Pustaka
Bahasa Indonesia

Armada Naga Selatan

99.0K · Tamat
R.Cristanto
78
Bab
719
View
9.0
Rating

Ringkasan

Di Kekaisaran Tianlong, seorang anak yatim bernama Li Yuan tumbuh dari pelayan istana menjadi laksamana terbesar pada zamannya. Atas perintah kaisar, ia memimpin armada raksasa untuk menjelajahi lautan selatan dan barat. Namun di balik misi perdagangan dan persahabatan, tersembunyi rahasia yang dapat mengubah peta dunia: sebuah jaringan peta kuno yang konon dibuat oleh para pelaut legendaris berabad-abad sebelumnya. Dalam perjalanannya, Li Yuan harus menghadapi bajak laut, pemberontak, kerajaan-kerajaan yang saling bersaing, pengkhianatan dari dalam armadanya sendiri, dan ambisi para bangsawan yang ingin memanfaatkan ekspedisi demi kekuasaan.

FantasiDewasaZaman KunoactionpendekarPetualanganRasionalCerita

Bab 1: Anak dari Pelabuhan Naga

Angin laut berembus lembut membawa aroma garam dan kayu basah ke seluruh penjuru Pelabuhan Naga. Matahari pagi baru saja muncul dari balik cakrawala, memantulkan cahaya keemasan di permukaan air yang dipenuhi kapal-kapal dagang.

Bagi sebagian orang, pelabuhan hanyalah tempat kapal datang dan pergi. Namun bagi seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun bernama Li Yuan, pelabuhan adalah dunia.

Sejak kecil, ia menghabiskan hari-harinya berlari di antara gudang-gudang penyimpanan, dermaga kayu, dan pasar yang selalu ramai. Ia mengenal suara ombak lebih baik daripada suara lonceng kuil. Ia tahu perbedaan kapal dari negeri utara dan kapal dari kepulauan selatan hanya dengan melihat bentuk layarnya.

Ayahnya, Li Wen, adalah seorang pelaut yang bekerja di kapal dagang milik pemerintah. Sedangkan ibunya, Mei Hua, mengelola warung kecil yang menjual makanan hangat bagi para pekerja pelabuhan.

Kehidupan mereka sederhana.

Tidak kaya.

Namun cukup untuk hidup dengan tenang.

Pagi itu Li Yuan duduk di ujung dermaga sambil mengamati puluhan kapal yang sedang bersiap berangkat.

Matanya berbinar.

"Suatu hari nanti aku akan berlayar lebih jauh dari mereka semua."

Suara berat terdengar dari belakang.

"Setiap hari kau mengatakan hal yang sama."

Li Yuan menoleh.

Ayahnya berdiri sambil membawa gulungan tali kapal di bahunya.

"Ayah!"

Li Yuan segera berlari menghampiri.

Li Wen tersenyum dan mengacak rambut anaknya.

"Kau tidak bosan melihat kapal?"

"Tidak."

"Mengapa?"

Li Yuan menunjuk ke arah laut.

"Karena laut tidak pernah berakhir."

Jawaban itu membuat Li Wen tertawa.

Banyak anak seusia Li Yuan bermimpi menjadi prajurit atau pejabat kerajaan.

Namun putranya berbeda.

Ia selalu bertanya tentang arah angin.

Tentang bintang.

Tentang arus laut.

Tentang negeri-negeri yang belum pernah ia lihat.

Li Wen sering kali kesulitan menjawab semua pertanyaannya.

"Kalau begitu kau harus belajar lebih rajin."

"Aku akan belajar."

"Dan jangan hanya bermimpi."

"Aku tahu."

Li Wen tersenyum.

"Karena lautan tidak ramah kepada pemimpi yang tidak siap."

Kalimat itu terus teringat oleh Li Yuan sepanjang hari.

Pelabuhan Naga adalah gerbang perdagangan terbesar di pesisir selatan Kekaisaran Tianlong.

Setiap minggu kapal-kapal datang membawa rempah-rempah, kain, batu permata, kayu harum, dan berbagai barang langka dari negeri yang jauh.

Li Yuan senang mengamati para pedagang asing.

Ada yang berkulit gelap dari negeri gurun.

Ada yang bermata biru dari kerajaan di seberang samudra.

Ada pula pelaut dari kepulauan tropis yang selalu membawa cerita tentang pulau-pulau hijau yang dipenuhi burung berwarna-warni.

Setiap kali mendengar cerita itu, imajinasi Li Yuan melayang jauh.

Baginya, dunia di luar cakrawala terasa seperti dongeng yang menunggu untuk ditemukan.

Sore hari, seperti biasa, ia membantu ibunya di warung.

Warung kecil itu berdiri tidak jauh dari dermaga utama.

Para pekerja pelabuhan sering mampir untuk makan sebelum atau sesudah bekerja.

"Li Yuan, antarkan semangkuk mi ini ke meja sana."

"Baik, Ibu."

Ia berlari membawa mangkuk.

Para pekerja tersenyum melihat tingkahnya.

"Aku yakin anak ini akan menjadi pelaut."

"Bukan pelaut biasa," kata yang lain.

"Dia akan menjadi kapten."

Li Yuan menggeleng.

"Bukan."

"Lalu?"

Ia mengangkat dada dengan bangga.

"Aku akan menjadi laksamana."

Meja itu langsung dipenuhi tawa.

Namun Li Yuan tidak tersinggung.

Ia sudah terbiasa.

Semua orang menganggap mimpinya terlalu besar.

Tetapi ia tidak peduli.

Karena setiap malam sebelum tidur, ia selalu melihat cahaya lampu kapal di kejauhan.

Dan cahaya itu seolah memanggilnya.

Malam tiba.

Langit cerah.

Bintang-bintang memenuhi angkasa.

Li Yuan duduk di atap rumah kecil mereka.

Ia memandangi langit dengan tenang.

Di sampingnya duduk Li Wen.

"Kau sedang mencari apa?"

"Bintang Utara."

"Apa gunanya?"

"Aku dengar para pelaut menggunakannya untuk menentukan arah."

Li Wen mengangguk.

"Benar."

"Kalau begitu aku harus mengenalnya."

Ayahnya tersenyum.

"Kau masih kecil."

"Suatu hari aku akan besar."

"Itu benar."

Li Yuan menunjuk sebuah bintang terang.

"Yang itu?"

"Bukan."

"Kalau yang itu?"

"Bukan juga."

Li Wen lalu menunjuk ke langit.

"Itu."

Li Yuan mengikuti arah jarinya.

Sebuah bintang tampak bersinar lebih tenang dibanding yang lain.

"Itukah?"

"Ya."

Li Yuan mengingat letaknya.

Seolah sedang menghafal wajah seorang teman.

"Apakah bintang itu selalu ada?"

"Selama langit tetap sama."

Anak itu tersenyum.

"Bagus."

"Mengapa?"

"Kalau aku tersesat di lautan nanti, aku bisa pulang."

Li Wen memandang putranya lama.

Ada sesuatu dalam diri anak itu.

Sesuatu yang sulit dijelaskan.

Keingintahuan.

Keberanian.

Dan rasa haus terhadap dunia yang sangat besar.

Mungkin suatu hari nanti ia memang akan berlayar jauh.

Jauh melampaui apa yang pernah dilakukan keluarganya.

Hari-hari berlalu.

Musim perdagangan sedang ramai.

Pelabuhan semakin sibuk.

Kapal-kapal besar datang silih berganti.

Li Yuan selalu membantu kapan pun ia bisa.

Terkadang membawa air.

Terkadang memindahkan peti kecil.

Terkadang hanya mendengarkan cerita para pelaut.

Suatu siang, seorang pelaut tua datang ke warung ibunya.

Wajah pria itu penuh bekas luka.

Janggutnya putih.

Pakaiannya tampak usang.

Namun matanya tajam seperti elang.

Ia memesan teh hangat.

Ketika melihat Li Yuan memperhatikan peta laut yang dibawanya, pria tua itu tersenyum.

"Kau bisa membacanya?"

Li Yuan menggeleng.

"Belum."

"Kalau begitu mengapa kau melihatnya?"

"Karena aku ingin tahu."

Pelaut tua itu tertawa pelan.

"Jawaban yang bagus."

Ia membuka gulungan peta.

Li Yuan langsung mendekat.

Peta itu berbeda dari apa pun yang pernah ia lihat.

Terdapat garis-garis laut.

Pulau-pulau kecil.

Tanda-tanda aneh.

Dan catatan yang ditulis tangan.

"Apakah ini seluruh dunia?"

tanya Li Yuan.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena belum ada seorang pun yang mengetahui seluruh dunia."

Mata Li Yuan membesar.

"Jadi masih ada tempat yang belum ditemukan?"

"Banyak sekali."

"Di mana?"

Pelaut tua menunjuk ke bagian kosong pada peta.

"Di sana."

Li Yuan terdiam.

Bagian kosong itu justru membuatnya lebih tertarik dibanding wilayah yang sudah digambar.

Ia membayangkan pulau misterius.

Kerajaan besar.

Atau mungkin lautan yang belum pernah dilalui manusia.

"Kau ingin menjadi apa nanti?" tanya pelaut tua.

"Laksamana."

Pria itu tidak tertawa.

Tidak seperti orang lain.

Sebaliknya ia mengangguk.

"Mimpi yang baik."

Li Yuan berkedip.

"Anda tidak menertawakan saya?"

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena semua penjelajah besar pernah menjadi anak kecil yang memiliki mimpi."

Kalimat itu menancap dalam hati Li Yuan.

Ia akan mengingatnya selama bertahun-tahun.

Menjelang akhir musim panas, aktivitas pelabuhan mencapai puncaknya.

Ayah Li Yuan mendapat tugas untuk ikut pelayaran dagang besar menuju kerajaan-kerajaan di selatan.

Perjalanan itu diperkirakan memakan waktu beberapa bulan.

Malam sebelum keberangkatan, keluarga kecil itu makan bersama.

Tidak ada hidangan mewah.

Hanya nasi, ikan panggang, dan sup hangat.

Namun suasananya terasa istimewa.

"Kapan Ayah kembali?" tanya Li Yuan.

"Mungkin sebelum musim dingin."

"Mungkin?"

Li Wen tertawa.

"Laut tidak pernah memberikan kepastian."

Li Yuan menunduk.

Ia tidak suka mendengar jawaban itu.

Ibunya memperhatikan mereka dengan senyum lembut.

"Kau sudah berlayar berkali-kali."

"Tetap saja harus berhati-hati."

"Tentu."

Li Yuan tiba-tiba berkata,

"Nanti saat aku besar, aku akan ikut berlayar bersama Ayah."

Li Wen tersenyum.

"Mungkin."

"Bukan mungkin."

Li Yuan mengangkat kepala.

"Pasti."

Tawa memenuhi ruangan kecil itu.

Untuk sesaat, dunia terasa sempurna.

Tak seorang pun menyadari bahwa kebahagiaan sederhana itu tidak akan bertahan lama.

Keesokan pagi.

Kabut tipis menyelimuti pelabuhan.

Puluhan keluarga berkumpul untuk mengantar para pelaut.

Suara burung laut bercampur dengan teriakan awak kapal.

Li Yuan berdiri di dermaga bersama ibunya.

Ayahnya telah berada di atas kapal utama.

Sebuah kapal dagang besar dengan tiga tiang layar.

"Ayah!"

teriak Li Yuan.

Li Wen melambaikan tangan.

"Jaga ibumu!"

"Ayah juga harus hati-hati!"

"Aku akan kembali."

Li Yuan mengangguk kuat-kuat.

Ia mempercayai kata-kata itu.

Sepenuhnya.

Lonceng keberangkatan berbunyi.

Tali-tali dilepas.

Layar mulai terkembang.

Perlahan kapal bergerak meninggalkan dermaga.

Li Yuan terus melambaikan tangan hingga sosok ayahnya menjadi semakin kecil.

Semakin jauh.

Dan akhirnya menghilang di balik kabut laut.

Saat itulah, tanpa ia sadari, takdir mulai bergerak.

Takdir yang akan membawa seorang anak pelabuhan menuju perjalanan terbesar dalam sejarah Kekaisaran Tianlong.

Namun sebelum ia dapat menaklukkan samudra.

Sebelum ia memimpin armada.

Sebelum namanya dikenang dunia.

Ia harus menghadapi badai pertama dalam hidupnya.

Badai yang akan datang dari laut yang sangat ia cintai.