Bab 2: Aku Bangun di Kamar Sang CEO
Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai perlahan menyentuh wajah Naya Kirana.
Kepalanya terasa sangat berat, seolah semalaman ia dipaksa membawa beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Kelopak matanya bergerak perlahan. Ia mencoba membuka mata, tetapi cahaya yang terlalu terang membuatnya kembali memejamkan mata.
"Ugh..."
Naya memegang kepalanya.
Ingatan terakhir yang ia miliki hanyalah hujan deras, pertengkarannya dengan Raynard Alvaro, dan rasa marah yang memenuhi dadanya.
Setelah itu…
Kosong.
Tidak ada apa pun.
Tidak ada bayangan bagaimana ia bisa tertidur, siapa yang membawanya pergi, atau mengapa tubuhnya terasa begitu lemas.
Perlahan, Naya membuka mata kembali.
Dan dalam hitungan detik, seluruh rasa kantuknya menghilang.
Ia bangun dengan posisi duduk.
Matanya membelalak lebar.
"A-apa ini?"
Ruangan yang ia lihat bukanlah kamar kecil sederhana di rumahnya.
Kamar itu sangat luas, bahkan mungkin lebih besar daripada seluruh rumah yang ia tempati bersama ibunya.
Lampu kristal menggantung indah di langit-langit. Karpet berbahan lembut menutupi lantai marmer putih. Dindingnya dihiasi lukisan mahal dengan desain yang elegan.
Segalanya menunjukkan satu hal.
Tempat ini milik orang yang sangat kaya.
Naya menelan ludah.
Jantungnya berdetak semakin cepat ketika ia menyadari sesuatu yang lebih mengerikan.
Ia berada di atas tempat tidur.
Dan ia mengenakan pakaian yang berbeda.
Bukan gaun yang ia pakai semalam.
Melainkan kemeja putih pria yang ukurannya jauh lebih besar.
Wajah Naya langsung memucat.
"Tidak... tidak mungkin..."
Tangannya mulai gemetar.
"Jangan bilang..."
Berbagai kemungkinan buruk menyerbu pikirannya.
Ia segera membuka selimut dan memeriksa dirinya.
Tidak ada luka.
Tidak ada rasa sakit yang aneh.
Namun kenyataan bahwa ia bangun di kamar asing dengan pakaian pria sudah cukup membuat kepalanya dipenuhi ketakutan.
"Kamu sudah bangun."
Suara pria yang dingin tiba-tiba terdengar dari arah balkon.
Naya menoleh dengan cepat.
Dan napasnya tertahan.
Di sana berdiri seorang pria tinggi mengenakan kemeja hitam dengan beberapa kancing terbuka. Dengan secangkir kopi di tangannya, pria itu menatap kota dari lantai tertinggi sebuah gedung mewah.
Sosok itu sangat dikenalnya.
Raynard Alvaro.
CEO arogan yang baru saja ia tampar beberapa jam lalu.
"Kamu!"
Naya langsung menarik selimut untuk menutupi dirinya.
"Apa yang kamu lakukan padaku?!"
Raynard mengalihkan pandangannya.
Tatapannya tetap dingin.
"Aku bisa bertanya hal yang sama. Apa yang kamu lakukan sampai pingsan di depan hotelku?"
Naya terdiam.
"Pingsan?"
"Setelah meninggalkanku, kamu berjalan di tengah hujan selama berjam-jam. Demammu tinggi dan kamu jatuh tidak jauh dari Hotel Alvaro."
Naya mencoba mengingat.
Sebuah bayangan samar muncul.
Ia berjalan tanpa arah.
Tubuhnya semakin lemah.
Pandangan mulai gelap.
Lalu…
Sepertinya ada seseorang yang memanggil namanya.
"Jadi kamu membawaku ke sini?"
Raynard mengangguk singkat.
"Dokter pribadiku memeriksamu."
Naya menghela napas lega.
Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat.
"Lalu kenapa aku memakai baju kamu?"
Pertanyaan itu membuat suasana menjadi canggung.
Untuk pertama kalinya, Raynard tidak langsung menjawab.
"Karena pakaianmu basah."
"Apa?"
"Pelayan wanita menggantinya."
Naya menatapnya curiga.
"Benarkah?"
Raynard menyipitkan mata.
"Kamu pikir aku akan mengganti pakaianmu sendiri?"
Pipi Naya memanas.
"Aku tidak mengatakan itu!"
"Tapi kamu memikirkannya."
"Aku tidak—"
Naya menghentikan kalimatnya sendiri.
Sial.
Pria menyebalkan ini masih sama dinginnya seperti semalam.
Bahkan dalam situasi seperti ini, ia masih bisa membuatnya kehilangan kata-kata.
Raynard menaruh cangkir kopinya di meja.
"Jika kamu sudah sehat, kamu bisa pergi."
Mendengar itu, Naya segera turun dari tempat tidur.
"Bagus. Aku juga tidak ingin berada di tempat yang sama dengan orang yang menganggap semua orang bisa dibeli dengan uang."
Tatapan Raynard berubah tajam.
"Masih marah soal semalam?"
Naya berhenti melangkah.
"Menurutmu aku tidak punya alasan untuk marah?"
"Tidak."
Jawaban singkat itu membuatnya semakin kesal.
"Kamu menawarkan uang seolah harga diriku bisa ditentukan dengan angka."
"Aku hanya menawarkan solusi."
"Bagi orang kaya seperti kamu, mungkin semua masalah bisa diselesaikan dengan uang."
Naya menatapnya penuh kebencian.
"Tapi tidak semua orang akan menjual dirinya."
Ruangan itu menjadi hening.
Raynard tidak membalas.
Anehnya, kata-kata Naya justru mengingatkannya pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu.
Sebelum menjadi CEO.
Sebelum dunia bisnis mengajarinya bahwa perasaan hanyalah kelemahan.
Ia sudah lama tidak bertemu seseorang yang berbicara kepadanya tanpa rasa takut.
Biasanya orang-orang di sekitarnya hanya memiliki dua tujuan.
Mengambil keuntungan.
Atau mencari perhatian.
Namun gadis di hadapannya berbeda.
Dia miskin.
Dia lemah.
Tetapi harga dirinya lebih tinggi daripada banyak orang kaya yang pernah ia temui.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
Suara Naya membuyarkan pikirannya.
"Karena aku sedang berpikir."
"Tentang apa?"
"Apakah kamu selalu sekeras kepala ini?"
Mata Naya membesar.
"Maaf?"
Raynard berjalan mendekatinya.
"Orang normal akan merasa takut setelah menampar Raynard Alvaro."
Naya mengangkat dagunya.
"Kalau kamu salah, aku akan menamparmu lagi."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Begitu menyadari apa yang ia katakan, Naya ingin menarik kata-katanya kembali.
Apa yang dia lakukan?
Dia sedang mengancam CEO paling berpengaruh di kota.
Namun yang mengejutkan, Raynard tidak marah.
Sebaliknya, sebuah senyum tipis kembali muncul.
"Aneh."
"Apa yang aneh?"
"Aku mulai menyukai keberanianmu."
Naya membeku.
"Apa?"
"Santai saja. Aku tidak tertarik padamu."
Entah mengapa, mendengar kalimat itu justru membuat Naya kesal.
"Bagus. Aku juga tidak tertarik pada pria yang tidak punya sopan santun."
Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, pagi di kediaman Raynard Alvaro tidak dipenuhi keheningan.
Perdebatan kecil mereka membuat suasana yang biasanya dingin menjadi berbeda.
Namun kebersamaan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka.
Seorang pria berjas abu-abu masuk dengan wajah panik.
"Tuan Raynard!"
Raynard menoleh.
"Arkan. Apa yang terjadi?"
Arkan, asisten sekaligus sahabat kepercayaannya, berhenti saat melihat Naya.
Matanya membesar.
"Jadi berita itu benar?"
Raynard mengernyit.
"Berita apa?"
Arkan menyerahkan tablet di tangannya.
"Tuan harus melihat ini."
Raynard mengambil tablet tersebut.
Wajahnya yang biasanya tenang berubah dingin.
Naya merasa penasaran.
"Ada apa?"
Arkan menatapnya dengan ekspresi rumit.
"Nona… sepertinya Anda juga harus melihatnya."
Naya mengambil tablet itu.
Dan seketika, tubuhnya membeku.
Di layar berita terpampang sebuah foto.
Foto dirinya.
Sedang berada dalam pelukan Raynard di depan hotel semalam.
Dengan judul besar:
"CEO Miliarder Raynard Alvaro Menghabiskan Malam Bersama Wanita Misterius!"
Wajah Naya menjadi pucat.
"Ini... ini tidak mungkin."
Tangannya mulai bergetar.
"Bagaimana mereka bisa mendapatkan foto ini?"
Raynard mengepalkan tangannya.
Tatapan dinginnya berubah menjadi penuh amarah.
"Seseorang sengaja menjebakku."
Naya menoleh.
"Menjebakmu?"
"Ya."
"Dan sekarang..." suara Raynard menjadi lebih berat.
"Nama baik Alvaro Group dipertaruhkan."
Naya langsung merasa tidak nyaman.
"Aku tidak mau terlibat dalam masalahmu."
"Kamu sudah terlibat sejak foto itu tersebar."
"Tidak. Aku akan menjelaskan semuanya kepada wartawan."
Raynard menggeleng.
"Percuma."
"Kenapa?"
"Karena dunia tidak percaya pada kebenaran."
Ia melangkah lebih dekat.
"Mereka hanya percaya pada cerita yang paling menarik."
Naya menggigit bibir.
Ia tahu pria itu benar.
Seorang gadis miskin yang ditemukan semalam bersama seorang CEO terkenal.
Siapa yang akan percaya bahwa tidak terjadi apa-apa?
Tiba-tiba, ponsel Raynard berdering.
Wajahnya semakin gelap setelah menerima panggilan tersebut.
"Apa?"
Ia mendengarkan beberapa detik.
Lalu rahangnya mengeras.
"Aku mengerti."
Setelah menutup telepon, ia menatap Naya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Ada masalah yang lebih besar."
"Apa lagi?"
"Kakekku sudah mengetahui berita ini."
"Lalu?"
Raynard terdiam beberapa saat.
Kalimat berikutnya keluar dengan tenang.
Terlalu tenang hingga membuat Naya merinding.
"Dia memerintahkan agar aku segera membawamu ke rumah keluarga Alvaro."
"Apa?"
"Dan..."
Raynard menatap mata Naya tanpa berkedip.
"Dia ingin aku menikahimu."
Untuk beberapa detik, dunia Naya seakan berhenti berputar.
Menikah?
Dengan pria yang baru dikenalnya semalam?
Dengan CEO arogan yang bahkan tidak bisa ia tahan selama lima menit?
Naya menggeleng cepat.
"Tidak."
Raynard menaikkan alis.
"Tidak?"
"Aku menolak."
Senyum tipis muncul di wajah Raynard.
Namun kali ini senyum itu bukan pertanda sesuatu yang baik.
"Naya Kirana."
"Apa?"
"Kamu mungkin terlalu cepat mengambil keputusan."
Tatapan mata pria itu menjadi lebih dalam.
"Karena setelah kamu mengetahui alasan sebenarnya, kamu mungkin tidak akan punya pilihan lain."
Jantung Naya berdegup keras.
Untuk pertama kalinya sejak bertemu pria itu…
Ia merasa takdirnya benar-benar mulai berubah.
