BAB 3
Lama sekali aku menunggu Mingming menangis. Mingming terus saja mengeluarkan air mata sambil tersedu-sedu. Dia seperti merasa sangat kehilangan. Aku bingung, aku harus bahagia atau ikut sedih. Aku senang Mingming menyayangiku, kehilanganku membuatnya sangat terpukul. Tapi aku juga sedih saat mengingat bahwa aku telah meninggal.
“Ayolah Mingming berdirilah, masuklah ke dalam.” Ucapku lirih di sebelahnya. Aku terbelalak saat kulihat tiba-tiba Mingming berdiri dan melihat ke kanan dan ke kiri. “Nyonya”, pekiknya lirih. Wajahnya tampak ketakutan. “Kenapa aku merasa aku tidak sendiri di sini?” Ucapnya lagi. Mingming menggetarkan tubuhnya dan segera berlari menuju pintu. Aku yang tidak siap dengan gerakan Mingming, berusaha mengejarnya namun aku terlambat. Mingming yang ketakutan telah lebih dahulu menutup pintu itu kembali sebelum aku mengikutinya masuk.
“Sial”, teriakku. “Mingming kenapa kau tidak menungguku? Lalu bagaimana aku masuk ke dalam rumah?” Pekikku sambil memegang kedua pipi, aku kembali merasa sangat frustasi.
“Ruhanna, ibu sangat merindukanmu Nak. Bagaimana Ibu bisa menemuimu?” Aku mulai menitikkan air mata mengingat putriku. Putriku yang malang. Ayah yang sangat dia cintai ternyata adalah penjahat. “Ruhanna maafkan Ibu.” Ucapku lagi sambil tetap menangis.
Aku terdiam di tempat ini, menunggu siapapun yang masuk dan membuka pintu. Tuhan, bagaimana ini? Aku tidak bisa memegang apapun. Lantas bagaimana aku harus membuka pintu? Oh tidak, bahkan hal kecil ini saja tidak mampu aku lakukan. Bagaimana aku bisa menolong putriku?
Aku mencoba menyenderkan tubuhku di jendela yang terletak di sebelah pintu. Meskipun aku tidak merasa lelah, tapi kebiasaanku sebagai manusia masih terbawa. Sehingga aku pun menyenderkan tubuhku.
Buuggg.. Aku terjatuh.
“Ahhh”, teriakku meskipun aku tidak merasa sakit.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Aku telah berada di dalam rumah. Bagaimana bisa? Aku mencoba mempelajari apa yang terjadi. “Aku memang tidak bisa memegang apapun tapi aku bisa menembusnya”, ucapku sambil tertawa bahagia.
Ahh bodoh sekali aku. Kenapa tidak terfikir olehku. Sampai aku harus menunggu lama sekali di depan pintu. Umpatku kepada diriku sendiri.
Aku segera berjalan menuju ke kamar putriku dan menembus dinding kamar itu. Tampak Ruhanna kecilku sedang memeluk sebuah bingkai foto. Anak itu terdiam dengan tatapan kosong. Dari wajahnya aku bisa melihat dia telah menangis dalam waktu lama.
Aku berusaha mendekatinya. Aku tidak tega melihat putriku seperti ini.
“Ruhanna Sayang.” Ucapku sambil berusaha memegang pundaknya namun gagal, sekali lagi aku lupa bahwa aku tidak bisa memegangnya. Ruhanna tetap terdiam. “Ruhanna”, aku berusaha memanggilnya lagi. Gadis kecil itu tetap diam.
Aku menangis sejadi-jadinya melihat keadaan putriku.Ibu mana yang tega melihat putrinya seperti itu. Ruhanna adalah gadis kecil yang ceria, selalu tertawa, riang penuh canda. Tapi kini dia diam, pandangannya kosong, matanya pun tampak sayu.
“Ruhanna”, sebuah suara yang sangat aku kenal masuk ke dalam kamar.
“Ibu Nang ada apa dengan Ruhanna? Ibu Nang.” Aku berlari menghampiri perempuan yang sudah aku anggap ibuku sendiri. Ibu Nang datang dengan membawa sebuah nampan berisi makanan kesukaan Ruhanna.
“Ruhanna Sayang, kau belum makan apapun. Makanlah Nak!” Bujuk Ibu Nang kepada Ruhanna. Aku diam menyaksikan itu sambil berharap putriku akan bicara.
Ruhanna tetap diam. Ibu Nang mencoba memandang wajah Ruhanna sambil mengelus pipi dan rambutnya. “Sayang, kau masih memiliki Ibu Nang. Ibu Nang akan selalu menyayangimu Nak.” Ibu Nang berucap sambil mengeluarkan air mata. Namun Ruhanna masih tetap diam.
Ibu Nang menggendong tubuh Ruhanna menuju tempat tidur, tidak ada penolakan dari gadis itu. Saat ini Ruhanna seperti boneka.
“Tidurlah Nak, tidurlah. Ibumu akan sedih jika dia melihatmu seperti itu Nak.” Kata Ibu Nang.
“Ibu..” Ruhanna berteriak. Aku segera berlari ke arahnya dan berusaha memeluknya. Tapi aku tidak bisa.
Ruhanna menangis histeria, berteriak-teriak memanggil Ibu, Ibu. Ibu Nang berusaha menenangkannya meskipun saat ini air matanya juga membanjiri pipi.
“Ini Ibu Nak, ini Ibu Sayang, ini Ibu.” Aku berteriak sambil terus mencoba meraih putriku, meskipun aku tahu ini adalah usaha yang sia-sia.
Apa kau tahu sesuatu yang sangat menyakitkan di dunia ini? Yang paling menyakitkan adalah melihat orang yang kau sayangi menderita sementara kau tidak bisa melakukan apapun untuknya. Hatiku seperti hancur berkeping-keping.
“Ruhanna maafkan ibu.” Pekikku dengan air mata yang sudah tidak terhitung jumlahnya.
Aku duduk di bawah tempat tidur Ruhanna sambil terus mengeluarkan air mata. Ruhanna saat ini telah tidur di pelukan Ibu Nang. Berteriak dan menangis histeris membuat gadis ini merasa lelah sehingga dia tertidur dengan sendirinya.
Lama aku terdiam di tempat ini. Bayanganku melayang mengingat saat-saat indah bersama Ruhanna. Mengingat bagaimana wajah bahagia putriku saat bersamaku. Ruhanna tidak pernah berpisah jauh dariku. Dan kini dia harus kehilanganku untuk selama-lamanya.
Ingatanku melebar sampai pada kejadian kecelakaan yang menimpaku dan juga perselingkuhan Jing Hae. “Aaaa..” Aku berteriak memegang kepalaku frustasi. “Kenapa ini harus terjadi padaku dan juga putriku?” Saat ini aku bebas melakukan apapun, tidak ada yang bisa mendengarku.
“Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku harus tetap pada tujuanku semula. Aku harus menyelamatkan Ruhanna dari kejahatan Jing Hae.” Ucapku sembari menguatkan hati.
“Ya, aku harus memulai semuanya dari sekarang, sebelum hari ke lima puluh itu tiba.”
Aku berusaha berdiri menguatkan tubuhku. Aku merasa saat ini aku sangat rapuh, aku merasa bahkan aku tidak mampu berdiri. Tapi aku salah, badanku terasa sangat ringan. Sehingga aku bisa bergerak dengan sangat nyaman dan juga ringan.
“Apakah hantu memang seperti ini?” Aku bertanya-tanya.
Aku berjalan menuju ruang tengah. Sebuah tempat dimana aku, Ruhanna , dan Jing Hae sering menghabiskan waktu bersama.
“Ayah sangat menyayangi kalian. Kalian adalah harta Ayah yang sangat berharga.” Ucap jing Hae waktu itu. Ingatan itu tiba-tiba muncul di otakku.
“Aku tidak akan membiarkan kalian terluka sedikitpun, aku tidak akan membiarkan kalian bersedih.” Kalimat itu juga yang sering Jing Hae ucapkan.
Aku meneteskan air mata. Aku tidak menyangka kehidupan kami yang dulu sangat bahagia, kini harus hancur seperti ini.
Aku meneruskan langkahku, menaiki tangga. Entah kenapa kakiku seperti ada yang mengarahkan hingga kau berhenti di sebuah kamar yang tak lain adalah kamarku dan Jing Hae. Kamar yang menjadi saksi cinta kami, kamar yang menjadi tempat peraduan kami.
Aku tersenyum saat melihat kecupan bibir yang aku buat di dinding kaca dua hari yang lalu. Kecupan bibir yang aku buat untuk menggoda JingHae. Sehingga dia tergoda dan membawaku menuju surga dunia. Dua hari yang lalu semua masih baik-baik saja.
Langkahku terhenti saat kudengar desahan dari dalam kamaku. Dari luar aku bisa mendengar suara desahan yang tidak begitu keras namun pendengaranku masih cukup baik untuk mendengar. Suara desahan yang semakin lama semakin dalam dan seperti mengikuti ritme. Jantungku berdetak cepat, aku tidak ingin memikirkan ini tapi otakku sudah penuh dengan fikiran bahwa JingHae lah yang berada di dalam kamar.
Aku segera menembus pintu kamarku, setelah yakin juga bahwa aku tidak terlihat.
Apa yang aku lihat? Aku melihat sesuatu yang sangat menjijikkan. Dua orang sedang bercinta, bercumbu, dan menyatukan tubuh mereka dengan gerakan-gerakan erotis dan juga desahan yang mengikuti ritme gerakan mereka.
Dan aku tidak salah, Jing Hae lah pemain dari permainan menjijikkan itu bersama seorang wanita yang aku temui bersamanya tadi pagi.
Aku tidak tahan lagi, aku segera keluar dari ruangan menjijikkan itu sambil menangis sekeras-kerasnya.
Aku tidak menyangka Jing Hae sejahat itu kepadaku. Hari ini adalah hari kematianku, bahkan jenazahku masih belum dimakamkan. Dan suamiku sudah bermain dengan perempuan lain di kamarku. Apa ini? Tuhan, dosa apa yang telah aku perbuat sehingga Engkau memberiku balasan yang sanagt menyakitkan ini?
“Kau sangat menjijikkan Jing Hae. Kau sangat jahat. Aku sangat membencimu.” Teriakku sambil memukul tembok meskipun tidak berhasil.
