Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Rumah

Rumah ini benar-benar menipu!

Daniel tercengang begitu menyadari bangunan seperti apa yang dimasukinya. Dari luar terlihat seperti rumah biasa. Bergaya koppel dengan dominasi warna putih dan oranye tua, rumah ini memunculkan sensasi kehangatan. Dinding lengkungnya yang khas bergaya Edwardian dengan jendela-jendela klasik benar-benar menampilkan ilusi rumah tinggal yang nyaman.

Nyatanya, begitu Daniel melangkahkan kaki di koridor dia langsung disambut oleh beraneka lukisan yang terbingkai rapi dalam berbagai tipe pigora. Ada yang digantung di dinding dan lebih banyak lagi yang dijejer rapi di lantai kayu mengilap. Berbagai gaya seni tercermin dalam lukisan-lukisan itu.

Daniel serasa diseret menuju lorong seni yang sempit namun kaya akan talenta. Matanya dimanjakan dengan berbagai hasil tangan bergaya abstrak, natural, surealis, dan entah gaya apalagi. Dia bukan seorang kurator lukisan, tapi berhadapan dengan berbagai karya seni indah ini jiwanya seolah tersiram keberkahan era Victoria.

Daniel langsung menyadari perbedaan di rumah ini. Penampakan koridor dalam rumah sangat berbeda dengan fasad bangunan yang sama sekali tak ada mirip-miripnya dengan galeri seni. Jika di luar tampak senyaman hunian mewah, menjejakkan kaki di dalam serasa memasuki lorong sebuah pameran lukisan.

Langkahnya terhenti di salah satu lukisan. Mata tajamnya menyipit memperhatikan karya seni artistik di hadapannya dengan seksama. Benda itu adalah sebuah gambaran pemandangan yang sangat eksotis.

Jiwanya bagai dibawa ke kesejukan alam dengan deburan air terjun yang tampak nyata. Kolam jernih dengan bebatuan besar dan dikelilingi tanaman pakis liar serta bunga-bunga beraneka warna yang terasa asing di matanya. Sementara gerombolan pepohonan yang rapat mengilustrasikan hutan nan indah di tepi air terjun.

Sayang, Daniel tak bisa meraba lukisan itu. Hasil karya penuh estetika di depannya dibingkai oleh kayu hitam dan dilapisi kaca tebal. Seolah membentengi diri dari sentuhan-sentuhan yang tak diinginkan. Daniel tahu nilai sebuah seni memang tidak untuk dijamah, tapi untuk dinikmati.

"Kamu suka?" Natalie tiba-tiba berdiri di samping Daniel.

Daniel memiringkan kepala. Perhatiannya tertuju lurus ke obyek seni di depannya. Mata hijaunya masih mengamati lukisan itu. "Lukisan ini mengajakku untuk berlibur."

"Oh ya?" Natalie ikut memelototi lukisan di hadapannya. Dia manggut-manggut. Decakan kecil meluncur mulus dari bibirnya.

"Kenapa?" Daniel keheranan.

Natalie menggeleng. Senyumnya terukir lebar. Tangannya bersedekap depan dada. Tonjolan payudara lembut terangkat akibat gerakan tangannya. Sepertinya wanita itu tidak menyadari efek gestur tubuhnya pada lelaki di hadapannya. Mata Daniel menggelap menyadari dada membusung indah yang tak mampu ditutupi bahan kaus.

"Aku sangat percaya bahwa potongan kertas mampu membuat jiwa seseorang tersentuh. Dan, sudah terbukti padamu," Nat terkekeh. "Sepertinya aku tak akan menjual lukisan ini."

"Potongan kertas?" Daniel mengerjap, mengembalikan fokusnya yang terdistraksi oleh keindahan tubuh gadis di hadapannya. Dia membeo bingung. "Menjualnya?"

Tawa kecil Natalie terdengar lagi. Jempolnya terarah ke satu bagian di dalam rumah.

"Oh, aku punya toko suvenir kecil di bagian depan rumah. Kamu lihat ruangan yang gelap itu? Itu adalah tokoku. Well, lukisan ini salah satu benda yang kujual dan sejujurnya aku cukup senang menjadikannya koleksi pribadiku daripada memajangnya di etalase."

"Kamu pemilik toko suvenir?" Daniel ternganga kaget.

Natalie mengangguk mantap. "Hanya toko kecil, tapi sangat bisa kuandalkan untuk bertahan hidup. Biaya kuliahku juga tersokong dari sana. Ah, aku bicara melantur."

Gadis itu tersipu malu. Dia mengusap belakang leher dan buru-buru mengalihkan pandangan. "Ngomong-ngomong apakah kamu percaya bahwa lukisan ini adalah sebuah montase?"

"Montase?" Lagi-lagi Daniel membeo.

"Ya, montase. Itu kumpulan gambar yang dipilih dan diatur dari berbagai unsur untuk menghasilkan karya baru. Coba tebak, dari apakah lukisan ini."

Daniel ternganga. Spontan memajukan tubuhnya mengamati lebih jelas obyek indah di depannya. Terlapisi kaca tebal, Daniel tak bisa memastikan akurasi pernyataan Natalie. Namun, sedikit kelopek di tengah obyek lukisan mulai meyakinkan Daniel. Dia tercengang saat menyadari bahwa kelopek itu adalah bagian dari sepotong logo dari kaleng ....

"Sarden?" Lelaki itu berseru tak percaya.

"Aku sangat senang menebak-nebak dari bekas apa saja tiap bagian yang menyusun lukisan ini." Natalie mengangguk. Sorot mata gadis itu berbinar-binar. Tampak jelas dia mencintai aktivitas yang melibatkan olah rasa dan batin.

"Kamu membuatnya sendiri?" Daniel menunjuk lukisan - ralat montase - di dinding.

"Oh, tidak. Tokoku sering mendapat titipan barang-barang dari beberapa seniman. Montase ini hasil karya seorang mahasiswa seni di kampusku."

Daniel nyaris melupakan latar belakang akademis gadis ini. Sebuah kesadaran melintas di benaknya. Gadis ini adalah mahasiswi seni. Itu sedikit menjelaskan alasan keberadaan toko suvenir di salah satu bagian rumahnya. Daniel menjadi penasaran melihat hasil karya Natalie yang sesungguhnya. Dia penasaran apakah gadis itu suka melukis atau mengembangkan bakatnya di bidang seni yang lain. Patung mungkin, atau bahkan musik.

Rasa penasaran Daniel terpaksa harus dipendam karena Natalie sudah menarik tangannya. Daniel termangu memandang tangan besarnya yang digenggam oleh tangan mungil Natalie.

Pikirannya kembali kosong. Entah bagaimana caranya seolah tiap sentuhan Natalie memiliki pengaruh luar biasa besar padanya. Seperti medan magnet yang memiliki daya tarik-menarik kuat, seperti itulah efek Natalie pada hati Daniel. Lelaki itu terus memandang genggaman tangannya hingga tak menyadari di mana dia berada sekarang.

"Duduklah." Natalie menunjuk kursi kayu tinggi yang tepat ada di depan meja kayu dengan material serupa.

Daniel mendongak. Dia masih belum rela melepaskan tangan Natalie. Matanya memandang kursi yang berhadapan langsung dengan konter-konter dapur. Barulah dia sadar di mana dirinya berada sekarang.

Dapur yang sangat cantik. Daniel berkomentar dalam hati saat melihat ornamen khas wanita menghiasi nyaris seluruh sudut ruangan berukuran empat kali empat meter ini. Tak ada panci-panci atau wajan berbahan baja anti karat yang tergantung rapi. Bahkan nyaris tak ada peralatan memasak di dapur ini yang terlihat kasat mata, kecuali teko besar bergaya kuno yang tergeletak di atas kompor.

Piring-piring keramik dan cangkir-cangkir porselen tertata rapi di salah satu sudut meja dapur, tepat berada di sebelah kulkas klasik bergaya tahun 80-an. Dahi Daniel berkerut melihat si kulkas, sangsi apakah barang elektronik itu masih berfungsi dengan baik.

"Aku tak punya banyak bahan makanan." Natalie mengumumkan.

Daniel menoleh. Rasa gelinya muncul mendengar gadis itu memberitahunya tentang persediaan bahan makanan di rumah ini. Dia hampir kelepasan tertawa.

Ya Tuhan, gadis ini sangat lucu. Jika dia tak punya makanan untuk disajikan, lalu kenapa dia menawarinya makan malam?

"Tapi aku bisa membuat omelette untuk kita. Kuharap itu cukup mengenyangkan." Natalie menutup pengumumannya.

Omelette untuk makan malam masih lebih baik daripada tidak makan sama sekali. Daniel duduk di kursi dapur dan mulai menonton pertunjukan menghibur dari sang gadis pencuri hatinya.

Terbukti Natalie memang penguasa tempat ini. Gerakannya lincah dan gesit saat menyiapkan makan malam. Seolah dia sudah terbiasa dengan aktivitas memasak. Hal yang membuat Daniel sedikit terkejut mengingat referensinya tentang wanita yang hobi memasak di dapur sangatlah sedikit.

Kolega wanitanya di kantor nyaris tak pernah menginjakkan kaki di dapur. Mereka bahkan pemuja setia makanan di restoran atau gerai. Beberapa wanita yang pernah dekat dengannya jelas lebih menguasai komposisi cat kuku untuk sesi manikur mereka ketimbang jenis bumbu dapur. Lelaki itu meragukan mereka hafal jenis bumbu dapur. Berbeda dengan gadis di hadapannya yang bergerak sangat alamiah di dapurnya sendiri.

Diamatinya tangan halus Natalie yang tengah mengambil keju dan sosis dari kulkas - sekarang Daniel yakin bahwa kulkas itu masih berfungsi dengan baik, mengeluarkan mangkok dan wajan dari konter di bawah kompor - Daniel akhirnya mengetahui ke mana seluruh perabotan dapur menghilang - dan mulai memasak.

Pandangan Daniel membelai tangan ramping Natalie yang kini sibuk mengiris sosis dan memarut keju, membayangkan bagaimana jika tangan yang ramping itu menyentuh setiap bagian tubuhnya. Daniel bergetar membayangkan imajinasi liar yang menari-nari di benak. Bibirnya tak sadar melengkung ke atas.

Sepasang tangan itu kini meraih mangkuk dan memasukkan seluruh irisan sosis dan parutan keju. Lalu, Natalie mengambil beberapa butir telur dari keranjang rotan dan memecahkannya ke dalam mangkok. Setelahnya dia meraih whisk dan mengocok adonan hingga berbusa. Seluruhnya dilakukan dalam gerakan yang halus dan familier.

Perasaan Daniel bergejolak. Duduk di dapur yang kental dengan nuansa vintage mengingatkannya akan suasana rumah yang nyaman. Semilir angin yang masuk melalui celah jendela yang dibuka turut menenteramkan seluruh indranya. Lebih dari itu, kehadiran seorang gadis yang bukan siapa-siapanya (tapi terasa sudah menjadi apa-apanya hanya dalam waktu beberapa jam saja), menghangatkan hatinya yang telah lama membeku.

"Siapa kamu?" Daniel tak tahan menyuarakan isi pikirannya.

~~oOo~~

Halo, terima kasih sudah berkenan membaca cerita ini. Kuharap Readers semua. Jangan bosan meninggalkan komentar dan vote bintang untukku, ya. ;)

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel