Pustaka
Bahasa Indonesia

Aku Tetap Mencintaimu

26.0K · Tamat
Fazruli Rifkyana Ulfah
24
Bab
1.0K
View
7.0
Rating

Ringkasan

Bukankah berat bagi penderita skizofrenia untuk berkeluarga, walau pun dokter sudah mengatakan bahwa Mirna pulih, bukan berarti penyakit itu tidak akan kambuh lagi.Mirna, seorang penderita Skizofrenia yang sedang berjuang melawan penyakitnya. Jatuh bangun ia hadapi demi mencapai jati diri untuk menjadi seperti orang normal kebanyakan, dan untuk berjuang mendapatkan cintanya.Mahesa, seorang yang sangat mencintai Mirna, bagaimanapun ia akan mengetahui siapa Mirna sebenarnya.Bagaimanakah kehidupan Mirna akan berlangsung, novel yang menguras air mata ini akan memberikan mu kisah yang sangat dramatis dan susah dilupakan.

IstriPernikahanKeluargaMenyedihkan

Bab 1 Mirna dan Mahesa

Bab 1 Mirna dan Mahesa

Mirna ku seperti lembaran fajar

Yang berjanji akan kembali

Meski kerap melawan rembulan

Mirna ku seperti selambu malam

Yang melingkupi hati

Saat petang menanti

Dan aku Mahesa nya

Yang masih menunggu

Walau Mirna yang sekarangpun

Tak seindah dulu

Ketegangan itu terpancar di dahi Mirna. Ada urat yang berkedut kasar di sana, dan juga kerut-kerut yang menandakan bahwa ia sedang mencoba bersabar.

"Aku harus mengatakan, bahwa yang kau lakukan itu salah" ujar Mirna sembari menatap mata rekan kerja nya dalam-dalam. "Yang kita tangani adalah orang-orang dengan kebutuhan khusus, dan yang kamu lakukan sudah jelas-jelas di luar peraturan yang tertulis disini"

Lawan bicara Mirna semakin menekuk wajah nya.

"Kalau sampai yang kamu lakukan membuat situasi bertambah kacau, dan kondisi pasien berubah down, terpaksa saya akan lapor ke atasan" Mirna menambahkan setelah sempat sekali mengurut kening. "Ingat! Moto kita adalah melayani dengan menyeluruh dan penuh kasih"

Lawan bicara Mirna mendesah dan kali ini menatap mata nya dengan tatapan memelas, "Mungkin saya terlalu lelah, pekerjaan ini menguras emosi dan tenaga saya, ini pertama kalinya saya bekerja seperti ini, jadi maaf jika nada bicara saya jadi terkesan emosional dan terlalu tinggi"

Mirna tersenyum samar dan menepuk bahu nya. "Lain kali lebih santai, lah! Kita tidak bisa memperlakukan mereka seperti orang normal" Dia berujar dan menatap lawan bicaranya dengan hangat, seketika ketegangan di antara mereka luntur. "Aku bisa bicara seperti ini karena aku pernah menjadi salah satu di antara mereka, Siska, aku tahu dan merasakan bagaimana skizofrenia itu menyerang, jadi..."

"Maaf, Mirna. Bukan maksud saya mengorek masa lalu mu"

"Itu bukan hanya sekedar masa lalu, Sis. Itu adalah kutukan yang akan selalu dibawa sampai mati"

Dan mereka berdua pun terdiam, menutup pembicaraan itu setelahnya, dan kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

Bagi Siska, pekerjaan ini hanya sebuah jalan bagi nya untuk mendapatkan uang. Berbeda dengan Mirna. Bagi nya, pekerjaan ini adalah salah satu wadah dimana ia bisa melayani Tuhan dengan berbagi dan membantu orang yang memiliki torehan sejarah yang sama dengan diri nya.

Sungguh beruntung bagi diri nya yang bisa bekerja di rumah penampungan para penderita gangguan jiwa itu setelah sebelumnya dia harus tenggelam bertahun-tahun karena digoncang skizofrenia.

Dan sesuatu yang berat untuk bisa lepas dari cengkrama skizofrenia, bagai bangkit dari kubangan lumpur yang menghisap nya sendirian. Dan dia masih harus berjuang untuk kembali di jalan orang normal dengan kekhawatiran jika suatu saat akan terperosok lagi.

Dan Mirna juga harus menghadapi konsekuensi lain, bahwasanya orang sepertinya kelak akan sangat sulit menghadapi hidup, untuk kembali bersosialisasi di tengah masyarakat yang kebanyakan menolaknya, untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, dan juga untuk cinta nya.

Handphone Mirna bergetar, tepat saat ia berada di jam makan siang. Ia sudah hapal siapa yang menghubunginya di saat seperti ini.

Dari : Mahesa

"Sudah makan siang? Selamat menikmati makanan mu! Dan Kuharap hari mu menyenangkan"

Dan pesan di bawahnya berbunyi, "Ps : Aku masih berharap jika kamu mau menerima lamaran ku. Tolong pertimbangkan!"

Mirna mendesah. Rasanya berat dan pusing sekali di kepala. Ini kesekian kalinya Mahesa mengungkit soal lamarannya kepada Mirna. Tentu ini sangat bertentangan dengan keinginan Mirna. Bukan karena Mahesa jelek, kasar, dan tidak punya masa depan yang cerah. Mahesa sangat jauh dari itu semua. Ini lebih kepada prinsip Mirna, bahwa ia tidak akan menikah apapun yang terjadi.

Bukankah berat bagi penderita skizofrenia untuk berkeluarga, walau pun dokter sudah mengatakan bahwa Mirna pulih, bukan berarti penyakit itu tidak akan kambuh lagi.

Dan semua ini bertambah buruk karena Mahesa tidak tahu alasan dibalik ketidakmahuan Mirna. Jika ia tahu, bukan tidak mungkin Mahesa akan menjauhinya. Mungkin segalanya akan semakin mudah, tapi untuk kehilangan sahabat seperti Mahesa, hal itu terlalu berat bagi Mirna.

"Aku tetap tidak akan menerima mu, maaf" pesan itu mulai terkirim, dan lalu Mirna mematikan handphonenya untuk waktu yang tidak ditentukan.

(((

"Pulang kampung, ya? Weakend, ya? Aku antar, ya?" Mahesa mengejar Mirna dengan motornya. Mirna hanya menatap lurus ke depan, di dalam pikirannya, Mirna berpendapat agar untuk sementara menjaga jarak dari Mahesa. "Please, Mirna, jangan perlakukan aku seperti ini" tiba-tiba ia berhenti dengan lesu dan memandang sedih ke arah Mirna. "Aku harap kita bisa akrab seperti dulu"

Mirna menunduk dan mendesah lelah, "Semenjak kau melamar ku, hati ku terasa kaku" Mirna meremas kerah nya, "Ada rasa yang tidak nyaman disini, bukan karena aku membenci mu, aku juga tidak tahu pasti, tapi aku ingin agar kita tidak membuat ikatan satu dengan yang lainnya" Mirna berpaling ke arah Mahesa, "Bisa, kan? Bisa, kan, kita tetap hanya berteman saja?"

"Kenapa, Mir?" tatapan Mahesa semakin sendu, "Aku pikir kita punya ketertarikan yang sama, kita cocok, kita nyambung, dan hati ini benar-benar merasa bahwa kita bisa bersama kelak, tapi kenapa, Mir...?"

"Itu semua hanya bagian dari emosi mu, Mahes, hormonal, tidak lebih, dan maaf, aku tidak bisa menjanjikan lebih dari sekedar teman" ia menggigit bibir nya, "Jangan paksa aku"

Mereka berdua terdiam, detik yang berlalu terasa lama, hingga salah satu dari mereka merasa harus memecahkan suasana mencekam ini. "Aku tahu" akhirnya Mahesa angkat bicara, "Kalau itu mau mu, kita selamanya hanya akan jadi teman"

"Bagus" Mirna tersenyum.

Mahesa menepuk bangku belakang motor nya, "Dan sebagai teman, aku tidak bisa membiarkan mu jalan sendirian sampai rumah. Yuk, ku antar!"

"Oke" Mirna hendak berjalan menuju motor Mahesa, namun tiba-tiba kakinya terkilir dan sudah akan jatuh. Mahesa yang melihat hal itu dengan sigap melompat hingga ia lupa jika sedang duduk di atas motor, akibatnya mereka berdua jatuh saling menimpa dan tertindih motor Mahesa.

Mulanya mereka meringis karena itu, namun sekejap, mata mereka saling tertumbuk satu dengan yang lain.

"Tuhan, tolong jaga hati ku, Tuhan, jangan sampai aku lepas kendali, Tuhan..." Mirna mengulang-ngulang do’a nya dari dalam hati. Ia merasa wajahnya sangat panas, dan detak jantung nya tidak henti-henti berdebar.

"So, sorry" Akhirnya Mahesa bangkit dan membetulkan letak motornya, ia lalu membantu Mirna berdiri.

"Aw!"

Mahesa dengan gugup menatap Mirna, "Ka, kamu gak apa-apa?"

"Kaki ku terkilir, sedikit nyeri"

"Sebaiknya kita mampir ke mini market dulu sebelum ke rumah mu untuk membeli obat penghilang rasa sakit, gak apa-apa, kan?" Mirna mengangguk.

Sekembalinya dari mini market, mereka berdua terlihat duduk di teras rumah Mirna. Mirna mengurut-urut pergelangan kakinya yang sakit, sedangkan Mahesa hanya diam memperhatikan.

"Sakit?" tanya Mahesa.

"Nyeri, kaya ditusuk"

"Kaya hati ku"

Sekejap kilat mata Mirna menatap Mahesa dengan tajam.

"Bercanda, bercanda" Mahesa mengklarifikasi ucapannya dengan tatapan ngeri. Mirna kembali konsentrasi mengurut kakinya. "Andai aku jadi suami mu, pasti tangan ku yang mengurut kaki mu sekarang"

"Mahesaaaa....!"

"Bercandaaa..." ia lalu terkikik geli.

"Canda mu itu tidak lucu, aku, kan sudah bilang kalau..."

"Aku tahu, Mir..." ia lalu bangkit dari tempat duduk, "Mungkin sudah takdir ku untuk hanya jadi teman mu" ia lalu mengambil helem nya, "Ya sudah, aku pulang, semoga lekas sembuh"

Tapi Mirna tidak menjawab, dan membiarkan Mahesa pergi, dan berlalu seorang diri.

"Andai aku jadi suami mu..."

Seketika wajah Mirna kembali memerah karena kalimat Mahesa yang bergaung di telinganya.