Bab 4: Orang Asing dari Istana
Musim dingin mulai mendekati Pelabuhan Naga.
Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut sering turun sebelum matahari terbit, menyelimuti dermaga dan kapal-kapal yang berlabuh seperti tirai putih yang membungkus seluruh pelabuhan.
Namun bagi Li Yuan, hari-hari kini memiliki tujuan baru.
Setelah menerima buku navigasi dari pelaut tua misterius itu, setiap waktu luang ia gunakan untuk belajar.
Ia membaca saat pagi.
Membaca saat siang.
Bahkan membaca hingga larut malam dengan penerangan lampu minyak kecil di sudut rumah.
Awalnya banyak istilah yang tidak ia pahami.
Tentang arah angin.
Tentang arus laut.
Tentang posisi bintang.
Tentang perhitungan jarak pelayaran.
Namun semakin ia belajar, semakin ia menyadari satu hal.
Laut bukan sekadar hamparan air yang luas.
Laut memiliki bahasa.
Dan para pelaut sejati mampu membacanya.
Suatu malam, saat ibunya sudah tidur, Li Yuan kembali membuka halaman yang telah dibacanya berkali-kali.
Di sana terdapat gambar Bintang Utara.
Di bawahnya tertulis sebuah kalimat:
"Orang yang memahami bintang tidak akan mudah tersesat, bahkan ketika dunia di sekelilingnya berubah."
Li Yuan mengusap tulisan itu perlahan.
Ia teringat ayahnya.
Teringat malam ketika mereka duduk bersama di atap rumah.
Malam ketika ayahnya menunjukkan Bintang Utara untuk pertama kalinya.
Dadanya kembali terasa sesak.
Namun rasa sakit itu kini berubah menjadi sesuatu yang lain.
Tekad.
Keesokan paginya, pelabuhan kembali ramai.
Beberapa kapal dagang dari utara tiba membawa kain sutra dan tembikar.
Para pedagang berteriak menawarkan barang.
Buruh pelabuhan sibuk mengangkut peti-peti besar.
Li Yuan membantu ibunya menyiapkan makanan untuk pelanggan.
Ketika sedang mengantar semangkuk mi panas ke sebuah meja, ia mendengar percakapan beberapa pelaut.
"Ada kapal istana datang."
"Istana?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Tidak tahu."
Mendengar kata istana, telinga Li Yuan langsung menangkap perhatian.
Istana Tianlong berada jauh di ibu kota.
Jarang sekali utusan istana datang ke Pelabuhan Naga.
Kalaupun datang, biasanya karena urusan penting.
Li Yuan segera berlari keluar.
Dan benar saja.
Di dermaga utama terlihat sebuah kapal yang berbeda dari kapal-kapal dagang biasa.
Lambungnya dicat merah tua.
Layarnya berwarna putih bersih.
Di bagian depan berkibar panji naga emas milik kekaisaran.
Orang-orang mulai berkumpul.
Mereka berbisik penasaran.
Beberapa pejabat pelabuhan bahkan sudah berdiri berbaris menyambut kedatangan tamu tersebut.
Tak lama kemudian, sebuah perahu kecil diturunkan.
Beberapa orang turun ke dermaga.
Dua di antaranya mengenakan seragam penjaga istana.
Sementara seorang pria tua berjalan di tengah.
Jubahnya berwarna biru tua.
Langkahnya tenang.
Meskipun usianya tampak lebih dari enam puluh tahun, punggungnya masih tegak.
Sorot matanya tajam.
Seolah mampu melihat lebih jauh daripada orang lain.
Li Yuan memperhatikan pria itu dari kejauhan.
Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang berbeda.
Pria tua itu tidak tampak seperti pejabat biasa.
Ada wibawa yang sulit dijelaskan.
Seorang pejabat pelabuhan segera membungkuk hormat.
"Selamat datang di Pelabuhan Naga."
Pria tua itu hanya mengangguk.
"Aku hanya singgah beberapa hari."
"Kami akan menyiapkan penginapan terbaik."
"Tidak perlu."
Jawaban itu membuat pejabat tersebut sedikit bingung.
"Maaf?"
"Aku lebih suka mengamati kota terlebih dahulu."
Lalu pria tua itu berjalan pergi.
Dua penjaga mengikuti dari belakang.
Hari itu seluruh pelabuhan dipenuhi berbagai spekulasi.
Ada yang mengatakan pria itu adalah penasihat kaisar.
Ada yang menyebutnya ahli astronomi kerajaan.
Ada pula yang percaya ia sedang mencari seseorang.
Namun tidak seorang pun mengetahui alasan sebenarnya.
Bahkan nama pria itu pun tidak diketahui.
Li Yuan sempat melupakan kedatangannya hingga sore hari.
Saat sedang duduk di ujung dermaga membaca buku navigasi, sebuah bayangan tiba-tiba muncul di depannya.
Ia mengangkat kepala.
Dan langsung terkejut.
Pria tua dari kapal istana berdiri di hadapannya.
"Apa yang kau baca?"
Li Yuan buru-buru berdiri.
"Buku navigasi."
Pria itu mengulurkan tangan.
"Boleh kulihat?"
Li Yuan menyerahkan buku tersebut.
Pria tua itu membuka beberapa halaman.
Matanya bergerak cepat.
Lalu ia mengangkat alis.
"Ini bukan buku yang mudah."
Li Yuan mengangguk.
"Saya tahu."
"Berapa umurmu?"
"Sembilan tahun."
Pria itu tampak sedikit terkejut.
"Dan kau membaca ini?"
"Saya sedang mencoba."
Pria tua itu tersenyum tipis.
Jawaban yang sederhana.
Namun jujur.
"Kau memahami isinya?"
tanya pria itu.
"Belum semuanya."
"Bagian mana yang paling sulit?"
Li Yuan berpikir sejenak.
"Arus laut."
"Kenapa?"
"Karena saya tidak bisa melihatnya."
Pria tua itu duduk di sampingnya.
"Jawaban yang menarik."
Lalu ia menunjuk ke laut.
"Kau melihat ombak?"
"Ya."
"Arus sering kali tersembunyi di bawahnya."
Li Yuan memperhatikan.
"Lalu bagaimana cara mengetahuinya?"
"Dengan pengamatan."
"Pengamatan?"
"Dan pengalaman."
Pria tua itu mengambil sepotong kayu kecil dari dermaga lalu melemparkannya ke air.
Mereka berdua memperhatikan benda itu hanyut.
"Lihat."
Kayu tersebut bergerak perlahan ke arah tertentu.
Padahal angin bertiup dari arah yang berbeda.
Li Yuan membelalakkan mata.
"Itu arus?"
Pria tua itu mengangguk.
"Laut selalu berbicara."
"Tetapi tidak semua orang mendengarnya."
Li Yuan terdiam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sangat dalam.
Mereka berbicara cukup lama.
Tentang bintang.
Tentang kapal.
Tentang pelayaran.
Tentang dunia.
Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Li Yuan.
Dan yang mengejutkan, pria tua itu mampu menjawab semuanya.
Bahkan pertanyaan yang selama ini tidak mampu dijawab oleh para pelaut.
"Apakah dunia memiliki ujung?" tanya Li Yuan.
Pria tua itu tersenyum.
"Menurutmu?"
"Aku tidak tahu."
"Bagus."
Li Yuan mengernyit.
"Kenapa bagus?"
"Karena orang yang mengaku tahu segalanya biasanya tidak belajar lagi."
Jawaban itu membuat Li Yuan tertawa kecil.
Saat matahari hampir tenggelam, pria tua itu berdiri.
"Aku harus pergi."
Li Yuan spontan bertanya,
"Apakah Tuan berasal dari istana?"
Pria tua itu menoleh.
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Kapal Tuan."
"Pengamatan yang baik."
"Itu berarti benar?"
Pria tua itu tersenyum.
"Aku pernah bekerja di sana."
"Pernah?"
"Ya."
Mata Li Yuan berbinar.
"Istana pasti sangat besar."
"Memang."
"Apakah Kaisar benar-benar tinggal di sana?"
"Tentu."
"Apakah Tuan pernah bertemu Kaisar?"
Pria tua itu tertawa.
"Beberapa kali."
Li Yuan langsung kagum.
Baginya, Kaisar terasa seperti tokoh dalam cerita.
Seseorang yang begitu jauh dan tidak mungkin ditemui.
Namun pria tua ini pernah bertemu langsung dengannya.
Sebelum pergi, pria itu tiba-tiba bertanya,
"Kenapa kau mempelajari navigasi?"
Li Yuan terdiam.
Pertanyaan itu membuat dadanya kembali terasa berat.
Namun ia menjawab dengan jujur.
"Ayahku hilang di laut."
Wajah pria tua itu berubah serius.
"Aku turut berduka."
Li Yuan mengangguk.
"Aku ingin memahami laut."
"Untuk menemukan ayahmu?"
Anak itu menatap cakrawala.
"Kalau bisa."
"Lalu?"
"Aku juga ingin memastikan orang lain tidak mengalami hal yang sama."
Pria tua itu memandangnya cukup lama.
Angin sore meniup ujung jubahnya.
Di matanya terlihat sesuatu.
Bukan sekadar simpati.
Melainkan ketertarikan.
Seolah ia baru menemukan sesuatu yang selama ini dicarinya.
Malam itu, pria tua tersebut tidak langsung kembali ke penginapan.
Ia justru berjalan menuju kantor pelabuhan.
Di sana, kepala pelabuhan segera menyambutnya.
"Tuan."
Pria tua itu duduk.
"Aku ingin mengetahui sesuatu."
"Tentu."
"Keluarga Li Yuan."
Kepala pelabuhan tampak terkejut.
"Anak itu?"
"Ya."
"Kenapa?"
Pria tua itu tidak langsung menjawab.
"Aku hanya ingin tahu."
Pejabat tersebut kemudian menceritakan semuanya.
Tentang Li Wen.
Tentang badai.
Tentang kehidupan sederhana keluarga mereka.
Tentang kebiasaan Li Yuan yang selalu datang ke dermaga.
Pria tua itu mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia hanya mengangguk.
"Lanjutkan pekerjaanmu."
"Itu saja?"
"Ya."
Namun saat meninggalkan ruangan, sebuah pikiran terus berputar di benaknya.
Selama bertahun-tahun ia telah mengunjungi banyak kota.
Menemui banyak anak berbakat.
Namun sangat jarang menemukan seseorang dengan rasa ingin tahu sebesar Li Yuan.
Apalagi di usia yang begitu muda.
Keesokan harinya, Li Yuan kembali ke dermaga seperti biasa.
Namun kali ini ia mendapati pria tua itu sudah menunggunya.
Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu kecil.
"Aku punya sesuatu untukmu."
Li Yuan mendekat.
"Apa itu?"
"Buka."
Dengan hati-hati ia membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah kompas kuningan yang jauh lebih indah dibanding milik ayahnya.
Jarumnya berkilau.
Permukaannya dipenuhi ukiran halus.
Li Yuan membelalakkan mata.
"Ini terlalu berharga."
"Ambillah."
"Aku tidak bisa."
"Bisa."
"Tapi kenapa?"
Pria tua itu tersenyum.
"Anggap saja hadiah."
"Hadiah untuk apa?"
"Untuk seorang anak yang tidak berhenti bertanya."
Li Yuan menatap kompas itu.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia belum pernah memiliki benda seindah ini.
Pria tua itu kemudian berdiri.
"Kapalku berangkat besok."
"Besok?"
"Ya."
Li Yuan mendadak merasa sedih.
Meskipun baru mengenalnya beberapa hari, ia menyukai pria tersebut.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memperlakukan pertanyaannya dengan serius.
"Bolehkah aku tahu nama Tuan?"
Pria tua itu tersenyum.
"Akhirnya kau bertanya."
"Jadi siapa nama Tuan?"
"Aku Xu Liang."
Li Yuan mengingat nama itu.
Namun ia tidak menyadari bahwa nama tersebut sangat terkenal di ibu kota.
Bahkan pernah menjadi salah satu penasihat utama kekaisaran.
Saat mereka berpisah, Xu Liang berkata,
"Teruslah belajar."
"Aku akan belajar."
"Dan jangan menyerah."
Li Yuan mengangguk.
"Aku tidak akan menyerah."
Xu Liang tersenyum.
Lalu berjalan pergi.
Namun sebelum menghilang di balik keramaian pelabuhan, ia sempat menoleh sekali lagi.
Di hadapannya berdiri seorang anak yatim yang kehilangan ayah karena badai.
Seorang anak yang bahkan belum menginjak usia sepuluh tahun.
Namun di matanya, Xu Liang melihat sesuatu yang tidak dimiliki banyak orang dewasa.
Tujuan.
Dan terkadang, sejarah besar dimulai dari tujuan sederhana yang tumbuh di hati seorang anak.
