BAB 3
Ahh Saya, Saya saat ini tengah menunggu interview. Ada beberapa Universitas yang saya lamar. Dan juga saat ini proses mendapatkan beasiswa S3." Adrian berusaha menjelaskan tentang dirinya. Baginya Aisyah sebagai calon istrinya harus tahu semua tentangnya. Apalagi setelah melihat Aisyah sekarang, Adrian sudah tidak merasa ragu lagi.
"Semoga lancar semuanya ya Mas, Aisyah seneng dengernya. Ibu sering cerita ke Aisyah tentang Mas, bagaimana perjuangan-perjuangan Mas Adrian hingga seperti ini. Aisyah salut sekali." Kata Aisyah sambil memandang wajah Adrian. Yang membuat Adrian merasa sangat salah tingkah.
"Aisyah, bagaimana menurut kamu tentang pernikahan kita lusa? Apa kamu ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada saya?" Tanya Adrian. Bagaimanapun juga antara Adrian dan Aisyah tidak boleh ada sesuatu yang disembunyikan, apalagi sesuatu yang mengganjal di hati.
"Ada", jawab Aisyah sambil menatap Adrian tajam. Kali ini Adrian merasa sedikit takut. Setelah melihat Aisyah, Adrian menjadi takut. Dia takut Aisyah menolak pernikahan ini. Bagaimanapun juga Aisyah adalah perempuan yang sangat cantik, pasti banyak laki-laki di luar sana yang menginginkannya menjadi istri.
"Katakanlah, saya siap mendengarnya." Adrian berusaha menyiapkan diri menerima keadaan terburuk.
"Mas Adrian kalau tidur ngorok enggak?" Tanya Aisyah sambil tertawa. Adrian tampak melongo mendengarnya.
"Ahh kamu Aish", Adrian pun tertawa juga mendengarnya.
Hingga Aisyah menghentikan tertawanya, mulai memasang wajah serius kemudian berucap. "Insya Allah Aisyah siap menjadi istri Mas Adrian. Insya Allah Aisyah akan berusaha menjadi istri yang akan selalu mencintai Mas dan menjaga kehormatan keluarga kita." Ucap Aisyah sungguh-sungguh.
Adrian tampak tertegun dengan pernyataan Aisyah. Dan dia tidak bisa mengelak lagi jika saat ini dirinyatelah jatuh cinta dengan Aisyah.
"Ee Aisyah, apa Mas boleh menanyakan satu hal kepadamu?" Tanya Adrian yang dibalas dengan anggukan kepala dari gadis ayu itu.
"Apakah Aisyah mencintai Mas?" Tanya Adrian dengan sedikit bergetar. Sungguh ini adalah hal pertama baginya berbicara masalah seperti ini kepada seorang perempuan. Dan pertanyaan ini pun, sangat dia sesali telah keluar dari mulutnya.
Aisyah tidak menjawab, dia hanya melihat wajah Adrian sekilas kemudian menunduk. Sungguh pertanyaan itu juga baru pertama kali didengarnya dari seorang laki-laki. Dan kini, dia tidak bisa menjawab. Dia merasa sangat malu.
Melihat respon dari Aisyah, Adrian benar-benar merutuki dirinya sendiri telah menanyakan hal tersebut. "Bodoh sekali aku, haruskah aku menanyakan hal tersebut sebelum aku mengungkapkan isi hatiku. Bodoh sekali." Adrian terus merutuki dirinya sendiri.
Drrt... Drrt... Ponsel Adrian berbunyi. Aisyah pun menegakkan kepalanya untuk mempersilakan Adrian mengangkat telefon terlebih dahulu dengan bahasa tubuhnya.
"Hallo Ibu, assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, bagaimana Nak sudah bertemu dengan Aisyah?"
"Sudah bu, Adrian sudah bertemu Aisyah." Mendengar hal tersebut Aisyah menunduk malu kembali.
"Bagaimana Aisyah?"
"Aisyah cantik sekali Bu." Jawab Adrian sambil memandang Aisyah, yang otomatis membuat Aisyah melambung ke angkasa.
"Lalu, bagaimana Nak?"
"Lalu, bagaimana kalau pernikahannya dipercepat saja sekarang Bu?" Aisyah tidak bisa menahan tawa mendengarnya. Begitu juga dengan Bu Ani yang terdengar terbahak dari seberang.
"Ibu, lebih baik sekarang Adrian pulang saja. Adrian takut terlalu lama disini."
"Kenapa Mas?" Aisyah merasa heran dengan ucapan Adrian kepada Ibunya.
"Mas takut ada setan yang lewat. Yasudah Mas pulang dulu ya Aish, salam saja ke Ibu Panti. Tolong bilang kalau Mas buru-buru gak sempat pamit. Sudah ya Aish, Mas pulang dulu. Assalamualaikum." Ucap Adrian yang membuat Aisyah sedikit heran namun juga sangat lucu.
"Iya Mas, hati-hati. Waalaikumsalam." Jawab Aisyah sambil berdiri dan berjalan mengantar Adrian keluar.
"Oh iya, sampai jumpa di hari pernikahan kita." Kata Adrian sambil membalikkan tubuhnya. Yang sontak membuat Aisyah tertawa begitu pula dengan Bu Ani yang ternyata Adrian lupa belum mematikan sambungan telfonnya.
******
Hari ini adalah hari pernikahan Adrian dan Aisyah. Hari yang telah ditunggu-tunggu keduanya.
Gema suara "Sah" dari para saksi menjadi saksi bahwa kini kedua insan itu telah menjadi satu. Satu dalam ikatan yang sah sebuah pernikahan.
Ijab Qobul yang dilafalkan Adrian dengan lantang memberikan janji bahwa dia akan selalu menjaga, melindungi, menyayangi Aisyah sepanjang hidupnya. Senyum malu-malu yang diberikan Aisyah di bibirnya menandakan bahwa bahwa dia akan setia menemani Sang Suami hingga akhir hayatnya.
Beberapa pasang mata yang ada di sana juga turut bahagia menyaksikan dua insan yang dengan malu-malu saling berpegangan tangan.
"Mas Adrian", sapa Aisyah saat Adrian masuk ke dalam kamar. Bagaimanapun juga ini adalah pertama kali baginya satu ruangan dengan laki-laki. Begitupun yang dirasakan Adrian saat ini.
"Mas Adrian membutuhkan sesuatu?" Tanya Aisyah.
"Tidak", jawab Adrian sambil mengambil posisi duduk di dekat Aisyah hingga tubuh keduanya menempel. Aisyah merasa sedikit kikuk namun berusaha menahan diri. Dia tahu betul apa yang seharusnya dirinya lakukan bersama suaminya saat ini.
"Aisyah, maafkan Mas."
"Kenapa Mas?"
"Awalnya Mas sedikit ragu dengan pernikahan ini. Mas merasa ragu apa kita bisa saling mengenal dan memahami tanpa saling kenal terlebih dahulu. Ahh, kita memang sudah kenal tapi itu dulu. Saat kamu masih kecil, masih segini." Adrian menggambarkan tinggi Aisyah dengan tangannya. Aisyah mendengar dengan seksama ungkapan isi hati Sang Suami.
"Namun setelah bertemu denganmu, semua keraguan itu lenyap. Hingga saat ini Mas merasa sangat bahagia bisa memiliki kamu seutuhnya. Insya Allah Mas tidak akan menyerah demi kebahagiaan kamu dan keluarga kita nantinya. Mas akan selalu berusaha untuk membuat Aisyah bahagia. Mas mencintai kamu Aish. Mencintai Aish karena Allah." Ungkap Adrian sambil menggenggam tangan Aisyah yang terasa dingin kemudian mengecup punggung tangan itu lembut. Sementara Aisyah hanya menunduk malu. Kebahagiaan yang seperti ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Hingga dirinya tak mampu berkata apapun.
Melihat Aisyah seperti ini, Adrian tersenyum. Dia sangat mengerti bagaimana situasi gadis itu saat ini.
"Baiklah Aisyah Sayang, tolong siapkan makan malam. Mas akan mandi sebentar kemudian membantumu." Ucap Adrian yang dibalas dengan anggukan kencang dari kepala istrinya itu, yang jelas membuatnya sangat gemas.
Aisyah segera beranjak dari tempat duduknya. Kemudian melangkahkan kaki menuju pintu. Namun sebelumnya dia membalikkan tubuh, membuat Adrian keheranan.
"Mas, bolehkan saya menjawab pertanyaan Mas kemarin?" Tanya Aisyah yang membuat Adrian semakin heran. Namun tak lama dia tersenyum, Adrian faham apa yang dimaksud istrinya tersebut. Kemudian menganggukkan kepala.
"Aisyah sangat mencintai Mas Adrian." Ucap Aisyah sambil malu-malu kemudian berlari menuju pintu keluar kamar.
Adrian sedikit shock dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia pun hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Hatinya berbunga-bunga saat ini. Ahh, indahnya pengantin baru.
