Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1: Malam yang Menghancurkan Hidupku

Hujan turun deras mengguyur kota Jakarta malam itu. Kilatan petir sesekali membelah langit gelap, seolah menjadi pertanda bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.

Di sebuah sudut jalan yang sepi, seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun berlari menembus hujan tanpa memedulikan tubuhnya yang menggigil. Rambut panjangnya yang biasanya rapi kini melekat di wajahnya yang pucat.

Namanya Naya Kirana.

Malam itu seharusnya menjadi malam yang membahagiakan baginya.

Hari itu adalah hari kelulusan kuliahnya sekaligus hari ulang tahun hubungan lima tahun dengan kekasihnya, Kevin. Naya sudah menyiapkan kejutan sederhana. Ia mengumpulkan uang dari hasil bekerja paruh waktu selama berbulan-bulan untuk membeli jam tangan yang selama ini diinginkan Kevin.

Baginya, Kevin bukan hanya seorang kekasih.

Kevin adalah alasan mengapa ia bertahan melalui masa-masa sulit.

Sejak ayahnya meninggal akibat kecelakaan lima tahun lalu, Naya harus berjuang bersama ibunya yang sakit-sakitan. Ia kuliah sambil bekerja sebagai pelayan restoran, guru les, bahkan pernah menjadi pembagi brosur di jalan.

Hidup tidak pernah mudah.

Namun Naya selalu percaya bahwa setelah badai akan datang pelangi.

Sampai akhirnya malam ini menghancurkan semua keyakinannya.

Tangannya masih gemetar ketika mengingat apa yang baru saja ia lihat satu jam yang lalu.

Di restoran tempat ia dan Kevin biasa merayakan hari spesial, Naya datang dengan senyuman dan sebuah kotak hadiah kecil di dalam tasnya.

Namun saat pintu ruang VIP terbuka…

Dunianya runtuh.

Kevin sedang berciuman dengan seorang wanita yang mengenakan gaun merah mahal.

Bukan hanya itu.

Wanita tersebut adalah putri pemilik perusahaan besar tempat Kevin baru saja diterima bekerja.

"Naya?"

Kevin langsung melepaskan wanita itu dengan wajah terkejut.

"Naya, dengarkan aku dulu."

Mata Naya mulai berkaca-kaca.

"Dengarkan apa?" suaranya bergetar. "Bahwa lima tahun hubungan kita hanyalah sebuah permainan?"

"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."

"Kalimat itu terlalu sering digunakan oleh para pengkhianat."

Kevin mengepalkan tangan.

"Naya, kamu harus mengerti. Aku memiliki masa depan."

Naya tertawa kecil. Namun tawa itu dipenuhi rasa sakit.

"Masa depan?"

"Ya."

Jawaban Kevin begitu dingin hingga membuat hatinya semakin hancur.

"Aku sudah lelah hidup miskin. Aku mencintaimu, tapi cinta tidak bisa membayar rumah, mobil, atau kehidupan yang layak."

Setiap kata yang keluar dari mulut Kevin terasa seperti pisau yang menusuk hatinya.

"Jadi selama ini aku hanyalah batu loncatan?"

Kevin terdiam.

Dan diamnya adalah jawaban.

Wanita di samping Kevin tersenyum meremehkan.

"Jangan terlalu menyedihkan, Naya. Lelaki seperti Kevin pantas mendapatkan wanita yang bisa membantunya naik lebih tinggi."

Naya menatap wanita itu.

"Dan kamu bangga merebut pria orang lain?"

Wanita itu tertawa.

"Merebut? Aku tidak merebut apa pun. Aku hanya menawarkan kehidupan yang tidak akan pernah bisa kamu berikan."

Saat itu juga Naya menyadari satu hal.

Kemiskinan tidak hanya membuat orang kesulitan hidup.

Kadang, kemiskinan juga membuat harga diri seseorang diinjak-injak.

Dengan tangan gemetar, Naya meletakkan kotak hadiah yang telah ia beli dengan susah payah di atas meja.

"Selamat, Kevin."

"Naya—"

"Semoga uang dan kekayaan yang kamu pilih malam ini benar-benar membuatmu bahagia."

Ia berbalik dan pergi sebelum air matanya jatuh di depan mereka.

Namun begitu keluar dari restoran, pertahanannya runtuh.

Air mata mengalir tanpa henti.

Lima tahun.

Lima tahun ia mencintai seorang pria yang ternyata hanya menunggu kesempatan untuk meninggalkannya.

Sambil menangis, Naya berjalan tanpa arah di tengah hujan.

Ia tidak tahu harus pergi ke mana.

Ia tidak ingin pulang dan membuat ibunya khawatir.

Tidak malam ini.

Tidak ketika dirinya sedang hancur.

Di tengah langkahnya yang gontai, ponselnya berdering.

Nama Ibu muncul di layar.

Naya segera menghapus air mata.

"Halo, Bu."

"Naya, kamu di mana? Ibu menunggumu dari tadi."

Naya berusaha tersenyum meskipun ibunya tidak bisa melihat.

"Aku masih bersama teman-teman kampus, Bu."

"Kamu tidak bohong, kan?"

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Naya sesak.

Ibunya selalu bisa merasakan ketika ada sesuatu yang salah.

"Tentu tidak, Bu."

"Naya."

"Iya?"

"Jangan terlalu banyak memikul beban sendirian. Ibu tahu kamu sudah berkorban terlalu banyak untuk keluarga kita."

Mata Naya kembali basah.

"Bu..."

"Ibu hanya ingin kamu bahagia."

Kalimat itu menjadi pukulan terakhir bagi hatinya.

Karena saat ini, kebahagiaan terasa sangat jauh.

"Aku sayang Ibu."

"Ibu juga sayang kamu."

Setelah menutup telepon, Naya menengadah ke langit.

Air hujan bercampur dengan air mata.

"Kenapa hidupku selalu seperti ini?" bisiknya.

Namun takdir ternyata belum selesai mempermainkannya.

Sebuah mobil hitam mewah melaju dengan kecepatan tinggi dan berhenti mendadak tepat di depan Naya.

BRAKK!

Naya terkejut dan hampir terjatuh.

Pintu mobil terbuka.

Seorang pria mengenakan jas hitam keluar dengan wajah dingin dan tatapan tajam.

Tinggi.

Tampan.

Berwibawa.

Namun aura yang mengelilinginya membuat siapa pun enggan mendekat.

Pria itu adalah Raynard Alvaro.

CEO muda dari Alvaro Group, perusahaan terbesar di negeri ini.

Pria yang dikenal memiliki kekayaan miliaran dan hati yang lebih dingin daripada es.

"Apa kamu tidak punya mata?"

Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya membuat Naya tercengang.

"Maaf?"

Raynard menatapnya dari atas sampai bawah.

"Pakai jalan untuk pejalan kaki. Jangan berdiri di tengah jalan seperti orang yang ingin mati."

Hati Naya yang sudah hancur malam ini langsung terbakar.

"Kalau begitu mengapa Anda mengemudi secepat itu?"

Alis Raynard terangkat.

Jarang ada orang yang berani membantahnya.

Apalagi seorang gadis dengan pakaian sederhana yang sedang basah kuyup.

"Kamu menyalahkanku?"

"Apakah orang kaya selalu merasa mereka benar?"

Tatapan Raynard berubah tajam.

Selama bertahun-tahun menjadi CEO, orang-orang hanya menunduk di hadapannya.

Mereka takut.

Mereka mencari keuntungan darinya.

Mereka berpura-pura baik.

Namun gadis ini berbeda.

Dia menatapnya dengan kemarahan yang nyata.

Bukan rasa takut.

Aneh.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Raynard merasa tertarik.

Sebelum ia bisa berkata apa pun, ponselnya berdering.

Wajah dinginnya berubah lebih gelap ketika melihat nama di layar.

"Katanya dia sudah menunggu di hotel, Tuan," suara asistennya terdengar dari telepon.

"Aku tahu."

"Apakah pertemuan bisnis dengan keluarga Tan akan tetap dilanjutkan?"

Raynard diam sejenak.

Matanya kembali melihat Naya yang berdiri menggigil di bawah hujan.

Lalu sebuah ide gila muncul di kepalanya.

Sebuah keputusan yang akan mengubah hidup mereka berdua.

"Batalkan wanita yang telah mereka siapkan."

"Tuan?"

"Aku sudah menemukan penggantinya."

Naya yang mendengar perkataan itu langsung mengernyit.

"Pengganti apa?"

Raynard memutus telepon.

Lalu ia berjalan mendekatinya.

Setiap langkah pria itu membuat Naya merasa tidak nyaman.

"Apa yang Anda lakukan?"

Raynard melepas jas mahalnya dan meletakkannya di bahu Naya.

"Tolong ikut denganku malam ini."

Mata Naya membesar.

"Anda gila?"

"Berapa pun uang yang kamu butuhkan, aku bisa membayarnya."

Tamparan.

Tanpa berpikir panjang, tangan Naya melayang mengenai pipi Raynard.

Suara itu bahkan lebih keras daripada suara hujan.

Untuk sesaat, dunia seakan berhenti.

Para pengawal yang berada di dalam mobil langsung turun dengan panik.

"Tuan!"

Tidak ada seorang pun yang pernah berani menampar Raynard Alvaro.

Tidak seorang pun.

Naya sendiri terkejut dengan tindakannya.

Namun ia tidak menyesal.

Matanya menatap tajam pria di depannya.

"Aku mungkin miskin, tapi aku bukan wanita yang bisa Anda beli."

Keheningan menyelimuti mereka.

Lalu sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Sudut bibir Raynard perlahan terangkat.

Ia tersenyum.

Senyuman pertama yang sudah bertahun-tahun tidak pernah dilihat bawahannya.

"Menarik."

Naya semakin kesal.

"Jangan mendekatiku lagi."

Ia berbalik dan pergi meninggalkan pria paling berpengaruh di kota itu.

Namun ia tidak tahu.

Malam itu belum berakhir.

Dan beberapa jam kemudian…

Ia akan terbangun di tempat yang tidak dikenalnya.

Di atas tempat tidur seorang CEO miliarder.

Dengan satu pertanyaan yang akan menghancurkan seluruh hidupnya.

Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel