BAB 3 Rutinitas pagi hari
Pagi itu dimulai seperti biasa, tapi ada rasa spesial yang menguar di udara. Ayam jantan milik Pak RT di ujung gang berkokok tepat pukul lima, diikuti suara azan subuh dari masjid kecil tak jauh dari rumah. Cahaya matahari pagi yang lembut mulai menyusup melalui celah-celah jendela kayu yang sudah agak lapuk, menerangi lantai keramik sederhana yang dingin di telapak kaki.
Sari sudah bangun lebih dulu, seperti kebiasaannya setiap hari. Ia mengenakan daster lama yang nyaman, kerudung tipis melingkar di kepala. Di dapur sempit, kompor gas menyala pelan, wajan penggorengan sudah panas. Aroma bawang merah dan bawang putih tumbuk kasar mulai menari di udara, bercampur dengan bau nasi semalam yang digoreng ulang. Telur ceplok satu per satu ditambahkan, kuningnya masih utuh menggoda. Irisan timun segar dan tomat dari pasar pagi kemarin ditata di piring besar tengah. Kerupuk udang goreng renyah ditumpuk di mangkuk kecil, siap menemani nasi goreng sederhana yang jadi menu andalan sarapan keluarga ini.
Qinvi terbangun karena aroma itu. Ia mengucek mata, melirik jam dinding bulat yang jarumnya sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Hari ini adalah hari anniversary pernikahan orang tuanya yang ke-25, tapi rutinitas pagi tetap berjalan, malah terasa lebih hangat karena ada lukisan yang sudah dibungkus rapi di kamarnya, menunggu momen tepat untuk diberikan.
Ia bangun, melipat selimut tipisnya, lalu berjalan ke kamar mandi di belakang rumah. Air dingin dari ember membuatnya langsung segar. Setelah gosok gigi dan cuci muka, ia mengenakan kaus oblong longgar dan celana jeans kuliahnya, rambut diikat ponytail sederhana seperti biasa.
Di ruang tengah, Bima sudah duduk di meja makan kecil yang hanya muat enam kursi plastik. Ia membaca koran bekas yang dibawa pulang dari lokasi proyek kemarin, kacamata baca murahannya melorot di hidung. Xiao Mei masih mengantuk berat di pangkuan ayahnya, kepala kecilnya bersandar di dada Bima, boneka beruang cokelat kesayangannya tergantung di tangan mungil. Si kecil menguap lebar, tapi matanya belum mau terbuka sepenuhnya.
Dika masuk dari luar rumah, wajahnya basah karena baru saja mencuci mobil tua mereka di halaman depan. Sedan Jepang tahun sembilan puluhan itu sudah setia menemani keluarga sejak Qinvi masih SD, catnya agak pudar tapi mesinnya masih bandel. "Pagi semua! Bau nasi gorengnya sampai ke luar gang nih. Mie ayam spesialnya mana? Kata Ayah tadi malam kita rayakan anniversary dengan makan enak," godanya sambil menyeka keringat di dahi dengan ujung kausnya.
Bima tertawa pelan, tak ingin membangunkan Xiao Mei terlalu kasar. "Sabar dulu, Dik. Ibu lagi masak nasi goreng buat sarapan awal. Mie ayam nanti kita pesan dari Bang Udin langganan, setelah buka kado dari Qinvi."
Mendengar itu, Qinvi keluar dari kamar sambil membawa bungkusan besar yang disembunyikan di balik punggung. Hatinya berdegup sedikit lebih cepat, campuran antara malu dan bahagia. "Yah, Bu... selamat ulang tahun pernikahan yang ke-25. Ini hadiah dari aku. Maaf kalau sederhana ya."
Sari langsung menghentikan aktivitasnya di dapur. Ia mematikan kompor, menyeka tangan ke celemek, lalu mendekat dengan mata berbinar penuh harap. Bima pelan-pelan meletakkan Xiao Mei di kursi sebelahnya, si kecil menggeliat tapi masih setengah tidur. Mereka bertiga membuka bungkusan itu bersama-sama, kertas kado bekas tapi rapi dibuka perlahan.
Saat lukisan keluarga terpampang jelas di depan mereka, ruangan hening sejenak. Detail tangan Bima yang berkapur, jarum pentul di bibir Sari, topi sopir Dika, dan Xiao Mei yang tidur pulas di sofa—semuanya hidup di atas kanvas itu.
Sari langsung menutup mulut dengan tangan, air matanya mengalir pelan. Ia memeluk Qinvi erat, tubuhnya bergetar karena haru. "Ya Tuhan, Vi... ini indah sekali. Terima kasih, Nak. Ibu nggak nyangka."
Bima mengangguk berkali-kali, suaranya serak saat bicara. "Ini... kita banget. Ayah bangga sama kamu, Vi. Lukisan ini akan Ayah pajang di tempat paling spesial."
Xiao Mei akhirnya bangun sepenuhnya karena ramai. Ia mengucek mata, lalu bertepuk tangan kecil. "Wah! Ada Mei tidur di sofa! Cantik banget, Kak Qinvi! Mei juga mau dipeluk gitu!"
Dika langsung mengambil ponselnya, memotret dari berbagai sudut. "Ini wajib dipajang di dinding ruang tamu, depan pintu masuk. Biar setiap tamu yang datang langsung tahu keluarga kita paling kompak sedunia."
Mereka akhirnya duduk bersama di meja kecil itu. Piring nasi goreng hangat diletakkan di tengah, telur mata sapi dengan kuning telur menggoda, irisan timun dan tomat segar, kerupuk renyah yang berderit saat digigit, dan teh manis panas di gelas kaca bening. Semua makan lahap, cerita mengalir ringan seperti air sungai kecil.
Bima cerita tentang proyek barunya, gedung perkantoran di kawasan bisnis yang katanya akan jadi ikon baru. "Kemarin hampir jatuh lagi dari scaffolding, untung rekan kerja cepat pegang."
Sari tertawa pelan sambil menyuapi Xiao Mei. "Hati-hati ya, Mas. Kita butuh Ayah pulang utuh setiap hari."
Dika keluhkan macet pagi kemarin yang membuatnya telat jemput penumpang. "Ada demonstrasi kecil di jalan protokol, semua dialihkan. Untung ratingku masih lima bintang."
Xiao Mei cerita polos tentang teman barunya di TK, seorang anak laki-laki yang suka berbagi bekal. "Namanya Rafi, dia kasih aku cokelat kemarin!"
Qinvi makan pelan, memandang satu per satu wajah keluarganya. Hidupnya memang biasa-biasa saja. Tidak ada liburan ke luar negeri, tidak ada mobil baru mengkilap, tidak ada gadget mahal yang diganti setiap tahun. Rumah mereka kecil, tagihan listrik kadang bikin pusing, dan kadang makan malam hanya tempe goreng dengan sambal. Tapi pagi seperti ini—dengan tawa kecil yang mengisi ruangan, makanan sederhana yang terasa seperti pesta, dan cinta yang tak pernah diucapkan keras-keras tapi selalu terasa—membuatnya merasa bahagia sepenuhnya. Tak ada yang kurang.
Setelah sarapan selesai, piring dikumpul dan Sari mulai cuci. Bima berangkat lebih dulu, naik angkot di ujung jalan sambil melambai dari kejauhan. "Hati-hati semua ya! Malam ini kita makan mie ayam bareng!"
Lalu giliran Dika yang menghidupkan mesin mobil tua. Suaranya berderit khas beberapa detik sebelum stabil, seperti orang tua yang menguap sebelum bangun. "Ayo, Vi, Mei! Kakak antar kalian dulu sebelum mulai shift pagi."
Qinvi dan Xiao Mei naik ke mobil. Xiao Mei duduk di kursi depan dengan sabuk pengaman khusus anak yang sudah agak usang, Qinvi di belakang sambil memeluk tas kuliah berisi buku sketsa dan cat air. Mobil melaju pelan keluar gang sempit, melewati tetangga yang sedang menyapu halaman dan menyapa ramah, "Pagi, Dik! Pagi, Vi!"
Pertama, mereka menurunkan Xiao Mei di TK swasta kecil dekat rumah. Gerbangnya dicat warna-warni, guru-guru sudah menunggu di depan dengan senyum lebar. Xiao Mei melompat turun, melambaikan tangan ceria. "Bye Kak Qinvi! Bye Kak Dika! Nanti jemput ya!"
Dika tertawa. "Pasti, Princess. Belajar yang rajin!"
Lalu perjalanan berlanjut ke kampus Qinvi. Jalan pagi Jakarta sudah mulai ramai, motor berlalu-lalang, angkot klakson sana-sini. Radio di mobil memutar lagu-lagu lawas yang Dika suka, mereka bernyanyi pelan ikut-ikutan. Ngobrol santai tentang rencana akhir pekan, mungkin ke taman kota kalau cuaca bagus, atau sekadar nonton TV bersama di rumah.
Saat tiba di gerbang kampus yang ramai mahasiswa, Qinvi turun dengan tas di pundak. "Terima kasih banyak, Kak. Hati-hati nyetirnya ya, jangan ngebut."
Dika mengacungkan jempol dari balik kaca. "Selalu hati-hati. Pulang nanti jemput sendiri atau naik ojek online?"
"Sendiri aja, Kak. Kamu kan shift malam lagi nanti."
Mobil tua itu berlalu perlahan, knalpotnya berasap tipis sebelum menghilang di tikungan. Qinvi berdiri sebentar di trotoar, menarik napas dalam sambil memandang gedung fakultas seni di depannya. Mahasiswa lain berlalu-lalang dengan tas besar dan easel lipat. Hidupnya biasa saja, rutinitas yang diulang setiap hari. Tapi pagi yang sempurna seperti ini—sarapan bersama, tawa keluarga, dan diantar kakak dengan mobil tua—membuatnya yakin sepenuh hati: kebahagiaan sejati ada di hal-hal kecil yang penuh cinta, bukan di mimpi besar yang jauh di sana.
Ia melangkah masuk ke gerbang kampus, hati ringan dan penuh syukur, siap menghadapi hari baru dengan senyum.
