Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Kuis

Hari berlalu dengan hangat, sehangat arang yang baru mati dari apinya, menandakan waktu baik yang melingkupi diri Mirna dan Mahesa.

Kini kondisi Mirna mulai membaik, ia dan Mahesa bahkan sudah bercengkerama seperti saat dulu mereka pertama kali mengenal. Tak ada lagi halusinasi, tak ada lagi sosok Mirna yang rapuh dan mengiris hati Mahesa, yang ada hanya kebahagiaan, yang ada hanya keceriaan, yang ada hanya Mirna, Mahesa, dan hari-hari baru mereka.

Sore itu Mirna dan Mahesa pergi menonton, tentu saja dengan izin Pak Herman yang sudah yakin kalau Mirna sudah bisa dilepas, bahkan Mirna kini sudah kembali membantu di rumah penampungan, dan dengan adanya hal itu Pak Herman memberikan bonus bagi mereka berdua untuk pergi jalan-jalan dan menikmati kota.

“Aku senang kamu kembali” Mahesa menatap Mirna dan tersenyum.

Mirna membalas senyumnya, “Ini semua berkat kamu, entah dengan apa aku berterimakasih, kamu menjaga ku selama ini hingga aku pulih kembali, Mahes”

Mahesa merengkuh tangan Mirna dan menciumnya, herannya, Mirna sama sekali tidak risih ataupun melepaskan genggaman itu. “Apapun akan ku lakukan asal kamu bisa kembali, Mir”

“Mahes, maaf” kali ini Mirna tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya, “Karena inilah aku tidak bisa menerima cinta mu” ditariknya tangannya dari genggaman Mahesa, “Seorang skizofrenia tidak bisa menjalin hubungan dengan seseorang, aku harap aku tidak memupuk harapan dihatimu lagi, Mahes”

Mahesa menarik nafas panjang, “Aku dengar dari Pak Herman tentang hal itu, tapi seandainya kamu tidak ingin punya anak karena takut, aku siap hidup tanpa keturunan dengan mu”

“Mahes...”

“Aku tahu ini berlebihan, Mir, tapi hati ini sudah memilih”

“Ini tidak semudah itu, bagaimana dengan beban yang harus ditanggung oleh suami? belum lagi bila harus kumat dan menjadi kendala untuk mengurus rumah tangga, tidak hanya sekedar masalah anak, Mahes....”

“Aku tahu, tapi aku sudah memutuskan, Mir, mengertilah!”

Mirna terdiam, Mahesa jadi semakin keras kepala, ia tidak lagi mengerti harus apa.

“Seserius apa niatan mu itu?”

“Kau bisa menilai dari kesungguhanku selama ini”

Mirna mendesah, mendadak kepalanya seperti dikerubuti seribu lebah, mendadak otaknya pusing hingga ia tidak lagi bisa berpikir.

“Jangan terlalu stres, tidak baik, kau tidak perlu memikirkannya, ini hanya salah satu pilihan hidupku”

Mirna tersenyum, “Mau tidak mau aku jadi kepikiran, ah...”

“Hahaha, sudahlah, ayo pulang! Sebentar lagi malam”

“Ya”

(((

“Aku tahu ini berlebihan, Mir, tapi hati ini sudah memilih” suara Mahesa terngiang, Mirna benar-benar tidak bisa tidur karenanya, “Kau bisa menilai dari kesungguhanku selama ini”

“Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Ini bukan perkara yang mudah, cinta ini manis, tapi bila ku biarkan akan ada orang yang dibuat susah karenanya”

Malam itu dihabiskan Mirna dengan berdoa, ia khusyuk dalam sujudnya, meminta kepada Tuhan jalan terbaik yang bisa ia tempuh. Tetes air wudhu membasahi, setiap sujud yang ia lakukan menjadi jalan baginya untuk berani mengambil sikap. Mirna yakin, saat itu, jika Tuhan bersamanya, maka ia bisa mengatasi semua.

(((

Pagi hari adalah awal yang baik jika dilakukan dengan hati yang gembira, itulah yang terselip di benak Mirna, ia yakin bila hari ini ia bisa melalui semuanya dengan baik, dan hari ini adalah hari yang ditentukan Mirna untuk mengungkapkan isi hatinya.

To : Mahesa

“Siang nanti kita makan sama-sama, ya? Ada yang mau aku bicarakan”

Tak berapa lama, balasan chat Mirna dibalas.

From : Mahesa

“Mau bicara masalah apa?”

From : Mirna

“Nanti juga tahu, dasar tidak sabaran”

“Pagi, Mirnaaaa” suara Siska membahana di pelosok ruang kamar Mirna, Mirna hampir saja melompat karena kaget, sepertinya mood Siska sedang baik.

“Pagi, Sis, untung kamu datang, aku mau bicara”

“Soal apa?”

Dan Mirna pun menceritakan masalahnya, soal keseriusan Mahesa dan niatan Mirna untuk bicara siang nanti.

“Jadi begitu, kamu sendiri bagaimana, Mir?”

“Ya, begitulah”

“Begitu bagaimana? Hufh, memang bukan pilihan bagus untuk menikah, terlebih kamu seorang penderita skizofrenia, bukan menghalang-halangi maksud baik Mahesa, Mir, tapi kamu tahu, kan, resikonya?”

“Aku sudah cerita soal itu ke Mahesa, tapi dia ngotot”

“Lalu?”

“Entahlah, aku serahkan semua pada Tuhan, bila Tuhan sudah berkehendak, manusia bisa apa?”

Siska tersenyum, “Pinter anak mama, hehehe, ya sudah, kita lihat nanti siang saja, sekarang, ayo kerja!”

“Siap, Boss”

Siangnya Mirna tidak menyia-nyiakan waktu lagi, ia langsung pergi ke dapur dan benar saja, didapatinya Mahesa sudah menunggunya dengan sepiring nasi yang menggunung.

“Ayo makan, Mir!”

“Wah, porsi kuli, tuh”

“Hahahaha, habis lapar”

Mirna buru-buru mengambil jatah makan siangnya, yang bila dibandingkan dengan Mahesa mungkin hanya sepertiga porsi makan lelaki itu.

”Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?” Tanya Mahesa.

“Em, cuma hal kecil”

“Aku pikir kamu mau melamar aku”

Mirna tersedak, “Hahaha, enggak lah”

“Lalu?”

“Habiskan dulu makanannya!” secepat kilat Mahesa menelan makanannya yang sepertinya tidak melalui proses mengunyah. Walhasil dua kali Mahesa tersedak.

“Sudah”

“Tapi aku belum, hahaha”

“Ah, sial…., hahahaha”

Lima belas menit kemudian Mirna menyelesaikan makanannya, dengan hati berdebar Mahesa menanti-nanti apa yang akan Mirna katakana.

“Ada sebuah kuis” mulai Mirna, “Kau harus menyelesaikan tiap soalnya dalam waktu tiga detik, kalau tidak bisa akan dianggap gagal”

“Kuis?”

“Ya”

“Kamu mengajak ku makan, dan bilang mau bicara, lalu membuat ku tersedak dua kali, hanya untuk sebuah kuis?”

“Iya…, hehehe, kenapa?”

Mahesa menoyor kepala Mirna dengan sebal, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa” ujarnya sambil menari menirukan artis jepang yang akhir-akhir ini sering nampak di layar kaca.

“Oke, pertanyaan pertama”

“Yak”

“Belum, Mahes…”

“Hehehehe”

“Sejak kapan kamu suka aku?”

“Ini pertanyaan?”

“Yak, gagal” Mirna memotong cepat, “Pertanyaan kedua” dia menatap Mahesa dalam-dalam, “Sebanyak apa rasa cinta mu pada ku?”

“Ratusan, lebih…” lagi-lagi Mahesa menirukan iklan di tivi.

“Bagus, nilai sepuluh”

“Nawar, dong, sepuluh tiga perempat boleh?”

Mirna tergelak, “Lucu banget sih kamu…” ia mencubiti pipi Mahesa dengan gemas. Lalu Mirna meneruskan pertanyaannya. “Apa yang kamu lakukan kalau aku mati?”

“Jangan bikin pertanyaan yang aneh”

“Bukan jawaban, nilai minus lima”

“Lagian bikin pertanyaan aneh-aneh”

“Suka-suka gue dong” seloroh Mirna, lalu ia melanjutkan sesi tanya jawabnya, “Will you marry me?”

Seketika Mahesa terjatuh dari duduknya, ia tergopoh dan dibuat gugup dengan pertanyaan yang dilontarkan Mirna. “Ap…, apa?”

“Yak, pertanyaan batal…” Mirna lagi-lagi tergelak karena ulahnya sendiri.

“MIRNA…, SEBEL TAHU!”

“Apa? Sambel tahu?”

“Dasar gak jelas”

“Next question…”

“Aku gak mau jawab lagi” Mahesa kesal sekali, bisa-bisanya Mirna mempermainkannya.

“Jawab saja!” ujar Mirna, “Apa kamu menjawab dengan jujur selama ini?”

“Gak…”

“Cie…, marah…,”

“Apa bagusnya, sih pertanyaan kaya gini? Mending aku kerja dari pada ngeladenin kamu” Mahesa marah, sungguh-sungguh marah.

“Mahes…, aku kan cuma bercanda” Mirna mencoba merayu Mahesa.

“Terserah” Mahesa mengacuhkan Mirna dan pergi meninggalkan nya.

Sebelum sempat menjauh Mirna berteriak kepada Mahesa, “MAHES…, WILL YOU MARRY ME?”

“TERSERAH!”

“AKU SERIUS. TIGA DETIK, MAHES”

Dengan cepat Mahesa memutar arahnya lalu berlari menuju Mirna, memeluknya dan mendekap wajahnya, “Kamu sudah meremehkan aku, Mir, kalau aku bilang I will, kamu mau apa?” tanyanya sambil memandang wajah Mirna yang gugup.

“Aku…, aku juga mau menikah dengan mu Mahes” jawab Mirna dengan suara berat, “aku sungguh-sungguh”

Mahesa ternganga, ia bingung dengan ucapan Mirna, apakah ia sedang dikerjai, atau apa? Tapi tatapan Mirna sungguh-sungguh, ada kaca-kaca bening dalam mata Mirna dan itu membuat Mahesa yakin.

“Kamu serius, Mir?”

Mirna mengangguk cepat

“Ya Tuhan, terimakasih, I love you, Mir…” Mahesa memeluk Mirna kuat-kuat, dan mereka berdua berputar-putar dengan bahagia. Pada saat itu, babak baru bagi Mahesa dan Mirna baru dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel