Bab 4: Musuh Pertama Sang Istri Kontrak
Malam di kota Jakarta terlihat begitu indah dari balik jendela mobil mewah milik Raynard Alvaro.
Gedung-gedung tinggi berkilauan dengan cahaya lampu yang berpendar seperti bintang di bumi. Jalanan ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang, sementara orang-orang menjalani kehidupan mereka tanpa tahu bahwa di dalam sebuah mobil hitam eksklusif, seorang gadis sederhana sedang mengalami pertarungan terbesar dalam hidupnya.
Naya Kirana duduk diam di kursi belakang.
Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya.
Meski wajahnya terlihat tenang, pikirannya berputar tanpa henti.
Beberapa jam yang lalu, ia masih seorang gadis biasa yang baru saja dikhianati kekasihnya.
Sekarang, ia sedang dalam perjalanan menuju rumah keluarga terkaya di negara ini sebagai calon istri seorang CEO miliarder.
Semua terasa seperti mimpi.
Mimpi yang terlalu aneh untuk dipercaya.
"Jika kamu ingin membatalkan keputusanmu, lakukan sekarang."
Suara dingin Raynard memecahkan keheningan.
Naya menoleh.
Pria itu duduk di sampingnya dengan ekspresi datar, membaca laporan bisnis dari tablet di tangannya seolah pernikahan mereka hanyalah sebuah agenda biasa.
Naya mengepalkan tangan.
"Kamu berharap aku mundur?"
"Tidak."
"Lalu kenapa bertanya?"
"Aku tidak suka orang yang menyesali keputusan mereka."
Jawaban itu membuat Naya menghela napas panjang.
Sifat pria ini benar-benar menyebalkan.
Selalu berbicara seolah tidak memiliki perasaan.
Namun anehnya, sejak tadi pagi ia mulai menyadari sesuatu.
Di balik sikap dingin dan arogan Raynard, pria itu selalu menepati apa yang ia katakan.
Ia mengirim dokter terbaik untuk memeriksa ibunya.
Ia memastikan ibunya tidak mengetahui masalah yang sedang terjadi agar tidak stres.
Bahkan sebelum mereka berangkat, ia mengizinkan Naya berbicara dengan ibunya melalui panggilan video.
"Bu, aku sedang mendapatkan pekerjaan baru," bohong Naya saat itu sambil berusaha tersenyum.
"Benarkah?" tanya Bu Ratna dengan mata berbinar.
"Iya. Pekerjaan yang bagus."
"Kalau begitu Ibu senang. Tapi jangan terlalu memaksakan dirimu."
Kalimat itu masih terngiang di kepala Naya.
Ia belum sanggup mengatakan bahwa dirinya akan menikah dengan seorang pria yang baru dikenalnya sehari.
Belum.
Setidaknya sampai semuanya lebih jelas.
"Berhenti menatapku."
Suara Raynard kembali membuat Naya tersadar.
"Apa?"
"Kamu menatapku selama tiga puluh detik."
Wajah Naya memerah.
"Aku tidak menatapmu."
"Jadi kamu menghitung jumlah bulu mataku?"
"Kamu benar-benar percaya diri."
"Aku hanya mengatakan fakta."
Naya mendengus kesal.
"Aku mulai menyesal menerima perjanjian ini."
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Raynard bergerak sedikit.
Sebuah senyum tipis.
Sangat kecil.
Namun cukup membuat Naya terdiam.
Ternyata pria dingin ini bisa tersenyum.
Dan yang paling mengejutkan, saat tersenyum, wajahnya terlihat jauh lebih muda dan tampan.
Tunggu.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Naya segera mengalihkan pandangan.
Raynard memperhatikan reaksinya.
"Jangan khawatir."
"Apa lagi?"
"Aku tidak akan jatuh cinta padamu."
Naya menoleh dengan kesal.
"Siapa yang meminta kamu jatuh cinta?"
"Tatapanmu tadi mengatakan hal yang berbeda."
"Raynard Alvaro!"
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, suara tawa kecil terdengar dari bibir Raynard.
Arkan yang duduk di kursi depan hampir menjatuhkan ponselnya.
Dia menoleh melalui kaca spion.
Apakah dia tidak salah dengar?
Raynard tertawa?
Pria yang biasanya membuat seluruh ruang rapat membeku hanya dengan satu tatapan?
Arkan mulai yakin.
Naya Kirana akan mengubah kehidupan atasannya lebih dari yang mereka bayangkan.
---
Tiga puluh menit kemudian, mobil memasuki gerbang besar sebuah kawasan pribadi.
Mata Naya melebar.
Di depannya berdiri sebuah rumah megah yang lebih pantas disebut istana.
Taman luas dengan air mancur bercahaya menghiasi halaman.
Puluhan penjaga berjaga di setiap sudut.
Pilar-pilar tinggi menopang bangunan bergaya klasik yang menunjukkan kemewahan dan kekuasaan keluarga Alvaro.
"Ini rumahmu?"
"Rumah keluargaku."
"Berapa orang yang tinggal di sini?"
"Beberapa."
"Beberapa?"
"Kurang lebih dua puluh orang."
Naya hampir tersedak.
Dua puluh orang tinggal dalam satu rumah.
Rumah seperti ini benar-benar berbeda dengan kehidupannya.
Di rumah kecilnya, dua kamar saja sudah terasa cukup.
Raynard turun lebih dulu lalu membuka pintu untuk Naya.
Naya terdiam.
"Kamu membukakan pintu untukku?"
"Jangan terlalu tersentuh."
"Kamu benar-benar tidak bisa bersikap baik lebih dari lima detik."
"Benarkah?"
"Benar."
"Bagus."
"Bagus apanya?"
"Kamu mulai mengenalku."
Naya tidak sempat menjawab.
Karena seorang pria tua berjalan keluar dari pintu utama.
Meski usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun, tubuhnya masih tegap.
Tatapannya tajam dan penuh wibawa.
Dialah Tuan Besar Alvaro, kakek Raynard dan pendiri kerajaan bisnis keluarga Alvaro.
Semua orang menundukkan kepala ketika pria itu muncul.
Bahkan Raynard yang terkenal dingin menunjukkan rasa hormat.
"Kakek."
Pria tua itu mengabaikan cucunya.
Tatapannya langsung tertuju kepada Naya.
Naya merasa gugup.
Ia segera membungkuk.
"Selamat malam, Tuan."
Keheningan terjadi selama beberapa detik.
Lalu sesuatu yang tidak diduga semua orang terjadi.
Pria tua itu tersenyum hangat.
"Jadi kamu Naya?"
Naya mengangguk pelan.
"Iya, Tuan."
"Bagus."
Kakek Alvaro melangkah mendekat.
"Setidaknya cucuku akhirnya memilih seorang wanita, bukan hanya perusahaan dan dokumen."
"Kakek."
Raynard memperingatkan.
Namun pria tua itu tertawa.
"Diamlah. Selama bertahun-tahun aku pikir kamu akan menikahi laporan keuangan."
Naya hampir tertawa, tetapi ia menahannya.
Ternyata ada seseorang yang berani menggoda Raynard.
Dan itu adalah kakeknya sendiri.
---
Makan malam keluarga berlangsung dengan suasana yang cukup tenang.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Pintu ruang makan tiba-tiba terbuka dengan keras.
Suara langkah sepatu hak tinggi menggema.
Semua orang menoleh.
Seorang wanita cantik dengan gaun merah mahal berdiri di sana.
Wajahnya elegan.
Riasannya sempurna.
Namun matanya dipenuhi kemarahan.
Naya langsung tahu.
Inilah wanita yang dimaksud di akhir perjanjian mereka.
Vanessa Wijaya.
Mantan kekasih Raynard.
Wanita yang disebut-sebut sebagai calon istri keluarga Alvaro.
"Raynard."
Suara Vanessa terdengar dingin.
"Jadi berita itu benar."
Raynard meletakkan alat makannya.
"Vanessa, kenapa kamu datang tanpa pemberitahuan?"
Wanita itu tersenyum pahit.
"Aku harus menunggu pemberitahuan untuk melihat pria yang hampir menjadi suamiku membawa wanita lain ke rumah keluarganya?"
Naya merasa tidak nyaman.
Ia ingin menjelaskan.
Namun sebelum membuka mulut, Vanessa sudah menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.
Tatapan penuh penghinaan.
"Jadi ini wanita itu?"
Naya menegakkan tubuhnya.
"Iya, saya Naya."
Vanessa tertawa kecil.
"Menarik."
"Apa maksudmu?"
"Aku hanya tidak menyangka wanita yang membuat Raynard mengkhianatiku terlihat begitu sederhana."
Sebelum Naya menjawab, suara berat terdengar.
"Jaga ucapanmu."
Semua orang terdiam.
Karena yang berbicara adalah Raynard.
Vanessa menoleh tidak percaya.
"Kamu membelanya?"
"Aku hanya tidak menyukai sikap tidak sopan."
Mata Vanessa mulai berkaca-kaca.
"Setelah semua tahun yang kita lalui bersama, kamu memilihnya?"
Raynard terdiam.
Naya bisa melihat ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya, hatinya terasa aneh.
Dia seharusnya tidak peduli.
Ini hanya kontrak.
Satu tahun.
Tidak lebih.
Lalu kenapa melihat Vanessa yang begitu dekat dengan Raynard membuat dadanya terasa sesak?
Naya segera mengusir pikiran itu.
"Vanessa, saya rasa ada kesalahpahaman—"
"Tidak perlu berpura-pura baik."
Potong Vanessa tajam.
"Aku tahu tipe wanita sepertimu."
Kalimat itu membuat suasana membeku.
"Apa maksud Anda?"
Vanessa melangkah mendekat.
"Wanita miskin yang mencari jalan tercepat untuk masuk ke dunia orang kaya."
Mata Naya berubah dingin.
Ia sudah mendengar hinaan seperti itu sepanjang hidupnya.
Dari Kevin.
Dari wanita yang merebut Kevin.
Dan sekarang dari Vanessa.
Dulu mungkin ia akan diam.
Tetapi tidak lagi.
Naya berdiri perlahan.
"Saya memang tidak lahir dalam keluarga kaya."
Suasana menjadi hening.
"Tapi saya tidak pernah merasa malu dengan kerja keras saya."
Vanessa menyeringai.
"Berani sekali."
"Dan satu hal lagi."
Naya menatap lurus ke matanya.
"Saya mungkin miskin, tetapi saya tidak pernah mengambil sesuatu yang menjadi milik orang lain."
Kalimat itu menghantam Vanessa.
Wajah wanita itu berubah.
"Beraninya kamu!"
Tangannya terangkat, bersiap menampar Naya.
Namun sebelum tangan itu menyentuh wajahnya—
Seseorang menangkap pergelangan tangan Vanessa.
Dengan kuat.
Dengan dingin.
Vanessa membeku.
Begitu juga Naya.
Karena orang yang melindunginya adalah Raynard Alvaro.
Tatapan mata Raynard tidak memiliki sedikit pun kehangatan.
"Vanessa."
Suara pria itu rendah.
Namun jauh lebih menakutkan daripada teriakan.
"Jangan pernah menyentuh wanita yang akan menjadi istriku."
Kata-kata itu membuat seluruh ruangan terdiam.
Termasuk Naya sendiri.
Wanita yang akan menjadi istriku.
Untuk pertama kalinya sejak perjanjian mereka dimulai…
Naya merasa bahwa kontrak satu tahun itu mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Dan di balik air mata serta kemarahan Vanessa…
lahir sebuah dendam yang berbahaya.
Wanita itu menggenggam tangannya erat.
Dalam hatinya, ia bersumpah.
Jika aku tidak bisa mendapatkan Raynard Alvaro… maka Naya Kirana juga tidak akan bisa memilikinya.
