Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Dusta

5 | Dusta

Pria tua itu tertegun. Langkahnya yang bersiap masuk ke bangunan di hadapannya terhenti. Keningnya langsung berkerut melihat kedatangan si orang baru.

Samuel menyipitkan mata curiga. Suaranya ketus saat bertanya, “Siapa kamu?”

Tatapannya penuh selidik dan tidak suka. Samuel berharap kebenciannya tak terlalu kentara saat berhadapan dengan pendatang baru itu. Sebagai gantinya dia menyalurkan emosi pada dua tinju yang terkepal di samping tubuh.

"Anda sendiri?"

Pria itu terbelalak. Bibirnya menipis jadi setipis kertas. Kemarahannya menggumpal dengan cepat. Dia sudah melontarkan pertanyaan, tapi dibalas dengan pertanyaan serupa. Pandangannya beralih ke wajah Natalie. Si cantik itu memeluk erat tubuh berbalut setelan formal di sampingnya.

Samuel yakin betul Natalie belum punya kekasih. Dia sudah melakukan upaya sedemikian rupa agar gadis itu tak pernah bisa berkencan. Jadi, tak mungkin si pendatang baru ini adalah pacar Natalie.

Pasalnya dia melekatkan pengawasan begitu ketat pada si cantik yang mengundang berahinya itu. Tak sedikit pun dia mengendorkan pandangan. Namun, memang Samuel mengakui pergerakannya jadi sedikit terhambat saat Natalie berada di kampus. Mata-mata yang disebarnya tak cukup sigap melaporkan berbagai peristiwa. Sepertinya dia harus mengganti orang-orang yang disewanya. Mereka semua tak becus bekerja.

Samuel menghela napas kesal saat menyadari tak ada tanda-tanda lelaki di hadapannya akan memperkenalkan diri lebih dulu. Menelan segala gengsi karena dipenuhi rasa penasaran, Samuel menyebut namanya sendiri.

"Aku Samuel, paman Nat.” Dia menjawab ketus. Lengkap dengan nada tak suka yang kentara jelas di suara seraknya.

"Nama saya Daniel Pozzi. Saya akan sangat senang berkenalan dengan anda. Well, Nat belum banyak bercerita tentang keluarganya pada saya. Tapi anda tahu sendiri, saya tak membawa bahan makanan yang cukup untuk kita bertiga makan malam. Benar kan, Sayang?"

Samuel sangat ingin menghantamkan tinjunya ke muka si lelaki itu. Gestur mereka sangat mesra. Bahkan Daniel tak sungkan menjawil puncak hidung Natalie yang mancung tepat di hadapan Samuel. Darah pria itu mendidih.

Natalie adalah miliknya. Sejak lama seperti itu. Tak boleh ada lelaki lain yang memiliki gadis itu. Kejengkelan Samuel makin memuncak saat Natalie merespons ucapan Daniel.

"Daniel benar, mungkin kami akan makan malam di luar saja karena, yah, aku sedang bosan dengan layanan pesan antar makanan. Maafkan kami, Paman."

Samuel melihat lengan ramping Natalie melingkari pinggang Daniel. Gadis semampai itu menggelendot manja di tubuh si lelaki. Benak Samuel makin kacau. Awalnya dia tak yakin Natalie memiliki pacar. Pasti si lelaki itu adalah pacar pura-puranya.

Namun, melihat gestur keduanya yang sangat mesra, Samuel tak urung meragukan pengamatannya. Kepura-puraan tak mungkin melahirkan gerakan sealamiah itu.

Samuel menatap Daniel lekat-lekat. Dia menelaah situasi yang tengah terjadi. Sosok Daniel tergolong tampan bahkan di mata pria itu. Tubuhnya sangat tegap bukti bahwa lelaki itu rajin berolah raga. Samuel menyipitkan mata mencoba mengamati lebih jelas garis wajah Daniel.

Tak ada karakteristik Inggris Raya di wajah dengan cambang halus itu. Samuel sedikit ragu apakah Daniel asli penduduk lokal atau warga negara asing. Kulitnya terlampau cokelat untuk disandingkan dengan kulit penduduk lokal yang cenderung pucat. Bukti bahwa Daniel mendapat cukup banyak asupan sinar matahari.

Orang asing, Samuel memutuskan setelah berdebat dengan diri sendiri cukup lama. Matanya kembali mengamati Daniel. Tulang pipi tinggi, sepasang mata hijau yang bersinar tajam, alis tebal, dahi lebar dan tampak terpelajar.

Lelaki ini bukan orang sembarangan. Samuel menyimpulkan. Daniel sepertinya memiliki cukup keberanian untuk melawannya. Samuel berpikir cepat. Sorot tajam mata hijau itu seolah mengulitinya hidup-hidup, mengupas topeng manis yang tengah dikenakan Samuel, dan membuat hati Samuel mendadak dilanda kegelisahan.

Samuel tak tahu mengapa tiba-tiba dia merasa khawatir. Namun, dia tahu persis sumber kegelisahannya. Adanya Daniel Pozzi yang muncul tiba-tiba merupakan variabel yang bisa merusak seluruh rencananya. Dia tak boleh gegabah, dia harus bertindak hati-hati jika tak ingin rencananya gagal total. Bersabar dan mengalah lebih baik untuknya sekarang.

Samuel berdeham, "Kapan-kapan kita bisa pergi ke bar untuk minum-minum."

Kalimat itu sekaligus sebuah penolakan halus dari Samuel untuk bergabung dengan pasangan itu menikmati makan malam. Dia tentu tahu ajakan Daniel hanya basa-basi semata. Sebenarnya Samuel tergelitik untuk mengganggu pasangan itu sekaligus memuaskan rasa penasarannya. Namun, dia belum tahu kekuatan lawan. Bukan tindakan bijaksana jika memaksakan diri ikut dalam apa pun rencana Daniel.

Ekor mata Samuel melirik lengan Daniel dan Nat yang saling merangkul satu sama lain. Posesitivitas. Samuel bisa merasakannya dengan sangat nyata. Rahangnya mengetat. Sudut-sudut bibirnya berkedut. Jakunnya bergerak naik-turun menahan kegelisahan dan kemarahan yang bercampur aduk.

"Saya tunggu undangan Anda.” Daniel mengangguk sopan.

Samuel segera balik badan. Langkahnya cepat menuruni undakan teras dan bergabung dengan malam yang mulai menggelap. Saat berada di depan pagar, dia sempat menoleh. Pasangan itu masih berdiri di teras, saling berangkulan, dan menatapnya tajam.

Tinju Samuel kembali terkepal. Langkahnya bergerak cepat—nyaris setengah berlari—menuju mobil yang terparkir sangat jauh dari rumah keponakannya. Sengaja dia menempatkan kendaraan tak terlalu dekat dengan kediaman Natalie. Tujuannya agar dia bisa mengamati keadaan sekeliling.

Peristiwa terakhir membuatnya sedikit enggan membuat keributan meski tergoda melakukannya. Natalie menolak keras ajakannya dan memancing perhatian para tetangga. Ada yang menelepon polisi dan melaporkannya. Untung saja aparat penegak hukum itu lebih mempercayai penjelasannya dibanding ucapan Natalie.

Sepatunya berdetak lembut di beton trotoar. Malam belum terlalu larut. Orang-orang masih banyak berseliweran di jalan. Rumah-rumah di Bloomsbury banyak yang masih mempertahankan bentuk lama, bahkan beberapa di antaranya merupakan bangunan asli yang berdiri sejak beberapa abad lalu. Hal itu menjadikan area distrik ini juga menjadi obyek wisata arsitektur.

Tangan Samuel merogoh kantong dan mengeluarkan kunci pintar. Ditekannya tombol berikon gembok terbuka. Lampu mobil sedan hitam gelap berkedip riang di seberang jalan. Samuel bergerak cepat masuk mobil. Setelah mengempaskan diri di jok mobil, Samuel bergerak cepat menelepon seseorang.

“Berengsek! Bagaimana kamu bisa tak tahu dia sudah punya kekasih atau belum?” Samuel langsung membentak begitu nada hubung telepon tersambung.

Suara di seberang mencicit ketakutan. Penjelasan mengalir deras. Alis Samuel berkerut. Dari keterangan mata-matanya, Natalie tak pernah terlihat dengan seorang pun lelaki. Para lelaki yang berada di lingkarannya hanya teman-teman kuliah, itu pun sangat jarang terjadi. Natalie lebih mirip putri yang dipingit daripada mahasiswi supel dan populer.

“Tak ada lelaki yang bertampang seperti orang Latin di sana?” tanya Samuel memastikan.

Sumber di seberang sambungan telepon memastikan tak ada lelaki yang berada di ciri-ciri yang disebutkan Samuel. Kampus Natalie memang banyak dihuni mahasiswa asing. Namun, tak ada lelaki berwajah Latin yang berada dalam lingkaran Natalie.

“Jaga terus pengamatanmu. Aku membayarmu mahal untuk melaporkan gerak-gerik keponakanku.”

Samuel mematikan sambungan telepon. Sorot matanya melayang jauh ke depan. Rumah Natalie tak tampak dari tempatnya parkir. Jarak hampir setengah mil membuat akses pandangannya terputus total. Namun, itu tak masalah bagi Samuel. Toh, memang itu tujuannya berhenti di tempat jauh dan tersembunyi seperti ini.

Agar tidak mudah diketahui para tetangga Natalie.

Dinyalakannya mesin mobil. Dia sempat merenung sejenak sebelum melajukan kendaraan menjauhi area hunian sang keponakan. Benaknya terus bertanya-tanya siapa gerangan lelaki yang mengaku sebagai pacar Natalie.

Sepertinya dia harus melakukan penyelidikan lebih jauh. Tanpa mengurangi laju kendaraan, Samuel menghubungkan ponsel dengan sistem komunikasi nirkabel yang tertanam di dasbor. Sebaris nama berkedip-kedip di layar ponsel. Butuh dua kali panggilan sebelum teleponnya diangkat.

“Sir, aku butuh bantuan Anda,” kata Samuel tanpa basa-basi.

-O-

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel