03. Kamar Kecil Di Samping Masjid
Arga mengikuti Pak Rahmat menyusuri sisi samping masjid setelah mereka selesai sarapan bubur di warung dekat gerbang.
Udara pagi masih terasa sejuk, sisa-sisa hujan semalaman masih membekas di jalanan.
Pak Rahmat berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang terpisah dari bangunan utama masjid.
"Ini kamarnya, Arga," ujar Pak Rahmat sambil membukakan pintu.
Arga melihat ke dalam. Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya sekitar tiga kali empat meter. Lantainya tampak berdebu karena sudah lama tidak ditempati.
Di salah satu sudut, terdapat sebuah kasur tipis yang sedikit kotor. Sebuah lemari berdiri sedikit miring menempel di dinding. Dan kipas angin kecil yang tergantung di langit-langit tampak penuh debu.
"Maaf kalau kondisinya begini," kata Pak Rahmat, merasa agak tidak enak.
Arga langsung menggeleng cepat. "Ini sudah lebih dari cukup, Pak. Terima kasih banyak."
Pak Rahmat tersenyum. "Kalau begitu kamu bersihkan dulu. Nanti kalau ada yang kurang, bilang sama saya."
"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih."
Pak Rahmat mengangguk, lalu berjalan menjauh dari kamar Arga.
Arga meletakkan koper dan tas ranselnya di lantai. Ia memandangi ruangan itu selama beberapa saat.
Ia menghela napasnya, menggulung lengan bajunya, dan mulai membereskan kamar.
Arga menyapu seluruh debu yang menumpuk, mengelap lemari, dan membersihkan kaca jendela.
Ia bahkan menyikat lantai menggunakan ember dan kain pel yang dipinjam dari gudang masjid.
Hampir dua jam ia menghabiskan waktu untuk membersihkan ruangan tersebut.
Saat sudah selesai, ruangan itu terlihat jauh lebih layak untuk ditempati. Meski sangat sederhana, setidaknya sekarang tempat itu bersih dan rapi.
Arga duduk di kasur sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahinya.
Pintu kamar yang terbuka diketuk dari luar. Pak Rahmat berdiri di depan pintu sambil membawa dua botol air dingin.
"Nah, kalau bersih begini kan jadi lebih enak dilihatnya," puji Pak Rahmat.
Arga tersenyum kecil, menerima botol air yang disodorkan. "Iya, Pak. Terima kasih banyak."
Pak Rahmat ikut duduk di lantai dekat pintu. "Kamu pernah kerja sebelumnya, Arga?"
"Pernah, Pak."
"Kerja di mana dulu?"
"Saya bantu-bantu di toko buku milik ayah saya, Pak.”
Pak Rahmat mengangguk-angguk pelan. "Kamu lulusan SMA?"
"Iya, Pak."
"Lagi cari kerjaan sekarang?"
Arga mengangguk. "Iya, Pak. Mau cari kerja apa saja, yang penting halal."
Pak Rahmat tersenyum mendengar jawaban itu. Pria tua itu lalu berdiri dari duduknya. "Itu bagus, anak muda harus punya semangat. Nanti kalau kamu ada waktu luang, bantu saya bersihkan halaman masjid, ya?"
"Baik, Pak. Nanti saya bantu," jawab Arga tulus.
Hari itu Arga menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membantu pekerjaan di sekitar masjid.
Ia menyapu halaman, membersihkan lumut di tempat wudhu, mengangkat galon air mineral untuk jamaah, hingga merapikan rak sandal agar terlihat tertata.
Meski tubuhnya terasa lelah karena kurang tidur semalam, Arga tetap melakukannya dengan sungguh-sungguh. Setidaknya dengan menyibukkan diri, ia tidak hanya berdiam diri dan terus-menerus meratapi nasibnya.
Beberapa warga sekitar dan jamaah masjid mulai mengenalnya. Sebagian hanya menyapa singkat saat berpapasan, sebagian lagi melempar senyum ramah.
Tidak ada yang bertanya terlalu banyak tentang asal-usulnya atau mengapa ia bisa ada di sana. Dan Arga sangat bersyukur untuk hal itu.
—
Setelah shalat Isya berjamaah selesai, suasana di sekitar masjid mulai kembali sepi.
Arga kembali ke kamarnya. Ia duduk selonjoran di atas kasur sambil membuka tas ranselnya. Dari dalam tas, ia mengeluarkan selembar foto lama dirinya bersama mendiang ayahnya.
Di dalam foto itu, Ayahnya tersenyum sangat lebar sambil merangkul erat pundaknya. Sedangkan Arga tampak tertawa lepas ke arah kamera.
Arga tersenyum mengenang momen itu. "Kalau Ayah masih ada..."
Kalimat itu mendadak terhenti. Dadanya kembali terasa sesak dan nyeri. Namun kali ini Arga berhasil menahan air matanya agar tidak keluar.
Arga menyimpan kembali foto itu, lalu mengambil ponselnya. Ia mulai membuka beberapa situs lowongan kerja.
Satu demi satu ia mencatat alamat perusahaan atau toko yang sekiranya bisa ia datangi besok pagi. Apa pun pekerjaannya, ia tidak boleh menyerah begitu saja.
Ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar kuat. Nadine Menelepon.
Arga menatap layarnya sebentar, laku mengangkat panggilan itu.
"Ya. Halo, Nad?"
Suara isakan kecil yang tertahan terdengar dari telepon. "Mas Arga..."
"Kamu kenapa, Nad?"
"Mas nggak balas pesanku," keluh Nadine, suaranya terdengar bergetar. "Aku khawatir banget, Mas."
Arga menyandarkan punggungnya ke dinding. "Maaf ya, Nad. Mas cuma lagi agak sibuk."
"Mas pasti bohong," potong Nadine cepat, suaranya terdengar serak. "Mas baik-baik aja, kan?"
Arga terdiam sebentar. Nadine memang terlalu mengenalnya untuk bisa dibohongi dengan mudah. "Nggak kok, Mas beneran baik-baik aja di sini."
"Mas tinggal di mana sekarang?" tanya Nadine lagi.
"Ada deh... Mas sudah dapat tempat tinggal sementara."
"Di mana, Mas?"
"Pokoknya ada."
"Mas jangan bohong. Mas nggak tidur di jalanan atau emperan toko kan?"
Arga tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Nggak, Nadine. Mas nggak tidur di jalanan. Kamu tenang aja."
Nadine terdengar menghela napas lega di seberang sana.
"Ibu marahin aku tadi pagi, Mas,” ucap Nadine lagi.
“Marah kenapa?”
"Aku dimarahin karena terus-terusan tanya soal Mas Arga," ujar Nadine pelan. "Ibu bilang... jangan pernah lagi sebut nama Mas Arga di rumah ini."
"Tapi aku nggak peduli sama omongan Ibu," suara Nadine tiba-tiba terdengar lebih tegas. "Buat aku, sampai kapan pun, Mas Arga tetap kakakku. Tetap keluargaku."
Arga menundukkan kepalanya. Kalimat sederhana dari adiknya itu terasa begitu hangat.
"Makasih ya, Nad..."
"Mas."
"Iya?"
“Mas harus janji sama aku, ya."
"Janji apa?"
"Janji buat jaga diri baik-baik di sana," ucap Nadine.
Arga tersenyum. "Iya, Mas janji."
"Mas jangan pernah menghilang dari aku. Jangan ganti nomor ponsel. Nanti kalau Mas hilang, aku susah nyarinya."
Kali ini Arga benar-benar tertawa lepas.
"Mas nggak akan menghilang."
"Janji, ya?"
"Iya, janji."
Nadine terdengar sedikit lebih tenang dari sebelumnya. "Sudah dulu ya, Mas. Aku takut Ibu dengar nanti.”
"Iya. Kamu jaga kesehatan ya. Kuliah yang benar."
"Iya, Mas. Selamat malam, Mas Arga."
"Selamat malam, Nad."
Sambungan telepon pun terputus.
Arga menurunkan ponselnya, meletakkannya di samping kasur. Kamar itu kini kembali diselimuti kesunyian.
Ia memandangi sekeliling ruangan sekali lagi. Lalu merebahkan diri dan menutup matanya.
