Pustaka
Bahasa Indonesia

Aisyah Dan Adrian

66.0K · Tamat
novilia
64
Bab
954
View
9.0
Rating

Ringkasan

Apakah menurutmu cinta mampu mengalahkan segalanya? Sekuat itukah cintamu? Adrian menikah dengan Aisyah, perempuan pilihan Ibunya. Awalnya Adrian berusaha menolak keinginan Sang Ibu karena dia merasa Aisyah hanyalah gadis kampung yang tidak sesuai dengan dirinya. Namun setelah melihat Aisyah, fikirannya berubah. Adrian mulai mencintai Aisyah dengan mengatakan "aku mencintaimu Aisyah, aku mencintaimu karena Allah." Namun pernikahan mereka tidak berjalan mulus. Banyak sekali kerikil-kerikil tajam yang harus mereka lalui. Mulai dari Diana, teman perempuan Adrian yang terobsesi dengannya. Dia selalu berusaha menjatuhkan Aisyah bahkan mencelakainya. Kerikil-kerikil itu tidak berhenti sampai di situ, Adrian dan Adrian harus menerima kenyataan mereka harus kehilangan janin di kandungan Aisyah karena kanker otak yang diderita Aisyah. Bagaimana mereka melewati rintangan-rintangan di kehidupan pernikahan mereka? Akankah mereka mampu melewati semua ini dengan cinta yang mereka miliki?

Cinta Pada Pandangan PertamaRomansaPernikahanKeluargaIstri

BAB 1

Air mata Adrian menetes setelah membaca pesan dari Ibunya. Pesan WA yang hanya beberapa kalimat namun membuat hatinya dilema.

Sebuah pesan yang lima belas menit lalu dia terima. Yang meskipun dibaca berkali-kali masih tetap sama.

Yaa, Adrian. Dia adalah seorang anak shalih kebanggan Ibunya, Ibu Ani. Adrian dididik dan dibesarkan oleh Ibu Ani seorang diri karena Sang Ayah telah terlebih dahulu menuju Sang Khalik, saat usia Adrian enam tahun.

Dengan tekad dan perjuangan yang sangat keras Bu Ani bisa memberikan pendidikan yang sangat layak untuk Adrian. Tidak mudah memang, menjadi single parent dengan latar belakang hidup yang pas-pasan. Ibu Ani harus berjuang pagi sampai malam untuk menghasilkan uang. Pagi hari beliau harus rela menjadi buruh cuci, siang hari membuat gorengan dan menjajakannya di sore hari. Tak hanya itu, bahkan di malam hari pun Ibu Ani masih menjahit pakaian dari mesin jahit tua peninggalan suaminya

Begitu besar perjuangan yang Bu Ani lakukan. Namun semua itu terbayarlah sudah dengan keberhasilan Adrian, putra semata wayangnya. Bu Ani mampu menyekolahkan Adrian di kota besar hingga menjadi sarjana, bahkan berkat doanya Adrian diberi kesempatan mendapatkan beasiswa penuh melanjutkan pendidikan S-2 nya.

Usaha memang tidak pernah menghianati hasil. Kerja keras Bu Ani memang memberikan hasil yang luar biasa untuk putranya. Tidak hanya itu, karena didikan darinya Adrian pun menjadi anak sholih yang selalu membahagiakan Sang Ibu.

Hal inilah yang membuat Adrian meneteskan air mata saat ini. Pesan yang Adrian terima dari Sang Ibu bukanlah pesan biasa yang sering dikirim. Namun pesan ini adalah perintah baginya untuk menikah dengan Aisyah, gadis pilihan Ibunya.

Aisyah, gadis desa yang telah lama Adrian kenal. Usia Adrian dan Aisyah terpaut cukup jauh. Sehingga Adrian hanya tahu Aisyah kecil. Karena dirinya telah menghabiskan banyak waktu untuk belajar di perantauan.

Aisyah yang Adrian tahu bukanlah gadis cantik dan modern seperti teman-teman di kota tempatnya menuntut ilmu. Aisyah hanya gadis sederhana yang tidak tahu bagaimana cara bersolek untuk memperindah dirinya. Gadis desa hanya tamatan SMA di kecamatannya.

Meskipun Adrian telah lama tidak berjumpa dengan Aisyah karena dirinya harus menuntut ilmu di kota besar, namun Adrian yakin bahwa Aisyah dulu dan sekarang masih lah sama.

"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Tidak bisakah Engkau membalik hati Ibuku untuk membatalkan rencana pernikahan ini?" Adrian memukul kursi yang dia duduki. Dilema di hatinya mengalahkan rasa sakit di tangan.

Rencana pernikahan dirinya dengan Aisyah memang bukan hal yang baru. Ibunya telah membicarakan rencana ini sekitar setahun yang lalu. Saat itu Adrian masih proses menyelesaikan tesis nya. Waktu itu Adrian meminta kepada Sang Ibu untuk menunggunya sampai lulus kuliah.

Sebenarnya hal tersebut adalah alasan Adrian untuk mengulur waktu. Dia masih berharap Ibunya akan berubah fikiran.

Tapi kini Adrian telah menyelesaikan studynya, dia tidak memiliki alasan lain.

****

"Aisyah.." Suara perempuan setengah baya dengan suara batuk-batuk.

"Aisyah, kamu dimana Nak?" Perempuan itu kembali memanggil kali ini dengan langkah yang sedikit berat.

"Ibu... Ibu membutuhkan sesuatu?" Seorang gadis bernama Aisyah itu tengah tergopoh menuju ke arah sumber suara yang memanggilnya.

"Ibu, kenapa bangun? Apa yang Ibu perlukan? Biar Aisyah saja yang ambil." Ucap Aisyah sambil mendudukkan perempuan itu di sebuah kursi empuk.

"Kamu masih belum selesai jahitnya nduk?" Tanya perempuan itu kepada Aisyah sambil mengelus rambut gadis itu.

"Belum bu, sebentar lagi. Habis ini Aisyah mau siapin perlengkapan Ibu untuk malam ini. Ibu beneran ndak mau Aisyah temenin malam ini? Aisyah khawatir bu." Aisyah dengan wajah cemasnya berusaha menyampaikan apa isi hatinya.

"Ah kamu Syah, Ibu kan sudah biasa seperti ini. Coba kamu hitung, sejak Adrian kuliah sampai sekarang Ibu udah berapa tahun sendirian? Baik-baik saja to." Ungkap perempuan itu yang merupakan Ibu dari Adrian.

"Iya Bu, tapi kan saat ini Ibu sedang sakit."

"Tidak apa-apa Nak, besok juga sembuh. Namanya orang tua sakit dikit gini ya wajar. Ah, Ibu jadi pengen cepet-cepet kamu menikah sama Adrian. Biar hidupnya Adrian bisa lebih baik dan lebih bahagia sama kamu Nak." Kata Ibu yang membuat Aisyah malu.

"Heii, kok malah malu ini lo. Wong bentar lagi menikah." Ledek Bu Ani.

"Bu, Aisyah takut."

"Takut apa sih Nduk?"

"Bagaimana kalau Mas Adrian tidak menyukai Aisyah? Bukannya gadis-gadis kota itu cantik-cantik ya Bu. Aisyah pasti keliatan ndeso banget kalau sama mereka." Ungkap Aisyah sambil menunduk.

"Nak, Ibu tahu betul bagaimana Adrian. Bagaimanapun juga tidak ada perempuan yang lebih baik dari kamu untuk mendampinginya. Asal kamu yang sabar ya Nak. Ibu sangat percaya sama kamu Aisyah. Lagipula kamu itu ayu lo nduk, cantik. Kenapa harus rendah diri dengan dirimu sendiri?" Jawab Bu Ani yang kembali meningkatkan semangat Aisyah. Hingga tanpa dia sadari senyum manis tersungging di bibirnya.

"Nah gitu kan cantik, ayu banget." Ledek Bu Ani sambil memeluk calon menantunya.

Aisyah, gadis desa pilihan Bu Ani yang dijodohkan dengan Adrian. Apabila dibandingkan dengan gadis-gadis pada umumnya, Aisyah terlihat berbeda. Gadis ini memang tidak senang bersolek seperti gadis lain, tapi kecantikaan alami yang dimilikinya sangatlah cukup untuk menunjukkan keayuan seorang Aisyah. Apalagi Aisyah memiliki senyum yang sangat manis dan menawan.

Aisyah adalah anak yatim piatu. Ayahnya meninggal saat dirinya masih berusia enam bulan, sementara Ibunya juga harus meninggalkannya sepuluh tahun setelah Sang Ayah. Aisyah kecil yang telah hidup sebatangkara harus menjalani kehidupan di sebuah Panti Asuhan.

Namun nasib baik selalu menyertainya. Karena kecerdasan yang dia miliki, menjadikan Aisyah dengan mudah mendapatkan beasiswa hingga lulus SMA. Kini dia bekerja sebagai penjahit serabutan di rumah Ibu Ani.

Aisyah tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri, Aisyah juga ikut bertanggungjawab terhadap adik-adiknya di Panti Asuhan. Panti Asuhan yang terletak jauh dari hingar bingar kota tersebut menjadikannya sepi dari donatur. Hanya beberapa donatur tetap saja yang sering datang untuk menyumbang.

Sudah sekitar empat tahun Aisyah bekerja dengan Ibu Ani. Aisyah yang cekatan dan gigih dalama bekerja menjadikan Bu Ani jatuh hati kepadanya. Selain itu Aisyah juga anak yang jujur dan sabar.

Sehingga dengan sangat yakin Bu Ani memilih Aisyah untuk menjadi menantunya, istri dari Adrian.