukan.
“Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi Riri. Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu hidup.” Lee menggempalkan tangannya. Dan bersiap melangkahkan kakinya.
Aku yang sangatt hafal dengan sikap Lee segera memegang tangannya. “Lee aku mohon jangan gegabah. Ini semua demi keselamatan Ruhanna.” Ucapku.
