BAB 2
Aku sangat bahagia dengan kehidupanku. Aku merasa keluargaku adalah keluarga yang sempurna. Aku memiliki suami yang sangat mencintaiku dan juga putri kecil yang sangat luar biasa.
Hingga pada suatu hari, aku mengetahui rahasia penting suamiku.
“Yuh Ri, aku tidak mau tau. Kau harus datang hari ini. Ingat sudah dua kali reuni kau tidak menghadirinya.” Ucap Se Yung sahabatku. Hari itu dia mengajakku melalui telefon untuk reuni bersama teman-teman kami di apartemen miliknya.
“Ok, tapi aku harus pulang sebelum malam.” Jawabku.
“Pasti, sebelum malam kita bubar. Kecuali kamu sendiri yang malah enggak mau pulang.” Celetuk Se Yung yang membuat kami tertawa bersama-sama.
Aku memarkirkan mobilku di basement apartemen. Aku mengambil oleh-oleh yang aku persiapkan untuk Se Yung di jok belakang. Sehingga badanku ku arahkan menghadap kaca mobil bagian belakang.
Dengan posisi ini aku bisa melihat dengan jelas dua orang laki-laki perempuan yang baru saja keluar dari mobil, mereka bergandengan tangan dengan sangat mesra seperti dunia milik mereka berdua. Aku tersenyum melihat kelakuan pasangan itu. “Apa mereka tidak sabar menunggu sampai tiba di apartemen?” ucap.
Namun senyum itu perlahan memudar saat aku bisa melihat dengan jelas siapa laki-laki dari pasangan tersebut. Dadaku berdegup kencang kala menyadari bahwa laki-laki itu adalah Jing Hae, suamiku.
Aku merasa tidak percaya dengan apa yang kulihat. Aku segera tuurun dari mobil dan mengikuti pasangan itu dari belakang. Air mata ini tidak bisa tertahankan saat meyakini bahwa laki-laki itu benar-benar suamiku.
“Sayang, kapan kita akan menikah?” Ucap perempuan itu dengan gaya manjanya. Aku bisa mendengar dengan jelas karena basement ini lumayan sepi.
“Sabar Sayang, kita urus dulu istriku Yuh Ri. Kau tahu kan semua harta warisan laki-laki tua itu jatuh ke tangan Yuh Ri seutuhnya. Jika kita menikah sekarang, aku tidak akan mendapatkan apapun dari harta itu.” Jawab Jing Hae.
“Terus sampai kapan? Sampai Yuh Ri tua dan mati dengan sendirinya?” Wanita itu menyahut lagi.
“Tidak Sayang, aku sudah merencakan sesuatu untuk Yuh Ri. Dan sebentar lagi kau akan mendengar berita kematiannya. Tutur Jing Hae.
Segera kututup mulutku dengan tangan, aku tidak ingin teriakanku terdengar oleh mereka.
“Bagus sekali Sayang, kau memang laki-laki yang sangat hebat.” Perempuan itu menghentikan langkah kaki Jing Hae kumidian mengulum bibirnya.
Diriku merasa sangat jijik melihat itu semua, aku segera bersembunyi di balik tembok agar Jing Hae tidak mengetahui kehadiranku.
“Jing Hae, jika kau mencintaiku kenapa dulu kau menikah dengan Yuh Ri?” Wanita itu bertanya setelah melepas pagutan bibirnya.
“Yuh Ri perempuan yang baik, bahkan sangat baik, dan juga cantik. Tapi sayang sekali dia perempuan yang sangat bodoh. Aku menikahinya untuk mendapatkan seluruh harta milik kakeknya.”
“Kau mencintainya?”
“Aku hanya mencintaimu Sayang.” Jing Hae memeluk pinggang ramping wanita itu.
“Kau bohong, bahkan kau memiliki anak dari Yuh Ri.”
“Itu semua agar Yuh Ri mempercayaiku. Dan kau tahu Sayang, Ruhanna putri kecilku. Dia mewarisi kecantikan ibunya dan juga kekayaannya. Dia adalah aset terbesarku. Kita tunggu sampai dia lebih besar, pasti dia akan memberikan kita banyak keuntungan.” Jing Hae dan perempuan itu tertawa terbahak-bahak.”
Langkah kakiku terhenti dan aku terkulai lemas di lantai basement. Aku sudah tidak kuasa untuk mengangkat tubuh bahkan kaki, tidak bisa berfikir apapun saat ini. Aku sangat syok dengan apa yang barusan kulihat dan kudengar.
Saat ini hatiku sungguh hancur, sangat hancur. Keluarga yang aku bangga-banggakan selama ini ternyata hanya tipuan. Suami yang selama ini sangat ku cintai, ku puja, ku banggakan, ternyata hanya memanfaatkan kekayaanku. Dan Ruhanna, Jing Hae sama sekali tidak memiliki hati. Dia berniat mengambil keuntungan dari putri kandungnya sendiri.
Aku menangis terisak sampai dadaku terasa sesak. Segera kuambil air minum yang selalu ku sediakan di tas dan segera meminumnya.
“Tidak, aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh lemah hanya karena laki-laki biadab itu. Aku harus menghentikan kejahatan Jing Hae, aku juga harus menyelamatkan putriku Ruhanna.” Gumamku sambil menyeka air mataku sendiri, berusaha tetap tegar.
“Ya, aku harus ke kantor saat ini. Aku harus melihat apa yang telah Jing Hae lakukan pada perusahaan kakek.”
Segera kulangkahkan kakiku menuju mobil dan segera membawa mobil itu ke kantor kakek. Aku ingin melihat sampai mana suamiku berbuat kecurangan di kantor kakekku.
“Ibu Nang aku mohon tolong jaga dan lindungi putriku.” Ucapku saat sambungan telefon yang ku buat tersambung kepada seorang perempuan yang biasa kupanggil Ibu Nang. Ibu Nang adalah pengasuhku sejak aku kecil.
“Iya Yuh Ri, hai kenapa kau seperti ini?” Tanya Ibu Nang.
Belum sempat aku menjawab suara dentaman yang sangat keras terdengar. Mobil yang aku kendarai terbalik dan berguling-guling di jalan raya. Entahlah aku tidak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu aku tidak bisa mengerem. Rem mobilku tiba-tiba blong, hingga mobilku menabrak pembatas jalan.
Saat aku membuka mata, dua laki-laki tampan berpakaian serba putih berada di depanku. Mengajakku ke sebuah tempat yang aku belum pernah melihatnya. Semua orang yang ada di situ memakai baju putih.
****
“Yuh Ri kau sudah sampai di rumahmu. Kami akan pergi sekarang. Ingat, kami akan kembali lima puluh hari lagi! Dan jika waktunya telah tiba kau tidak bisa menolak.” Ucap salah satu dari laki-laki yang membawaku.
“Baik, aku mengerti. Terimakasih Tuan.” Aku menundukkan badan sebagai ucapan terimakasih mereka telah membantuku. Namun saat aku kembali mengangkat tubuhku kedua laki-laki itu telah hilang. Aku sangat terkejut dan berjalan mundur dua langkah. “Ahh bodoh bukankah aku juga hantu.” Gumamku sambil tersenyum.
Aku segera masuk ke dalam rumah. Berusaha memegang gagang pintu untuk membukanya, tapi aku tidak bisa memegang gagang pintu itu. Aku menghela nafas setelah mengingat apa yang Tuan Rodrigres katakan tadi. “Ahh, Bagaimana aku bisa masuk rumah jika aku tidak bisa memegang apapun?” Ucapku sedikit frustasi.
Dari kejauhan aku melihat Mingming salah satu asisten rumah tangga sedang berjalan ke arahku. Wajahnya terlihat sangat sedih.
“Mingming untunglah kau datang. Aku tidak bisa membuka pintu ini aku tidak masuk ke dalam rumah.” Ucapku kepadanya. Namun dia seperti tidak mendengarku bahkan sepertinya dia juga tidak menyadari keberadaanku.
“Mingming”, Ulangku memanggilnya dengan suara yang lebih keras.
Miming terdiam dia menghentikan langkahnya. Aku senang, pasti Miming mendengarkanku. Namun Miming justru menangis tersedu-sedu sambil duduk di pojokan.
“Nyonya Yuh Ri kau perempuan yang sangat baik. Kenapa kau meninggalkan kami secepat ini?” Tangis Miming pecah. Aku melangkahkan kakiku mundur. Aku kembali menyadarinya. Aku telah meninggal, aku adalah arwah aku adalah hantu. Tanpa terasa air mataku jatuh.
