
Ringkasan
"Aku sudah merawatmu selama dua puluh dua tahun cuma karena suamiku yang minta. Sekarang dia sudah mati. Keluar kau dari rumahku!" Kenyataan pahit itu keluar dari mulut ibunya, tepat sehari setelah kematian ayah angkatnya. Arga Pratama diusir begitu saja. Tanpa uang dan tanpa bekal apa-apa. Hanya pakaian yang melekat di badannya. Di mata ibunya, Arga tak lebih dari sekadar anak pungut yang selama ini menjadi parasit keluarga. Pembawa sial dan beban ekonomi keluarga. Namun takdir mulai membuka tirai masa lalunya. Identitas asli Arga perlahan-lahan terungkap. Orang-orang yang dulu membuang dan merendahkannya, hanya bisa tertegun melihatnya bangkit. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Arga akan selalu mengingat, siapa yang selalu berdiri di sampingnya. Dan siapa yang menendangnya.
01. Sehari Setelah Pemakaman Ayah
Gerimis mulai turun di luar rumah, membawa hawa dingin yang perlahan menusuk hingga ke tulang.
Arga Pratama masih berdiri di depan foto mendiang ayah angkatnya yang terpajang di ruang tamu. Bingkai kayu itu masih dikelilingi karangan bunga duka cita yang mulai layu.
Baru kemarin Hendi Pratama dimakamkan, rasanya semua terjadi terlalu cepat bagi Arga.
Dua minggu lalu, pria yang telah membesarkannya selama dua puluh dua tahun itu masih sempat menepuk pundaknya dan bercanda. Kini yang tersisa hanyalah selembar foto dalam bingkai hitam dan kenangan yang tersimpan di dalam ingatan.
Arga menghela napas panjang, mencoba menghapus kesedihan di dadanya. "Ayah... Arga janji bakal jaga Ibu sama Nadine," bisiknya lirih.
Brak!
Suara bantingan pintu seketika membuatnya kaget. Arga menoleh, mendapati Lestari—ibunya, sudah berdiri di pintu ruang tamu.
Wanita itu menatap Arga sinis. Matanya benar-benar kering dari bekas air mata. Tidak ada sisa kesedihan di sana, hanya ada tatapan tajam yang membuat Arga tidak nyaman.
"Masuk ke kamarmu. Bereskan semua barang-barangmu sekarang," ucap Lestari, setengah berteriak.
Arga mengernyitkan dahi, mengira dia salah dengar. "Beresin barang-barangku? Maksud Ibu?"
"Kamu nggak tuli kan, Arga," Lestari melangkah maju, wajahnya semakin dipenuhi emosi. "Bereskan pakaianmu, lalu pergi dari rumah ini. Malam ini juga."
Jantung Arga seakan berhenti saat itu juga. Dadanya terasa sesak seketika. "Maksud ibu? Ibu bercanda, kan? Kenapa tiba-tiba—"
"Aku nggak bercanda," potong Lestari tanpa ragu sedikit pun. "Aku mau kau keluar dari rumahku. Detik ini juga. Cepat!”
Arga menatap wanita di depannya dengan tatapan tidak percaya. Rasa perih berbaur dengan kebingungan, menyelimuti dirinya. "Kenapa ibu tiba-tiba mengusir, Arga? Apa salah Arga??"
"Kau itu bukan anakku. Hubungan kita sudah selesai. Ayahmu sudah mati, nggak ada lagi alasan buatmu di sini. Pergi! bentak Lestari, emosi.
Kalimat itu menghujam di dada Arga. Selama dua puluh dua tahun hidup bersama, Arga tahu hubungan mereka memang tidak pernah dekat. Namun Arga tidak pernah membayangkan kalau wanita yang ia panggil ibu, ternyata menyimpan kebencian sedalam ini dengannya.
"Aku merawatmu selama ini cuma karena Hendi yang memohon-mohon padaku," lanjut Lestari dengan senyum sinis yang menyakitkan. "Sekarang suamiku sudah mati. Jadi aku nggak punya alasan lagi buat menghidupi parasit seperti kamu di rumah ini."
“Bu. Apa…aku benar-benar nggak ngerti apa yang ibu bilang. Aku ini anakmu kan, Bu?”
"Anakku? Heh. Anak kandung ku cuma Nadine. Kau itu cuma anak pungut, Arga." Napas Lestari mulai memburu, kemarahan yang dipendam selama puluhan tahun tampak meledak malam ini. "Sejak Hendi membawamu ke rumah ini, hidupku nggak pernah tenang! Kau itu pembawa sial, Arga! Lihat apa yang terjadi pada keluarga kita? Usaha toko bangkrut, hidup susah, dan sekarang... sekarang suamiku mati karena serangan jantung. Itu semua gara-gara kau.”
Air mata kemarahan mulai menetes di wajah Lestari. Arga masih terpaku, mencoba memahami semua yang dikatakan ibunya tadi.
“Kau pembawa sial! Pergi kau dari sini!"
"Bu... Arga masih belum mengerti semua ini," suara Arga mulai serak, menahan rasa sesak di dadanya.
"AKU BILANG PERGI! KELUAR DARI RUMAHKU. KAU ANAK PUNGUT, SIALAN," pekik Lestari dengan air mata yang semakin deras.
Arga memandangi ibunya dengan mata memerah dan hati yang hancur berkeping-keping.
"Kalau begitu, siapa sebenarnya Arga ini, Bu? Siapa keluargaku yang asli?" suara Arga gemetar, air mata mulai menetes.
Lestari mendengus, memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Aku nggak tahu. Dan aku nggak peduli."
"Bu..."
"Dua puluh dua tahun lalu, kau tergeletak di dalam kardus dan menangis di depan pagar rumah ini," ketus Lestari tanpa simpati. “Cuma ada selimut bekas dan secarik kertas tanpa nama. Kalau orang tuamu menginginkanmu, mereka nggak akan membuangmu di depan rumahku! Jadi, jangan tanya aku soal keluargamu!"
Dunia seolah runtuh. Kenyataan itu menghantamnya telak. Dia benar-benar sebatang kara sekarang ini.
"Hendi sudah pernah mencoba mencarinya, tapi nihil," tambah Lestari dingin. Dia lalu berbalik menatap Arga untuk terakhir kalinya dengan pandangan jijik. "Aku kasih waktu setengah jam buat beberes barang-barangmu. Kalau kau masih di sini, aku akan panggil warga untuk menyeretmu keluar secara paksa."
Brak!
Pintu kamar Lestari dibanting keras, meninggalkan Arga sendirian dalam di ruang tamu yang kembali hening.
Arga berjalan gontai menuju kamarnya. Ia memasukkan pakaian-pakaiannya ke dalam sebuah tas ransel dan sebuah koper yang tampak usang.
Tidak banyak yang ia miliki. Hanya beberapa potong kaus, celana jeans, dokumen-dokumen pribadi, dan sebuah foto yang memperlihatkan dirinya sedang merangkul pundak sang ayah sambil tersenyum lebar.
Hanya foto itu satu-satunya barang berharga yang ia miliki di dunia ini.
Pintu kamar yang tidak terkunci terbuka dengan pelan. Nadine—adik angkatnya yang berusia sembilan belas tahun, berjalan masuk. Mata gadis itu terlihat bengkak dan hidungnya memerah. Air mata masih terlihat menetes di pipinya.
"Mas Arga..." suaranya serak.
Arga menatapnya, memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya. "Nadine. Kenapa kamu nangis?”
Tangis Nadine kembali meledak. Dia berlari kecil dan langsung memeluk lengan Arga. "Ibu benar-benar keterlaluan. Ibu benar-benar tega sama Mas Arga.”
Arga mengusap rambut adiknya, mencoba menahan air matanya sendiri agar tidak tumpah di depan gadis itu. "Nggak kok, Nad. Mungkin Ibu lagi emosi aja."
"Tapi Mas Arga mau tinggal di mana malam-malam begini? Lagi hujan juga di luar, Mas..." Nadine mendongak dengan wajah basah oleh air mata. "Mas punya uang?"
Arga tertawa pendek. "Tenang aja. Mas, ada dari sisa tabungan waktu di toko buku kemarin. Masih cukup buat cari kontrakan atau kosan murah nanti. Kamu jangan khawatir, ya?"
Nadine menggeleng. Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal.
"Ini buat Mas. Ambillah," Nadine memaksakan amplop itu ke dalam genggaman Arga.
“Nad. Ini uang dari mana?"
"Itu uang tabunganku selama dua tahun ini, Mas. Uang saku dari Ayah yang sengaja aku simpan buat keperluan kuliah nanti," ujar Nadine, air matanya kian deras mengalir.
"Nggak, Nad. Mas nggak bisa terima ini," Arga buru-buru menyodorkannya kembali. "Ini buat kuliahmu. Kondisi keuangan sekarang lagi sulit. Kamu lebih butuh uang ini daripada Mas."
"Ambil, Mas! Nadine bisa nanti cari uang lagi buat kuliah!" Nadine menolak mentah-mentah. Dia mencengkeram baju Arga dengan erat. "Kalau Mas pergi malam ini tanpa uang sepeser pun, aku nggak bisa tidur tenang! Aku bakal terus merasa bersalah karena membiarkan kakakku telantar di jalanan!"
Tangis Nadine semakin histeris, membuat dada Arga terasa semakin sesak.
"Anggap aja ini pinjaman, Mas Arga..." rintih Nadine di sela isakannya. "Nanti kalau Mas sudah sukses, Mas baru balikin ke aku. Sekarang tolong terima uang ini, Mas.”
Arga menunduk. Air mata mulai menetes di wajahnya. Ia mendekap amplop itu di dadanya, lalu menarik Nadine ke dalam pelukannya.
"Makasih, Nad... Makasih banyak. Mas janji bakal balikin uang ini secepatnya."
Nadine hanya bisa mengangguk di dalam pelukan kakaknya, menumpahkan segala rasa sedih dan ketidakberdayaan atas keputusan egois ibunya.
Hujan gerimis masih setia membasahi jalanan malam. Arga berjalan keluar melintasi teras rumahnya. Tas ransel sudah bertengger di pundaknya, tangan kanannya menyeret koper melewati genangan air.
Lestari sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Pintu depan langsung dikunci begitu Arga keluar rumah.
Arga berhenti sejenak di depan pagar. Dia berbalik, menatap ke arah rumah dua lantai yang telah menjadi saksi bisu tempatnya tumbuh selama ini. Rumah yang dulu hangat, kini terasa begitu asing dan dingin.
Dari jendela lantai dua, Arga bisa melihat Nadine yang berdiri menangis sambil melambaikan tangan padanya. Arga membalas lambaian itu dengan senyum getir yang tipis.
Dia berbalik dan berjalan di antara kegelapan malam dan dinginnya air hujan tanpa tahu harus ke mana.
