BAB 7
"Mas, ini untuk bekal makan siang. Jangan lupa dibawa!" Kata Aisyah menyarahkan kotak bekal kepada suaminya yang tengah mempersiapkan barang-barang bawan. Kemudian dirinya kembali dengan pekerjaan semula.
"Iya, makasih Sayang", jawab Adrian sambil memasukkan kotak makan itu ke dalam tas miliknya.
"Aisyah, tadi pagi Ibu telfon pengen ngobrol sama kamu. Tapi kamunya masih mandi. Nanti kamu telefon Ibu ya! Sekalian kamu telefon Ibu Panti, beliau pasti menunggu kabar dari kamu." Seru Adrian dari dalam kamar.
"Iya Mas", jawab Aisyah sambil memegang kepalanya. Sejak pagi kepala Aisyah terasa pusing.
"Mas berangkat ya Aish, kamu hati-hati di rumah." Seru Adrian kembali. Namun kali ini Aisyah tidak memberi jawaban, kepalanya terlalu sakit untuk sekedar menjawab perkataan Adrian.
Hal ini membuat Adrian heran hingga memutuskan berjalan ke belakang melihat Sang Istri.
"Aisyah, kamu kenapa?" Teriak Adrian saat melihat Aisyah terhuyung dengan tangan di kepala.
"Mas Drian, tidak apa-apa Mas. Cuma agak pusing." Jawabnya sambil berjalan di bawah papahan Adrian.
"Kita ke dokter?" Tanya Adrian dengan wajah cemas.
"Tidak perlu Mas, ini pasti karena kecapekan. Mas sih, tiap malam enggak pernah ngebiarin Aisyah tidur nyenyak." Jawab Aisyahsedikit menggoda.
"Tapi Sayang, kondisi kamu.."
"Aisyah masih punya obat kok Mas, obat yang waktu itu dikasih sama Bu Bidan di kampung. Aisyah masih punya." Kata Aisyah berusaha menenangkan suaminya.
"Apa kamu yakin?" Adrian masih ragu-ragu dengan ucapan Aisyah. Yaa, Aisyah tidak salah. Setiap malam memang Adrian selalu meminta hak nya kepada Aisyah. Namun dia tidak menyangka jika akibatnya akan seperti ini.
"Yakin Mas, setelah minum obat, tidur. Habis itu pasti sembuh. Ihh Mas Drian, tadi Aisyah Cuma bercanda. Bukan karena itu kok. Bukan karena malam-malam kita." Ucap Aisyah pelan, dia merasa bersalah karena candaanya membuat kecemasan yang teramat di wajah suaminya.
Adrian tidak berkata apa-apa, dia hanya memandang istrinya dengan wajah cemas.
"Udah Mas, sekarang mending Mas cepet-cepet brangkat. Ntar keburu telat lho." Seru Aisyah .
"Baiklah, tapi Aisyah janji. Habis ini harus langsung istirahat. Jangan bekerja lagi!"
"Iya Mas janji"
"Satu lagi, jika sampai sore nanti kamu masih pusing kita ke dokter."
"Ok Bos, Aisyah siap!" Jawab Aisyah sambil meniru gaya tentara. Membuat Adriab tersenyum dan berusaha ikhlas meninggalakan istrinya.
Cuup, sebuah kecupan manis mendarat di kening Aisyah. Seraya berkata, "Mas berangkat, hati-hati Sayang." Kemudian meninggalkan Sang Istri di dalam rumah.
Sambil terhuyung Aisyah berusaha berjalan ke kamar. Setelah Adrian berangkat, Aisyah sudah tidak mampu lagi menutupi rasa sakitnya. Sakit luar biasa yang semakin hari semakin parah.
"Hah, habis", pekiknya frustasi kala melihat beberapa obat yang hanya tinggal bungkusnya saja.
Aisyah segera mengambil ponsel miliknya di meja, mulai membuat sebuah panggilan dengan seseorang.
"Hallo Assalamualaikum.. Ibu Asih, ini Aisyah Bu." Kata Aisyah setelah mendengar suara dari seberang.
"Waalaikumsalam, iya Aisyah bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah baik Bu. Maaf Bu Bidan, Aisyah sedikit mengganggu. Jadi begini, obat yang biasanya Ibu kasih buat saya sekarang habis. Saya membutuhkan obat itu sekarang Bu. Bisakah Ibu meresepkan obat yang sama sekarang? Saya akan menebusnya di apotek."
"Aisyah, kamu masih sering sakit kepala Nak?"
"Iya Bu"
"Aisyah, obat dari saya itu hanya untuk meringankan gejala sakit kamu. Saran saya, periksalah ke dokter Nak. Kamu berada di kota besar, pasti akan sangat mudah untuk mendapatkan perawatan yang sesuai untukmu. Kamu juga harus tahu apa yang terjadi dengan tubuh kamu, kenapa kamu sering sakit kepala."
"Begitu ya Bu"
"Iya Aish, kita semua selalu berusaha dan berdoa semoga semuanya sehat-sehat dan baik-baik saja. Baiklah, kali ini Ibu akan memberikan kamu resep obat seperti yang kamu konsumsi."
"Terimakasih Ibu"
"Tapi ingat pesan saya, segera periksa ke dokter!"
"Baik Bu" Jawab Aisyah menutup sambungan telefonnya sebelum terlebih dahulu dia mengucapkan salam.
*****
"Adrian", teriak suara perempuan memanggil. Sang pemilik nama menoleh perlahan, kemudian sedikit mendungus kesal setelah melihat gadis yang berlari mendekatinya.
“Adrian selamat ya, kamu sudah resmi jadi dosen di universitas ini.” Ucap gadis yang tak lain adalah Diana sambil mengulurkan telapak tangan.
“Terimakasih Di”, Adrian menjabat tangan Diana.
“Ngomong-ngomong ajuan beasiswa kamu juga sudah diterima ya.”
“Iya”, jawab Adrian sedikit malas. Sebenarnya dia ingin sekali meninggalkan perempuan ini, tapi itu tidak sopan.
“Wahh, selamat ya. Kamu hebat sekali.” Diana berkata sambil memasang wajah semanis mungkin untuk menarik perhatian Adrian, namun dia memasang wajah untuk pria yang salah. Adrian sama sekali tidak tertarik dengan obrolan ini.
“Eh, kata anak-anak kamu sudah menikah ya. Selamat sekali lagi untuk kamu.”
“Iya”
“Gimana kalau siang ini kita makan di kafe dekat kampus? Aku traktir deh, buat merayakan pernikahan kamu.”
“Maaf Di, kemarin lusa saya sudah merayakannya bersama teman-teman. Kamu yang tidak ada.”
“Iya sih, tapi enggak apa-apa kan. Kita rayakan lagi.”
“Tidak bisa. Istri saya sudah menyiapkan bekal makan siang.”
“Oh begitu”
“Baik Diana, saya harus segera pergi karena ada kelas.” Pungkas Adrian kemudian meninggalkan Diana seorang ini.
Sementara Diana yang merasa sangat dongkol, meremas kedua tangannya. Bukan kali ini saja Adrian menolak dirinya, tapi sudah terlalu sering. Dan kini, ada Aisyah. Saingan terberat baginya untuk mendapatkan cinta laki-laki yang sangat dikaguminya.
Adrian berjalan menyusuri koridor kampus, ingatannya melayang tentang perempuan yang baru saja ditemuinya. Ya, Diana.
Baginya Diana adalah gadis yang sangat cantik. Benar-benar impian seluruh laki-laki, bahkan teman-temannya pun juga mengakui hal itu. Waktu itu hati Adrian pun berbunga-bunga karena dia melihat Diana juga memperhatikannya. Adrian merasa senang karena dia berharap akan memiliki gadis cantik seperti Diana.
Namun kekagumannya terhadap Diana seketika luntur tatkala dia melihat perempuan itu tengah bermesraan di sebuah hotel dengan seorang laki-laki. Waktu itu, Adrian mendapatkan sebuah telefon dari seseorang yang memintanya untuk menjemput Bima sahabatnya di sebuah diskotik karena Bima sedang mabuk berat. Adrian pun menjemput sahabatnya itu. Tetapi saat dirinya melewati sebuah lorong kamar hotel tampak Diana dan seorang laki-laki sedang saling bercumbu di depan pintu kamar. Diana terlihat seperti wanita jalang yang akan memuaskan pelanggannya.
“Aku sangat mencintaimu Diana”, ucap laki-laki itu sambil mendenguskan hidungnya di leher jenjang Diana.
“Ahh Sayang, kau membuatku tidak tahan.” Ucap Diana manja. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar.
Sejak saat itu Adrian merasa bahwa Diana bukan perempuan baik-baik. Sempat terfikir olehnya bahwa Diana adalah korban dari kejamnya kehidupan, mungkin dirinya melakukan hal itu untuk melanjutkan kehidupannya. Namun Adrian salah, setelah melihat lebih dekat Diana adalah anak orang kaya yang memang sangat menyukai pergaulan bebas.
