Bab 6 Pendekatan
Daniel berjalan santai menaiki undakan teras. Pria paruh baya itu menoleh. Sekarang lelaki itu bisa melihat lebih jelas rupa asli sang pria di teras.
Rambut pirang pasirnya memang tersisir rapi. Namun, kerut-kerut di wajahnya yang sangat pucat lebih banyak dari perkiraan Daniel. Dan, mata biru itu berkabut merah. Membuat Daniel mengernyitkan dahi. Batinnya bertanya-tanya apa pria di depannya ini seorang pecandu.
"Daniel?"
Telinga Daniel mendengar suara lembut itu merapal namanya. Bak mantra yang membius, hati Daniel seketika berdesir. Insting pahlawan kembali bekerja dalam wujud lengan yang terulur begitu saja merangkul bahu mungil Natalie masuk ke dalam pelukannya. Tambahkan adegan kecup puncak kepala di depan sang tamu tak diundang, pameran kemesraan sang pahlawan lengkap sudah.
Daniel tak menyadari pipi Natatalie yang merona merah karena dia sendiri sedang sibuk menata debaran jantung yang berpacu liar. Perlahan detak jantungnya kembali normal saat merasakan kehangatan tubuh gadis itu.
Nyaman, seperti pulang ke rumah. Daniel membatin.
Pandangannya lalu mengamati sosok yang tengah berdiri di hadapannya. Pria itu juga memandang dengan tatapan menyelidik. Daniel tersenyum dalam hati merasakan sepasang mata merah itu memandang dengan sorot tak suka. Seolah Daniel baru saja mencuri hartanya yang paling berharga tepat di bawah hidung.
Daniel menolak memperkenalkan diri lebih dulu. Dia harus tahu posisi masing-masing sebelum memutuskan harus menjalin sebuah keakraban atau justru menyatakan pria itu sebagai musuh. Saat pria itu akhirnya mengalah dengan memperkenalkan identitasnya lebih dahulu, alis Daniel terangkat tinggi.
Samuel, paman Natalie.
Daniel hanya melempar tatapan tajam. Benaknya memetakan keadaan. Hatinya masih bertanya-tanya benarkah pria ini adalah paman kandung Natalie atau hanya paman gadungan. Sikap ketakutan Natalie kontradiktif dengan fakta dia masih berhubungan darah dengan si pria berwajah pucat ini.
Rasa penasaran Daniel sekonyong-konyong muncul menyadari bahwa Natalaie sendiri tak terlihat aktif berperan memperkenalkan mereka berdua. Sepertinya hubungan gadis di pelukannya ini dan sang paman memang buruk.
Daniel berpura-pura melirik jam tangan. Dia tahu persis sudah sangat terlambat untuk sebuah ajakan makan malam. Namun, demi kesopanan – apalagi dia baru saja memamerkan kemesraan dengan keponakan sang paman – Daniel akhirnya menawarkan ajakan makan malam pada Samuel. Saat merasakan bahu yang tegang di pelukannya, Daniel menjawil lembut gadis itu.
Matanya memberi isyarat secara tersamar agar gadis itu mengikuti sandiwaranya. Natalie meringis kecut. Sebelah lengannya balas merangkul pinggang Daniel dengan gestur kemesraan yang masih tegang. Lelaki itu meringis. Sepertinya Natalie memang masih sangat hijau dalam interaksi dengan lawan jenis. Batinnya bersorak riang menyadari gadis di pelukannya pasti hanya berpura-pura memiliki seorang kekasih.
Beruntung Samuel menolak tawaran basa-basi Daniel. Dia masih memeluk pinggang ramping Natalie saat si paman pamit undur diri. Matanya nyalang memastikan sosok sang paman telah benar-benar menghilang dari pandangan sebelum melepas pelukannya pada gadis itu. Sorot matanya santai – bahkan cenderung jenaka – saat berbalik menatap Nat.
"Jadi, kamu sudah punya pacar?"
Natalie bengong sesaat sebelum menyadari bahwa Daniel menguping pembicaraannya dengan sang paman di teras.
"Dan, kamu masih berani menciumku?" Lelaki itu menggoda.
Wajah Natalie memerah. Mulutnya sudah terbuka siap memberikan pembelaan diri.
"Aku belum punya pacar." Gadis itu bersikeras. "Semua yang kamu dengar tadi kebohongan."
"Kamu berani berbohong pada pamanmu sendiri? Tidak kusangka kamu adalah keponakan yang sangat nakal," Daniel berdecak menggoda.
"Aku tidak nakal. Aku benar-benar belum punya pacar dan aku punya alasan khusus kenapa harus berbohong pada pamanku," Nat tidak sadar berkata.
"Sama sekali belum pernah?" Alis lelaki itu terangkat tinggi.
"Belum pernah!" Natalie mengangguk mantap.
"Jadi, tadi siang adalah ciuman pertamamu?"
"Tentu saja itu ciuman pertamaku! Aku bahkan belum pernah berkencan dengan satu lelaki pun. Bagaimana aku bisa berci ...."
Nat terbelalak dan langsung menutup mulut, sadar dia sudah keceplosan bicara. Pengakuan yang sangat memalukan bahwa di usianya yang sudah masuk dekade kedua, tapi belum sekali pun dia mengenal dunia percintaan.
Sementara Daniel justru tersenyum-senyum. Tak bisa ditutupinya rasa bahagia karena berhasil mendapatkan ciuman pertama Nat. Nanun, Daniel mencoba menahan luapan kebahagiaannya. Ada hal lebih penting yang harus diketahuinya sekarang.
"Nah, kamu bisa bercerita sekarang."
"Cerita apa?" Nat melengos, mengalihkan tatapan dari Daniel.
"Kenapa kamu harus berbohong pada pamanmu sendiri."
Nat mengedikkan bahu acuh tak acuh, "Aku tak harus menceritakan apa pun padamu."
"Ayolah, Natalie?" Daniel membujuk lembut.
"Tidak!" Nat masih menolak.
"Kenapa tidak?" Lelaki itu mendesak.
"Kenapa aku harus bercerita padamu?" Natalie balik bertanya.
Daniel menggelengkan kepala geli. Natalie yang keras kepala dan defensif sangat menarik minatnya. Daniel Pozzi terkenal dengan kesabarannya mengorek informasi dari sang klien. Secara teknis Nat memang bukan kliennya, tapi gadis itu membangkitkan rasa ingin tahunya sebesar dia menghadapi seorang klien yang butuh bantuan.
"Pertama," Daniel mengangkat jari telunjuknya, "kamu sudah membuatku uring-uringan seharian ini."
"Aku membuatmu uring-uringan?" Fakta itu menggelitik hati Natalie.
Daniel pilih mengabaikan nada suara penuh penasaran yang menghipnotis dari Natalie. Jari tengahnya kemudian teracung bersanding dengan si jari telunjuk.
"Kedua, jelas-jelas wajahmu menunjukkan permohonan untuk diselamatkan ...."
"Aku?" Natalie menyela cepat, "Minta diselamatkan?" Jarinya menunjuk dadanya sendiri.
"Ya, kamu. Tolong-selamatkan-aku-dari-seorang-pria-mesum-penguntit." Daniel mengeja satu demi satu kata-katanya. Seolah Natalie adalah bocah imbisil yang dianggap sulit memahami maksud sebuah perkataan.
"Dia bukan seorang pria mesum penguntit. Dia itu pamanku, Daniel."
"Tepat sekali! Nah, kenapa si keponakan ini harus merasa takut pada pamannya sendiri?" Daniel dengan halus mengarahkan topik pembicaraan untuk mendapatkan informasi yang dicarinya.
Dilihatnya Natalie ternganga. Bibir mungil itu terbuka lebar, mengundang Daniel untuk mendaratkan ciuman di sana. Daniel mendesah keras. Dia tak tahu kapan pertahanannya bisa kuat jika terus-terusan berada di dekat Natalie.
"Kamu menjebakku dengan pertanyaan," Natalie terkekeh.
Daniel ikut tersenyum. Dia suka mendengar suara tawa gadis itu.
"Apa kamu seorang cenayang yang bisa membaca isi pikiran orang?" celetuk Natalie.
Daniel menggelengkan kepala, "Cenayang adalah orang yang memiliki kemampuan berhubungan dengan makhluk halus, Nona. Sementara terakhir kali aku mengenal diriku sendiri, kupastikan tak satu pun makhluk halus yang pernah kuajak berkenalan."
"Hahaha .... Lucu!" Natalie tergelak.
Daniel mengulum senyum. Dia tak mengatakan pada gadis itu bahwa dirinya pernah mempelajari fisiognomi – ilmu membaca karakter seseorang lewat wajah – cukup mahir hingga bisa mengetahui bahwa gadis di depannya ini sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Boleh aku masuk?" tanya Daniel.
Tawa Natalie terhenti. Mata almonnya memandang Daniel penuh selidik. Lelaki itu mengangkat kedua tangan.
"Aku tak punya niat buruk apa pun padamu, Nona." Daniel meyakinkan. "Lagipula aku adalah pacarmu yang sudah lama kamu tunggu kedatangannya, kan?"
Natalie ternganga. Tak menyangka lelaki di depannya berani menggodanya terang-terangan. Natalie langsung merasa tertimpa nasib sial sekarang. Kebohongannya untuk mempertahankan diri dari serbuan sang paman kini berubah jadi blunder manis untuknya. Manis karena Natalie sebenarnya sangat berterima kasih atas kehadiran Daniel beberapa waktu lalu.
"Kamu mengupingku?" Gadis itu menuduh dalam bisikan lembut.
"Tidak juga. Suara kalian sangat keras untuk didengar hingga trotoar," jawab Daniel kalem.
Natalie gamang. Tangannya masih memegang kenop pintu, tapi dalam gestur yang lebih rileks, tidak setegang seperti saat berhadapan dengan pamannya. Gadis itu terkejut, dia baru mengenal Daniel sehari dan sudah mengenal pamannya seumur hidup. Namun, rasa tenang ini justru datang dari seorang Daniel.
Daniel masih menunggu keputusan Natalie. Dia tak berniat memaksa, tapi dia juga tak berniat meninggalkan gadis itu sendirian. Tidak saat dia tahu Samuel mungkin saja masih berkeliaran di sekitar sini dan menunggu waktu yang tepat untuk mendobrak masuk ke rumah. Tak ada jaminan Samuel tak akan kembali ke rumah setelah dia pergi meninggalkan Natalie.
Keheningan di antara mereka mendadak dipecahkan oleh suara gemuruh yang sangat memalukan. Natalie terbelalak untuk selanjutnya meledak tawanya begitu keras. Sementara Daniel menunduk malu.
"Astaga, katakan saja jika kamu ingin masuk karena kelaparan," ledek Natalie.
"Aku tidak begitu." Daniel mengelak. Leher dan wajahnya terasa panas. Baru kali ini – di depan seorang gadis – dia mengalami kejadian yang sangat memalukan. Suara gemuruh perutnya yang kelaparan benar-benar menjatuhkan citra maskulinnya di hadapan Natalie.
"Katakan itu pada perutmu." Kali ini tangan Natalie menarik pintu lebar-lebar. Dia bahkan menyingkir dari ambang pintu mempersilakan Daniel masuk. "Sepertinya kamu belum makan malam."
"Aku sedang mencari makan malamku sebelum tersasar ke sini." Daniel membela diri.
"Dari London ke Bloomsbury?" Alis indah Natalie melengkung naik. "Apa London sudah kehabisan stok pangan hingga kamu harus jauh-jauh mencarinya ke sini?"
"Sudah kubilang, aku tersasar," Daniel sewot.
"Baiklah, baiklah, aku percaya," Natalie tersenyum lebar. "Masuklah. Aku juga baru akan membuat makan malam."
Natalie mendahului Daniel masuk ke dalam rumah. Begitu Daniel menjejakkan kaki di koridor sempit itu, mata Daniel langsung melotot maksimal.
"Astaga Natalie, kamu sebenarnya siapa, sih?"
~~oOo~~
