BAB 2
Hari ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh Ibu Ani. Hari ini Adrian pulang ke rumah untuk menikah dengan Aisyah besok lusa.
Beberapa orang telah mulai memadati rumah Adrian untuk membantu Bu Ani menyiapkan persiapan pernikahan.
"Assalamualaikum", seru seseorang dari luar pintu.
"Waalaikumsalam", jawab Bu Ani sambil membuka pintu dengan sangat antusias karena dia tahu benar jika seseorang di balik pintu adalah putranya.
"Adrian, putra Ibu. Sudah sampai ternyata. Ayo lekas masuk Nak!" Ibu Ani memeluk putra semata wayangnya dengan penuh kasih. Mereka memang telah lama tidak berjumpa.
"Segera bersihkan dirimu dan makanlah! Ibu akan menyiapkan makanan untukmu." Ucap Ibu Ani sambil mengantar Adrian ke kamar miliknya.
Adrian melihat sekeliling rumah, tampak beberapa hiasan telah dipasang untuk persiapan pernikahan. Membuat hati laki-laki ini semakin sakit.
"Ibu, bolehkah kita bicara sebentar?" Ucap Adrian kala dirinya telah menyelesaikan makan.
"Boleh, ada apa Nak?"
"Ibu, Adrian minta maaf sebelumnya. Mungkin apa yang akan Adrian katakan akan membuat Ibu sakit hati."
"Nak, kau jangan membuat Ibu takut! Katakan ada apa Ibu akan mendengarnya."
"Ibu, Adrian tidak yakin dengan pernikahan ini. Adrian tidak mengenal Aisyah Bu. Bagaimana kami akan menikah jika kami tidak saling kenal?"
"Nak, perkenalan setelah pernikahan akan lebih indah daripada sebelum pernikahan."
"Iya Bu Adrian tahu itu. Tapi Adrian merasa...."
"Nak, Ibu sangat mengenalmu." Sela Bu Ani sebelum Adrian melengkapi kalimatnya.
"Ibu tahu ada sesuatu yang ingin kau katakan namun kau tutupi. Katakanlah sejujurnya kepada Ibu. Ada apa sih Nak?"
"Ibuuu, Aisyah tidak secantik teman-teman Adrian. Aisyah tidak bisa bersolek. Padahal Adrian menginginkan gadis sholihah nan cantik jelita untuk kujadikan istri." Ucap Adrian dengan nada melengkung-lengkung karena malu.
Mendengar alasan Adrian Bu Ani terbahak hingga batuk-batuk.
"Ibu kenapa tertawa?" Adrian memberi minum kepada Ibunya.
"Nak, kau bilang Aisyah jelek?" Bu Ani masih tidak mampu menahan rasa ingin tertawanya.
"Iya Ibu, Aisyah dulu adalah gadis dekil hitam. Saat ini pun pasti dia masih seperti itu. Ibuu Adrian mohon batalkanlah Buu.." Rengek Adrian.
"Sayang, kau tidak bisa menilai seseorang secara sepihak seperti itu."
"Tapi Bu..?"
" Nak, dengarkan Ibu baik-baik. Allah menciptakan manusia sesuai porsinya masing-masing. Ada yang cantik, jelek, pintar, bermacam-macam. Setiap orang memiliki kelemahan, Aisyah memiliki kekurangan, Adrian pun demikian. Namun kekurangan-kekurangan tersebut bisa ditutupi oleh pasangan kita." Terang Bu Ani mencoba menjelaskan.
"Satu lagi, apakah Adrian merasa diri Adrian tampan, bagus? Sehingga Adrian bisa berkata hal seperti itu untuk Aisyah?" Bu Ani mulai sedikit emosi, sementara Adrian hanya tertunduk.
"Tidak Ibu, maksutku.."
"Sudahlah Nak, sebaiknya kau antarkan ini ke panti asuhan Aisyah. Anak-anak di sana pasti senang. Sekaligus lihatlah Aisyah baik-baik di sana." Ibu memberikan rantang makanan kepada Adrian. Mau tidak mau Adrian harus menghentikan perdebatan ini. Meskipun hatinya sungguh merasa kecewa karena pernikahan ini akan sungguh terjadi.
Adrian sampai di sebuah panti asuhan di desanya. Panti ini sangat berbeda dari yang terakhir kali dia datangi.
Seingat Adrian dirinya terakhir datang ke tempat ini saat masih SMP. Dia sering mengirimkan gorengan untuk anak-anak di panti. Saat itulah dirinya sering bertemu dengan Aisyah. Gadis kecil yaang ceria namun tidak memiliki wajah rupawan menurutnya.
Adrian masuk ke pekarangan panti yang lumayan cukup luas. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar suara ramai dari arah taman. Suara itu membuatnya sedikit tertarik hingga melangkahkan kaki ke dumber suara.
Yaa, di tempat itu tampaklah beberapa anak sedang belajar. Mereka membawa alat tulis di tangan. Mata Adrian terkesiap kala melihat seorang gadis yang didapuk sebagai guru dari anak-anak itu.
Gadis itu begitu cantik. Wajahnya memberikan keteduhan dan kedamaian hati. Pakaian sederhana yang dikenakan, dengan jilbab di kepalanya yang menambah kesan gadis sholihah ayu nan anggun.
Hingga tak terasa Adrian telah cukup lama berdiri mematung di tempat itu, menyaksikan bagaimana Sang Guru dengan penuh kesabaran mengajari anak-anak membaca.
"Ahh, dosakah aku jika seperti ini? Aku mengagumi seorang gadis tepat dua hari sebelum pernikahanku." Adrian sedikit frustasi dengan keadaan. Tangannya mulai menjambak rambut yang dia sendiri tahu jika itu terasa sakit
"Mas Adrian", sebuah suara memanggilnya. Suara itu terasa begitu dekat hingga Adrian mengarahkan kepalanya ke suara tersebut. Jantung Adrian seperti berdetak kala didapatinya guru cantik itu telah berdiri di hadapannya.
"Mas Adrian sudah lama di sini?" perempuan itu bertanya lagi.
"Ah, be be belum. Saya diminta Ibu untuk mengantar ini untuk anak-anak." Jawab Adrian sambil memberikan rantang kepada gadis itu
"Ah, terimakasih Mas. Tolong disampaikan ke Ibu." Kata gadis itu sambil tersenyum yang membuat Adrian semakin mati rasa dibuatnya.
"Mas Adrian mau masuk dulu? Ada Ibu panti di dalam. Mungkin Mas bisa ngobrol sebentar." Pinta gadis itu yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Adrian.
"Ibu, Ibu, ada Mas Adrian." Teriak gadis itu sambil meminta Adrian duduk di kursi tamu.
"Ada apa Aisyah? Kenapa kamu teriak-teriak?" Seorang perempuan tua tampak keluar dari ruangan dan menemui Adrian.
Adrian sedikit terkejut mendengar perkataan perempuan tua itu. "Kenapa perempuan itu memanggil nama Aisyah? Apakah, Ahh?"
"Ini lo bu, ada Mas Adrian mengantar makanan." Aisyah menjawab sambil menggandeng Sang Ibu Panti menemui Adrian.
"Oalah, calon suami kamu to. Kapan datang Nak?" Tanya Ibu Panti sambil menjabat tangan Adrian.
"Baru tadi siang Ibu. Ibu bagaimana kabarnya? Sehat?" Jawab Adrian kepada seorang Ibu yang usianya telah lebih dari enam puluh tahun itu.
"Alhamdulillah Ibu sehat Nak, semoga lusa Ibu masih bisa melihat kalian berdua menikah."
"Ah Ibu, jangan berbicara seperti itu. Aisyah selalu berdoa semoga Ibu mendapatkan umur yang panjang. Agar Ibu bisa selalu menemani adik-adik di sini sampai mereka besar." Kata Aisyah sambil memeluk perempuan yang telah mendidik dan membesarkannya setelah orang tua kandungnya meninggal.
Adrian merasa sangat senang melihat pemandangan ini. Matanya selalu tertuju pada Aisyah.
"Aisyah, kesibukan apa sekarang?" Tanya Adrian mencoba memberanikah diri setelah sebelumnya mereka berdua saling diam. Ibu Panti memang meninggalkan mereka di ruang tamu berdua.
"Selain menjahit di rumah Mas, Aisyah juga mengajar anak-anak seperti yang tadi Mas Adrian lihat." Jawab Aisyah sambil menunduk. Membuat Adrian semakin gemas dengan gadis ini, apalagi wajah ayu Aisyah yang membuat matanya segan untuk memandang apapun.
"Kalau Mas Adrian bagaimana?" Aisyah bertanya sambil memandang wajah Adrian. Yang membuat keduanya menundukkan wajah kembali karena saling pandang dan membuat mereka malu. Senyum tipis dari bibir Aisyah menambah keindahan wajah ayu tersebut.
