Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 6

"Ini rumahnya Mas?" Tanya Aisyah saat mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah.

"Iya Sayang, ini kontrakan milik Mas. Doakan ya semoga segera ada rezeki, biar kita bisa punya rumah sendiri."

"Aamiin", jawab Aisyah sambil tersenyum lebar.

Aisyah dan Adrian pun memasuki rumah yang akan mereka jadikan awal dari perjuangan mereka di kehidupan ini. Saksi bisu yang akan menjadi tempat bagi mereka dalam menjalani hari-hari yang tentunya banyak sekali aral melintang yang akan mereka jumpai.

*****

"Aisyah, Mas berangkat dulu ya Sayang." Adrian mengecup kening istrinya yang masih pulas di tempat tidur.

Aisyah mengeliat, pelan-pelan membuka mata. "Hah", ucapnya dengan wajah kaget kemudian segera mengubah posisinya menjadi duduk.

"Mas sudah mau berangkat? Maaf ya Mas, Aisyah bangun kesiangan. Mas mau sarapan apa? Aduh keburu enggak ya kalau Aisyah masak dulu?"

"Mas sudah masak Sayang, itu buat kamu sarapan juga di meja. Kamu pasti lelah, kemarin kamu beres-beres sampai malam. Sekarang kamu istirahat saja." Jawab Adian yang membuatnya sedikit lega.

Ya Adrian memang benar, kemarin Aisyah bekerja sampai larut untuk menata kontrakan mereka. Bagaimanapun juga Adrian adalah laki-laki yang tidak memiliki jiwa kebersihan tinggi. Sehingga Aisyah harus mengeluarkan banyak tenaga untuk menjadikan rumah kecil itu menjadi bersih dan wangi.

"Terimakasih ya Mas." Kata Aisyah mengulurkan senyum kepada suaminya.

"Baiklah Mas berangkat ya, kamu hati-hati." Kata Adrian sambil berlalu.

Aisyah berusaha bangkit dari tempatnya. Tapi niat itu dia urungkan setelah merasa sakit yang amat sangat di kepalanya.

"Aaauuuu", rintihnya sambil memegang kepala dengan kedua tangan.

Dengan berusaha sekuat tenaga gadis itu berusaha bangkit, berjalan terseok menujur tempat dimana dia meletakkan tas miliknya. Aisyah segera membuka tas miliknya dan mengambil beberapa obat yang ada di dalamnya. Dia berjalan kembali menuju meja makan untuk mengambil air kemudian menelan obat yang ada di tangannya.

Aisyah duduk di kursi menenangkan diri sambil menunggu respon dari obat tersebut. Sampai dirinya merasa lebih baik.

Sudah sekitar enam bulan ini Aisyah sering merasa sakit kepala. Dia ingat sekali saat pertama kali dirinya pingsan saat menjahit di tempat Bu Ani. Sejak saat itu dia menjadi sering merasakan sakit di kepalanya apalagi saat kelelahan.

"Alhamdulillah", ucapnya saat dia merasa sakit di kepalanya berangsur menghilang.

Aisyah melihat sebuah tudung saji di meja. Dibukanya tudung saji tersebut. Ada nasi putih, cah kangkung, dan ayam goreng yang telah tersedia di dalamnya.

"Jadi ini masakan Mas Drian, coba aku cicipin." Ucapnya lirih. Kemudian mulai mengambil piring dan memindahkan sebagian makanan tersebut ke dalamnya.

"Hmm, enak sekali", gumam Aisyah yang kemudian tersenyum lebar dan mulai menghabiskan makanannya.

*****

Aisyah melihat jam dinding di rumahnya yang menunjukkan pukul empat sore. Dirinya merasa kesepian berada di rumah seorang diri.

Drrt... Drrt...

Ponsel Aisyah berbunyi, panggilan dari suaminya.

"Assalamualaikum Mas", jawab Aisyah setelah menggeser tombol hijau di layar.

"Waalaikumsalam", jawab Adrian dari seberang.

"Aisyah, habis ini siap-siap ya! Mas mau ajakin kamu ketemu sama teman-teman." Imbuh Adrian.

"Hah, sekarang Mas?"

"Iya, ini Mas mau pulang jemput kamu. Setelah itu kita berangkat ke kafe. Mas bikin acara syukuran kecil-kecilan di sana buat merayakan pernikahan kita."

"Tapi Aisyah malu"

"Kenapa malu Sayang?"

"Aisyah malu Mas"

"Kenapa harus malu Sayang kan ada Mas. Mas akan selalu jagain kamu. Kamu siap-siap ya sekarang. Ini Mas sudah perjalanan pulang. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam" Jawab Aisyah sambil menutup ponselnya.

Aisyah merasa deg degan saat ini. Bagaimana tidak, dirinya sama sekali faham dengan pergaulan di Jakarta. Bagaimana jika nanti dirinya hanya akan membuat Adrian malu? Apakah teman-teman Adrian bisa menerima dirinya yang hanya gadis kampung ini? Saat ini bermacam-macam ffikiran memenuhi kepala Aisyah.

*****

"Assalamualaikum, Aisyah", Adrian berseru dari ruang tamu.

"Waalaikumsalam Mas", jawab Aisyah dari dalam kamar.

"Waow, istri Mas cantik sekali." Puji Adrian setelah dirinya masuk ke dalam kamar dan menjumpai istrinya yang tengah merapikan jilbab.

"Mas Drian, jangan gitu ihh." Jawab Aisyah manja.

"Melihat kamu seperti ini Mas jadi pengen batalin acaranya."

"Loh kenapa Mas?"

"Abisnya Aisyah cantik sekali, Mas enggak tahan buat peluk-peluk dan cium-cium istri Mas ini." Jawab Adrian sambil memeluk dan mencium pipi Sang Istri.

Aisyah tersenyum melihat kelakuan suaminya. Apalagi tangan Sang Suami yang mulai merajalela di tempat-temat yang membuatnya mendesah pelan.

"Mas Drian ihh, buruan mandi. Nanti telat. Kasihan teman-temannya Mas udah pada nungguin." Aisyah segera melepaskan diri dari kuasa Adrian. Dia memang seharusnya melakukan hal itu sebelum dirinya pun terbuai oleh gelora cinta ciptaan Adrian.

"Aisyah", Aisyah menyebutkan namanya saat Adrian memperkenalkan dirinya di hadapan beberapa orang teman laki-laki dan perempuan Adrian.

"Aisyah, kamu punya adik atau sepupu enggak?" Tanya Bima teman Adrian.

"Punya, ada apa Mas Bima?"

"Boleh dong kalau dikenalin sama aku. Biar aku enggak jomblo terus." Kata Bima memohon. Kebiasaan Bima yang suka nyeletuk membuat teman-temannya memperhatikan.

"Boleh sih Mas, tapi adik Aisyah masih kecil-kecil masih SD, Mas mau?" Jawab Aisyah yang sontak membuat semua yang ada di situ terbahak.

Beberapa waktu berlalu, Aisyah sudah nampak akrab dengan teman-teman Adrian. Ketakutan di hatinya sedikit demi sedikit mulai menghilang. Teman-teman Adrian sangat welcome terhadapnya.

Namun ada sepasang mata yang tidak menyukai hal ini. Sepasang mata indah yang enggan untuk duduk bersama dengan segerombolan anak muda tersebut.

Dialah Diana, Diana adalah gadis yang sangat cantik. Dia yang paling cantik dari teman-teman perempuan Adrian yang lain. Sudah lama Diana menaruh hati kepada Adrian, pernah juga dirinya mengungkapkan perasaan tersebut. Namun Adrian menolak dengan alasan ingin berkonsentrasi terlebih dahulu pada karier. Tapi apa ini? Bukan datang kepadanya tetapi Adrian malah memilih gadis desa itu untuk menjadi istrinya.

"Aku tidak bisa menerima ini Adian." Gumam Diana sambil meneteskan air mata.

*****

"Hai Aisyah", sapa Diana saat Aisyah baru saja keluar dari kamar mandi cafe.

"Hai", jawab Aisyah sedikit bingung melihat perempuan di sebelahnya.

"Oh iya saya belum memperkenalkan diri. Kenalkan saya Diana." Ucapnya sambil mengulurkan tangan.

Aisyah membalas menjabat tangan tersebut sambil tersenyum manis.

"Mbak Diana temannya Mas Adrian?" Tanya Aisyah polos.

"Iya, ah lebih tepatnya saya teman dekatnya. Dulu kami pernah menjalin hubungan yang ya bisa dikatakan lebih dari sekedar teman." Jawabnya yang jelas membuat Aisyah terkejut. Pasalnya dari berbagai cerita yang Adrian pernah ungkapkan dia sama sekali tidak menceritakan gadis ini. Ada sedikit kecewa yang di dada Aisyah.

"Tapi tidak perlu khawatir. Sekarang kan dia sudah jadi suami kamu. Benar kan?" Kata Diana sepeti mengintimidasi.

"Oia, kamu lulusan Universitas mana?" Tanya Diana.

"Saya hanya tamatan SMA di kampung. Saya dan Mas Drian satu kampung yang sama."

"Apa? Lulusan SMA? Maaf, tapi yang saya tahu Adrian adalah laki-laki cerdas terpelajar. Tapi dia menikahi kamu yang cuma lulusan SMA. Bukan apa-apa sih, tapi kasihan Adrian dia pasti tidak memiliki teman ngobrol yang sefrekwensi dengannya saat di rumah." Kata Diana sambil memandang rendah lawan bicaranya.

"Baiklah Aisyah, saya pamit dulu. Bye." Diana pergi meninggalkan Aisyah seorang yg diri.

Sambil bercermin di toilet cafe, Aisyah memikirkan apa yang Diana katakan. Ya, dirinya merasa sangat beruntung memiliki suami sepintar Adrian. Namun, apakah Adrian juga merasa beruntung memiliki istri sepertinya?

*****

"Kau tahu Aisyah, banyak teman-teman Mas yang iri denganku." Ucap Adrian saat dirinya mulai meletakkan tubuh di atas ranjang.

Aisyah yang masih merapikan pakaian hanya memandang suaminya sekilas.

"Mereka iri sama Mas, karena Mas punya istri secantik dan sebaik kamu." Imbuh Adrian memandang istrinya bangga.

"Apa gunanya cantik kalau cuma lulusan SMA. Aisyah tidak akan bisa jadi teman sharing Mas Drian." Jawab Aisyah yang sontak membuat Adrian menatapnya tajam.

"Apa maksut kamu Sayang?" Adrian bangun dan mendekati istrinya. Dia bisa merasakan jika saat ini Aisyah sedang tidak baik-baik saja.

"Aisyah hanya lulusan SMA Mas, sementara Mas Drian memiliki pendidikan yang sangat tinggi. Aisyah pasti tidak bisa menjadi teman bicara yang baik buat Mas." Aisyah termakan omongan Diana.

"Sayang, kenapa kamu memiliki fikiran seperti itu?" Adrian berusaha memutar tubuh Aisyah agar berhadapan dengannya.

"Aisyah, sama sekali tidak pernah terfikir oleh Mas hal seperti itu. Apa bedanya lulusan SMA sama lulusan Master? Toh kita sama-sama manusia di hadapan Allah. Mas mencintai Aisyah sepenuh hati. Tolong, jangan pernah mengatakan hal itu lagi Sayang! Kita suami istri, kita memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Kelemahan Aisyah akan Mas tutupi dengan kelebihan Mas, begitu pula sebaliknya. Kelemahan Mas juga akan kamu tutupi dengan kelebihanmu." Ucap Adrian sungguh-sungguh. Pasalnya dia sangat terkejut dengan apa yang istrinya ungkapkan.

"Maafkan saya Mas, saya meragukan ikatan ini." Kata Aisyah dengan air mata yang deras menuruni pipinya.

Adrian menghapus air mata di pipi istrinya dengan lembut dan penuh kasih. Kemudian memeluk tubuh mungil Aisyah. Rasa nyaman dirasakan keduanya saat tubuh mereka mulai memeluk satu sama lain.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel