Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Konfrontasi

Pria itu melajukan pelan kendaraannya menyusuri jalanan London yang sibuk. Musim panas tahun ini benar-benar menyengat. Suasana langka itu dimanfaatkan penduduk ibu kota Inggris Raya dengan maksimal. Taman-taman dipenuhi orang yang ingin mendinginkan suhu tubuh. Air mancur menjadi tempat favorit baru untuk berkerumun. Penjualan es krim juga mengalami peningkatan signifikan.

Musim panas tahun ini memang tercatat memiliki suhu tertinggi dalam tujuh puluh tahun terakhir. Menggoda orang untuk menghabiskan waktu di luar rumah alih-alih di dalam ruangan.

Daniel memutar roda kemudi. Mata birunya menatap tajam pedestrian. Jam di dasbor sudah menunjuk angka delapan malam. Suasana di luar sudah mulai gelap.

Seharusnya dia mengendarai mobilnya pulang ke apartemennya yang nyaman sambil menikmati makan malam ditemani pemandangan Menara London yang cantik. Seharusnya begitu karena tubuhnya sendiri sudah lelah hasil dari bekerja gila-gilaan selama musim panas ini. Nyatanya tidak.

Mobil sedan hitam metalik yang dikendarainya justru melaju ke arah Bloomsbury. Melewati taman-taman kota yang masih padat orang, melintasi bangunan-bangunan dengan arsitektur megah yang memanjakan mata, dan terus melaju tak tentu arah. Pikirannya nyaris kosong, hanya terisi sosok cantik yang terus mengganggu benaknya sejak makan siang tadi.

Natalie Graceline Brown.

Jujur saja hati Daniel terusik saat mengingat pemilik nama itu. Daniel mengumpamakan Nat seperti seekor anak anjing yang terlantar di tepi jalan, di tengah musim dingin yang membekukan tulang, tanpa rumah perlindungan dan makanan. Mengenaskan.

Oke, baiklah, itu hiperbola memang. Namun, perumpaan Daniel menggambarkan bagaimana dirinya sangat ingin memungut sang anak anjing dan memeliharanya di apartemen. Bukan berarti Nat sama dengan si anak anjing terlantar, namun sesuatu dalam diri gadis itu telah membangkitkan naluri lelaki Daniel. Naluri untuk melindungi dan menyayangi.

Daniel kembali memutar kemudi. Dia baru saja melewati Bloomsbury Square. Hatinya bertanya-tanya, apa kedatangannya ke distrik ini hanya karena kebetulan semata atau memang ada campur tangan mistis dari takdir untuk mempertemukannya dengan Nat.

Kini Audi yang dikendarainya mulai memasuki Willoughby Street. Volume kendaraan mulai berkurang. Mata Daniel mencari-cari tempat makan yang enak. Perutnya sudah tak bisa diajak kompromi. Dia kelaparan dan konser di perutnya benar-benar menuntut makanan yang lezat.

Saat itulah ekor matanya menangkap selintas bayangan yang seharian ini terasa familier dan terus mengganggu pikirannya. Dipelankannya laju mobil. Matanya memicing, mengamati sosok yang berjarak hanya dua puluh meter darinya dengan lebih jelas. Jantungnya seketika berdetak cepat.

Itu Nat!

Gadis itu berdiri di ambang pintu. Gestur tubuh dan mimik wajahnya terlihat tegang. Daniel juga melihat seorang pria yang berusaha menerobos ke dalam rumah.

Hati Daniel serasa mencelus. Otaknya bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi. Mengamati sikap Nat, sepertinya dia ketakutan. Daniel bisa melihat samar-samar kerut ngeri di wajah cantik itu. Nuraninya terusik. Dia harus menolong gadis itu. Tak peduli risiko apa yang terjadi.

Dihentikannya mobil cukup jauh dari lokasi Nat. Menurut perkiraannya, tempat Nat berada saat ini adalah rumah pribadi gadis itu. Daniel ingat jelas si mata hazel itu menyatakan tinggal di Bloomsbury. Dia sengaja memarkir mobil cukup jauh, dan meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki, agar kehadirannya tak mengejutkan pria yang tengah berhadapan dengan Nat.

Daniel belum tahu status pria itu. Bisa saja dia seorang kriminal. Kedatangan Daniel yang mendadak bisa memunculkan risiko kriminal itu kabur sebelum bisa disergapnya.

Jarak Daniel dengan rumah Nat semakin dekat. Dari tempatnya sekarang, Daniel bisa melihat lebih jelas sosok terduga kriminal itu. Usia pria yang berdiri di teras rumah berkisar antara 42 sampai 46 tahun. Tingginya pasti tidak kurang dari 180 sentimeter. Tubuh kurusnya terbungkus setelan jas perlente buatan tangan, menandakan bahwa pria itu memiliki kondisi finansial yang cukup bagus. Wajahnya pucat, bersih dari cambang, dengan beberapa keriput di tempat-tempat yang rawan penuaan.

Daniel merenung sejenak, mulai meragukan hipotesanya bahwa pria di teras itu adalah seorang kriminal. Menilik dari bahasa tubuh keduanya, sepertinya mereka sudah saling mengenal.

"Tidak, aku tak bohong. Pacarku sedang ke minimarket membeli makan malam. Sebentar lagi dia pulang."

Suara lembut Nat menyapa pendengaran Daniel. Lelaki itu mengernyit saat menangkap getaran di nada lembut itu. Semacam ketakutan terselubung.

Daniel tak bisa mengamati mimik muka gadis itu karena tertutup bayangan kanopi rumah. Namun, dia yakin Nat sedang ketakutan. Daniel menelengkan kepala. Fakta bahwa gadis itu tampak ketakutan dan baru saja menggunakan alasan pacar sebagai kamuflase pertahanan dirinya membuat Daniel terenyuh.

Atau itu memang alasan yang sebenarnya dan Nat benar-benar sudah memiliki pacar?

"Aku sudah ke minimarket di sana dan satu-satunya pengunjung hanyalah aku. Jangan bilang kamu berpacaran dengan kasir minimarket. Karena itu artinya, kamu akan menunggu kepulangannya sangat lama. Kurasa tempat itu baru tutup tiga jam lagi."

Kali ini suara si pria yang terdengar. Kerutan di dahi Daniel makin dalam. Ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi. Insting pengacara Daniel memenangkan keraguan yang sempat muncul. Ragu akan kejujuran Nat di kafe siang tadi.

Gadis itu mengaku tak punya pacar dan berani menciumnya lebih dulu. Daniel sempat terbang ke awang-awang karena perlakuan Nat. Namun, kini dia meragukan tindakan gadis itu. Pasti Nat impulsif saat menciumnya dan berbohong tentang status lajangnya.

Well, tak ada yang benar di sini. Daniel tak urung meringis saat menyadari kondisinya. Dia pun tak berterus terang soal statusnya. Daniel Pozzi bukanlah lelaki lajang seperti dugaan Nat.

Daniel melihat Nat mundur selangkah ke belakang. Seiring kakinya yang beranjak semakin masuk ke dalam rumah, pria di teras juga ikut merangsek maju. Daniel menatap tak suka aksi si pria paruh baya. Ada kejengkelan yang menyesak di hati. Tak sadar tinjunya terkepal di samping tubuh. Namun, dia masih menahan diri untuk bergerak maju.

"Dia mungkin tak ke minimarket itu." Suara Nat bergetar menangkis argumen pria di hadapannya.

Kerut di dahi Daniel menghilang, berganti alis yang terangkat tinggi. Jadi, pacar si pirang itu bukan kasir mininarket rupanya. Dia masih punya kesempatan.

Daniel tertegun. Lintasan pikiran itu membuatnya terbeliak ngeri. Kesempatan untuk apa? Lelaki itu mengerjapkan mata, menghalau pemikiran sesat yang mendadak muncul. Dia tak punya kesempatan. Keberadaannya di sini hanya untuk menolong Natalie Brown.

Jiwa pahlawannya memanggil-manggil saat melihat Nat yang mengerut di depan pintu rumah. Daniel kembali ke dunia nyata. Ada yang lebih penting dibanding sekadar memikirkan kesempatan untuk mendekati seorang gadis Brown.

"Oh ya? Sepertinya dia juga akan lama pulang." Pria di teras keras kepala.

"Dia sebentar lagi pulang." Nat masih berusaha menyergah.

"Kalau begitu, aku bisa menemanimu menunggu pacarmu."

Daniel melihat pria di teras semakin berani melangkahkan kaki lebih dalam lagi ke rumah. Nat beringsut mundur. Dia terlihat hendak bersembunyi di balik daun pintu, tapi tangan si pria sudah menahan papan kayu berpernis.

Insting pahlawan Daniel berkobar-kobar. Kakinya spontan melangkah maju. Dia yakin ini hanya keinginan melindungi semata. Pahlawan yang welas asih harus melindungi anak anjing yang terlantar. Tak lebih, tak kurang. Tak ada perasaan apa pun bermain di sini.

"Sayang, maaf membuatmu menunggu. Aku sudah berkeliling mencari artichoke kalengan tapi tak kudapatkan."

~~oOo~~

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel