Bab 3: Kapal yang Tak Kembali
Tiga bulan telah berlalu sejak badai besar itu.
Musim gugur datang membawa udara yang lebih dingin ke Pelabuhan Naga. Daun-daun pohon di sepanjang jalan mulai menguning, sementara angin laut bertiup lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Namun bagi Li Yuan, waktu seolah berhenti pada hari ketika nama ayahnya dibacakan dalam daftar korban yang hilang di laut.
Setiap pagi ia masih bangun sebelum matahari terbit.
Setiap sore ia masih duduk di ujung dermaga.
Dan setiap kali kapal muncul di cakrawala, hatinya masih berdebar meskipun ia tahu harapan itu semakin tipis.
Penduduk pelabuhan perlahan mulai menerima kenyataan.
Keluarga-keluarga yang kehilangan anggota mereka mulai melanjutkan hidup.
Beberapa janda menikah kembali.
Beberapa anak mulai bekerja membantu keluarga.
Kehidupan harus berjalan.
Namun Li Yuan belum mampu melepaskan harapan sepenuhnya.
Karena tidak ada yang menemukan tubuh ayahnya.
Tidak ada bukti pasti.
Yang ada hanya puing-puing kapal.
Dan bagi seorang anak, selama tidak ada kepastian, harapan akan tetap hidup.
Suatu pagi, kabut tipis menyelimuti pelabuhan.
Li Yuan sedang membantu mengangkat peti di gudang milik seorang pedagang tua bernama Zhao Ming.
Sejak pendapatan warung ibunya menurun, ia mulai bekerja kecil-kecilan untuk membantu.
"Pelan-pelan!" seru Zhao Ming.
"Peti itu berisi porselen."
Li Yuan segera memperbaiki pegangannya.
"Maaf."
Pedagang tua itu memperhatikan anak tersebut.
Tubuh Li Yuan tampak lebih kurus dibanding beberapa bulan lalu.
Namun sorot matanya justru terlihat lebih tajam.
"Kau terlalu banyak berpikir."
Li Yuan berhenti.
"Apa maksud Paman Zhao?"
"Matamu."
"Ada apa dengan mataku?"
"Matamu seperti orang dewasa."
Li Yuan menunduk.
Ia tidak tahu apakah itu pujian atau sesuatu yang menyedihkan.
Zhao Ming menghela napas.
"Anak seusiamu seharusnya berlari-lari, bukan memikul beban dunia."
Li Yuan tersenyum tipis.
"Tapi dunia tidak bertanya apakah aku siap atau tidak."
Pedagang tua itu terdiam.
Jawaban itu terlalu dewasa untuk anak berusia sembilan tahun.
Menjelang siang, keributan tiba-tiba terdengar dari arah dermaga.
Orang-orang mulai berlari.
Para pedagang meninggalkan lapak mereka.
Buruh pelabuhan menghentikan pekerjaan.
"Ada apa?" tanya Zhao Ming.
Seseorang berteriak sambil berlari.
"Kapal ditemukan!"
Jantung Li Yuan langsung berdegup kencang.
"Kapal apa?"
"Kapal dari armada yang hilang!"
Peti yang sedang ia pegang hampir jatuh.
Tanpa berpikir panjang, Li Yuan langsung berlari menuju dermaga.
Ratusan orang telah berkumpul.
Suasana pelabuhan yang biasanya bising kini dipenuhi bisikan dan wajah-wajah tegang.
Di kejauhan terlihat sebuah kapal kecil memasuki pelabuhan.
Kapal itu tampak rusak parah.
Layarnya compang-camping.
Sebagian lambungnya pecah.
Tiang utamanya patah.
Namun yang membuat semua orang terkejut adalah lambang yang masih terlihat di sisinya.
Lambang armada dagang yang hilang dalam badai.
Li Yuan merasakan napasnya tercekat.
"Itu..."
"Itu salah satu kapal mereka."
"Mustahil."
"Bukankah semuanya tenggelam?"
Bisikan terdengar di mana-mana.
Kapal perlahan merapat.
Para penjaga pelabuhan segera naik ke atas.
Beberapa saat kemudian, mereka membantu tiga orang turun.
Tiga pelaut.
Tiga orang yang selamat.
Kerumunan langsung bergerak maju.
Banyak keluarga mulai memanggil nama anggota keluarga mereka.
Namun ketiga pelaut itu tampak lemah dan kelelahan.
Tubuh mereka kurus.
Kulit mereka terbakar matahari.
Seolah baru kembali dari ujung dunia.
Li Yuan menyusup di antara kerumunan.
Matanya terus mencari.
Mencari wajah ayahnya.
Namun ia tidak menemukannya.
Para penyintas dibawa ke balai pelabuhan.
Pejabat kerajaan segera datang untuk meminta laporan.
Karena Li Yuan masih kecil, ia tidak diizinkan masuk.
Namun ia tidak menyerah.
Ia memanjat peti kayu di dekat jendela belakang.
Dari celah kecil, ia bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
Seorang pejabat duduk di hadapan ketiga pelaut.
"Ceritakan apa yang terjadi."
Pelaut tertua menarik napas panjang.
"Badai datang lebih cepat dari perkiraan."
"Berapa kapal yang berada dalam armada?"
"Dua belas."
"Lalu?"
Pria itu menunduk.
"Gelombang pertama memisahkan armada."
Ruangan menjadi hening.
"Kami kehilangan kontak dengan sebagian besar kapal sebelum malam tiba."
"Bagaimana dengan kapal utama?"
Pelaut itu menggeleng.
"Kami tidak melihatnya lagi."
Li Yuan menggenggam bingkai jendela.
Kapal utama.
Tempat ayahnya bekerja.
Pelaut kedua mulai berbicara.
"Saat badai mencapai puncaknya, kami hampir tenggelam."
"Bagaimana kalian bertahan?"
"Kami membuang sebagian besar muatan."
Pejabat mengangguk.
"Itu keputusan yang benar."
"Kami juga memotong tiang depan agar kapal tidak terbalik."
Pria itu terdiam sesaat.
Wajahnya pucat saat mengingat kejadian tersebut.
"Aku masih bisa mendengar suara angin malam itu."
Ruangan menjadi sunyi.
"Banyak orang berdoa."
"Banyak yang menangis."
"Banyak yang berpikir mereka tidak akan melihat matahari lagi."
Li Yuan menelan ludah.
Untuk pertama kalinya ia mulai membayangkan apa yang sebenarnya terjadi di tengah badai.
Bukan sekadar hujan dan ombak.
Melainkan perjuangan hidup dan mati.
Lalu pelaut ketiga berbicara.
Suaranya pelan.
Namun kata-katanya membuat seluruh ruangan terdiam.
"Aku melihat kapal utama."
Pejabat segera menoleh.
"Kapan?"
"Sesaat sebelum kami kehilangan kendali."
"Apakah kapal itu tenggelam?"
Pelaut itu menggeleng.
"Aku tidak tahu."
"Apa maksudmu?"
"Aku melihatnya menghilang."
Ruangan hening.
"Menghilang?"
"Ya."
Pejabat mengernyit.
"Jelaskan."
Pelaut itu memejamkan mata seolah mencoba mengingat.
"Malam itu hujan sangat deras."
"Kabut laut muncul."
"Gelombang sangat tinggi."
"Aku berada di dek ketika kilat menyambar."
Lalu ia menarik napas panjang.
"Saat cahaya kilat menerangi laut, aku melihat kapal utama berada tidak jauh dari kami."
"Dan?"
"Detik berikutnya kapal itu tertelan kabut."
"Setelah itu aku tidak pernah melihatnya lagi."
Pejabat tampak tidak puas.
"Itu bukan penjelasan."
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
"Tidak mungkin kapal menghilang begitu saja."
Pelaut itu mengangguk.
"Aku tahu."
"Tapi itulah yang terjadi."
Di luar jendela, Li Yuan merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
Menghilang?
Apa maksudnya?
Hari itu, seluruh pelabuhan dipenuhi rumor.
Ada yang mengatakan kapal utama tenggelam.
Ada yang mengatakan terbawa arus ke selatan.
Ada yang percaya kapal itu terdampar di pulau terpencil.
Bahkan ada yang menganggap kapal tersebut memasuki wilayah laut terlarang yang sering diceritakan dalam legenda para pelaut.
Li Yuan mendengar semua cerita itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak badai terjadi, secercah harapan muncul kembali.
Jika kapal itu tidak ditemukan.
Jika tidak ada bukti kapal tenggelam.
Maka masih ada kemungkinan.
Kemungkinan kecil.
Tetapi tetap ada.
Malam itu ia tidak bisa tidur.
Ia kembali naik ke atap rumah.
Langit cerah.
Bintang-bintang bersinar terang.
Di tangannya terdapat sebuah benda kecil.
Kompas tua milik ayahnya.
Satu-satunya benda yang tersisa.
Kompas itu sebenarnya sederhana.
Terbuat dari kayu dan logam.
Namun bagi Li Yuan, benda itu lebih berharga daripada emas.
Karena ayahnya selalu membawanya saat berlayar.
Ia membuka tutup kompas perlahan.
Jarumnya bergerak.
Lalu berhenti menunjuk ke arah utara.
Sama seperti biasanya.
Tetap tenang.
Tetap pasti.
Sama seperti Bintang Utara.
Li Yuan memandangi benda itu lama.
"Ayah..."
anginnya membawa bisikannya ke laut.
"Kalau Ayah masih hidup..."
"Aku akan menemukan Ayah."
Ia tahu janji itu terdengar mustahil.
Seorang anak sembilan tahun.
Mencari seseorang di lautan yang begitu luas.
Namun ia tidak peduli.
Karena janji itu memberinya alasan untuk terus maju.
Keesokan harinya, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Saat sedang membantu ibunya di warung, seorang pria tua datang.
Li Yuan langsung mengenalinya.
Pelaut tua yang pernah menunjukkan peta laut beberapa bulan lalu.
Pria itu duduk di meja yang sama.
Memesan teh hangat.
Dan kali ini membawa gulungan peta yang lebih besar.
"Kau masih ingin menjadi laksamana?"
tanyanya.
Li Yuan mengangguk tanpa ragu.
"Lebih dari sebelumnya."
Pelaut tua itu tersenyum tipis.
"Aku menduga begitu."
Ia lalu mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
Sebuah buku tua.
Sampulnya sudah usang.
Pinggirannya menguning.
"Apa ini?"
"Buku navigasi."
Mata Li Yuan membesar.
"Untukku?"
"Pinjaman."
"Kenapa?"
Pelaut tua menatapnya lama.
Karena aku melihat sesuatu dalam dirimu."
"Apa?"
"Keinginan untuk mencari jawaban."
Li Yuan memegang buku itu dengan hati-hati.
Seolah sedang memegang harta karun.
Pria tua itu berdiri.
"Jika kau sungguh ingin memahami laut..."
Ia menunjuk buku tersebut.
"Mulailah dari sana."
"Lalu bagaimana kalau aku tidak mengerti?"
"Pelajari."
"Kalau gagal?"
"Pelajari lagi."
"Kalau masih gagal?"
Pelaut tua tersenyum.
"Pelaut terbaik bukanlah orang yang tidak pernah gagal."
"Melainkan orang yang selalu kembali belajar setelah gagal."
---
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam, Li Yuan membuka halaman pertama buku navigasi tersebut.
Di dalamnya terdapat gambar bintang.
Peta arus laut.
Arah angin.
Dan catatan perjalanan dari berbagai wilayah.
Dunia yang selama ini hanya ia bayangkan perlahan mulai terbuka di hadapannya.
Tanpa ia sadari, langkah pertama menuju takdirnya telah dimulai.
Bukan di atas kapal.
Bukan di tengah lautan.
Melainkan di sebuah meja kayu sederhana.
Dengan sebuah buku tua di tangannya.
Dan sebuah tekad yang semakin kuat di dalam hatinya.
Di luar rumah, ombak terus memukul pantai.
Seolah memanggil namanya.
Mengundangnya menuju perjalanan panjang yang suatu hari akan mengubah sejarah lautan.
