Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Bantuan

2 | Bantuan

Stephan terperangah. Mulutnya terbuka lebar. Ekspresinya kentara jelas tak mempercayai ucapan Daniel.

“Dia ... apa?” Stephan ingin mengorek kuping. Setidaknya hal itu bisa meyakinkan dirinya sang kolega bicara jujur.

Daniel hanya mendengkus. Dia menjinjing tas laptop dan berjalan keluar.

“Sialan, jawab pertanyaanku!” gerutu Stephan. Dia mengikuti langkah Daniel keluar ruangan.

Mereka berdua berjalan ke arah lift yang akan membawa naik ke lantai sebelas. Sepanjang perjalanan belasan meter itu, para wanita dengan penuh keceriaan musim panas negara tropis menyapa Daniel dan Stephan. Yang disapa hanya membalas dengan anggukan sopan dan senyum tipis di bibir, tak tertarik merespons berlebih.

Di firma hukum ini, dua orang itu—ditambah George—sudah dinobatkan jadi trio tampan dambaan para pegawai wanita. The three handsomes, itu julukan populer mereka.

"Jadi bagaimana dengan gadis itu?" Stephan mengulang pertanyaannya.

"Dia menciumku."

Daniel nyaris terjerembab. Dia menoleh sadis ke arah Stephan yang tengah menahan tangannya. Dipelototinya galak koleganya yang berekspresi kaget.

"Dia menciummu?" Stephan nyaris memekik. “Benar-benar menciummu?”

Buru-buru Daniel membekap mulut Stephan. Untung saja koridor sedang sepi. Mau ditaruh di mana muka Daniel jika Stephan membuat pengumuman cabul macam itu.

"Bicara keras lagi dan aku akan mencekikmu.” Ancam Daniel.

Stephan manggut-manggut cepat. Matanya memberi isyarat agar Daniel melepas bekapan di mulut.

"Wah, dia benar-benar luar biasa." Lelaki itu menyuarakan pikirannya setelah bebas dari bekapan tangan Daniel. "Di pertemuan pertama? Bahkan kalian tak saling kenal."

"Namanya Natalie Graceline Brown. Usianya 21 tahun. Dia mahasiswi seni di UCL dan tinggal sendiri di rumahnya di Bloomsbury."

Stephan ternganga. "Wah! Jadi, siapa di sini yang paling terobsesi?"

Stephan tentu menyindir Daniel. Dia masih terkaget-kaget dengan perkembangan hubungan yang di luar logika karakter seorang Daniel Pozzi. Sahabat Italianya itu bukan tipikal pria yang gemar mendekati wanita di awal pertemuan. Berbeda dengan George yang akan gerak cepat merayu wanita di detik pertama perkenalan.

Karena itu, dicium—atau mencium wanita, Stephan mulai tak yakin dengan kejujuran pernyataan Daniel tentang nona di kafe yang lebih dulu menciumnya—seorang wanita di awal perkenalan adalah kondisi langka bagi Daniel Pozzi.

Juga fakta yang mengundang rasa penasaran Stephan. Pengetahuan Daniel akan informasi pribadi gadis di kafe tadi mengusik benak lelaki itu. Mengetahui profil diri seseorang adalah tugas yang biasa dilakukan advokat seperti mereka. Akan tetapi, itu semua hanya untuk kepentingan pekerjaan. Sementara kondisi yang terjadi pada Daniel kali ini, well, Stephan yakin seribu persen jika tak ada urusannya sama sekali dengan pekerjaan.

Mereka memasuki kantor pribadi Daniel. Udara sejuk dari mesin pendingin udara langsung menyambut datangnya dua pria tampan itu. Daniel segera melepas ikatan dasinya dan melempar ikon fashion itu serampangan. Helaian kain yang semula bertengger di leher kokoh Daniel kini teronggok lemas di lantai berkarpet. Jemari Daniel lantas membuka tiga kancing teratas kemeja. Napasnya segera terasa longgar.

Bukan napas, Daniel merenung, tapi pikirannya. Sejak kembali dari istirahat makan siang benaknya hanya terisi sosok gadis cantik dengan rambut pirang emasnya yang berkilauan. Dan sepasang mata itu ... mata terindah yang pernah ditemui Daniel. Menggoda pria itu untuk menenggelamkan diri dalam kesejukan hazel yang lembut.

"Halo, Bumi memanggil Daniel."

Lelaki itu terbangun dari lamunan. Stephan melambai-lambaikan tangan di depan wajahnya. Seringai lebar tercetak di wajah si pirang itu.

"Sepertinya dia sangat memengaruhimu.” Stephan menghempaskan tubuh di sofa.

Jemari Daniel kembali mengusap bibir. Tempat di mana beberapa jam sebelumnya Nat menempelkan bibirnya di sana. Astaga, itu bahkan tak layak disebut ciuman. Hanya sebuah sapuan lembut di bibir. Daniel yakin jika Nat sama sekali tak memiliki pengalaman dalam hal cium-mencium. Teknik gadis itu masih sangat mentah. Untuk hal ini, Daniel dengan senang hati bersedia menjadi relawan ciuman gadis itu.

Meskipun teknik berciumannya payah, tapi inisiatif bibir Nat menggetarkan hatinya. Getaran yang sangat lama tak dirasakannya. Seperti remaja ingusan yang tengah merasakan cinta monyet. Berdebar-debar, penasaran dengan apa yang selanjutnya akan terjadi, dan penuh euforia seolah-olah ratusan kembang api meledak di kepala.

"Ini aneh," Stephan berkomentar.

"Aneh kenapa?"

"Kamu belum pernah terlihat selinglung ini sebelumnya." Stephan menjelaskan setelah mengamati Daniel lebih saksama.

Daniel mengembuskan napas panjang. Mata hijaunya terpejam. Dia ingin mengistirahatkan sejenak pikirannya. Namun, lagi-lagi bayangan cantik Nat menyelinap masuk. Hati Daniel was-was. Dia suka sensasi menyenangkan ini, tapi dia tak suka pada hasil akhirnya.

Stephan yang melihat kegalauan di wajah sahabatnya, menepuk bahu Daniel.

"Jangan bermain api, Sobat." Lelaki itu mengingatkan. "Belenggumu terlalu kuat untuk diterobos."

Daniel diam. Dia tak bereaksi saat Stephan bangkit dan berjalan keluar kantor dan meninggalkannya seorang diri di ruangan yang sunyi. Jam pulang kantor sudah terlewati beberapa waktu lamanya, tapi dia tak berniat beranjak dari sofa.

Perlahan dia merogoh sesuatu di balik kerah kemeja. Mengeluarkan seuntai kalung dari baliknya. Rantai tipis dari perak menjadi tempat tergantungnya sebentuk cincin emas polos tanpa hiasan. Tak ada yang menarik dari cincin itu. Sangat sederhana malah. Namun, beban di pendan itu teramat berat untuknya.

Digulirnya cincin yang menjadi liontin kalung. Asal-asalan dia memasukkan cincin itu ke jari manisnya. Terpasang dengan sempurna karena memang cincin itu dibuat hanya untuknya. Daniel mendesah panjang. Dilepasnya lagi benda kecil itu dan memasukkannya ke rantai kalung. Kali ini dia tidak melingkarkannya di leher, tapi memasukkannya ke saku celana.

Matanya melirik arloji di pergelangan tangan. Pukul tujuh malam. Perutnya keroncongan. Memang sudah seharusnya dia kelaparan mengingat makan siangnya berjalan tak sempurna gara-gara ulah penuh kejutan seorang gadis kecil.

Gadis kecil. Daniel termangu. Usia gadis kecil itu sudah dua puluh satu tahun. Tak layak disebut kecil lagi. Pesonanya juga setara dengan wanita dewasa, tapi dalam versi yang lebih murni dan lugu. Daniel meremas dada. Getaran itu makin kuat terasa dan membuatnya jadi tak nyaman.

Dia harus melupakan gadis itu. Daniel tak pernah bertemu Nat dan ciuman itu juga tak pernah ada.

~~oOo~~

Nat merogoh-rogoh tas, mencari kunci rumah yang terselip di tote bag jumbo favoritnya. Gwen dan Paman Martin—Ayah Gwen—berkali-kali mendesaknya segera mengganti kunci rumah dengan kuncian yang lebih modern. Kunci pintu elektronik dianggap cocok untuk Nat yang tinggal seorang diri. Lebih aman dari bobolan maling.

Dia menolak halus permintaan itu. Gadis itu masih menyukai kunci rumah konvensional. Karena mengingatkannya akan kenangan masa kecil yang indah bersama orang tuanya. Lagipula bukan maling yang dicemaskannya sekarang, melainkan sesuatu yang lebih intens dari itu.

Klik!

Pintu berbahan kayu keras itu terayun membuka. Suasana hening dan pengap langsung menyergap. Nat meringis. Sudah beberapa hari dia meninggalkan rumahnya kosong tanpa perawatan. Pantas saja jika rumahnya mulai merajuk.

Buru-buru dia membuka seluruh jendela. Hawa segar khas malam musim panas seketika menyeruak masuk. Semilir angin di luar menyejukkan kulit Nat yang gerah. Dia lalu menyalakan lampu-lampu dan membongkar isi kulkas.

Tak banyak persediaan di lemari pendingin. Nat mendesah. Dia lupa berbelanja. Apa yang harus dimakannya sekarang?

"Apa aku telepon Gwen saja? Ikut makan di sana?" Nat berpikir-pikir.

Dia bisa saja berbelanja di minimarket terdekat. Jaraknya tak terlalu jauh dari rumah. Akan tetapi, Nat sedang tak berminat berbelanja di sana. Persediaan sayurnya kurang bervariasi dan kualitas dagingnya tak terlalu bagus.

Dering bel pintu membahana dalam rumah. Nat membeku. Alih-alih segera berlari ke arah pintu masuk, dia malah berdiri mematung di dapur. Refleks matanya melirik jam dinding. Delapan malam.

Dering bel sekali lagi terdengar. Jantungnya berpacu cepat. Ini pertengahan musim panas, tapi keringat dingin merembes deras di punggung. Gadis itu ingin menghilang dari tempat ini. Namun, dia tahu, siapa pun yang berada di depan pintu rumahnya sudah menyadari keberadaan Nat.

Gadis itu pun tahu siapa tamu yang berkunjung. Satu-satunya tamu dalam beberapa minggu terakhir. Dia meremas ujung baju gelisah.

Nat tak ingin memancing keributan dengan tetangga lagi. Tidak setelah peristiwa terakhir yang justru menimbulkan trauma besar di hatinya. Embusan napas gadis itu terdengar panjang-panjang. Mata hazelnya terpejam rapat. Menetralisir detakan jantung yang terus maraton. Dia bisa menghadapi ini tanpa bantuan siapa pun.

Akhirnya kakinya melangkah menyusuri lorong pendek penghubung antara dapur dan foyer. Hanya dalam delapan langkah panjang dia sudah berada di belakang pintu masuk. Tanpa melihat lubang pengintip, dia membuka gerendel pintu.

"Selamat malam, Sayang."

Sungguh, Tuhan tahu betapa dia sangat tak ingin membalas senyum pria di hadapannya. Dia pun tak berniat mempersilakan tamunya masuk. Nat hanya berdiri di ambang pintu dengan gestur siap siaga. Wajah datarnya menegaskan perasaannya pada sang tamu.

"Kenapa Paman ke sini?" tanya Nat pelan.

Pria itu terbahak keras. Tak ada aroma alkohol tercium. Pria di hadapannya dalam kondisi sangat waras. Tak sadar Nat melangkahkan kaki ke belakang. Tangannya menggenggam pegangan pintu begitu kencang hingga buku-buku jarinya memutih.

"Apa aku tak boleh mengunjungi keponakanku yang cantik?" Pria itu mengulurkan tangan.

Refleks Nat mundur sejauh mungkin dari jangkauan tangan pria itu. Wajah gadis itu memucat.

"Hei, hei, gadis kecilku, kenapa kamu takut padaku?" Pria itu terkekeh panjang.

Nat menjilat bibir. Jantungnya kembali berdegup kencang. Dalam hati dia menyesal mengapa meninggalkan ponselnya di dapur. Imbasnya dia tak bisa menghubungi siapa pun sekarang.

Berpikir, Nat!

Gadis itu memerintah dirinya sendiri. Dia tak boleh membiarkan pria ini masuk. Dia harus menahan pria ini selama mungkin di teras rumahnya hingga bosan. Hingga pria itu pulang tanpa hasil apa pun seperti biasa.

"Aku sedang menunggu pacarku." Nat menelan ludah.

Mata pria itu menyipit. Dia mencondongkan tubuh ke depan. Tatapannya menyelidiki mimik muka Nat sangat saksama.

"Kamu bohong.” Pria itu memutuskan. "Aku tak pernah melihatmu bersama seorang pacar sebelumnya."

Nat menggeleng kuat-kuat mencoba meyakinkan orang di depannya dengan segenap usaha. "Tidak, aku tak bohong. Pacarku sedang ke minimarket membeli makan malam. Sebentar lagi dia pulang."

"Aku sudah ke minimarket di sana dan satu-satunya pengunjung hanyalah aku," pria itu berdecak kesal. "Jangan bilang kamu berpacaran dengan kasir minimarket. Karena itu artinya, kamu akan menunggu dia pulang sangat lama. Kurasa tempat itu baru tutup tiga jam lagi."

Wajah Nat memucat. Apa-apaan orang ini? Bagaimana dia bisa mempercayai omongan bajingan berengsek ini jika memang benar-benar tak ada pengunjung lain di sana?

"Dia mungkin tak ke minimarket itu," Nat berkata berani. Namun, dia tahu kebohongannya sudah di ambang batas. Dia tak pandai mengarang dusta meskipun untuk menyelamatkan hidupnya.

"Oh ya? Sepertinya dia juga akan lama pulang."

"Dia sebentar lagi pulang," sergah Nat.

"Kalau begitu, aku bisa menemanimu menunggu pacarmu.” Bibir pria itu menyeringai.

Perut Nat bergejolak. Tidak, dia tak boleh membiarkan pria ini masuk ke rumah. Kening Nat berkerut cemas. Butir keringat mulai bermunculan di keningnya.

"Sayang, maaf membuatmu menunggu. Aku sudah berkeliling mencari artichoke kalengan, tapi tak ketemu."

Nat terperanjat. Matanya melirik liar siapa pun yang baru saja menyapanya. Pria di hadapannya juga menoleh. Mereka berdua tertegun.

"Daniel?" Nat merapal nama itu.

~~oOo~~

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel