Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Mahesa Terimakasih

Malam mulai berubah dingin, angin bertiup lembut melalui jendela dan mengibar-ngibarkan rambut Mahesa, suasana yang cocok untuk merenung sembari memeluk lutut, pun cocok dengan hati yang resah dan galau luar biasa.

Masih terbayang dalam benak Mahesa bagaimana histerisnya Mirna sore itu, tak pernah terpikirkan baginya untuk mendengar kebenaran tentang diri Mirna. Dalam hati Mahesa bergejolak, apa yang harus ia lakukan agar semuanya kembali berjalan seperti semula? Melihat Mirna yang tersiksa seperti itu lebih berat daripada menerima kenyataan tentang Mirna yang menolak lamarannya.

“Sebegitu cintanya, kah aku pada dirinya?” batin Mahesa, ia tersenyum pahit dengan semua kenyataan yang terpampang dihadapannya.

Ia mengambil handphone yang ia taruh di saku celana nya, ada foto Mirna pada layarnya. Entah apa yang ia pikirkan, namun ia segera membuka aplikasi chat yang ia punya dan mencari kontak Mirna. Ia berharap semoga saja Mirna sudah lebih baik sehingga bisa membalas pesannya.

“Apa kau baik-baik saja? Tolong katakan kau baik-baik saja, balas lah pesan ku segera! Aku merindukan mu” dan pesan itu terkirim.

Lama ia menunggu balasan, ia masih berharap tentang kemungkinan bahwa Mirna membalasnya. Tak beberapa lama pesan masuk. Mahesa girang luar biasa dan cepat-cepat membuka pesannya.

“Maaf, ini pak Herman, handphone Mirna sementara kami tahan, jika ada yang perlu ditanyakan, anda bisa menghubungi saya”

Seketika Mahesa lemas, ia meraup wajahnya dengan kedua tangannya, perih hati ia rasakan saat itu, dan perih yang seperti teremas itu mengalirkan air di mata nya. Mahesa menangis.

“Teet..., teet...,” Siska berlari membukakan pintu gerbang rumah penampungan. Seketika wajahnya cerah melihat siapa yang datang, ia mengucapkan selamat pagi dan mempersilahkan si tamu masuk. “Dia sudah sedikit tenang, hanya saja sekarang jadi semakin sering bicara sendiri, ku harap dia bisa senang jika kakak datang” ucap Siska kepada Mahesa.

Mahesa tersenyum, namun ia segera meralat ucapan Siska. “Aku kesini untuk menemui pak Herman, apa dia ada?”

“Oh, ku pikir kakak mau menemui Mirna” Siska pun mengantar Mahesa ke ruang pak Herman. “Permisi, Pak, ada tamu”

“Oh, Pak Mahesa, silahkan masuk, ada apa?”

Mahesa segera masuk dan duduk berhadapan dengan pak Herman, ia lalu mengutarakan maksud kedatangan nya, dan disitulah terjadi perbincangan. Sebenarnya lebih banyak Mahesa yang berbicara, pak Herman hanya berusaha menimpali dan menjawab sesekali jika dirasa perlu.

“Jadi begitu kesimpulannya?” ujar pak Herman, dan Mahesa mengangguk dengan wajah tenang, “Setelah kejadian yang dialami Mirna, kami memang kekurangan orang, dan kebetulan tenaga pria memang sangat dibutuhkan di sini, jadi, anda diterima bekerja disini”

“Terimakasih Pak Herman, terimakasih” Mahesa menyalami pak Herman dengan bersemangat, “Lalu, bisa saya bekerja sekarang?”

Pak Herman tertawa, “Wah, anak muda memang bersemangat, yah, jika anda siap, kapan saja anda bisa mulai bekerja”

Dan hari-hari Mahesa yang baru pun dimulai. Dengan ini dia bisa dekat dengan Mirna, merawatnya, menjaganya, dan merasakan menjadi diri Mirna yang dulu. Mahesa merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam waktu yang sama, dan itu dia alami saat berada di sebelah Mirna.

......

“Mirna..., jangan lari!”

“Wek..., aku rubah besar, aku bisa berubah jadi monyet besar, coba saja tangkap aku!”

Mirna berlari dan melompat, ia seperti seorang anak kecil yang nakal, tak ada yang bisa menghentikannya saat itu, kecuali Mahesa.

“Yak, kena” Mahesa menangkapnya dari belakang, namun naas, kakinya terselip kursi dan jatuh terguling menimpa Mirna.

“Hahahaha”

Mirna tertawa, menutupi wajah bingung Mahesa, ia memegang wajah Mahesa dan menatapnya dalam-dalam, lalu mencium pipinya.

“Ah, Mirna!” Mahesa terkejut.

Mirna melompat dan berlari mendekati Siska.

“Kakak pasti lelah sekali, ya!” ujar Siska.

Mahesa tersenyum, ia mengelap keringatnya dan berkata, “lumayan, sekalian olah raga”

“Tapi syukur, ya, kak, Mirna lebih ceria sekarang”

“Yah, semua berkat mu juga Sis”

“Ah, yang benar saja, kakak yang lebih membantu”

“Cie..., pacaran, ya?” Mirna tiba-tiba menyeletuk.

“Apa, sih, Mir...” ujar Siska, Mahesa mencubit hidung Mirna gemas.

“Kamu jangan nakal lagi, ya!” seru Mahesa.

“Oke, boss!”

“Kakak hebat, pemulihan Mirna sebelum ini memakan waktu hingga delapan bulan lebih, tapi dengan adanya Kakak disini, Mirna hanya membutuhkan waktu sebulan untuk pulih...” Siska mencubit pipi Mirna, “...Walau belum sempurna”

Mahesa tersenyum, “Melihat dia ceria saja aku sudah bahagia, harapanku dia bisa lebih pulih dari ini”

“Semangat...!”

Tiba-tiba Handphone Mahesa berbunyi.

“Pak Herman, ada apa, ya?” Siska mengedikkan bahu, “Ya, Pak? Oh, ya, baik, Pak” Mahesa berdiri, “Pak Herman, mau ketemu, aku titip Mirna, ya!” dan Siska membentuk simbol ok.

Tak berapa lama, Mahesa sudah sampai ke kantor Pak Herman.

“Mari saudara Mahesa, silahkan masuk! Ini, saya mau memberikan gaji anda untuk bulan ini” Pak Herman menyerahkan amplop yang menggumpal ke tangan Mahesa.

“Wah terimakasih, Pak”

“Tolong tanda tangan disini, ya!” ujar Pak Herman, “Rencananya untuk apa nih gaji pertamanya Pak Mahesa?”

“Saya berencana untuk mengadakan ulang tahun Mirna, Pak”

“Oha, iya, ya, Mirna bulan ini kan ulang tahun”

“Yah, kalau tidak merepotkan, acaranya akan saya adakan disini, masak-masak sederhana oleh Bu Ely, dan makan-makan bersama penghuni rumah”

“Baik, baik, nanti saya kerahkan karyawan yang lain untuk dekorasinya, ya?”

“Terimakasih, Pak”

......

“Happy birthday to you..., happy birthday to you..., happy birthday, happy birthday, happy birthday to you...”

Nyanyian bersahut-sahutan di seluruh penjuru rumah, mereka serentak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Mirna, disusul dengan acara tiup lilin dan pemotongan kue.

Saat mulai makan, Mahesa mendekati Mirna dan mulai memegang piring Mirna dan menyuapinya.

Ingin Mahesa mengajakanya bicara seperti dulu, namun dunia skizofrenia sudah merenggut semuanya. Semua sangat berbeda.

Namun Mahesa tidak pernah menyerah, setiap saat dia mengikuti perkembangan Mirna, konselingnya, obat-obatan apa yang dia Minum, terapi apa yang harus dilakukan. Bukan lalai dari tanggung jawab dan hanya mengesampingkan pasien lain. Mahesa juga cepat tanggap dalam mengatasi pasien lain, dia belajar banyak dari pekerjaannya itu, dan itu membuat kedekatannya dengan Mirna tidak menjadi suatu halangan dalam pekerjaan.

“Mahes...” Mahesa terkejut saat Mirna memanggil namanya.

“Ya”

“Mahesa orang yang Mirna cintai” ujarnya, ia berkata tanpa maksud menunjukkannya pada Mahesa.

Mahesa lalu mengambil handphonenya dan menunjukkannya pada Mirna.

“Mir, kamu tahu siapa dia?”

Mirna menoleh dan menatap lekat pada foto dalam layar handphone Mahesa.

“Cantik” ujarnya, nampak bahwa ia bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri.

Mahesa tersenyum dan terus menunjukkan foto itu sembari menatap wajah Mirna, “Dia bidadari yang mengajarkan ku bahwa kasih itu ada, bahwa cinta tidak mengenal batas, dan bahwa cinta yang sejati itu akan abadi walau sulit untuk menemukannya”

Mahesa menggenggam tangan Mirna, “Bila tiba saatnya, bisakah kau tunjukkan cinta itu sekali lagi pada ku, Mirna?”

Angin berhembus, mentari menerangi dari balik celah-celah awan yang menerangi Mirna dan Mahesa, pupuk-pupuk bagi cinta ditebar, dan kasih itu terus bersemayam dalam hati. Perlahan, mata Mirna beralih merefleksikan wajah Mahesa, ada tetes air mata yang keluar dari sana. Dan lirih tapi dapat terdengar, Mirna pun bersuara.

“Mahesa, terimakasih”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel