Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Perjalanan ke Ibu Kota

Keesokan pagi, kabut masih menyelimuti Pelabuhan Naga ketika kapal utusan kekaisaran bersiap meninggalkan dermaga.

Li Yuan berdiri di ujung pelabuhan sambil memegang kompas kuningan pemberian Xu Liang.

Ia melihat kapal itu perlahan menjauh.

Layar putihnya mengembang tertiup angin.

Panji naga emas berkibar gagah di puncak tiang utama.

Xu Liang berdiri di geladak belakang.

Meski jarak mereka semakin jauh, pria tua itu masih sempat mengangkat tangan sebagai salam perpisahan.

Li Yuan membalas lambaian tersebut.

Sampai akhirnya kapal itu menghilang di balik kabut pagi.

Entah mengapa, pertemuan singkat itu meninggalkan kesan yang sangat mendalam.

Seolah sebuah pintu baru telah terbuka dalam hidupnya.

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa.

Li Yuan membantu ibunya di warung.

Membantu buruh pelabuhan mengangkat barang.

Dan setiap malam mempelajari buku navigasi yang dipinjamkan pelaut tua misterius.

Namun sesuatu mulai berubah.

Kompas kuningan itu seolah menjadi pengingat bahwa dunia jauh lebih besar daripada Pelabuhan Naga.

Ketika ia membuka buku navigasi, ia tidak lagi sekadar membayangkan lautan.

Ia mulai membayangkan dirinya berada di atas kapal.

Menghadapi badai.

Menjelajahi pulau-pulau asing.

Mencari jalur yang belum pernah ditemukan.

Kadang-kadang ia juga membayangkan ayahnya.

Masih hidup di suatu tempat.

Menunggu untuk ditemukan.

Harapan itu memang kecil.

Tetapi belum sepenuhnya padam.

Dua minggu setelah keberangkatan Xu Liang, musim dingin tiba sepenuhnya.

Pagi itu, Li Yuan sedang membantu ibunya membersihkan meja ketika suara ketukan terdengar dari luar.

Tok.

Tok.

Tok.

"Silakan masuk," kata Mei Hua.

Pintu terbuka.

Seorang pria berpakaian resmi berdiri di depan.

Jubahnya menunjukkan bahwa ia adalah pegawai pemerintahan.

Di belakangnya terdapat dua penjaga.

Mei Hua tampak terkejut.

"Apakah ada yang bisa saya bantu?"

Pria itu membungkuk sopan.

"Apakah ini rumah Mei Hua?"

"Benar."

"Dan apakah Li Yuan tinggal di sini?"

Mendengar namanya disebut, Li Yuan segera mendekat.

"Aku Li Yuan."

Pria itu memperhatikannya beberapa saat.

Lalu mengeluarkan sebuah gulungan bersegel.

Segel naga emas terlihat jelas di permukaannya.

Mei Hua langsung pucat.

Segel seperti itu hanya digunakan oleh pejabat tinggi kekaisaran.

Pria tersebut membuka gulungan itu dengan hati-hati.

Kemudian mulai membaca.

"Atas rekomendasi Yang Mulia Penasehat Kekaisaran Xu Liang, anak bernama Li Yuan dari Pelabuhan Naga diperintahkan untuk mengikuti ujian khusus di Akademi Istana Tianlong."

Ruangan mendadak sunyi.

Li Yuan mengedipkan mata.

Ia yakin dirinya salah dengar.

"Akademi Istana?"

Pria itu mengangguk.

"Benar."

Mei Hua bahkan tampak lebih terkejut.

"Itu akademi untuk anak-anak bangsawan."

"Dan juga untuk anak-anak berbakat yang direkomendasikan oleh kekaisaran."

Li Yuan merasa jantungnya berdetak sangat cepat.

Xu Liang.

Jadi pria tua itu benar-benar orang penting.

Setelah utusan pergi, rumah kecil mereka tetap sunyi untuk waktu yang lama.

Li Yuan dan ibunya saling memandang.

Seolah keduanya masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

Akhirnya Mei Hua berbicara.

"Kau ingin pergi?"

Pertanyaan itu sederhana.

Namun Li Yuan tahu jawabannya akan mengubah hidup mereka.

"Aku..."

Ia terdiam.

Selama ini ia selalu bermimpi menjelajahi dunia.

Belajar tentang laut.

Menjadi laksamana.

Kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali.

Tetapi itu juga berarti meninggalkan rumah.

Meninggalkan ibunya.

Meninggalkan Pelabuhan Naga.

Tempat yang menjadi seluruh dunianya selama sembilan tahun.

"Aku tidak tahu."

Mei Hua tersenyum tipis.

"Itu jawaban yang jujur."

"Apa Ibu ingin aku pergi?"

Pertanyaan itu membuat Mei Hua terdiam.

Sebagai seorang ibu, tentu ia ingin putranya tetap berada di sisinya.

Tetapi sebagai seorang ibu pula, ia tahu bahwa anak tidak bisa selamanya tinggal dalam pelukan orang tuanya.

Terlebih anak seperti Li Yuan.

Anak yang selalu memandang cakrawala.

Anak yang sejak kecil bermimpi menyeberangi lautan.

"Aku ingin kau memilih sendiri."

Li Yuan menunduk.

Pilihan itu terasa berat.

Sangat berat.

Malam itu ia tidak bisa tidur.

Ia kembali naik ke atap rumah.

Sama seperti kebiasaannya.

Langit musim dingin tampak sangat jernih.

Bintang Utara bersinar terang.

Li Yuan membuka kompas kuningan di tangannya.

Jarumnya bergerak perlahan.

Lalu berhenti.

Selalu menunjuk arah yang sama.

Utara.

Ibu kota Tianlong berada di utara.

Tempat yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita.

Tempat tinggal Kaisar.

Tempat berkumpulnya orang-orang paling cerdas di kekaisaran.

Tempat di mana mungkin ia bisa belajar lebih banyak tentang laut daripada siapa pun di Pelabuhan Naga.

Namun semakin ia memikirkannya, semakin muncul rasa takut.

Bagaimana jika ia gagal?

Bagaimana jika ia tidak cukup pintar?

Bagaimana jika semua orang di sana menertawakannya?

Ia hanyalah anak pelabuhan.

Bukan anak bangsawan.

Bukan putra pejabat.

Hanya anak seorang pelaut yang hilang di laut.

Saat itulah sebuah suara muncul dalam ingatannya.

"Pelaut terbaik bukanlah orang yang tidak pernah gagal."

"Melainkan orang yang selalu kembali belajar setelah gagal."

Itu kata-kata pelaut tua yang memberinya buku navigasi.

Lalu ia teringat perkataan Xu Liang.

"Teruslah belajar."

Dan tiba-tiba ia memahami sesuatu.

Ia mungkin gagal.

Ia mungkin ditertawakan.

Ia mungkin melakukan banyak kesalahan.

Tetapi jika ia tidak pergi, ia tidak akan pernah tahu.

Keesokan paginya, Li Yuan menemui ibunya.

Mei Hua sedang menyiapkan makanan.

"Ibu."

"Ya?"

"Aku sudah memutuskan."

Perempuan itu menghentikan pekerjaannya.

"Dan?"

Li Yuan menarik napas panjang.

"Aku ingin pergi ke ibu kota."

Ruangan menjadi sunyi.

Beberapa saat kemudian, Mei Hua tersenyum.

Meskipun matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku sudah menduga."

Li Yuan menunduk.

"Ibu marah?"

"Tidak."

"Sedih?"

"Sedikit."

"Kalau begitu..."

Mei Hua berjalan mendekat lalu mengusap kepalanya.

"Aku bangga."

Li Yuan terdiam.

Untuk sesaat ia merasa ingin menangis.

Namun ia menahan diri.

Persiapan keberangkatan segera dimulai.

Akademi mengirim pemberitahuan bahwa rombongan akan berangkat dalam tiga minggu.

Tiga minggu.

Waktu yang terasa sangat singkat.

Penduduk pelabuhan mulai mendengar kabar tersebut.

Banyak yang datang memberi selamat.

Bahkan Zhao Ming, pedagang tua yang sering mempekerjakannya, tampak terkejut.

"Jadi kau benar-benar akan pergi."

Li Yuan mengangguk.

"Ya."

Zhao Ming tertawa.

"Dulu kau bilang ingin menjadi laksamana."

"Aku masih ingin."

"Lalu sekarang kau akan belajar di akademi istana."

Pria tua itu menggeleng.

"Hidup memang aneh."

Malam sebelum keberangkatan, seluruh pelabuhan seolah terasa berbeda.

Li Yuan berjalan menyusuri dermaga.

Melewati tempat-tempat yang dikenalnya sejak kecil.

Gudang tua.

Pasar ikan.

Warung-warung kecil.

Dermaga tempat ia biasa duduk menunggu ayahnya.

Setiap sudut menyimpan kenangan.

Ia berhenti di ujung pelabuhan.

Angin malam bertiup pelan.

Ombak bergerak tenang.

Untuk pertama kalinya sejak ayahnya hilang, ia merasa damai.

Karena kini ia memiliki tujuan yang jelas.

Pagi keberangkatan tiba.

Pelabuhan dipenuhi aktivitas.

Sebuah kapal sungai besar telah menunggu.

Kapal itu akan membawa para peserta menuju ibu kota melalui jalur air utama kekaisaran.

Mei Hua membantu menyiapkan barang-barangnya.

Tidak banyak.

Hanya beberapa pakaian.

Buku navigasi.

Kompas kuningan.

Dan kompas tua milik ayahnya.

Saat semua siap, mereka berjalan menuju dermaga.

Langkah Li Yuan terasa berat.

Bukan karena barang bawaannya.

Melainkan karena perpisahan yang semakin dekat.

Di depan kapal, mereka berhenti.

Para penumpang lain mulai naik.

Awak kapal memeriksa daftar nama.

Li Yuan menatap ibunya.

Mencoba mengingat wajahnya sebaik mungkin.

Karena ia tahu.

Mungkin akan lama sebelum mereka bertemu lagi.

"Aku akan sering menulis surat."

kata Li Yuan.

Mei Hua tersenyum.

"Aku akan menunggu."

"Aku akan belajar dengan giat."

"Aku percaya."

"Aku akan menjadi seseorang yang hebat."

Mata Mei Hua mulai basah.

"Aku juga percaya."

Li Yuan menggigit bibirnya.

Ia tidak ingin menangis.

Tetapi air mata mulai menggenang.

Lalu ibunya memeluknya.

Pelukan yang hangat.

Pelukan yang penuh cinta.

Pelukan yang membuatnya merasa seperti anak kecil lagi.

"Jangan pernah melupakan siapa dirimu."

bisik Mei Hua.

"Aku tidak akan lupa."

"Dan jangan pernah menyerah."

Li Yuan mengangguk.

"Aku janji."

Tak lama kemudian, lonceng keberangkatan berbunyi.

Awak kapal mulai memanggil penumpang.

Saatnya berangkat.

Li Yuan melepaskan pelukan ibunya.

Lalu melangkah menuju kapal.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga langkah.

Ia tidak berani menoleh.

Karena takut akan berubah pikiran.

Namun ketika sudah berada di atas geladak, ia akhirnya menoleh.

Ibunya masih berdiri di dermaga.

Melambaikan tangan.

Tersenyum meskipun air mata mengalir di pipinya.

Li Yuan membalas lambaian itu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia meninggalkan Pelabuhan Naga.

Tempat kelahirannya.

Tempat semua mimpinya dimulai.

Di depan sana terbentang perjalanan panjang menuju ibu kota.

Perjalanan yang akan membawanya memasuki dunia baru.

Dunia yang penuh tantangan.

Persaingan.

Rahasia.

Dan takdir yang belum ia ketahui.

Sementara kapal perlahan bergerak meninggalkan pelabuhan, Li Yuan berdiri di geladak sambil memandang cakrawala.

Ia tidak tahu apa yang menantinya.

Namun satu hal sudah pasti.

Hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel