Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

05. Secercah Harapan

Pagi itu setelah semua pekerjaannya beres di masjid, Arga berpamitan ke Pak Rahmat untuk berangkat mencari kerja.

Pak Rahmat memberikan semangat dan doa untuk Arga.

Beberapa map lamaran kerja masih berada di genggaman tangannya.

Meski kemarin ia mengalami banyak penolakan yang menguras tenaga, ia memaksa dirinya untuk tetap optimis hari ini.

Hari ini mungkin akan berbeda. Setidaknya itulah kalimat yang terus ia bisikkan pada dirinya sendiri untuk menguatkan hati.

Tempat pertama yang ia datangi pagi ini, sebuah toko furniture yang lumayan besar.

"Maaf ya, Mas. Saat ini kami hanya mencari karyawan yang sudah berpengalaman di bidang pertukangan."

Arga menahan napas sejenak, lalu tersenyum sopan. "Baik, Pak. Terima kasih banyak."

Ia keluar dari toko itu dan kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa tempat yang ia datangi, kembali menolak dengan berbagai alasan. Meski sejak awal ia sudah menyiapkan mental, rasa kecewa dan putus asa tetap saja muncul setiap kali mendengar penolakan itu.

Menjelang siang hari, Arga mendatangi sebuah perusahaan distribusi barang yang sedang membuka lowongan untuk posisi staf gudang.

Ia masuk dan menyerahkan berkas lamarannya kepada seorang wanita di meja administrasi depan.

Wanita itu menerima map Arga, lalu memeriksa berkasnya selama beberapa saat.

"Kami memang sedang mencari beberapa karyawan baru untuk bagian bongkar muat barang di gudang, Mas.”

Mata Arga sedikit berbinar mendengar ucapan itu. "Benarkah, Bu?"

"Iya. Tapi untuk keputusan finalnya tetap ada di bagian HRD setelah menyaring berkas," jelas wanita itu.

Ia kemudian menyimpan berkas milik Arga ke dalam sebuah map khusus di atas mejanya.

"Nanti kalau berkasnya lolos seleksi, kami akan segera menghubungi Mas Arga lewat telepon.”

"Terima kasih banyak, Bu," ucap Arga tulus. Ia membungkukkan badannya dengan sopan sebelum keluar dari gedung tersebut.

Ia berjalan menuju halte bus terdekat dengan senyuman kecil yang mengembang di wajahnya.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Pak Rahmat semalam. Rezeki itu memang tidak pernah salah alamat.

Drrtt... drrtt…

Ponsel di saku celananya bergetar kuat. Nama Nadine langsung muncul di layar ponselnya.

Arga segera mengangkat teleponnya. "Halo, Nad?"

"Halo, Mas Arga!" Suara Nadine terdengar jauh lebih ceria dibanding malam itu.

Arga bisa mendengar sayup-sayup suara riuh mahasiswa dari teleponnya.

"Kamu lagi di kampus, Nad?"

"Iya, Mas. Sekarang lagi jam istirahat siang."

"Sekarang lagi ngapain?"

"Lagi duduk-duduk aja di taman kampus," Nadine tertawa kecil di seberang sana. "Terus kepikiran pengen nelepon Mas."

Arga ikut tersenyum mendengar tawa adiknya. "Gimana kuliahmu hari ini? Lancar?"

"Lumayan lancar, Mas." Nadine terdiam sesaat, jeda beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali bersuara.

"Mas..."

“Kenapa, Nad?"

"Aku pengen ketemu sama Mas Arga."

Arga memperlambat langkahnya. "Nad..."

"Aku kangen banget sama Mas," suara gadis itu mendadak merendah, terdengar pelan dan penuh harap.

Arga menghela napas panjang, menatap ujung sepatunya. "Nanti ya, Nad," jawab Arga lembut.

"Kapan, Mas?"

"Kalau keadaan Mas Arga di sini sudah lebih baik dari sekarang."

Nadine kembali terdiam untuk beberapa saat. "Mas Arga. Apa mas marah sama aku"

"Mas nggak marah sama kamu, Nad. Kamu kan nggak ada salah apa-apa,” ucap Arga sambil tertawa pelan.

"Terus, kenapa Mas Arga nggak mau ketemu sama aku?"

"Karena sekarang Mas malu. Mas belum jadi apa-apa di luar sini.”

"Aku nggak peduli! Sampai kapan pun Mas tetap Mas Arga yang sama. Kakakku,” jawab Nadine, tegas.

Dada Arga terasa begitu hangat dan bergetar mendengar kalimat dari adiknya itu.

"Iya. Makasih ya, Nad."

"Pokoknya jangan lama-lama ya, Mas. Aku mau ketemu."

"Iya nanti"

"Janji?"

"Iya, Mas janji."

Mereka lanjut mengobrol ringan beberapa menit. Sebelum akhirnya telepon itu harus berakhir karena jam kuliah berikutnya akan segera dimulai.

Arga kembali berjalan menuju halte untuk segera pulang ke Masjid.

Setelah menunaikan shalat Isya berjamaah, Arga kembali masuk ke dalam kamarnya.

Ia duduk bersila di atas kasur, kemudian membuka tas ransel dan mengeluarkan dua amplop yang berisi seluruh sisa uang yang ia miliki saat ini.

Amplop pertama, uang tabungan miliknya sendiri dari hasil kerja dulu. Dan amplop kedua adalah uang tabungan kuliah yang Nadine yang diberikan kepadanya malam itu.

Arga mulai menghitung jumlah uang secara perlahan. Lembar demi lembar ia hitung dengan teliti. Setelah selesai menghitung semuanya, ia menatap tumpukan uang di atas kasur itu cukup lama.

Uangnya memang masih cukup, namun untuk bertahan hidup di kota besar ini, ia harus segera mendapatkan penghasilan tetap.

Arga mengusap wajahnya.

Ia harus berusaha lebih keras lagi dari hari ini. Tidak ada pilihan lain untuknya saat ini. Hidupnya sekarang benar-benar hanya bergantung pada dirinya sendiri.

Nadine sedang berbaring telentang di atas tempat tidurnya. Lampu kamar sudah ia matikan sejak tadi. Kini hanya ada cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya yang tampak lesu.

Ia sedang melihat sebuah foto lama. Foto keluarga mereka yang utuh.

Mereka semua terlihat sangat bahagia di dalam foto tersebut.

Nadine mengangkat jari telunjuknya. Ia mengusap wajah Arga yang ada di dalam layar ponselnya. Sebuah senyuman kecil yang sangat tipis muncul di bibirnya.

"Mas Arga…aku kangen.” bisiknya lirih.

Nadine mulai memejamkan matanya, sambil memeluk ponselnya di atas dada.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel