Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3: Pernikahan yang Tidak Bisa Kutolak

Suasana kamar mewah itu berubah menjadi begitu sunyi.

Naya Kirana berdiri mematung dengan wajah pucat. Kata-kata Raynard Alvaro masih terus terngiang di telinganya.

"Kakekku ingin aku menikahimu."

Kalimat sederhana itu terdengar seperti sebuah lelucon buruk.

Menikah?

Dengan seorang pria yang baru ia kenal kurang dari dua puluh empat jam?

Dengan seorang CEO miliarder yang arogan, dingin, dan menganggap uang dapat menyelesaikan segalanya?

Tidak mungkin.

Sama sekali tidak mungkin.

Naya menggeleng kuat.

"Tidak."

Raynard tetap tenang.

"Aku sudah mendengarnya."

"Aku serius."

"Aku juga serius."

Naya mengepalkan tangannya.

"Kita bahkan tidak saling mengenal. Aku tidak tahu makanan favoritmu, kebiasaanmu, atau bahkan apakah kamu benar-benar memiliki hati."

Mata Raynard menyipit.

"Apakah itu sebuah penghinaan?"

"Bukan."

Naya berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Itu kenyataan."

Untuk sesaat, Arkan yang masih berada di ruangan itu menahan napas.

Sudah bertahun-tahun ia bekerja dengan Raynard.

Ia mengenal sifat atasannya lebih dari siapa pun.

Raynard adalah pria yang tidak suka dibantah.

Direktur perusahaan besar pun berpikir berkali-kali sebelum menentangnya.

Namun gadis bernama Naya ini berbeda.

Ia bukan hanya membantah.

Ia berkali-kali melukai harga diri seorang Raynard Alvaro.

Anehnya, Raynard tidak marah.

Itulah yang membuat Arkan semakin yakin bahwa gadis ini bukan orang biasa bagi sang CEO.

"Nona Naya," kata Arkan dengan hati-hati.

"Mungkin Anda harus mendengar penjelasan Tuan Raynard terlebih dahulu."

"Apa pun alasannya, jawabanku tetap sama."

Naya menatap Raynard dengan tegas.

"Aku tidak akan menikah denganmu."

Raynard memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Bagaimana kalau keputusan itu menentukan hidup ibumu?"

Mendengar nama ibunya, wajah Naya berubah.

"Apa maksudmu?"

Raynard tidak langsung menjawab.

Ia berjalan menuju meja dan mengambil sebuah map hitam.

"Kamu tinggal bersama ibumu, Bu Ratna Kirana."

Jantung Naya berdegup lebih cepat.

"Bagaimana kamu tahu?"

"Aku bisa mengetahui semua informasi tentang seseorang dalam waktu kurang dari satu jam."

Jawaban itu membuat Naya merasa tidak nyaman.

Kekuasaannya benar-benar sebesar itu.

Raynard membuka map tersebut.

"Ibumu menderita penyakit jantung dan membutuhkan operasi yang biayanya tidak sedikit."

Mata Naya membesar.

"Bagaimana kamu—"

"Kamu bekerja siang malam karena berusaha mengumpulkan uang untuk pengobatan beliau."

Naya terdiam.

Rahasia yang selama ini ia sembunyikan bahkan dari banyak teman-temannya, kini berada di tangan seorang pria asing.

Ada rasa marah.

Ada rasa malu.

Namun lebih dari itu, ada ketakutan.

Karena semua yang dikatakan Raynard adalah benar.

Setelah kematian ayahnya, kondisi kesehatan ibunya semakin memburuk.

Dokter pernah mengatakan bahwa suatu hari operasi harus dilakukan.

Biayanya mencapai ratusan juta rupiah.

Jumlah yang bagi Naya terasa seperti angka yang tidak mungkin dicapai.

Ia sudah bekerja tanpa mengenal lelah.

Mengorbankan masa mudanya.

Mengorbankan mimpinya.

Tetapi tabungannya masih jauh dari cukup.

"Jangan gunakan ibuku untuk memaksaku."

Suara Naya bergetar.

"Aku tidak sedang memaksa."

Raynard menatapnya.

"Aku sedang menawarkan sebuah kesepakatan."

Naya tertawa pahit.

"Tentu saja. Lagi-lagi sebuah kesepakatan."

"Kamu membencinya?"

"Ya."

"Kenapa?"

"Karena orang sepertimu selalu berpikir semua hal bisa dibeli."

Tatapan Raynard berubah dingin.

"Dan orang sepertimu terlalu bangga untuk menerima bantuan."

Kata-kata itu menghantam Naya.

Ia ingin membantah.

Namun tidak bisa.

Karena sebagian dari perkataan itu benar.

Ia memang terlalu takut dianggap lemah.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa berjuang sendirian.

Ia tidak ingin dikasihani.

Tidak ingin menjadi beban.

Namun kenyataan tetaplah kenyataan.

Ibunya membutuhkan pertolongan.

Dan ia tidak memiliki banyak waktu.

"Apa isi kesepakatanmu?"

Untuk pertama kalinya, ekspresi Raynard sedikit berubah.

Seolah ia tahu bahwa pertahanan Naya mulai retak.

"Kita menikah."

Naya menutup mata sesaat.

"Kamu benar-benar tidak menyerah."

"Ini bukan tentang menyerah."

"Lalu?"

"Ini adalah solusi terbaik untuk kita berdua."

Naya menatapnya tajam.

"Bagaimana mungkin menikah dengan orang asing adalah solusi terbaik?"

Raynard berjalan mendekat.

"Karena pernikahan ini tidak akan didasarkan pada cinta."

Entah mengapa, mendengar kalimat itu membuat hati Naya terasa aneh.

Meskipun ia juga tidak mencintai pria ini, mendengar seseorang mengatakan bahwa pernikahan mereka tidak akan memiliki cinta tetap terasa menyakitkan.

Mungkin karena luka dari Kevin masih terlalu baru.

Lima tahun ia mencintai seseorang.

Dan akhirnya dikhianati.

Sekarang, seorang pria lain menawarkan pernikahan tanpa cinta.

Seolah takdir sedang mempermainkannya.

"Berapa lama?"

Raynard menatapnya.

"Apa?"

"Pernikahan ini."

"Satu tahun."

Naya terdiam.

"Satu tahun?"

"Selama satu tahun kamu menjadi istri Raynard Alvaro."

"Setelah itu?"

"Kita bercerai."

Jawaban yang dingin.

Tanpa keraguan.

Tanpa emosi.

Persis seperti pria itu.

"Selama satu tahun itu, kamu harus menghadiri acara keluarga, menemani aku dalam beberapa acara bisnis, dan mempertahankan citra sebagai istri yang sempurna."

Naya tertawa kecil.

"Istri yang sempurna? Kamu memilih orang yang salah."

Raynard menatapnya.

"Aku tidak membutuhkan wanita sempurna."

"Lalu?"

"Aku membutuhkan wanita yang tidak takut padaku."

Kalimat itu membuat Naya terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus membalas apa.

Karena dari sekian banyak alasan yang mungkin keluar dari mulut seorang CEO miliarder, ia tidak menyangka alasan itu.

"Kamu tidak punya banyak waktu untuk berpikir."

Raynard kembali dingin.

"Kakekku menunggu kita malam ini."

"Malam ini?"

"Ya."

"Kamu gila."

"Semua orang mengatakan hal yang sama."

Bahkan Arkan hampir tersenyum mendengar jawaban atasannya.

Naya memijat pelipisnya.

Ia merasa hidupnya berubah terlalu cepat.

Kemarin ia hanyalah seorang gadis biasa yang bekerja untuk membayar tagihan rumah sakit ibunya.

Kemarin ia masih memiliki seorang kekasih yang ia kira akan menemaninya selamanya.

Namun dalam satu malam…

Ia kehilangan cinta.

Namanya muncul di berita.

Dan sekarang seorang CEO menawarkan pernikahan kontrak.

Kalau seseorang menceritakan hal ini kepadanya seminggu lalu, ia pasti akan tertawa.

Namun sekarang, ia adalah tokoh utama dari kekacauan itu.

"Aku ingin bertemu ibuku terlebih dahulu."

Raynard langsung menjawab.

"Tidak bisa."

Mata Naya melebar.

"Apa?"

"Kamu tidak boleh pulang sekarang."

"Berani sekali kamu melarangku bertemu ibuku!"

Naya melangkah maju dengan marah.

"Aku bukan barang yang bisa kamu kurung di sini."

"Aku tahu."

"Kalau begitu jangan bertindak seperti aku adalah milikmu."

Raynard menatap wajahnya beberapa detik.

Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu.

Sesuatu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri di masa lalu.

Keras kepala.

Tidak mau menyerah.

Dan selalu melindungi orang yang dicintai.

"Aku akan mengirim dokter terbaik untuk memeriksa ibumu."

"Aku tidak meminta itu."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa kamu melakukannya?"

Raynard terdiam sesaat.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun ia sendiri tidak memiliki jawaban yang jelas.

Biasanya, ia tidak pernah peduli terhadap masalah orang lain.

Ia bahkan tidak akan berhenti melihat seseorang yang menangis di jalan.

Tetapi untuk gadis ini…

Ia melakukan banyak hal yang bahkan tidak masuk akal bagi dirinya.

Membawa Naya ke hotel.

Memanggil dokter.

Menyelidiki kehidupannya.

Dan sekarang menawarkan bantuan kepada ibunya.

"Anggap saja aku tidak ingin calon istriku memiliki masalah kesehatan keluarga."

Jawaban itu kembali membuat dinding dinginnya muncul.

Naya tersenyum sinis.

"Benar-benar jawaban seorang CEO."

Sebelum Raynard membalas, ponselnya berdering.

Ia melihat nama yang muncul di layar.

Wajahnya langsung berubah lebih serius.

"Kakek."

Ia mengangkat telepon.

"Ya."

Suara keras seorang pria tua terdengar bahkan sampai ke telinga Naya.

"Raynard Alvaro! Jangan bilang kau masih mencoba kabur dari tanggung jawab!"

Raynard menghela napas.

"Aku sedang mengurusnya."

"Kalau malam ini kau tidak membawa gadis itu ke rumah, aku sendiri yang akan datang menjemputnya."

Tatapan Raynard berubah tajam.

"Kakek, jangan melibatkan orang luar."

"Gadis itu bukan orang luar lagi."

Jawaban itu membuat Naya menegang.

"Dia adalah calon cucu menantuku."

Telepon terputus.

Ruangan kembali hening.

Arkan menelan ludah.

"Kali ini Tuan Besar benar-benar serius."

Raynard meletakkan ponselnya.

"Aku tahu."

Naya memandang pria di depannya.

"Jadi sekarang apa?"

Raynard berjalan menuju jendela besar.

Pemandangan kota terlihat begitu kecil dari lantai tempat ia berdiri.

"Keputusan ada di tanganmu."

"Kamu baru saja bilang aku tidak punya pilihan."

"Benar."

"Jadi?"

"Tetapi aku tetap ingin mendengar jawabanmu."

Naya menggigit bibirnya.

Pikirannya kacau.

Harga dirinya mengatakan untuk menolak.

Untuk pergi dari tempat itu.

Untuk tidak pernah berhubungan dengan pria arogan ini lagi.

Namun bayangan wajah ibunya muncul di benaknya.

Wajah wanita yang selama ini tersenyum meskipun menahan rasa sakit.

Wanita yang mengorbankan segalanya demi membesarkannya.

Air mata hampir jatuh dari matanya.

Apakah ia harus mengorbankan kebebasannya demi menyelamatkan ibunya?

Apakah satu tahun hidupnya adalah harga yang harus dibayar?

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya…

Naya akhirnya mengangkat kepala.

Ia menatap Raynard dengan mata penuh tekad.

"Baik."

Raynard perlahan berbalik.

"Baik?"

"Aku akan menikah denganmu."

Untuk pertama kalinya, mata dingin Raynard menunjukkan sedikit keterkejutan.

Namun sebelum ia sempat berbicara, Naya melanjutkan.

"Tapi dengarkan baik-baik, Tuan Raynard Alvaro."

Nada suaranya tegas.

"Aku mungkin menjadi istrimu di atas kertas."

"Tapi jangan pernah menganggap kamu memiliki hak untuk mengendalikan hidupku."

Senyuman kecil muncul di wajah Raynard.

Senyuman yang sulit ditebak artinya.

"Perjanjian yang menarik."

Naya mengulurkan tangannya.

"Satu tahun."

Raynard menatap tangan itu.

Lalu menggenggamnya.

"Satu tahun."

Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari…

Jabat tangan yang mereka anggap sebagai awal dari sebuah kontrak dingin itu, suatu hari akan menjadi ikatan yang jauh lebih sulit untuk dilepaskan.

Namun sebelum kisah mereka benar-benar dimulai, ada satu orang yang sangat marah mendengar berita itu.

Seseorang yang tidak akan membiarkan Naya menjadi istri keluarga Alvaro.

Seseorang dari masa lalu Raynard.

Wanita yang pernah ia janjikan untuk menikahinya.

Vanessa Wijaya.

Dan saat itu, Vanessa sedang menatap berita tentang Naya dengan mata penuh kebencian.

"Aku tidak peduli siapa kau, Naya Kirana."

"Aku akan membuatmu menyesal karena merebut tempatku."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel