Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Badai yang Mengubah Segalanya

Musim panas perlahan berlalu.

Sejak keberangkatan ayahnya, Li Yuan mulai menghitung hari dengan cara sederhana. Setiap pagi ia membuat satu garis kecil di dinding belakang rumah menggunakan arang.

Satu hari.

Dua hari.

Sepuluh hari.

Dua puluh hari.

Waktu berjalan lambat bagi seorang anak yang menunggu.

Setiap kali melihat kapal memasuki Pelabuhan Naga, ia berlari menuju dermaga dengan harapan melihat sosok ayahnya berdiri di atas geladak.

Namun setiap kali pula ia pulang dengan tangan kosong.

"Jangan khawatir," kata ibunya suatu sore.

Mereka sedang menata meja-meja warung setelah para pelanggan pergi.

"Perjalanan laut memang lama."

Li Yuan mengangguk.

"Aku tahu."

Tetapi wajahnya tetap murung.

Mei Hua tersenyum lembut.

"Ayahmu telah mengarungi laut sejak sebelum kau lahir."

"Tapi aku tetap merindukannya."

"Itu wajar."

Li Yuan terdiam.

Sebenarnya bukan hanya rasa rindu yang mengganggunya.

Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Perasaan bahwa sesuatu sedang berubah.

Pelabuhan masih sama.

Pasar masih ramai.

Kapal masih datang dan pergi.

Namun entah mengapa, ia merasa dunia menjadi lebih sunyi tanpa ayahnya.

Malam itu hujan turun.

Awalnya hanya gerimis.

Namun menjelang tengah malam, hujan berubah menjadi deras.

Angin bertiup kencang dari arah laut.

Suara ombak menghantam pantai terdengar hingga ke dalam rumah.

Li Yuan terbangun.

Ia duduk di tempat tidurnya dan mendengarkan suara badai.

Angin meraung seperti binatang buas.

Atap rumah berderit.

Jendela bergetar.

Ia melihat ibunya menutup pintu dan mengikatnya dengan tali tambahan.

"Besarkah badai ini?" tanya Li Yuan.

Mei Hua melirik ke luar.

Wajahnya tampak cemas.

"Lebih besar dari biasanya."

"Ayah aman, kan?"

Ibunya tidak langsung menjawab.

"Itu kapal yang kuat."

"Tapi aman?"

Mei Hua memaksakan senyum.

"Tentu."

Meski demikian, ia sendiri tidak yakin.

Para pelaut selalu menghormati laut.

Karena mereka tahu satu kenyataan.

Laut bisa memberi kehidupan.

Tetapi laut juga bisa mengambilnya kapan saja.

Keesokan harinya badai belum mereda.

Langit gelap.

Angin semakin kuat.

Banyak kapal yang biasanya berlayar memilih tetap berlabuh.

Para nelayan tidak berani melaut.

Di pelabuhan, orang-orang mulai berkumpul untuk mengamati kondisi laut.

Li Yuan ikut berdiri di antara mereka.

Ombak raksasa terlihat menghantam batu karang di kejauhan.

Air laut memercik tinggi ke udara.

Beberapa kapal kecil terpaksa ditarik lebih jauh ke daratan agar tidak rusak.

"Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat badai sebesar ini."

Seorang pelaut tua bergumam.

Yang lain mengangguk.

"Angin timur dan angin selatan bertemu."

"Itu pertanda buruk."

Li Yuan mendengar percakapan mereka.

Dadanya terasa sesak.

Kapal ayahnya sedang berada di laut.

Jauh dari pelabuhan.

Jauh dari perlindungan.

Ia mencoba mengusir pikiran buruk.

Ayahnya berpengalaman.

Ayahnya kuat.

Ayahnya pasti baik-baik saja.

Ia terus mengulang kalimat itu di dalam hati.

Hari kedua.

Badai masih berlangsung.

Hari ketiga.

Belum juga berhenti.

Hari keempat.

Beberapa bangunan di tepi pantai rusak diterjang angin.

Pohon-pohon tumbang.

Gudang penyimpanan roboh.

Bahkan kapal-kapal besar yang sedang berlabuh ikut bergoyang hebat.

Penduduk mulai khawatir.

Anak-anak dilarang keluar rumah.

Pasar tutup lebih awal.

Suasana Pelabuhan Naga yang biasanya ramai berubah muram.

Pada malam keempat, Li Yuan tidak bisa tidur.

Ia duduk dekat jendela sambil menatap laut yang nyaris tak terlihat dalam kegelapan.

Tiba-tiba sebuah kilat besar membelah langit.

Untuk sesaat lautan tampak jelas.

Gelombang-gelombang raksasa bergerak seperti gunung yang hidup.

Li Yuan merasakan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Bukan takut pada badai.

Melainkan takut kehilangan.

Pagi hari kelima.

Angin akhirnya mulai melemah.

Hujan berubah menjadi gerimis.

Langit perlahan terang.

Orang-orang keluar dari rumah.

Mereka memeriksa kerusakan yang ditinggalkan badai.

Pelabuhan dipenuhi puing-puing.

Tali kapal putus.

Dermaga rusak.

Beberapa perahu kecil hancur.

Namun yang paling membuat semua orang cemas adalah nasib kapal-kapal yang sedang berada di laut saat badai datang.

Termasuk armada dagang tempat Li Wen berlayar.

Hari itu tidak ada kabar.

Hari berikutnya juga tidak ada.

Seminggu berlalu.

Masih tidak ada kabar.

Semakin banyak keluarga mulai gelisah.

Wajah-wajah khawatir terlihat di seluruh pelabuhan.

Setiap kali kapal muncul di cakrawala, orang-orang berlari menuju dermaga.

Namun sebagian besar kapal yang datang berasal dari jalur perdagangan lain.

Bukan kapal yang mereka tunggu.

Dua minggu setelah badai.

Sebuah kapal patroli kerajaan memasuki pelabuhan.

Suasananya berbeda.

Tidak ada sorak gembira.

Tidak ada bendera kemenangan.

Yang ada hanyalah keheningan.

Para pejabat segera turun dari kapal.

Mereka membawa beberapa peti kayu dan gulungan laporan.

Wajah mereka tampak suram.

Li Yuan sedang membantu ibunya ketika berita itu menyebar.

"Kapal pencari telah kembali!"

Ia langsung berlari ke dermaga.

Ratusan orang sudah berkumpul.

Para keluarga pelaut menunggu dengan cemas.

Seorang pejabat berdiri di atas peti kayu.

Di tangannya terdapat daftar nama.

Suara pria itu berat.

"Kami telah menemukan jejak armada dagang yang berangkat sebelum badai."

Kerumunan langsung hening.

"Kami menemukan puing-puing kapal di Laut Timur."

Beberapa orang mulai menangis.

Li Yuan menggenggam tangannya erat.

"Tidak semua kapal berhasil ditemukan."

Suara pejabat itu terdengar semakin jauh di telinganya.

"Sebagian besar diyakini tenggelam saat badai besar."

Tidak.

Tidak mungkin.

Li Yuan menolak mempercayainya.

Pejabat itu mulai membacakan nama-nama awak kapal yang diperkirakan hilang.

Satu nama demi satu nama.

Tangisan mulai terdengar.

Lalu...

"Li Wen."

Dunia seolah berhenti.

Li Yuan tidak mendengar nama berikutnya.

Tidak mendengar suara ombak.

Tidak mendengar tangisan.

Semuanya menghilang.

Yang tersisa hanya satu nama.

Li Wen.

Ayahnya.

"Li Yuan!"

Suara ibunya terdengar jauh.

Anak itu berdiri membeku.

Pandangannya kosong.

Tidak.

Ayahnya berjanji akan kembali.

Ayahnya selalu menepati janji.

Ayahnya tidak mungkin hilang.

Tidak mungkin.

Ia berlari.

Meninggalkan kerumunan.

Meninggalkan dermaga.

Meninggalkan semua suara.

Ia berlari tanpa tujuan.

Melewati pasar.

Melewati gudang.

Melewati jalan-jalan sempit.

Sampai akhirnya tiba di tebing kecil yang menghadap laut.

Napasnya terengah-engah.

Air mata mengalir tanpa ia sadari.

Ia memandang cakrawala.

Laut tampak tenang.

Seolah badai tidak pernah terjadi.

Seolah tidak pernah mengambil apa pun.

"Pembohong..."

suaranya bergetar.

"Pembohong..."

Ia teringat kata-kata ayahnya.

Aku akan kembali.

Namun ayahnya tidak kembali.

Yang pulang hanyalah kabar buruk.

Li Yuan berlutut.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa begitu kecil.

Begitu lemah.

Begitu tidak berdaya.

Matahari mulai tenggelam ketika seseorang datang mendekat.

Itu ibunya.

Mei Hua duduk di sampingnya.

Mereka tidak berbicara untuk waktu yang lama.

Hanya memandangi laut.

Akhirnya Li Yuan berkata pelan.

"Ayah sudah pergi?"

Ibunya menahan air mata.

"Kita belum menemukan tubuhnya."

"Itu berarti mungkin dia masih hidup."

Mei Hua menutup mata.

Kalimat itu menghancurkan hatinya.

Karena ia tahu kemungkinan itu sangat kecil.

Namun ia tidak sanggup menghancurkan harapan putranya.

"Mungkin."

Li Yuan memandang cakrawala.

"Mungkin dia sedang berusaha pulang."

Mei Hua menggenggam tangan anaknya.

"Mungkin."

Keduanya duduk dalam diam.

Di hadapan mereka terbentang lautan yang luas.

Laut yang selama ini mereka cintai.

Laut yang memberi makan keluarga mereka.

Dan laut yang kini telah mengambil orang yang paling mereka sayangi.

Hari-hari berikutnya menjadi masa tersulit dalam hidup mereka.

Warung mulai sepi.

Pendapatan berkurang.

Banyak keluarga pelaut mengalami nasib yang sama.

Beberapa kehilangan suami.

Beberapa kehilangan ayah.

Pelabuhan yang biasanya penuh semangat kini dipenuhi kesedihan.

Li Yuan berubah.

Ia tidak lagi berlari-lari di dermaga.

Tidak lagi banyak berbicara.

Tidak lagi memamerkan mimpinya kepada orang lain.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Setiap sore ia tetap datang ke ujung dermaga.

Ia duduk di sana hingga matahari terbenam.

Menatap laut.

Menunggu.

Meski jauh di dalam hatinya ia tahu.

Mungkin ayahnya tidak akan pernah kembali.

Suatu senja, ketika langit berwarna merah keemasan, Li Yuan berdiri dan menatap cakrawala.

Air matanya sudah kering.

Kesedihannya belum hilang.

Namun sesuatu mulai tumbuh di dalam dirinya.

Tekad.

Jika laut telah merenggut ayahnya...

Maka suatu hari ia akan memahami laut lebih baik daripada siapa pun.

Ia akan mempelajari angin.

Arus.

Bintang.

Peta.

Semua yang diperlukan agar tidak ada lagi keluarga yang kehilangan orang yang mereka cintai karena ketidaktahuan.

Dan pada hari itu, untuk pertama kalinya sejak badai berlalu, Li Yuan mengucapkan sebuah janji.

Bukan kepada siapa pun.

Bukan kepada kaisar.

Bukan kepada dunia.

Melainkan kepada dirinya sendiri.

"Aku akan menjadi laksamana."

"Aku akan menguasai lautan."

"Dan aku akan menemukan jawaban yang tidak sempat Ayah bawa pulang."

Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam.

Meninggalkan cahaya merah di atas samudra.

Sebuah akhir.

Dan sekaligus awal dari perjalanan panjang yang akan mengubah takdir seorang anak pelabuhan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel