Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5: Rahasia Gelap Masa Lalu Raynard

Malam yang seharusnya menjadi awal dari pengenalan Naya dengan keluarga Alvaro berubah menjadi malam penuh ketegangan.

Seluruh ruang makan megah itu tenggelam dalam keheningan yang menyesakkan.

Vanessa Wijaya masih berdiri dengan tangan yang tertahan di udara. Wajah cantiknya yang biasanya tenang kini dipenuhi rasa malu dan amarah.

Bukan karena Naya.

Tetapi karena orang yang selama ini selalu berada di pihaknya…

Memilih untuk melindungi wanita lain.

"Raynard..."

Suara Vanessa bergetar.

"Kamu menahanku demi dia?"

Tatapan Raynard tetap dingin.

"Aku menahanmu karena kamu salah."

Jawaban itu seperti pisau yang menusuk harga diri Vanessa.

Selama bertahun-tahun, semua orang menganggap bahwa dirinya adalah calon istri Raynard Alvaro.

Keluarga Wijaya dan keluarga Alvaro memiliki hubungan bisnis yang sangat dekat. Mereka sering menghadiri acara bersama, tampil sebagai pasangan sempurna di depan publik, dan menjadi bahan pembicaraan kalangan elit.

Bahkan media sudah berkali-kali menulis tentang pernikahan mereka yang hanya tinggal menunggu waktu.

Vanessa sendiri percaya hal itu.

Ia yakin tidak ada wanita yang bisa menggantikan posisinya.

Sampai Naya muncul.

Seorang gadis sederhana yang tidak memiliki kekayaan, nama keluarga besar, ataupun koneksi di dunia elit.

Namun justru gadis itulah yang kini berdiri di sisi Raynard.

"Jadi semua kenangan kita tidak berarti apa-apa?" tanya Vanessa dengan suara lirih.

Naya merasa tidak nyaman.

Meskipun Vanessa menghina dirinya, ia tetap bisa melihat rasa sakit yang nyata di mata wanita itu.

Untuk sesaat, Naya merasa dirinya seperti seorang perusak hubungan.

Padahal kenyataannya, ia sendiri tidak menginginkan semua ini.

Pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak.

Satu tahun.

Setelah itu mereka akan berpisah.

Namun ia tidak bisa menjelaskan hal itu kepada siapa pun.

Karena rahasia pernikahan kontrak harus tetap tersembunyi.

"Vanessa," kata Raynard akhirnya.

"Aku tidak pernah menjanjikan pernikahan kepadamu."

Mata Vanessa membesar.

"Kamu serius mengatakan itu?"

"Itu kenyataannya."

"Kenyataan?"

Vanessa tertawa pelan.

Namun tawa itu penuh kepahitan.

"Selama tiga tahun aku menemanimu ke setiap acara. Aku mendukungmu ketika perusahaanmu mengalami krisis. Aku menghadapi semua gosip tentang sikap dinginmu."

Air mata mulai menggenang di matanya.

"Aku bahkan menunggu seorang pria yang tidak pernah bisa mencintai siapa pun."

Kata-kata terakhirnya membuat suasana berubah.

Naya yang semula menunduk perlahan mengangkat kepalanya.

Tidak pernah bisa mencintai siapa pun?

Kalimat itu terdengar aneh.

Karena selama mengenal Raynard, Naya memang melihat bahwa pria itu seperti memiliki tembok besar di sekeliling hatinya.

Dingin.

Sulit ditebak.

Dan tidak pernah menunjukkan kelemahan.

Namun apakah ada alasan di balik semua itu?

"Vanessa."

Suara berat Kakek Alvaro akhirnya terdengar.

"Sudah cukup."

Vanessa menoleh dengan hormat.

"Kakek Alvaro..."

"Aku memahami rasa sakitmu. Tapi masalah ini tidak boleh berubah menjadi penghinaan terhadap tamuku."

Wanita itu menggigit bibirnya.

"Maaf."

Namun tatapannya masih penuh kebencian saat melihat Naya.

"Selamat menikmati permainanmu, Nona Naya."

Naya mengernyit.

"Permainan?"

"Kamu berhasil membuat pria yang bahkan tidak pernah menatap wanita lain memilihmu."

Vanessa mendekat dan berbisik pelan.

"Tapi percayalah, berada di samping Raynard Alvaro bukanlah keberuntungan."

Tatapan matanya berubah tajam.

"Itu adalah kutukan."

Setelah mengatakan itu, Vanessa pergi meninggalkan ruang makan.

Suara langkah sepatunya menggema sampai akhirnya menghilang.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Naya tanpa sadar menoleh ke arah Raynard.

Namun pria itu hanya duduk diam.

Tidak ada kemarahan.

Tidak ada kesedihan.

Ekspresinya tetap kosong.

Seolah semua yang terjadi barusan tidak memengaruhi dirinya.

Tetapi entah kenapa, Naya merasa ada sesuatu yang disembunyikan.

---

Setelah makan malam selesai, seorang pelayan mengantar Naya menuju kamar tamu yang telah disiapkan untuknya.

Kamar itu sangat besar dan mewah.

Tempat tidur berukuran besar, balkon pribadi dengan pemandangan taman, serta lemari yang bahkan lebih besar dari kamarnya di rumah.

Namun kemewahan itu tidak membuat Naya merasa nyaman.

Ia berdiri di balkon sambil menatap langit malam.

Angin sejuk menerpa wajahnya.

Pikirannya dipenuhi banyak pertanyaan.

Kevin.

Raynard.

Vanessa.

Pernikahan kontrak.

Semuanya terjadi terlalu cepat.

Tok.

Tok.

Ketukan pintu membuatnya tersadar.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Yang masuk ternyata bukan pelayan.

Melainkan Kakek Alvaro.

Naya langsung berdiri.

"Tuan Besar."

Pria tua itu tersenyum.

"Tidak perlu terlalu formal. Panggil aku Kakek seperti Raynard."

Naya terkejut.

"Saya belum pantas."

"Kamu akan menjadi keluarga kami."

Kalimat itu membuat hati Naya terasa berat.

Jika Kakek Alvaro mengetahui kebenaran tentang kontrak mereka, apakah beliau masih akan menerimanya?

"Kakek, boleh saya bertanya sesuatu?"

"Tentu."

"Mengapa Kakek sangat ingin Raynard menikah?"

Pertanyaan itu membuat senyum pria tua tersebut perlahan menghilang.

Untuk beberapa saat, ia hanya memandang taman di luar.

Seolah sedang mengingat sesuatu dari masa lalu.

"Karena aku takut kehilangan cucuku."

Mata Naya membesar.

"Maksud Kakek?"

"Raynard tidak selalu seperti sekarang."

Naya terdiam.

Inilah pertama kalinya seseorang membicarakan masa lalu pria itu.

"Dulu, Raynard adalah anak yang hangat. Dia suka tertawa. Dia sering membantu karyawan yang kesulitan."

Kakek Alvaro tersenyum sedih.

"Dia bahkan sering diam-diam membawa makanan kepada anak-anak di panti asuhan."

Naya sulit mempercayainya.

Raynard yang ia kenal sekarang bahkan jarang tersenyum.

Bagaimana mungkin dia pernah menjadi orang seperti itu?

"Apa yang terjadi?"

Wajah Kakek Alvaro berubah muram.

"Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu."

---

Sepuluh tahun lalu.

Raynard Alvaro baru berusia dua puluh dua tahun.

Ia belum menjadi CEO.

Ia masih seorang pemuda yang penuh mimpi.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia jatuh cinta.

Namanya Clara.

Seorang gadis sederhana yang tidak berasal dari keluarga kaya.

Dia adalah cinta pertama Raynard.

Mereka bertemu secara diam-diam karena keluarga Alvaro tidak menyukai hubungan tersebut.

Namun Raynard tidak peduli.

Untuk pertama kalinya, ia menentang keluarganya demi seseorang.

Ia bahkan berencana meninggalkan posisi pewaris Alvaro Group agar bisa hidup sederhana bersama Clara.

Namun takdir memiliki rencana lain.

Pada malam ketika Raynard ingin melamar Clara...

Terjadi kecelakaan.

Mobil yang ditumpangi Clara mengalami tabrakan hebat.

Gadis itu meninggal di tempat.

Dan sejak hari itu...

Raynard berubah.

---

Air mata terlihat di sudut mata Kakek Alvaro.

"Naya, aku menyaksikan cucuku hancur di depan mataku sendiri."

Naya terdiam.

Dadanya terasa sesak.

Sekarang ia mulai mengerti.

Mengapa Raynard membangun tembok begitu tinggi.

Mengapa ia tidak percaya pada cinta.

Mengapa ia memperlakukan pernikahan seperti sebuah transaksi.

Karena hatinya sudah pernah hancur.

"Sampai sekarang," lanjut Kakek Alvaro, "dia masih menyalahkan dirinya sendiri."

"Kenapa?"

"Karena malam itu, Clara pergi untuk menemuinya."

Napas Naya tertahan.

"Raynard percaya bahwa jika dia tidak memanggil Clara malam itu, gadis itu mungkin masih hidup."

Naya menutup mulutnya.

Sakit.

Sangat sakit.

Sepuluh tahun menyimpan rasa bersalah.

Tidak heran Raynard menjadi seseorang yang dingin.

"Kakek berharap kamu bisa mengubahnya."

Naya segera menggeleng.

"Kakek salah paham. Saya..."

Ia hampir mengatakan bahwa pernikahan mereka hanyalah kontrak.

Namun ia berhenti.

Ia telah berjanji kepada Raynard.

Dan yang lebih mengejutkan, ia tidak ingin melihat kekecewaan di wajah pria tua ini.

"Saya bukan orang yang istimewa."

Kakek tersenyum.

"Justru karena kamu tidak berusaha menjadi istimewa, kamu berbeda."

---

Malam semakin larut.

Setelah Kakek Alvaro pergi, Naya masih berdiri memikirkan semua cerita tadi.

Tiba-tiba ia mendengar suara langkah dari taman.

Karena penasaran, ia melihat ke bawah.

Di sana.

Di bawah cahaya bulan.

Raynard berdiri sendirian.

Di tangannya terdapat sebuah foto lama.

Ekspresi dinginnya menghilang.

Yang tersisa hanyalah kesedihan yang begitu dalam.

Untuk pertama kalinya, Naya melihat sisi lain dari pria itu.

Sisi yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.

Tanpa sadar, Naya turun ke taman.

"Kenapa kamu belum tidur?"

Raynard langsung menyimpan foto tersebut.

Wajahnya kembali dingin.

"Kamu tidak seharusnya berada di sini."

Naya berjalan mendekat.

"Apakah itu foto Clara?"

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...

Ekspresi Raynard berubah.

Mata tajamnya menatap Naya dengan keterkejutan.

"Siapa yang memberitahumu?"

"Kakek."

Keheningan panjang terjadi.

Angin malam bertiup pelan di antara mereka.

Akhirnya Raynard tertawa kecil.

Bukan tawa bahagia.

Melainkan tawa seseorang yang lelah.

"Orang tua itu benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia."

Naya menatapnya.

"Apakah kamu masih mencintainya?"

Raynard tidak langsung menjawab.

Matanya melihat langit gelap.

"Setiap hari selama sepuluh tahun, aku bangun dengan berpikir bahwa aku adalah alasan seseorang kehilangan hidupnya."

Suara itu begitu penuh luka.

Jauh berbeda dari suara dingin yang biasa ia gunakan.

Naya merasa hatinya ikut sakit.

"Raynard—"

"Jangan mengasihaniku."

Nada dinginnya kembali muncul.

"Aku tidak membutuhkan itu."

"Aku tidak mengasihanimu."

"Kalau begitu apa?"

Naya terdiam.

Ia sendiri tidak tahu jawabannya.

Namun satu hal yang pasti.

Ia mulai melihat Raynard bukan sebagai CEO arogan.

Melainkan seorang pria yang pernah kehilangan segalanya.

Seseorang yang menyembunyikan luka besar di balik sikap dinginnya.

"Aku hanya berpikir..."

Naya menatapnya lembut.

"Clara mungkin tidak ingin kamu menghukum dirimu sendiri selamanya."

Kalimat itu membuat Raynard membeku.

Tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal itu kepadanya.

Tidak Vanessa.

Tidak keluarganya.

Tidak siapa pun.

Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun...

Ada seseorang yang melihat rasa sakitnya, bukan kekayaannya.

Dan saat itulah, sesuatu yang kecil mulai retak di dinding hati Raynard Alvaro.

Namun mereka tidak menyadari...

Di luar gerbang rumah Alvaro, sebuah mobil hitam berhenti.

Seseorang sedang mengawasi mereka.

Seseorang yang mengetahui rahasia kematian Clara.

Seseorang yang selama sepuluh tahun bersembunyi dalam bayang-bayang.

Di dalam mobil, seorang pria tersenyum dingin.

"Jadi akhirnya kamu menemukan wanita baru, Raynard."

"Sayangnya..."

"Jika kebenaran tentang malam kematian Clara terungkap, kamu akan kehilangan semuanya lagi."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel