Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Goncangan

Bab 3 Goncangan

Pagi ini Mirna terbangun dari tidurnya yang nyenyak setelah malam-malam yang panjang yang ia lalui di rumah penampungan. Tubuhnya terasa segar seperti tidak menanggung sedikit masalahpun. Di regangkan lehernya ke kiri, dan ke kanan, lalu pergi mandi, dan melanjutkan aktifitasnya di rumah penampungan.

Jika dihitung, ini tahun ke tiga Mirna bekerja di rumah penampungan, suka duka ia lewati setelah sebelumnya ia dirawat sebagai pasien di sana. Bukan masalah yang ringan menjadi seorang skizofrenia, ia harus melewati guncangan kejiwaan yang membuat perasaannya terpontang panting, membuatnya menenggak obat-obatan yang berguna untuk meredakan gejolak jiwa yang ia miliki.

Tak jarang ia masih mendengar dan merasakan halusinasi yang menjadi momok hidupnya, walau tidak separah dahulu, tapi bisik-bisik itu masih menjadi hantu yang menakutinya.

Seperti pagi ini, sesaat setelah ia mulai melanjutkan aktifitasnya, Mirna mendengar suara-suara halus yang sempat menjadi masa lalunya, ia memanggil-manggil seperti bisik-bisik yang nyata.

Namun Mirna tidak menghiraukannya, ia tetap beraktifitas dan itu membuat tidak ada satu orang pun yang curiga, namun suara itu semakin menjadi hingga Mirna merasa resah dan butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya. Ia takut, bila suara itu terus menerus terdengar, ia tidak akan lagi bisa konsentrasi bekerja.

Ia lalu mencari Siska, ingin rasanya ia ceritakan kegundahan hatinya itu. Ia buru-buru memasuki ruang wanita hingga kakinya hampir saja terjerambat kaki Eveline si penderita bipolar. Eveline hanya bisa bersunggut-sunggut yang sama sekali tidak Mirna perhatikan.

Dan saat menemukan Siska, Mirna sudah hampir separuh berteriak. Namun suaranya tertahan dan mengambang di udara. Ada suara lain yang melintasinya seperti menggerutu.

"Aku tidak sudi berteman dengan mu, Mirna, membosankan jika harus bergaul dengan orang seperti mu."

"Apa salah ku, Sis?" tanya Mirna dengan wajahnya yang seperti habis tersambar petir.

Siska menengok dan terkejut, dilihatnya Mirna yang berdiri lunglai di balik badannya.

"Mirna, ada apa?" tanya nya.

"Apa maksud mu dengan tidak mau berteman dengan ku, Sis?" ada yang sakit di dada Mirna, dan sakit itu memeras air di matanya.

"Maksud mu apa?" Siska hanya mengernyit bingung.

"Aku pikir kita berteman baik."

Siska merasakan gelagat yang aneh pada diri Mirna, ia bingung harus bagaimana, tapi sepertinya ini tepat seperti yang ia pikirkan. "Mirna, ada apa? Mungkin kamu sedang salah pengertian, ayo kita bicara!" ajak Siska sembari mendekatinya dan hendak merangkul teman sejawatnya itu. Namun Mirna menepis tangan Siska, ia memandang Siska dengan tangis yang sudah tidak terbendung lagi.

"Kamu jahat, Sis." ujarnya.

Ada suara yang berseru "Ya, aku tidak menyukai mu, Mirna." itu berasal dari Siska walaupun mulut Siska sama sekali tidak bergerak saat itu.

Mirna menutup mulutnya, menutupi suaranya yang sesenggukan. Dan ia lantas berlari.

Siska berteriak memanggilnya dan sudah hendak mengejar Mirna yang memasuki kamar, namun Mirna yang lebih dulu masuk sudah menutup pintu kamarnya.

Siska bingung, "Mir, ada apa? Cerita, Mir! Mirna..., ayo buka pintunya!"

Namun Mirna seperti gelap mata, ia hanya menangis dan bahkan berteriak. Suara memohon Siska tidak terdengar, yang terngiang di gendang telinga adalah suara hujatan Siska dan ucapan bahwa Siska sudah membencinya. Suara itu semakin lama semakin ramai, memenuhi otak Mirna yang begitu tertekan dan kacau secara tiba-tiba, kondisinya semakin buruk, kondisi dimana skizofrenia Mirna mulai terbangun dan menyerang.

(((

Mahesa bersenandung sembari melajukan motor nya. Arah tujuannya diyakini bisa membuat hari nya semakin berwarna. Tidak peduli apakah Mirna sudah menolak nya atau tidak, tapi jika dia bisa melihat wajahnya semenit saja hari itu, maka Mahesa akan merasa sangat beruntung.

Diturunkan standar motor nya setelah sampai di rumah penampungan tempat Mirna bekerja. Sudah pukul tiga sore, Mahesa sudah bersiap menunggu Mirna yang biasanya sedang berjalan keluar, namun menit demi menit dia menunggu, Mirna tak juga menampakkan diri.

Mahesa melirik ke arah jam nya, tidak ada tanda-tanda Mirna keluar. Ia lalu memencet bel yang terpasang. Beberapa menit kemudian seorang wanita nampak tergopoh-gopoh membukakan pintu.

"Siska, ya?" Mahesa menerka nama perempuan itu setelah sebelumnya berusaha keras mengingat nama nya.

"Kak Mahesa, ya?" ujarnya dengan wajah pucat. "Syukurlah Kakak datang, Mirna terus menyebut nama mas Mahesa." ujarnya.

"Mirna? Kenapa dia?"

Mahesa terburu-buru memasuki ruang wanita setelah mendengar penjelasan dari Siska. Ia tidak begitu mengerti apa yang terjadi, tapi jika bisa disimpulkan, Mirna sudah seharian lebih mengurung diri.

"Dia terus mengucap Mahes, Mahes, saya pikir itu panggilan untuk Kak Mahesa, saya bingung harus apa, keluarga nya baru bisa kemari besok siang, aku harap kedatangan Kak Mahesa bisa membantu." terang Siska.

Di depan pintu kamar Mirna sudah terkumpul beberapa orang, salah satunya pemilik rumah penampungan, bapak Herman, yang dengan wajah tenang mengetuk pintu kamar Mirna dan membujuk nya agar keluar.

"Mirna, Mirna, ayo buka pintunya! Ini saya bapak Herman. Kamu tidak apa-apa, kan?" ia terus mengetuk dan mencoba agar tidak mendobrak pintunya.

Mahesa mendekati Bapak Herman dan mencoba berinteraksi dengan nya.

"Maaf, saya Mahesa, Pak." ujarnya memperkenalkan diri.

"Oh, saudara Mahesa, saya Bapak Herman, pemilik rumah ini. Ah, entah ada apa dengan Mirna, dia sudah seharian lebih tidak mau keluar kamar."

"Biar saya coba memanggil nya." Mahesa menarik nafas dan mengetuk pintu kamar Mirna perlahan, "Mir, ini Mahes, Mir, kamu tidak apa-apa, kan?" dia sungguh mengkhawatirkan Mirna meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Buka pintu nya, Mir!"

"Nyah..., nyah...." ada suara bisik-bisik samar dari kamar Mirna.

"Apa? Mir, kamu bilang apa?"

Tiba-tiba Mirna berteriak histeris, "ENYAH! ENYAH KALIAN ENYAHHHH!!! HAAA!!!"

Mahesa terkejut, dan Mirna tidak henti-hentinya berteriak.

"Mir, buka Mir! Mirna, kamu kenapa, Mir?" Mahesa panik, dia takut terjadi apa-apa dengan Mirna.

"Tidak ada cara lain." pak Herman yang masih bernada tenang mulai memerintahkan anak buah nya, "Kumpulkan para pria untuk mendobrak pintu nya, saya takut dia melukai diri nya sendiri." ujar nya.

Dengan cepat terkumpullah para pria yang berdiri di depan pintu kamar Mirna dan mengerahkan tenaga untuk mendobrak pintu. Butuh waktu untuk membukanya sampai pintu itu jebol, dan mereka melihat kamar Mirna yang sudah berantakan.

Mahesa melihat Mirna yang bergelung dengan selimut nya di sudut ruangan. Matanya sembab dan memancarkan kesedihan. Mahesa lekas menghambur ke arahnya.

"Mir? Kamu gak apa-apa, kan?"

Mirna terisak, dipandanginya Mahesa dengan tetap bergelung. Dia meratap, lebih mirip seperti berbisik yang diliputi tangis.

"Mahes jahat, Siska juga, semua jahat pada ku." dia sesenggukan menahan gumpalan beban di dada nya.

"Aku jahat kenapa? Mahes gak jahat, lihat, Mahes ada disini buat Mirna."

Tiba-tiba tangis Mirna semakin pecah, ia berteriak dan menjambak rambut sekuat-kuatnya. Mahes panik, ia mencoba menenangkan Mirna, namun Mirna seperti tuli dengan semua suara. Kepala Mirna sibuk dengan asumsi dan dunia yang ia bentuk sendiri dalam kecemasan dan kekecewaan, tak ada yang mengerti dirinya.

Semua merasa kasihan, mereka yang sadar tentang bagaimana Mirna sebenarnya mulai memisahkan Mahesa dan Mirna.

"Nanti akan aku jelaskan." ujar pak Herman.

Selanjutnya Mahesa diantar ke ruangan pak Herman.

"Jadi begini, Pak Mahesa." Pak Herman langsung menjelaskan tanpa diminta. "Sebenarnya Mirna sudah dalam tahap pulih, dan selama tiga tahun ini dia membantu dan bekerja di rumah ini tanpa ada kasus, tapi kali ini adalah pengecualian."

Mahesa berusaha mencerna kata-kata pemilik rumah penampungan itu, namun tak satu pun kalimat yang bisa ia cerna.

"Kondisinya bisa disebabkan oleh faktor lingkungan, atau tubuh nya yang belum bisa menerima efek dari turunnya dosis obat yang ia konsumsi."

Kening Mahesa berkerut, dia semakin tidak mengerti.

"Maaf, saya tidak mengerti maksud anda." ujar Mahesa.

Kali ini giliran kening Pak Herman yang berkerut. "Jadi anda belum tahu apa yang diderita Mirna? Anda tidak tahu penyakit apa yang menyerangnya?"

Mahesa menggeleng pelan. Desah nafas pak Herman membuat Mahesa semakin berpikir keras.

"Mirna adalah seorang penderita skizofrenia."

Mahesa tidak begitu saja tanggap dengan kata skizofrenia, otaknya justru berpikir keras. ia merasa tidak asing dengan kalimat itu sampai sekumpulan artikel yang sekelebat melayang di otaknya tentang penyakit itu mulai mengisi memorinya.

"Jadi...." suara Mahesa bergetar. "Mirna menderita gangguan jiwa?"

Bapak Herman mengangguk.

Bagai disambar petir lah Mahesa. Bibirnya bergetar dan tangannya mencoba menutupi wajahnya yang seketika dilanda galau. Ia tidak menyangka orang yang selama ini dikenalnya, yang terlihat ramah, supel, dan menyenangkan, ternyata seorang penderita gangguan jiwa, terlebih, orang itu adalah orang yang membuat Mahesa jatuh hati.

Mahesa bingung, apa yang harus ia lakukan, bagaimana dia harus merespon kejadian ini? Di otaknya hanya ada bayangan Mirna, senyum Mirna, dan kalimat bijak Mirna yang selalu menghangatkan diri nya.

"Mirna...." hanya nama itulah yang keluar dari mulut Mahesa.

"Saya harap anda tenang, masih banyak kesempatan bagi Mirna untuk kembali pulih, ada banyak cara untuk mengembalikan dia ke kondisi normal."

"Bisa saya bertemu dia lagi."

Pak Herman tidak langsung menjawab, dia malah menatap pria di hadapannya itu. Sudah jadi kebiasaan bagi pak Herman untuk menilai seseorang dari wajah dan gerak tubuh nya.

"Tentu saja bisa, asal tidak melakukan sesuatu yang memperparah situasi."

Dan Mahesa pun mengangguk.

Mereka berdua berjalan beriringan untuk kembali ke ruang wanita. Dilihatnya Siska yang hanya bisa memandang Mirna yang terbaring lemah di ranjang karena efek obat.

Mahesa duduk di sisi ranjang Mirna, menggenggam tangan Mirna dan berkata, "Mir..., ini Mahesa...."

Mirna melirik pelan ke arah sumber suara, "Mahes?" dan Mahesa mengangguk, dan seketika tangis Mirna kembali pecah, "Kenapa Mahes? Kenapa Mahesa benci aku? Kenapa."

Perihlah hati Mahesa, tak pernah ia lihat Mirna yang sebegitu rapuh dan tak berdaya, tenggelam dalam air mata dan kesedihan yang tanpa alasan.

Karena tak tahan lagi, secepat kilat Mahesa merentangkan tangan dan memeluk Mirna, mereka berdua pun menangis bersama.

"Mahesa gak mungkin jahat dengan Mirna, Mahesa sayang Mirna, ingat itu." namun Mirna tidak pernah lagi bisa mendengarnya, tapi entah karena hati tulus Mahesa atau pengaruh obatnya, Mirna pun terdiam dan tenang, Mahesa meneruskan perkataannya, "Mahesa akan selalu ada buat Mirna, pun dengan yang lain, kami semua sayang Mirna, jadi Mirna cepat sembuh, ya!"

Mahesa membantu Mirna untuk kembali tidur di ranjangnya, dan dengan cepat, Mirna lelap dalam tidurnya.

Mahesa membelai rambut Mirna dengan kasih, walau ia sudah mengetahui kenyataannya, namun rasa sayang itu tetap tumbuh. Mahesa berpikir, perasaan macam apa ini? Mengapa kasih ini tetap menyusup pelan di hatinya? Terlebih saat yang terkasih lemah dan tak berdaya.

Dua jam lebih ia di sana, hingga ia pun akhirnya undur diri dan pulang kembali ke rumah nya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel