Bab 2 bincang malam
Malam itu, rumah sudah mulai sepi. Xiao Mei tertidur lelap di kamarnya setelah dibujuk Dika dengan cerita dongeng pendek. Dika sendiri keluar lagi, mengambil shift malam untuk tambahan penghasilan. Lampu ruang tamu sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya kuning hangat dari lampu teras depan yang menyelinap melalui pintu geser.
Qinvi duduk di kursi kayu anyaman di teras, memandang langit yang berbintang samar karena polusi cahaya kota. Lukisan keluarga tadi sudah dibungkus rapi, siap diberikan besok pagi saat sarapan spesial anniversary. Hatinya masih penuh rasa bahagia, tapi juga ada sedikit gelisah yang tak bisa ia tepis.
Bima keluar dari rumah membawa dua gelas teh hangat, satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Qinvi. Ia duduk di sebelah putrinya, menyerahkan gelas itu tanpa banyak kata. Sari menyusul tak lama kemudian, membawa selendang tipis yang ia lemparkan ke bahu Qinvi. "Malam agak dingin, Vi. Jangan masuk angin."
Mereka bertiga duduk diam sebentar, hanya mendengar suara jangkrik dan sesekali klakson motor lewat di ujung gang. Aroma teh manis panas naik perlahan, bercampur bau tanah basah karena tadi sore sempat gerimis kecil.
Bima menyeruput tehnya pelan, lalu memandang Qinvi dengan tatapan lembut yang selalu membuat Qinvi merasa aman sejak kecil. "Vi, lukisan tadi luar biasa. Ayah bangga sekali sama kamu."
Qinvi tersenyum kecil, tapi matanya menunduk ke gelas teh di tangannya. "Terima kasih, Yah. Tapi entah kenapa, aku masih ragu. Kuliah seni ini... kadang aku mikir, apa iya aku bisa sukses? Teman-teman banyak yang bilang susah cari kerja, apalagi di bidang lukis."
Bima menghela napas pelan, meletakkan gelasnya di meja kecil teras. Ia mendekatkan kursinya sedikit, suaranya rendah seperti berbisik agar tak mengganggu tetangga yang mungkin sudah tidur. "Kuliah seni itu bagus, Nak. Ayah dulu juga suka gambar-gambar kecil waktu muda, meski cuma coret-coret di kertas semen bekas. Tapi ingat satu hal: yang paling bernilai itu karya yang lahir dari rasa syukur, bukan keluhan."
Qinvi mengangkat wajah, menatap ayahnya. Kata-kata itu sederhana, tapi langsung mengena ke hatinya.
Bima melanjutkan, matanya menerawang ke depan. "Ayah setiap hari bangun rumah orang lain, tapi rumah kita sendiri masih sederhana. Kadang capek, kadang pegal semua badan. Tapi setiap pulang lihat kalian semua, Ayah bersyukur. Itu yang bikin Ayah kuat terus. Kamu juga begitu. Lukis yang kamu buat hari ini, lahir dari syukur atas keluarga kita. Itu yang bikin indah, bukan teknik mahal atau cat impor."
Sari mengangguk pelan, tangannya meraih tangan Qinvi dan menggenggamnya hangat. "Ibu percaya kamu bisa, Vi. Dari kecil Ibu sudah lihat bakatmu. Ingat waktu kamu umur sepuluh tahun, gambar Ibu pas lagi menjahit, lalu dipajang di dinding sekolah dan menang lomba? Saat itu juga banyak yang bilang seni susah, tapi kamu tetap semangat."
Qinvi tertawa kecil mengingat itu. "Iya, Bu. Waktu itu Ibu malah kasih hadiah mesin jahit mini buat aku, padahal aku minta cat air baru."
Sari ikut tertawa pelan. "Karena Ibu tahu, seniman juga butuh sabar seperti penjahit. Satu jahitan salah bisa dibongkar, satu goresan kuas salah juga bisa diperbaiki. Yang penting jangan berhenti."
Angin malam berhembus pelan, membuat daun pisang di halaman kecil bergoyang. Qinvi merasakan kehangatan dari genggaman ibunya dan suara ayahnya yang tenang. Gelisah yang tadi mengganjal di dadanya perlahan mencair.
"Aku janji akan terus berusaha, Yah, Bu. Dan akan selalu lukis dari hati yang bersyukur," kata Qinvi pelan, suaranya hampir bergetar.
Bima mengacak rambut Qinvi seperti waktu ia masih kecil. "Itu baru anak Ayah. Besok kita rayakan anniversary dengan makan mie ayam kesukaan kita semua, ya. Lukisanmu jadi hadiah utama."
Mereka bertiga diam lagi, menikmati teh yang mulai dingin dan kebersamaan malam itu. Di teras kecil rumah sederhana mereka, percakapan sederhana itu menjadi bekal terkuat bagi Qinvi untuk menghadapi hari-hari mendatang.
Tak lama, mereka masuk ke rumah, mematikan lampu teras. Malam semakin larut, tapi hati Qinvi kini lebih ringan, penuh harapan yang baru.
