04. Rezeki Tidak Akan Salah Alamat
Bab 4 — Rezeki Tidak Akan Salah Alamat
Suara alarm ponselnya berbunyi nyaring—tepat pukul empat pagi.
Arga terbangun dari tidurnya. Ia membuka mata, menatap langit-langit kamar sebentar. Kemudian duduk dan mengusap wajahnya.
Ia berdiri dan mandi. Lalu berjalan menuju masjid untuk bersih-bersih dan shalat subuh berjamaah.
Arga membantu Pak Rahmat membersihkan halaman masjid setelah shalat Subuh selesai. Ia menyapu dedaunan kering yang jatuh, mengisi ulang galon air minum, dan membersihkan tempat wudhu.
Pak Rahmat yang melihat kegigihan Arga, tampak tersenyum puas. "Kamu rajin sekali, Arga."
Arga tersenyum kecil sambil terus menyapu. "Cuma ini yang bisa saya lakukan buat membalas kebaikan Bapak."
Pak Rahmat tertawa kecil, menepuk pundak Arga dengan pelan. "Saya doakan kamu sukses suatu hari nanti, Arga."
“Aamiin. Bapak juga sehat-sehat ya.” Arga tersenyum sambil terus melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sarapan bersama Pak Rahmat, Arga mengenakan kemeja paling rapi yang ia miliki di dalam koper. Ia memasukkan beberapa lembar berkas lamaran kerja ke dalam map plastik, kemudian bergegas berangkat.
Langkahnya hari ini penuh harapan. Ia yakin, selama mau berusaha dan tidak memilih-milih, pasti ada perusahaan atau toko yang bersedia menerimanya.
Namun kenyataan di lapangan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Arga mendatangi sebuah toko elektronik yang cukup besar. Ia lalu menyerahkan berkas lamarannya kepada bagian administrasi dengan senyum ramah.
Sayangnya, jawaban yang diterimanya beberapa menit kemudian membuat senyumnya langsung memudar.
"Maaf ya, Mas. Kami sedang mencari karyawan yang punya pengalaman minimal satu tahun di bidang penjualan."
Arga menahan rasa kecewanya, lalu tetap tersenyum sopan. "Baik, Bu. Terima kasih banyak atas waktunya."
Ia keluar dari toko itu dengan langkah yang masih tegap.
Arga menuju sebuah minimarket waralaba yang sedang membuka lowongan di bagian pramuniaga.
Namun lagi-lagi, hasilnya tidak sesuai harapan Arga.
"Maaf, Mas Arga. Untuk posisi ini kami membutuhkan lulusan minimal D3. Berkasnya kami simpan dulu, ya."
Arga mengangguk pelan. "Baik, Pak. Terima kasih."
Perusahaan ketiga yang ia datangi, ditolak karena kuota karyawan sudah penuh.
Perusahaan keempat ditolak karena terkendala jarak rumah. Perusahaan kelima juga ditolak bahkan sebelum berkasnya dibaca.
Semakin siang, semakin banyak penolakan yang harus Arga terima.
Matahari di luar terasa begitu terik menyengat kulit. Kemeja rapi yang ia kenakan kini mulai basah oleh keringat.
Namun Arga tetap berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Arga duduk sebentar di halte pinggir jalan menjelang sore. Ia meneguk air mineral yang tadi dibelinya dari warung. Map lamaran di tangannya kini tampak agak kusut karena terus digenggam.
Arga menatap kosong ke arah jalanan yang ramai oleh kendaraan. Rasa putus asa mulai menyelinap masuk ke dalam hatinya. Mencari pekerjaan di kota ini ternyata jauh lebih sulit dan kejam dari yang ia bayangkan.
—
Nadine baru saja masuk setelah pulang dari kampus. Begitu memasuki ruang tamu, langkah kakinya terhenti. Dahinya langsung berkerut menatap ke arah dinding.
Foto keluarga yang biasanya terpajang di sana, kini sudah tidak ada di tempatnya.
Yang tersisa hanyalah foto berdua antara dirinya bersama sang ibu.
Nadine langsung berjalan ke ruang tengah.
"Ibu!"
Lestari yang sedang asyik menonton televisi hanya menoleh sebentar. "Ada apa? Pulang-pulang kok teriak."
"Mana foto keluarga besar kita? Kenapa nggak ada?" tanya Nadine, menuntut penjelasan.
Lestari kembali memalingkan wajahnya memandang layar televisi. "Ibu simpan di gudang."
"Kenapa disimpan ke gudang sih, Bu?!" Suara Nadine mulai sedikit meninggi.
"Ya karena ibu mau," jawab Lestari enteng.
"Tapi itu foto keluarga kita, Bu!"
"Bukan." Jawab Lestari dingin. "Itu bukan keluarga kita. Suamiku sudah mati. Dan anak pungut itu bukan siapa-siapa di rumah ini."
Nadine menggigit bibirnya, dadanya terasa sesak dan panas mendengar omongan ibunya sendiri. Tapi ia malas untuk berdebat lebih lama yang hanya akan membuat keadaan semakin memburuk.
Nadine berbalik. Naik ke tangga, lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia membanting pintu dengan keras. Setelah pintu tertutup, tangisnya langsung pecah.
—
Sementara itu, Arga masih terus berjalan mencari pekerjaan hingga menjelang Magrib.
Namun hasilnya tetap sama saja. Tidak ada satu pun tempat yang mau mempekerjakannya saat ini.
Saat suara azan Magrib mulai terdengar dari kejauhan, Arga kembali menuju masjid. Tubuhnya terasa lelah, kedua kakinya pegal, perutnya lapar, dan pikirannya kini dipenuhi oleh berbagai kekhawatiran yang mulai menumpuk.
Bagaimana jika besok ia kembali gagal? Bagaimana jika minggu depan kondisinya tetap sama saja? Berapa lama lagi uang tabungan pemberian Nadine bisa bertahan untuk menghidupinya?
Arga duduk sendirian di teras masjid yang sepi setelah shalat isya. Tatapannya kosong tertuju ke arah jalanan yang gelap.
Pak Rahmat datang membawa dua gelas teh hangat. Satu gelas langsung disodorkan kepada Arga. "Minumlah dulu, Arga.”
Arga menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih banyak, Pak."
Pak Rahmat memandangi wajah lesu pemuda di sebelahnya itu untuk beberapa saat. "Bagaimana hari ini? Sudah ada hasil?"
Arga tersenyum pahit. "Belum ada yang mau menerima saya, Pak."
Pak Rahmat mengangguk-angguk pelan. "Kamu merasa kecewa?"
"Iya, Pak. Sedikit."
Pak Rahmat tersenyum tipis, menatap ke depan. "Kalau begitu, besok kamu harus coba lebih keras lagi."
"Memangnya akan lebih mudah, Pak?"
"Tidak." Pak Rahmat tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. "Memang tidak lebih mudah, Arga. Tapi kalau kamu menyerah sekarang, hidupmu akan jauh lebih sulit, kan?"
Arga kembali terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan Pak Rahmat.
Pria tua itu lalu menepuk pundaknya dengan sangat pelan
"Yang penting jangan menyerah. Percayalah, rezeki itu tidak pernah salah alamat. Kalau memang sudah waktunya, pasti akan ada jalannya."
Arga memandang gelas teh di genggaman tangannya. Sebuah senyuman kecil kembali muncul di wajahnya.
Mungkin hari ini ia memang gagal total. Mungkin besok juga belum tentu langsung berhasil. Namun setidaknya untuk malam ini, ia tahu masih ada seseorang yang percaya bahwa dirinya bisa bangkit.
