bab 1 lukisan
Sore itu, rumah kecil di pinggiran Jakarta lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari sore menyusup melalui jendela ruang tamu yang terbuka lebar, menerangi kanvas besar yang berdiri di tengah ruangan. Qinvi, gadis berusia sembilan belas tahun dengan rambut panjang terikat ponytail sederhana, duduk di depan easel-nya. Kuas yang di tangannya bergerak perlahan, menambahkan detail terakhir pada lukisan yang telah ia kerjakan selama berminggu-minggu.
Ini bukan lukisan biasa. Ini adalah hadiah spesial untuk ulang tahun pernikahan orang tuanya yang ke 25. Qinvi ingin menangkap makna keluarganya dalam satu frame: kehangatan, tawa, dan cinta yang selalu mengisi rumah mereka meski hidup tak selalu nya mudah.
"Ayah, jangan gerak dulu! Tanganmu yang berkapur itu harus kelihatan jelas," kata Qinvi sambil tertawa kecil, matanya tak lepas dari kanvas.
Bima, ayahnya, berdiri di sudut ruangan dengan pose yang sudah ia pertahankan selama hampir satu jam. Sebagai tukang bangunan, tangannya memang selalu penuh kapur dan debu semen.
Hari ini, ia pulang lebih awal dari proyek, mengenakan kaus oblong lusuh yang masih berbekas noda putih. "Sudah berapa lama lagi, Vi? Punggung Ayah sudah pegal nih," keluhnya pura-pura, tapi senyumnya lebar.
" Sabar ya, Yah. Ini detail penting. Tangan Ayah kan simbol kerja keras yang bikin kita bisa makan enak setiap hari," balas Qinvi sambil menyipitkan mata, mencampur warna putih dan abu-abu pada paletnya.
Di sebelah Bima, Sari(ibunya)duduk di kursi kayu sambil menjahit baju nya Xiao Mei. Jarum pentul menempel di bibirnya, kebiasaan lama yang membuatnya bisa bekerja lebih cepat tanpa harus bolak-balik mencari peniti. Sari adalah penjahit rumahan yang handal; pesanan dari tetangga selalu mengalir, terutama baju kebaya dan gamis untuk acara-acara spesial.
"ayah diam saja. Biar Qinvi puas. Lagipula, jarang-jarang kita semua jadi model begini," kata Sari sambil menggigit jarum pentul itu sebentar untuk menyesuaikan posisi kain.
Qinvi tersenyum mendengar itu. Ibunya selalu begitu—tenang, sabar, dan penuh pengertian. Wajah Sari yang lembut, dengan kerudung sederhana yang selalu ia pakai, akan menjadi pusat lukisan ini. Qinvi membayangkan bagaimana ia akan menambahkan kilau lembut pada mata ibunya, yang selalu penuh kasih saat memandang anak-anaknya.
Tak jauh dari sana, Dika(kakak laki-lakinya yang berusia dua puluh tiga tahun)bersandar di dinding dengan topi sopir taksi online di kepala. Dika baru saja pulang dari shift pagi, wajahnya agak lelah tapi matanya berbinar. "Kak, pose kamu keren banget! Kayak sopir taksi di film-film itu," goda Qinvi.
Dika tertawa. "Ya iyalah, ini profesi mulia. Bawa penumpang aman, dapat rating bintang lima. Kalau lukisan ini bagus, nanti aku pajang di dashboard mobilku, biar penumpang pada iri," balasnya sambil mengacungkan jempol.
Dan yang paling lucu adalah Xiao Mei, adik kecil mereka yang baru berusia lima tahun. Gadis kecil itu tertidur pulas di sofa panjang, boneka beruang kesayangannya dipeluk erat. Pipinya merona, napasnya teratur. Qinvi sengaja memilih momen ini karena Xiao Mei selalu jadi sumber tawa di rumah. Sikecil yang lincah, tapi kalau sudah ngantuk, langsung ambruk begitu saja.
Ruangan dipenuhi tawa kecil-kecilan. Bima mulai bercerita tentang proyek bangunan barunya, bagaimana ia hampir jatuh dari tangga karena terganggu burung gereja. Sari ikut tertawa, jarum pentulnya hampir jatuh. Dika menimpali dengan cerita penumpang aneh hari ini-seorang bapak-bapak yang ngotot minta diantar ke alamat sambil nyanyi lagu dangdut keras-keras.
Qinvi mendengarkan sambil terus melukis. Hatinya hangat. Keluarga mereka bukan keluarga kaya raya. Rumah mereka sederhana, di gang sempit dengan tetangga yang ramai. Ayah sering pulang malam karena lembur, ibu kadang begadang menjahit pesanan mendadak. Dika membantu ekonomi keluarga dengan nyetir taksi online setelah lulus SMA, menunda kuliahnya demi adik-adik. Qinvi sendiri kuliah seni di universitas negeri dengan beasiswa, sambil sesekali jual lukisan kecil-kecilan.
Tapi justru di tengah kesederhanaan itu, cinta mereka tumbuh subur. Setiap malam, mereka makan bersama di meja makan kecil, cerita tentang hari masing-masing. Ulang tahun selalu dirayakan sederhana tapi penuh makna hanya dengan kue tart buatan ibu, lilin dari lilin biasa, dan doa bersama.
Lukisan ini adalah cara Qinvi mengabadikan itu semua. Ia mulai dari latar belakang: ruang tamu mereka yang penuh barang sederhana—rak buku kecil miliknya, mesin jahit ibu di sudut, helm Dika tergantung di dinding, dan mainan Xiao Mei berserakan.
Kemudian, ia fokus pada ayahnya. Tangan Bima yang kasar tapi kuat, penuh kapur sebagai simbol pengorbanan. Qinvi ingat saat kecil, ayah sering menggendongnya pulang dari sekolah saat hujan, tangan itu yang melindungi. Warna cokelat tanah ia campur dengan putih, membuat tekstur kasar yang hidup.
Selanjutnya, ibunya. Sari dengan jarum pentul di bibir adalah kebiasaan yang membuat Qinvi kecil dulu takut, tapi sekarang jadi ikon kelembutan. Mata Sari yang selalu tersenyum, meski kadang lelah. Qinvi tambahkan bayangan lembut di wajahnya, membuatnya terlihat seperti malaikat penjaga rumah.
Dika dengan topi sopirnya dengan pose santai tapi bangga. Kakak yang selalu melindungi adiknya, yang ngajarin Qinvi naik motor pertama kali, yang bela Xiao Mei saat diganggu teman. Qinvi buat senyum Dika lebar, mata berbinar.
Dan Xiao Mei yang tidur,innocent, polos, harapan masa depan. Pipi gembul, rambut acak-acakan, boneka dipeluk. Ini yang membuat lukisan terasa hidup: kontras antara yang aktif dan yang damai.
Saat matahari mulai tenggelam, Qinvi mundur selangkah, memandang karyanya. "Selesai," bisiknya.
Keluarga langsung berebut mendekat. Xiao Mei terbangun karena ramai, ia mengucek mata. "Kak Qinvi gambar apa? Mei mau lihat!"
Bima memeluk bahu Qinvi. "Cantik sekali, Nak. Ini... kita banget."
Sari menangis haru, jarum pentulnya sudah disimpan. "Terima kasih, Vi. Ini hadiah terindah untuk anniversary kami."
Dika mengangguk. "Besok aku foto, post di medsos. Caption: Keluarga terbaik sedunia."
Mereka tertawa bersama, peluk-pelukan di depan lukisan itu. Di luar, malam mulai turun, tapi di dalam rumah, kehangatan tak pernah pudar.
Qinvi tahu, lukisan ini bukan sekadar gambar. Ini adalah cerita mereka, cinta yang tak ternilai, yang akan ia ceritakan lagi dan lagi melalui warna-warna di kanvas.
