Bab 8 Pengagum
Bab 8 Pengagum
Namjoon mengemasi buku-buku yang berserakan. Dia hendak memasukkannya ke dalam tas saat seseorang menyenggol lengannya keras. Gara-gara senggolan itu, hampir saja dia menjatuhkan laptop di ujung meja.
"Oops ..., maaf, Kawan."
Namjoon mendongak. Geng Andrew, William, dan Harry menyeringai lebar. Lelaki berwajah oriental itu menghela napas panjang. Hatinya bertanya-tanya sejak kapan menjadi kawan trio penyuka vandalisme ini.
"Jika mau merundung, jangan setengah-setengah," komentar Namjoon dingin. Dia bangkit. Tingginya yang mencapai seratus delapan puluh sentimeter sederajat dengan trio di depannya.
Tak ada ekspresi ketakutan atau terintimidasi. Namjoon hanya menatap malas-malasan tiga orang di hadapannya. Meski begitu, tangannya bersiaga di samping tubuh. Dia jarang menerima perlakuan rasis, tapi tetap harus waspada.
"Wow ... wow ... wow .... Jangan marah, Dude. Kami hanya bercanda." William buru-buru bicara. Matanya sempat menangkap bayangan otot-otot kekar di balik kaus longgar yang membungkus tubuh Namjoon.
"Bercandamu hampir membuatku kehilangan ratusan dolar," ujar Namjoon ketus. "Mau ganti rugi jika laptopku jatuh dan rusak?"
"Dasar tak punya selera humor," gerutu Harry. "Kita cabut saja. Dia tak asyik."
"Tunggu, urusanku dengannya belum selesai." Andrew melepaskan tangannya yang digeret oleh Harry. Netra birunya menatap tajam sosok berwajah Asia di hadapannya. Kepala Andrew meneleng. Tangannya bersedekap depan dada dengan sikap provokatif. "Apa menariknya dirimu, sih?"
"Pardon me?" Namjoon mengangkat satu alis bingung.
"Kamu," telunjuk Andrew menusuk dada bidang Namjoon, "hanya lelaki lemah yang berkedok di balik lensa kacamata. Kamu memang kutu buku penipu."
Sudut-sudut bibir Namjoon berkedut. Disingkirkannya jari yang masih menusuk dadanya. Suara lelaki itu sedingin es saat bicara. "Apa masalahmu, Hall?"
Mata Andrew membulat. "Jadi, kamu tahu siapa aku?"
"Tentu saja. Siapa yang tidak tahu Andrew Hall? Pecundang kelas satu di kampus ini?" Satu ujung bibir Namjoon tertarik ke belakang. Dengkusannya mencibir. Dia mulai paham dengan situasinya saat ini.
Mimik muka itu dengan segera memancing emosi Andrew. Lelaki itu melayangkan bogem mentah ke wajah Namjoon. Tubuh kekar Namjoon terbanting ke lantai linoleum. Sepertinya lawan yang diprovokasinya memberikan tinju sepenuh tenaga pada lelaki Asia itu.
Dalam sekejap suasana kafetaria berubah ricuh. Jeritan histeris pengunjung wanita meningkahi suara kursi berantakan akibat tertimpa tubuh Namjoon. Lelaki itu mencecap rasa asin di bibir. Punggung tangannya mengusap kasar.
[Darah!]
Namjoon menyipitkan mata tak suka. Belum sempat bereaksi, dua tangan merenggut ujung kausnya. Andrew menariknya berdiri dan kembali melayangkan pukulan. Kali ini dia menyasar bagian kiri wajah Namjoon.
Jeritan membahana di sekitar melihat Namjoon terpelanting. Lelaki itu menggeram marah. Emosinya tersulut cepat. Dia ingin menahan diri, tapi tindakan Andrew sudah kelewat. Bergegas Namjoon bangkit dan merangsek maju. Tanpa kesulitan ditariknya lengan Andrew dan memuntirnya ke belakang.
"Aku sudah berusaha sabar, Hall," desis Namjoon dingin.
"Le--lepas ...." Andrew merintih kesakitan.
Namjoon mengetatkan puntirannya. Andrew menjerit keras. Tulang bahunya tersengat nyeri tajam. Matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit luar biasa. Lelaki pirang itu sama sekali tak menyangka Namjoon akan membalas dengan mematikan.
"Aku tak punya urusan denganmu. Jika Vela mendekatiku, itu karena kamu tak cukup kuat menahannya," Namjoon berkata di telinga Andrew.
Wajah Andrew memucat. Motifnya ternyata sudah diketahui Namjoon. Ingatan akan pacarnya yang terus-terusan menempel ke lelaki Asia itu kembali menari-nari di benak.
Susah payah dia meluluhkan hati Vela, mahasiswi asal Rusia yang sudah dicintainya sejak tahun pertama kuliah. Hubungan mereka terjalin dua tahun ini. Namun, kehadiran si anak baru bernama Kim Namjoon merusak kemesraannya dengan Vela.
Vela dan namjoon satu kelas di beberapa mata kuliah. Andrew sering terbakar cemburu saat pacarnya menolak kencan dengan dalih mengerjakan tugas di tempat Namjoon. Kecemburuan itu makin menguat saat memergoki Vela keluar dari gedung hunian si lelaki Asia di pagi hari.
"Aku baru tahu perebut pacar orang sebegitu tak tahu malunya." Andrew menyeringai di tengah hunjaman rasa sakit.
Namjoon menggeretakkan gigi. Dia tak suka tuduhan si pirang itu padanya. "Aku tak pernah merebut pacar siapa pun. Vela dan aku hanya berteman."
"Kalian sudah tidur bersama."
Namjoon membeku. Puntirannya di tangan Andrew mengencang. Lelaki itu menjerit keras, tapi Namjoon tak mendengar. Benaknya penuh dengan kejadian di satu malam nahas.
Lamunan Namjoon terputus saat beberapa orang memisahkan mereka. Namjoon dengan muka datar mengamati Andrew yang meludah ke arahnya. Lelaki itu pergi setelah mengeluarkan rentetan sumpah serapah pada Namjoon.
Menghela napas panjang, Namjoon bergerak ke mejanya. Dijejalkannya buku-buku dengan kasar dalam tas, lalu memasukkan laptop serampangan. Tanpa menoleh kanan-kiri, dia langsung keluar kafetaria. Namjoon sadar tengah jadi pusat perhatian orang-orang. Keributan di kafetaria kampus memang cukup keras. Namun, dia tak peduli.
Kakinya berjalan cepat di jalan ber-paving block. Bahunya menyandang ransel sarat isi. Rahang dan pipinya mulai berdenyut nyeri. Lelaki itu paham hasil tinju Andrew akan menciptakan lebam kebiruan yang tidak estetik.
Cukup jauh keluar dari gerbang kampus, baru Namjoon berhenti. Dia bersandar ke sebatang pohon di trotoar. Embusan napasnya terdengar panjang.
"Vela ...." Namjon merapal nama itu sepenuh hati. Kejadian dua minggu lalu kembali terbayang di benak.
"Itu hanya kesalahan." Dia menyugar rambut frustasi. "Astaga, Namjoon. Kenapa kamu bisa setolol itu? Yang kamu sukai bukan Vela!"
Monolognya berhenti saat menyadari tatapan heran pengguna jalan. Namjoon kembali melangkahkan kaki. Dia berjalan cepat menyusuri trotoar Gordon Street dan berhenti di Phineas Bar.
Matanya menatap bangunan dari bata cokelat di hadapannya. Di bar inilah, peristiwa nahas itu dimulai.
Vela mengajaknya minum-minum. Gadis itu memasukkan obat ke bir Namjoon. Dia tak ingat kejadian setelah di bar. Tahu-tahu Namjoon terbangun di apartemennya dengan Vela tertidur pulas di sampingnya.
Mereka berdua sama-sama telanjang. Meski tak ingat, Namjoon tahu hubungan terlarang sudah terjadi. Buktinya tergeletak di tong sampah. Pengaman berisi benihnya ada di sana. Didorong amarah memuncak, lelaki itu langsung mengusir Vela dan hubungan mereka jadi memburuk.
Dia tak suka dijebak. Namjoon mengepalkan tinju. Kakinya kembali melangkah. Kali ini, instingnya yang mengarahkan karena otak Namjoon nyaris tak berfungsi. Dia berjalan begitu saja. Tahu-tahu dirinya sudah berdiri di depan rumah yang familier.
Namjoon termangu. Rumah besar bergaya Edwardian itu tampak sepi. Pintunya tertutup rapat. Lampu di teras menyala terang. Namun, jendela-jendela yang terbuka meyakinkan Namjoon bahwa sang pemilik rumah ada di dalam.
Sekali seminggu dia datang ke rumah ini mengantar montase karyanya. Namjoon tak punya masalah keuangan, tapi dalih finansial digunakannya sebagai modus mendekati sang pemilik rumah. Dia tahu gadis itu memiliki galeri seni di bagian depan rumahnya. Dan, lukisan adalah hal yang bisa menarik perhatian gadis itu.
Masalahnya, Namjoon tak ingin dilupakan begitu saja. Di antara deretan lukisan cat minyak dan cat air, dia memilih montase sebagai jalan pintasnya. Tak banyak yang bisa menghasilkan montase sekelas lukisan naturalis sepertinya. Namjoon patut bangga dengan kemampuannya ini.
Diamatinya lagi bangunan Edwardian itu. Matanya mengerjap, berusaha memasukkan sebanyak mungkin ingatan akan pemilik rumah ini ke dalam memorinya. Tangannya merogoh saku celana. Dia mengeluarkan ponsel dan siap menggunakan, tapi mengurungkan niat.
Dia ingin mengakhiri pendekatan ala teman ini secepatnya. Vela mulai bertindak agresif di kampus. Andrew--pacar Vela--juga resmi menjadi musuhnya sekarang. Satu-satunya cara agar segera lepas dari belitan orang-orang itu hanya dengan menjalin hubungan kencan dengan gadis lain.
Namjoon menarik napas dalam-dalam. Tekadnya sudah bulat. Diketiknya sebaris pesan di layar ponsel, lalu mengeklik ikon kirim. Ditunggunya balasan dengan harap-harap cemas. Butuh hampir lima menit penuh sebelum pesannya berbalas.
Namjoon nyaris melonjak gembira. Buru-buru dibalasnya pesan yang baru masuk.
[Oke, Nat. Sabtu depan aku juga kosong. Bisa kita keluar makan malam?]
~~oOo~~
