Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

02. Pria Tua Yang Baik Hati

Hujan yang semula hanya gerimis kini berubah menjadi semakin deras, seolah ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Arga.

Arga terus berjalan menyusuri trotoar jalanan yang mulai sepi. Lampu-lampu pertokoan satu per satu telah padam, hanya beberapa kendaraan yang masih melintas.

Udara dingin kian menusuk tulang.

Tas ranselnya terasa semakin berat di pundak, sementara tangan kanannya terus menyeret koper melewati genangan air yang menciprat ke celananya.

Arga sendiri tidak tahu ke mana kakinya harus melangkah saat ini.

Drrtt... drrtt…

Getaran dari ponsel di saku celananya membuat Arga terhenti di bawah guyuran hujan. Dengan tangan yang gemetar karena kedinginan, ia mengeluarkan ponselnya.

Satu pesan masuk dari Nadine.

“Mas Arga udah dapat tempat tinggal belum? Mas lagi di mana sekarang? Tolong balas ya, Mas. Aku khawatir banget.”

Arga menatap pesan itu cukup lama, membiarkan beberapa tetes air hujan jatuh di atas layar ponselnya. Ia ingin mengetikkan balasan, namun ia mengurungkan niatnya.

Arga menghela napas panjang.

Apa yang harus ia katakan pada adiknya? Saat ini dirinya sedang terlunta-lunta di jalanan tanpa tujuan.

Arga menggeleng pelan, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku tanpa membalas pesan itu. Ia tidak ingin membuat beban pikiran Nadine semakin bertambah.

Hujan terus turun dengan deras. Angin malam yang dingin membuat tubuh Arga mulai menggigil. Beberapa kali matanya menangkap plang penginapan murah atau losmen di pinggir jalan, namun setelah mengingat isi amplop cokelat di tasnya, ia mengurungkan niatnya.

Uang pemberian Nadine adalah uang kuliah adiknya, ia harus menggunakannya sehemat mungkin. Apalagi Arga belum tahu kapan atau di mana ia bisa mendapatkan pekerjaan baru setelah diusir.

Setelah berjalan hampir satu jam dengan tubuh yang mulai basah kuyup, Arga berhenti di depan sebuah ruko yang sudah tutup. Kanopi di depan ruko itu cukup lebar, cukup untuk melindunginya dari air hujan.

Arga duduk di atas kopernya, melipat kedua tangan di atas lutut sambil menatap jalanan yang basah. Matanya terasa kosong, memandang pantulan lampu jalan di genangan air.

Arga menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik pelukan tangan. Bayangan wajah ayahnya kembali berputar di benaknya—pria yang selalu memasang badan membelanya setiap kali Lestari marah, pria yang membuatnya merasa benar-benar memiliki arti hidup di dunia ini.

Tanpa bisa ditahan lagi, air mata kembali mengalir di pipi Arga, berbaur dengan sisa-sisa air hujan yang membasahi wajahnya.

Sekitar setengah jam berlalu, hujan justru turun semakin deras.

Arga kembali berdiri dengan tubuh yang lemas. Ia melanjutkan perjalanan, menembus dingin yang membuatnya semakin menggigil.

Entah sudah berapa jauh ia berjalan dengan pandangan yang mulai buram, sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah masjid.

Arga berjalan masuk ke dalam halaman masjid yang sepi. Ia meletakkan koper dan tas ranselnya di sudut teras, lalu berjalan menuju tempat wudhu.

Air dingin membasuh wajah dan kepalanya, rasa sesak yang menyumbat dadanya sejak tadi perlahan mulai berkurang.

Arga kembali ke teras masjid, lalu duduk bersandar. Matanya memandang hujan yang belum juga reda.

"Mungkin Ayah benar..." Arga tersenyum pahit, menatap langit-langit teras.

Dulu ayahnya sering berpesan bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar sebatang kara di dunia ini selama mereka masih memiliki Tuhan. Ia mulai mengerti ucapan ayahnya itu. Di saat semua manusia meninggalkannya... hanya Tuhan yang tetap terbuka lebar untuk ia datangi.

Rasa lelah akhirnya mengalahkan pertahanan tubuh Arga. Ia memeluk tas ranselnya, menyandarkan kepalanya ke koper, lalu perlahan memejamkan mata.

Arga tertidur lelap di sela hujan deras dan udara dingin yang semakin menusuk.

Beberapa jam berlalu, terdengar suara pintu masjid yang dibuka, disusul langkah kaki beberapa orang yang masuk ke dalam masjid.

Arga membuka matanya secara perlahan.

Langit di luar masih gelap, tetapi hujan deras semalam sudah reda, meninggalkan udara subuh yang bersih dan segar.

Di depan Arga, berdiri seorang pria tua berusia sekitar enam puluh tahun. Pria itu mengenakan sarung kotak-kotak, baju koko putih, dan peci hitam. Tatapan matanya tampak begitu hangat dan ramah.

"Kamu tidur di sini, Nak?" tanya pria tua itu dengan suara lembut.

Arga yang tersadar langsung duduk, ia tampak gugup. "Maaf, Pak... Saya menumpang tidur karena kehujanan."

Pria tua itu tersenyum, kerutan di sudut matanya terlihat jelas. "Ngak apa-apa, Nak. Masjid ini kan rumah Allah. Kamu musafir?"

Arga terdiam sebentar, menelan ludah sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Bisa dibilang begitu, Pak."

Pria tua itu hanya mengangguk-angguk paham.

Gema suara azan Subuh mulai berkumandang dari pengeras suara masjid, memecah keheningan fajar.

Arga segera berdiri, membenarkan pakaiannya, lalu masuk ke dalam saf bersama jamaah yang lain.

Selesai menunaikan shalat Subuh, satu per satu jamaah mulai meninggalkan masjid untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.

Langit di luar perlahan-lahan mulai terang, memancarkan semburat warna fajar.

Arga kembali duduk di sudut teras masjid, memandangi jalanan yang mulai ramai dilewati pedagang pasar dan kendaraan pagi. Ia sedang memikirkan ke mana harus melangkah dan mencari kerja hari ini.

"Kamu mau ke mana hari ini, Nak?"

Arga menoleh dan mendapati pria tua yang tadi menegurnya sudah ikut duduk di sebelahnya.

"Belum tahu, Pak," jawab Arga jujur sambil tersenyum canggung.

"Belum punya tempat tinggal juga di sini?"

Arga tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Belum ada, Pak."

Pria tua itu mangut-mangut, lalu mengulurkan tangannya yang tampak mulai berkerut. "Nama saya, Pak Rahmat. Saya yang dipercaya warga untuk mengurus masjid ini. Siapa namamu, Nak?"

Arga menyambut uluran tangan itu dengan sopan. "Saya Arga, Pak. Arga Pratama."

Pak Rahmat tersenyum. "Arga. Saya memang nggak tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi saat ini. Tapi, kalau kamu memang belum punya tempat tinggal, di samping masjid ini ada satu ruangan kosong yang dulunya bekas kamar marbot lama."

Arga tertegun. "Ruangan kosong, Pak?"

"Iya, sudah lama nggak dipakai sejak marbot yang lama pulang kampung," jelas Pak Rahmat tenang. "Kalau kamu mau dan nggak keberatan, kamu bisa bersihkan ruangan itu dan tinggal di sana untuk sementara waktu."

"Pak Rahmat... tapi saya..."

"Anggap saja ini tempat berteduh sementara sampai kamu bisa mandiri dan menemukan tempat menetap," potong Pak Rahmat sambil menepuk pundak Arga dengan hangat. "Lagipula masjid ini juga sering kekurangan orang buat bantu bersih-bersih. Kalau kamu berkenan bantu saya di sini, nanti saya usahakan kasih uang makan seadanya dari kas masjid."

Arga terdiam. Lalu sebuah senyuman terukir di wajahnya.

"Saya mau, Pak. Saya juga bersedia bantu di sini," ucap Arga dengan suara yang sedikit bergetar karena haru.

Pak Rahmat tertawa kecil, menepuk pundak Arga sekali lagi. "Bagus kalau begitu. Habis ini ikut saya, saya tunjukkan ruangannya sekalian kita cari sarapan bubur di depan."

“Saya sangat berterima kasih, Pak,” ucap Arga tulus.

“Sama-sama. Ayo Ikut saya,” Pak Rahmat berdiri.

Arga mengangguk, lalu berdiri dan mengangkat kopernya. Dadanya kini terasa lebih ringan dari semalam.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel