BAB 5
"Duhh, pengantin baru. Kerjaannya ke kamar mandi melulu." Ledek Mbak Minah. Mbak Minah adalah tetangga belakang rumah Bu Ani. Bu Ani sering meminta bantuan Mbak Minah untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
"Mbak Minah iihhh", jawab Aisyah malu-malu. Sehingga membuat Mbak Minah tertawa.
Kamar mandi di rumah ini memang terletak di luar kamar. Jadi tidak salah jika Mbak Minah tahu kalau Aisyah pagi ini sudah dua kali membasahi rambutnya.
"Minah, jangan ganggu menantuku!" Teriak Bu Ani dari dalam yang membuat keduanya terkejut.
"Ibu, maaf Aisyah terlambat bangun pagi ini. Jadi tidak bisa membantu menyiapkan sarapan." Ucap Aisyah sopan sambil menggandeng Sang Mertua ke meja makan.
"Kenapa minta maaf? Ibu sudah sangat faham tentang hal ini Nduk." Bu Ani tersenyum geli melihat keluguan menantunya.
"Aisyah, tolong bawa makanan ini ke panti untuk adik-adik kamu di sana!"
"Siap Ibu, Adrian akan mengantar Aisyah ke panti." Adrian tiba-tiba menjawab perintah Ibunya. Semua yang ada di situ tertawa melihat Adrian.
"Gini ya ternyata kalau sudah punya istri itu jadi semangat. Iya kan Drian?" Gurau Bu Ani.
"Ah Ibu bisa saja." Jawab Adrian salah tingkah sambil duduk di meja makan.
"Ibu, Aisyah pamit ya. Makanannya sudah dibawa semua di mobil." Pamit Aisyah sambil mencium tangan mertuanya.
"Hati-hati ya Nduk! Sampaikan salam Ibu pada mereka semua yang ada di panti."
"Iya Ibu, akan Aisyah sampaikan."
"Ibu, kami berangkat ya. Assalamualaikum." Adrian mencium tangan Ibunya, kemudian merangkul pundak Aisyah dan segera membawanya menuju mobil. Aisyah sedikit heran dengan tingkah laku Adrian.
"Waalaikumsalam. Adrian jangan pulang terlalu larut." Teriak Bu Ani saat Adrian mulai masuk ke dalam mobil.
"Beres Bu", jawabnya. Kemudian melajukan mobil menuju panti asuhan.
"Kenapa Ibu meminta untuk tidak pulang malam? Bukankah jarak panti ke rumah dekat. Paling nanti siang kita juga sudah sampai di rumah." Aisyah dengan wajah polosnya berusaha menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Namun Adrian hanya melirik Sang Istri sambil tersenyum menyeringai.
****
"Mbak Aisyah, Mbak Aisyah", beberapa anak tampak berlari menuju pasangan pengantin baru yang baru saja turun dari mobil.
"Rani, Rio, Dara, Cimai", teriak Aisyah segera memeluk anak-anak itu.
"Kangen Mbak", teriak anak kecil laki-laki kepada Aisyah.
"Mbak juga kangen sekali sama kalian. Pagi ini sudah belajar?"
"Sudah, Cimai nakal Mbak. Dari tadi dia mukul-mukul aku." Beberapa anak mulai berceloteh, Aisyah pun tenggelam dengan celotehan-celotehan anak-anak yang dianggapnya sebagai adik.
Adrian memperhatikan Sang Istri yang begitu perhatian dengan anak-anak tak beruntung itu. Dia melihat Aisyah semakin cantik saat bersama anak-anak tersebut.
Adrian tahu betul latar belakang Aisyah, mungkin karena hal itu yang menjadikan Aisyah sangat menyayangi mereka. Fikir Adrian.
"Mas, yuk diambil makanannya!" Ucap Aisyah yang kini berada di sebelah Adrian. Namun Adrian hanya tersenyum sambil memandang Sang Istri tanpa menujukkan respon apapun.
"Mas, kok ngelamun. Ayo buruan diambil makanannya!" Ulang Aisyah lagi.
"Ahh iya", jawab Adrian salah tingkah. Kemudian segera membuka bagasi mobil dan membagikan makanan tersebut kepada anak-anak.
"Mereka terlihat dekat sekali dengan kamu Aish." Kata Adrian kepada Aisyah saat mereka memperhatikan anak-anak makan dengan lahap.
"Iya, sejak mereka kecil kami selalu bersama. Menjalani setiap hari-hari bersama. Susah senang kita jalani bersama." Jawab Aisyah kemudian beranjak dari duduknya. Aisyah tampak membantu seorang anak kecil untuk menata makanannya.
Adrian sedikit heran melihat situasi tersebut, dia terus memperhatikan sampai dirinya menyadari bahwa anak kecil tersebut tidak bisa melihat. Adrian menghembuskan nafas dalam menyaksikan istri dan anak-anak kecil tersebut. Dirinya sadar betul jika perjuangan mereka untuk hidup sangatlah besar.
"Dia berusia berapa Aish?" Tanya Adrian saat Aisyah telah duduk kembali di sampingnya.
"Siapa?"
"Anak yang baru saja kau bantu."
"Oh Dania, usianya sekitar enam tahun."
"Dia tidak bisa melihat?" Tanya Adrian yang sontak membuat Aisyah menatapnya. Adrian sedikit takut melihat istrinya.
"Dania buta sejak lahir. Dia anak istimewa Mas. Ibu Panti menemukan anak itu saat masih bayi merah di kebun pisang. Entah apa yang difikirkan orangtuanya saat itu. Karena keterbatasan yang kami miliki, kami tidak mampu memberikan Dania pengobatan yang bagus. Kami hanya bisa melakukan sesuatu yang bisa kami lakukan seadanya."
Adrian sedikit terkejut mendengar cerita Aisyah. Meskipun dirinya sering mendengar dan melihat berita seperti ini di TV, tapi dia tidak menyangka bahwa di daerahnya juga terdapat hal jahat seperi itu.
"Dania, dia adik yang sangat kami sayangi. Di balik keterbatasannya Allah memberikan hadiah istimewa untuknya. Di usia yang masih belia ini Dania sudah mampu menghafal dua jus Al Qur'an. Bukankah itu istimewa Mas?"
"Iya kamu benar, Allah selalu adil terhadap makhluknya. Allah selalu menyayangi semua makhluknya." Jawab Adrian sambil tersenyum menatap istrinya.
Allah juga sangat menyayangi Aisyah Mas, buktinya Allah memberikan suami yang baik, tampan, pintar seperti suamiku ini." Terang Aisyah sambil tersenyum malu. Adrian tersenyum gemas melihat tingkah istrinya.
"Sudah jam sebelas pagi. Mas mau ngajak kamu ke sebuah tempat."
"Kemana?"
"Rahasia", jawab Adrian sambil beranjak dari tempat duduknya, lalu mengajak Aisyah berpamitan kepada adik-adik dan Ibu Panti.
***
"Waowww, Subhanallah, indah sekali." Suara Aisyah sambil berlari girang menyusuri pantai.
Adrian tampak puas melihat Sang Istri berlari-lari riang. Dia ingat sekali bagaimana dulu Aisyah berlari riang seperti sekarang ini saat ada acara rekreasi bersama yang diadakan di desanya. Ya, sekitar lima belas tahun yang lalu saat itu Aisyah masih kecil begitu pula dengannya. Waktu itu Aisyah menangis keras karena tidak mau pulang.
Dari itulah Adrian memutuskan untuk mengajak istrinya ke pantai. Dia berharap Aisyah masih menyukai suasana pantai seperti dulu. Dan itu terbukti dengan tingkah Aisyah yang berlari-lari riang.
"Mas Drian kok tahu kalau aku suka banget sama pantai." Teriak Aisyah sambil menari-nari di atas pasir.
"Mas masih ingat betul waktu kamu menangis keras karena tidak mau diajak pulang saat pergi ke pantai." Jawab Adrian setengah berteriak juga karena posisi mereka yang sedikit berjauhan.
"Ihh Mas Drian kayak gitu kok masih diingat-ingat. Kan malu." Kata Aisyah yang sontak membuat Adrian tertawa.
"Mas juga masih ingat waktu kecil kalau kalah main bekel kamu nangis. Nangisnya keras banget sampek kedengeran sampai rumah." Cerita Adrian sambil tertawa. Aisyah yang sudah merasa gemas segera berlari mendekati suaminya kemudian mencubit perut Adrian.
"Aduh, aduh", teriak Adrian setelah cubitan itu mendarat di pinggangnya. Namun hal ini juga merupakan kesempatan baginya untuk untuk memeluk Aisyah. Aisyah pun membalas pelukan Adrian dengan sayang.
***
"Iya Pak, terimakasih banyak. Baik, baik saya akan segera ke sana. Sekali lagi terimakasih." Adrian memasukkan ponselnya di saku. Dia segera berjalan menuju Ibu dan istrinya yang tengah bercengkerama di teras depan.
"Telefon dari siapa Drian?" Tanya Bu Ani yang sedari memperhatikan Sang Putra.
"Ibu, Alhamdulillah Adrian mendapatkan panggilan kerja dari salah satu Universitas terbaik di Jakarta dan juga permintaan beasiswa S-3 Adrian sudah disetujui." Jawab Adrian dengan wajah berbinar.
"Alhamdulillah", Aisyah dan Bu Ani bersama-sama mengucap syukur.
"Selamat ya Mas", ucap Aisyah dengan senyum manisnya yang membuat Adrian ingin memeluk perempuan itu.
"Selamat Adrian, akhirnya cita-cita kamu tercapai Nak." Bu Ani juga turut bahagia atas kesuksesan putranya. Beliau merasa sangat bangga dengan apa yang didapatkan putranya. Tidak pernah terbayangkan, keluh kesah yang terjadi di masa lalu membuahkan hasil yang begitu istimewa saat ini.
"Tapi Bu, hari ini juga Adrian harus pergi ke Jakarta. Karena besok pagi ada beberapa berkas yang harus saya serahkan ke Universitas." Ucap Adrian dengan wajah sedikit cemas.
"Kenapa buru-buru sekali Mas?" Aisyah bertanya. Sementara Adrian hanya memandang dirinya sambil mengangguk.
"Sudah, kalian berdua berangkat saja hari ini." Ucap Ibu Ani.
"Ibu, biar Mas Adrian berangkat sendiri dulu saja. Aisyah menemani Ibu dulu disini. Ibu kan masih belum sehat." Kata Aisyah yang merasa berat untuk meninggalkan mertuanya.
"Jangan Aisyah! Kamu istrinya Adrian. Seorang istri harus selalu mendampingi suaminya. Sudahlah Sayang, jangan khawatirkan Ibu. Apakah kamu lupa jika selama ini Ibu juga sendiri?" Ibu Ani tersenyum ke arah menantunya.
Aisyah dan Adrian saling memandang. Aisyah tidak tega meninggalkan mertuanya seorang diri, namun dia juga tidak bisa jauh dari Adrian. Begitu pula dengan Adrian yang merasa cemas dengan Sang Ibu namun juga tidak mampu jika harus berjauhan dengan istrinya.
"Kok malah bengong. Ayo buruan siap-siap! Aisyah cepat kamu list kebutuhan rumah tangga untuk kalian di sana. Mungkin bisa membawa dari sini. Biar besok kamu tidak kerepotan." Ucap Ibu Ani sambil bergegas.
