BAB 4
Di meja makan tampak Bu Ani dan Aisyah sedang mempersiapkan makan malam. Jika dilihat dari jauh mereka tidak seperti mertua dan menantu, mereka lebih terlihat seperti Ibu dan putrinya.
Sementara Adrian dengan wajah berseri datang menemui keduanya sambil sesekali mencuri pandang kepada Aisyah.
"Ada yang bisa Adrian bantu Bu?" Tanya Adrian kepada Sang Ibu namun matanya masih lurus menatap Aisyah sambil memasukkan keripik ke mulutnya.
"Ada dong", jawab Bu Ani sambil tersenyum kecil memperhatikan kelakuan putranya.
"Ah iya, Adrian bisa bantu apa?" Adrian sedikit terkejut dengan jawaban Ibunya.
"Adrian bisa bantu Ibu buat cepet-cepet punya cucu." Kata Bu Ani sambil tersenyum kecil.
Uhuuk uhuuk, saking kagetnya Adrian sampai tersedak keripik yang dimakannya.
"Mas Adrian baik-baik saja?" Dengan sigap Aisyah segera memberikan air minum kepada suaminya sambil membantu Adrian duduk.
Bu Ani terbahak melihat hal ini. "Yasudah, kalian berdua lekas makan. Setelah itu cepat-cepat istirahat ke kamar. Sudah ndak sabar ini pengen gendong cucu" Ucapnya masih sambil tertawa.
Adrian dan Aisyah tampak menundukkan kepala karena malu. Mereka sama sekali belum pernah dihadapkan dengan situasi seperti ini.
***
"Aisyah", suara Adrian membuat Aisyah kaget. Gadis itu segera mengenakan jilbab yang baru saja dia lepaskan.
"Aisyah, kenapa jilbabnya tidak dilepas saja?" Tanya Adrian lembut sambil mendekat ke arah Aisyah.
"Aisyah malu Mas." jawab gadis itu jujur sambil menunduk.
"Hai, kenapa harus malu?" Ucap Adrian lagi sambil mengangkat dagu Aisyah pelan. Hingga terlihatlah wajah Aisyah yang ayu.
"Aisyah sekarang sudah menjadi istrinya Mas. Kalau hanya ada kita berdua, Aisyah bisa lepas jilbab." Kata Adrian sambil membuka jilbab yang ada di kepala Aisyah. Karena terburu-buru tadi Aisyah belum sempat menjepitkan jarum ke jilbabnya.
"Kamu sangat cantik Aisyah." Bisik Adrian setelah melihat wajah istrinya tanpa jilbab.
"Mas Adrian juga sangat tampan." Sambil tersenyum Aisyah berusaha mengatakan apa yang ingin dirinya katakan. Adrian tampak tersenyum mendengarnya.
Sambil mengelus pipi mulus Aisyah, Adrian yang sudah tidak tahan dengan keindahan makhluk dihadapnnya berusaha mengungkapkan sesuatu.
"Aisyah, apa kau mau menuruti perintah Ibuku?" Tanya Adrian yang membuat Aisyah menciutkan wajahnya .
"Ibu Mas adalah Ibu saya juga. Sudah kewajiban saya untuk menuruti perintahnya. Kenapa Mas Adrian menanyakan hal itu?"
"Kalau begitu turutilah perintah Ibu. Perintah untuk segera membuatkan beliau cucu." Kata Adrian sedikit tegang namun ketegangan itu perlahan hilang karena tawa kecil dari bibir Aisyah.
"Mas Adrian, kirain apaan. Aisyah sampai kaget."
"Lalu bagaimana? Apakah Aisyah akan menuruti perintah Ibu?" Adrian kali ini sedikit memaksa, sepertinya dirinya sudah tidak sabar lagi untuk beribadah bersama istrinya.
Aisyah hanya mengangguk malu, seperti yang sudah-sudah. Hal ini membuat Adrian sangat gemas dengannya.
Berpedoman pada feeling, Adrian memulai aksinya. Dielus nya pipi Aisyah dengan lembut.
Cuup, kecupan mesra berhasil dilayangkan Adrian ke pipi mulus tersebut.
Aisyah merasa sedikit kikuk dengan hal ini, secara reflek dia memundurkan tubuhnya. Senyum di bibir Adrian menandakan bahwa dirinya mengetahui apa yang ada di fikiran Aisyah.
Adrian mengalihkan tangannya ke rambut Sang Istri sambil mengelus pelan.
"Mas tahu apa yang saat ini Aisyah fikirkan. Mas tidak akan memaksa. Mas akan menungu sampai kau siap untuk menyatukan cinta kita." Ucapnya sambil mengecup lembut kening Aisyah.
Tanpa menunggu jawaban dari bibir istrinya, Adrian melangkahkan kaki hendak keluar kamar. Namun baru lima langkah dia berjalan, Aisyah berlari dan memeluknya dari belakang.
"Aisyah", ucap Adrian sambil membalikkan tubuh dan menggenggam erat tangan yang tadi memeluknya.
"Apakah ini berarti bahwa kau sudah siap?" Imbuh Adrian dengan senyum di wajahnya. Aisyah tidak berani memperlihatkan wajah, wajahnya memerah menahan rasa malu tapi mau. Dia hanya mengangguk pelan.
Dengan senyum yang semakin merekah, Adrian menggendong tubuh Aisyah menuju ranjang. Dilihatnya lekat-lekat wajah istrinya yang saat ini sudah mulai berusaha berani menatap wajahnya.
"Mas Adrian kenapa lihatin Aisyah terus?"
"Aisyah kenapa kau sangat egois?"
"Maksud Mas?"
"Kenapa semua kecantikan di bumi engkau ambil Sayang?"
Aisyah tertawa kecil mendengar gombalan Adrian yang tidak terlalu romantis itu.
"Mas Adrian apaan sih" Jawab Aisyah sambil mencubit gemas dada Adrian. Yang otomatis membuat nya semakin bersemangat.
"Aisyah apa kau sudah siap?" Adrian berkata kemudian mengecup bibir Aisyah.
Aisyah mengangguk pelan. Sementara Adrian, setelah mendapat izin dari istrinya dia segera beraksi.
Meskipun hanya berbekal feeling, namun feelingnya sungguh kuat. Membuat Aisyah Sang Gadis lugu itu hanya mampu mendesah lembut dan berakhir dengan erangan manis dari bibir keduanya. Yang berarti mereka telah mencapai puncak kebahagiaan.
Kecupan lembut dari bibir Adrian mendarat di kening Aisyah yang telah tak berdaya di bawah kungkungan Adrian.
"Istirahatlah Sayang", ucap Adrian yang telah merasa sangat puas. Kemudian dirinya mengambil posisi tidur sembari memeluk Aisyah. Keduanya pun beristirahat dengan sangat nyaman setelah pergulatan yang telah mereka lalui.
****
Cuupp, sebuah kecupan lembut dari bibir Aisyah mendarat di pipi Adrian yang saat ini masih memejamkan mata di atas ranjang.
"Mas Adrian bangun!" Bisiknya di telinga Sanh Suami.
Adrian menggeliat perlahan kemudian membuka mata yang tampak olehnya wajah cantik dengan rambut yang ditutup handuk.
Adrian tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya.
"Mas Adrian bangun! Sholat subuh dulu." Aisyah mengelus pipi Adrian dengan lembut. Sepertinya setelah pergulatan semalam Aisyah semakin berani.
Adrian pun menurut perintah istrinya. Dia segera mengambil air wudhu kemudian menjadi imam sholat subuh bagi Aisyah.
"Aisyah", panggil Adrian saat istrinya melipat mukenah sehabis sholat.
"Iya Mas"
"Kamu mau ngapain?"
"Mau ke dapur, masak buat sarapan. Mas mau dimasakin apa?" Tanya Aisyah masih sambil melipat mukenah.
"Emm, gimana kalau masaknya nanti saja?" Adrian tampak malu-malu.
"Emang kenapa Mas?" Aisyah tidak mengerti.
"Ya masaknya nanti saja. Sekarang kita di sini saja dulu." Jawab Adrian sambil duduk di atas ranjang.
"Emang Mas mau ngapain disini?" Aisyah dengan wajah keheranan duduk di samping Adrian. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang duaminya inginkan.
Adrian membelai pipi Aisyah lembut kemudian mengecupnya dengan kecupan yang tak kalah lembut. Dengan begitu Aisyah pun mengerti apa maksut suaminya.
Dengan malu Aisyah berkata, "Mas, ini sudah pagi. Nanti Ibu nyariin."
"Tidak apa-apa", jawab Adrian sambil menidurkan istrinya.
"Kalau Ibu butuh sesuatu?" Aisyah masih saja berkata meskipun Adrian dengan cepat telah melucuti pakaiannya.
"Ada Mbak Minah di belakang." Jawab Adrian.
"Kalau Mbak Minah enggak ada?" Aisyah bertanya lagi namun kali ini tidak ada jawaban dari Adrian, malah desahan halus yang terdengar dari mulut Aisyah. Aisyah menerima serangan fajar.
