Bab 2 Degub Kecil
Bab 2 Degub Kecil
"Papaku yang punya sekolah , sekolah dibakar orang karena papa dituduh PKI." Mirna mendengarkan nenek Meri bercerita sembari menyuapi nya, jika sedang semangat ia akan menghabiskan dua piring makanannya. "Tiap nonton di bioskop, selalu gratis, waktu masuk, semua laki-laki, aku takut, lari sampai rumah." Mirna hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk mencoba mencerna ceritanya yang dengan cepat berganti-ganti.
Tiba-tiba Siska berlari ke arah nya dengan tergesa-gesa. Satu per satu diatur nafasnya sebelum memulai bercerita. "Mei mei tidak mau merespon, Mir, dari tadi dia hanya diam dan tidak mau berbicara. Makan siangnya juga tidak habis."
Mirna mengernyit, "Apa obatnya tidak diminum?"
"Diminum, kok, cuma seharian ini kondisi dia tidak seperti biasanya."
Mirna berpikir cepat untuk situasi ini, segera dia mengambil handphone nya dan menghubungi atasan.
"Kata bos kita disuruh untuk bertemu dokter Herni hari ini, dan berkonsultasi masalah Mei mei."
"Gak mungkin, Mir. Pak supir lagi liburan, dan jadwal ketemu baru dua minggu lagi, lagi pula tidak ada yang bisa bawa mobil selain pak supir."
Lagi-lagi Mirna dipaksa berpikir, "Bisa, kok, kontrol dokter tidak harus dengan jadwal, apalagi masalah darurat seperti ini. Dan soal mobil.."
(((
"Teet.., teet..,." bel berbunyi. Mirna segera membuka pintu karena tamu yang mereka tunggu sudah datang.
"Thanks, Mahesa, kamu benar-benar membantu.".
Mahesa tersenyum, "Gak masalah, hari ini aku libur."
Mahesa dan Mirna pergi, Sepanjang perjalanan Mirna memperhatikan Mahesa yang dengan rendah hati membantunya. Dan di situlah ia melihat sisi menawan dari seorang Mahesa, sisi lain yang membuat wajahnya merona dan jantungnya berdebar.
Dilihatnya Mahesa yang dengan sabar membantu pasien yang berjalan tertatih-tatih, mengajak mereka bercengkerama dengan topik-topik yang ringan dan tertawa bersama mereka, mengelap air liur mereka yang menetes, memperlakukan mereka dengan kasih yang kadang tidak bisa diperlihatkan orang lain.
Di mata Mirna saat itu, Mahesa bagai seorang pangeran welas asih yang datang dihadapan rakyat jelata untuk memberi kasih dan pertolongan.
"Kau pasti lelah menghadapi ini setiap hari." Mahesa duduk di samping Mirna yang menunggu di depan farmasi rumah sakit sembari menyodorkan air mineral.
Mirna menerima air pemberian Mahesa dan lantas mengucapkan terimakasih. "Tidak akan terlalu lelah saat kita bisa melihat hasil baiknya, seperti, saat mereka mulai bisa bercengkerama lagi, atau saat mereka tersenyum bahagia, rasanya seperti melepaskan beban mereka perlahan. Dan itu membuat ku bahagia."
Mahesa menatap dalam-dalam wajah Mirna.
"Kenapa?" tanya Mirna.
Mahesa tersenyum tipis dan berpaling menundukkan wajahnya yang tertangkap basah. "Tidak, saat kau bercerita tentang mereka dengan wajah bahagia seperti itu, aku berpikir, bahwa kau seperti malaikat."
Jantung Mirna berdenyut dan memompakan warna merah ke wajahnya, ia tidak pernah biasa dipuji seperti itu.
"Rasanya, aku semakin menyukai mu." ucap Mahesa, "Ah, lupakan saja."
Lalu mereka berdua terdiam. Mirna ingin sekali memegang tangan Mahesa jika seperti itu, tapi ia sudah berniat jika ia tidak ingin memupuk hubungan dan harapan Mahesa lebih jauh lagi.Tapi bagaimanapun juga, ada perasaan merah muda yang terselip di hati Mirna. "Mahesa, kau juga seperti malaikat, aku menyukai cara mu memperlakukan mereka-mereka yang tidak berdaya." ucap Mirna dari dalam hati.
"Nona Merlin Lakamua?" terdengar suara dari pengeras suara di apotek.
"Aku ambil obat dulu, setelah itu kita pulang." ujar Mirna kepada Mahesa.
"Oke."
"Sudah, ayo pulang!" ajak Mirna beberapa menit setelah ia mengambil obat. Mahesa bangkit dan segera menuntun pasien untuk menuju mobil. Mirna tersenyum, dia menyukai tingkah Mahesa yang begitu baik di hadapannya.
(((
"Thanks sekali lagi Mahes. Berkat kamu, hari ini semua berjalan lancar." Mirna menyuapi nasi uduk buatan Bu Ely tukang masak rumah penampungan. Ini jatah sarapan Mirna yang belum ia sentuh sejak pagi, sayang kalau tidak ia habiskan, rasanya semakin lezat saja karena Mirna yang memang sangat lapar saat itu.
"tidak masalah, kapan saja kamu butuh, aku siap, asal tidak sedang sibuk saja." ujar Mahesa menyesap teh nya.
"Iya, kak, terimakasih banyak." Ujar Siska, "Kejadian seperti tadi memang jarang sekali terjadi, dan kami terbantu sekali dengan kakak." ia duduk diantara aku dan Mahesa, "Ngomong-ngomong, apa kalian berdua pacaran?"
Aku tersedak, "Apa-apaan, sih, Sis?"
Siska memandang dengan mata polos, "Habis, Mirna, kamu kan tidak pernah terlihat dekat dengan pria, jadi ketika ku lihat kamu dekat dengan kak Mahesa ku simpulkan saja kalau kalian pacaran."
"Gak selalu seperti itu kan..."
"Mungkin saja, Sis, amini saja." ujar Mahesa menyeletuk.
"Mahes.., jangan mulai, ya!"
Mereka tertawa, walaupun Mirna pura-pura cemberut, tak urung ia tertawa juga. Tanpa sadar pandangan Mahesa dan Mirna bertemu, namun hanya sesaat karena rasa gugup mendera mereka. Akankah cerita mereka berubah berbeda?
